DELAPAN

1532 Words
Salah satu alasan Dabin mengunjungi gedung seni hanya satu, mengunjungi galeri seni – tempatnya untuk melukis. Semenjak diterima di kampus sebagai mahasiswi Komunikasi Bisnis, melukis menjadi satu-satunya kegiatan di luar kelas yang dipilihnya. Banyak teman-temannya memilih klub fotografi, klub penyiaran, klub menulis, dan klub-klub lain yang didominasi oleh teman-teman sejurusannya. Tapi Dabin memilih untuk masuk ke klub yang diadakan oleh mahasiswa jurusan seni lukis. Tidak ada alasan khusus, ia hanya suka melukis, itu saja. Tidak pernah terpikir olehnya jika mengikuti kegiatan melukis dapat mempertemukannya dengan Kai. Bolak balik galeri seni membuat ia kerap mendapati mahasiswa seni yang kerap berada di ruang musik – kebetulan galeri seni berdekatan dengan ruang musik. Di sanalah kali pertama ia menemukan pria itu, bersama permainan pianonya yang begitu menyedihkan – seperti itulah yang dirasakan Dabin tiap kali mendengar nada-nada yang Kai mainkan. Satu perbedaan antara ia dan Kim, Kim begitu bersemangat untuk menunjukan perasaannya pada Jino – tidak dengan cara agresif, hanya saja Kim tahu caranya mendekati orang yang disukainya, dan pantang menyerah tentunya. Sedangkan Dabin, baginya memandangi Kai dari jauh saja sudah cukup. Dabin tidak tahu tempat tinggal pria itu, makanan, warna, film, artis, buku, Dabin tidak tahu apa pun tentang Kai selain kehebatan pria itu bermain piano. Oh, satu lagi info yang ia tahu tentang Kai, dia sepupuan sama Jino. Itulah salah satu alasan Dabin memberanikan diri untuk menemui Kai sekarang. Meski gugup, Dabin memantapkan hatinya untuk bertanya soal Jino. Tak pernah Dabin bayangkan, ia akan menemui Kai karena alasan ini. Karena melamun, Dabin tidak menyadari bahwa Kai menjadi mahasiswa terakhir yang keluar dari ruang kelas. Padahal sudah hampir setengah jam ia berdiri di depan pintu ruangan, menunggu kelas selesai. “Kai!” Teriakannya membuat langkah kaki pria itu terhenti. Kai menoleh. Meski terlihat bingung, ia membiarkan Dabin setengah berlari mendekatinya. “Ada apa?” Deg! Untuk sesaat Dabin kehilangan isi kepalanya. “Umm, bisa ngobrol sebentar nggak?” Kai tidak tahu jika saat ini Dabin berusaha keras untuk menahan debaran jantungnya. Ini kali pertama ia berbicara serius dengan pria itu. Kai hanya mengangguk kecil, membuat Dabin kembali canggung. “Mau ngobrol di galeri seni nggak?” “Apa harus di sana?” Oke, Dabin tidak akan berbasa basi lagi. “Kai, gue butuh informasi tentang Jino,” ucap Dabin cepat, tapi langsung menggeleng di akhir kalimatnya. Ia hanya merasa pemilihan kata-katanya kurang tepat. Tatapan tajam Kai benar-benar membuatnya dua kali lebih berusaha untuk menguasai dirinya sendiri. Bagaimana bisa pria itu melihatnya tanpa berkedip di saat seharusnya Dabin yang melakukan hal itu – biasanya Dabin tidak akan berkedip bila memandangi Kai dari jauh.    “I mean, lo tahu nggak ada apa sama Jino, karena…” “Nggak tahu,” potong Kai. “Dan nggak mau tahu. Gue nggak tertarik dengan urusan orang lain.” Kini Dabin benar-benar kehilangan kata-katanya. “Well, kalau nggak ada yang mau dibicarain lagi, gue pergi.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan karena nyatanya belum sempat Dabin menjawab, Kai sudah berbalik badan, berniat untuk meninggalkannya. “Tunggu!” Entah mendapat keberanian darimana, spontan Dabin menarik kemeja tartan yang dikenakan Kai, membuat pria itu tak jadi melangkah. Buru-buru Dabin menarik tangannya. “Sori…” Dan satu kata itu justru membuat Kai benar-benar pergi meninggalkannya. *** Aroma kue wortel yang baru saja keluar dari oven membuat Jino tersenyum lebar. Matanya membulat senang saat kue yang masih mengeluarkan asap panas itu diletakan tepat di hadapannya. Bahkan kedua tangannya sudah menggenggam pisau dan garpu, siap menyantap kue itu sendirian. Jika saja Amira – neneknya, tidak memukul kecil tangan Jino, pasti Jino sudah memotong kue dengan pisau yang dipegangnya. Bibir Jino mengerucut, seperti anak kecil yang habis dimarahi. Amira memotong kue itu perlahan. Potongan pertama ia letakan di piring Jino. “Pelan-pelan, Jino. Kuenya nggak akan habis meski dimakan kalian sampai kenyang.” Kalian yang dimaksud Amira adalah ia dan Kai. Berbeda dengan Jino – yang kini ber-huh-hah ria karena terlalu semangat memakan kue wortel panas-panas, Kai justru memandang kosong apa yang ada di hadapannya, sambil menggigit ibujarinya. Potongan kue wortel yang diletakan Amira di piring kecilnya membuat Kai tersadar. “Thanks, Oma,” ucapnya lembut. Amira membalas dengan senyuman, sambil menuang teh untuk dirinya sendiri. Amira senang bila Jino sudah mengunjunginya, meski keseringan tujuan kedatangan Jino karena Kai. Setidaknya rumah ini menjadi lebih berisik – karena Kai lebih suka berada di kamar atau menghabiskan waktu di ruang baca. Dan menghabiskan sore hari di teras belakang yang menjadi satu dengan dapur seperti ini selalu menjadi favoritnya. Amira memiliki rumah yang tidak terlalu besar, tapi halaman belakang yang begitu luas. Ia menyukai ruangan terbuka, itu mengapa dinding rumahnya didominasi dengan jendela-jendela besar. Dapurnya pun sengaja dibuat semi outdoor dengan teras yang langsung menghadap ke halaman. “Kabar mama kamu gimana?” tanya Amira pada Jino. “Good. Keluar dari rumah sakit langsung meeting ke Bangkok,” jawab Jino santai. Amira tahu, ada nada ketidaksukaan saat Jino membicarakan anak tertuanya. Amira tahu betul bahwa Feya adalah pekerja keras. Tapi di balik sifat kerjakerasnya, sebenarnya Feya hanya sedang menyibukan diri dari permasalahan hidupnya, dan Amira menyadarinya. Hanya saja ia tidak terlalu ingin ikut campur urusan pribadi anaknya meskipun tidak sekali dua kali Jino kerap menyinggung permasalahan kedua orangtuanya. “Syukurlah. Oma sempat khawatir kalau mama kamu nggak dibolehin bekerja untuk waktu yang lama. Kamu tahu sendirikan mama kamu nggak bisa diam.” Amira tertawa kecil di akhir kalimatnya, tapi tak ada respons dari Jino. Ia lebih tertarik dengan kue wortel daripada omanya. Amira mengalihkan pandangannya pada Kai. Tersenyum kecil kala menyadari Kai belum menyentuh kuenya sama sekali – sementara Jino sudah memakan potongan kedua, yang ia ambil sendiri dengan ukuran lebih besar dari potongan neneknya. Alih-alih menanyakan alasan mengapa kue itu belum tersentuh, Amira lebih memilih bertanya hal lain untuk mengalihkan Kai dari lamunannya. “Gimana persiapan resital kamu?” Amira bertanya mengenai rencana pertunjukan solo perdana Kai di kampusnya. “Aku masih punya waktu beberapa bulan untuk nyelesaiin laguku,” jawab Kai. “You don’t need to worry, Oma.” “Iya, Oma. Kai mau main piano bawain lagu cicak-cicak di dinding juga cewek-cewek bakalan terpesona sama dia,” ujar Jino dengan mulut penuh kue, berhasil membuat Kai tersenyum lebar padanya. Jino tidak bercanda, ia tahu banyak mahasiswi yang menyukainya. Beberapa kali ia harus menerima titipan salam, atau ditanyai nomor ponsel Kai oleh teman-teman perempuannya. Amira tampak bersemangat, tak menyangka jika pria pendiam seperti Kai banyak penggemarnya. “Oh ya, bukannya kamu yang banyak fansnya?” “Siapa bilang? Buktinya aku abis ditolak cewek.” Lagi-lagi Amira tertawa. Tak menyangka jika ada gadis yang menolak cucuknya yang tampan ini. “Oma pikir kamu udah punya pacar. Siapa deh, yang waktu itu pernah jengukin kamu pas sakit?” Yang Amira maksud tidak lain adalah Kim. Jino pernah mengalami cidera akibat jatuh saat bermain basket, membuatnya tidak bisa berjalan selama hampir dua minggu. Dan selama itu Jino lebih memilih tinggal di rumah neneknya meski di rumahnya sendiri lebih banyak pelayan yang siap mengurusinya kapanpun. “Kimberly,” jawab Kai. Jino sempat melirik kesal. Sebenarnya ia tidak ingin neneknya mengingat itu sekarang. “Oh, iya, yang dipanggil Kim Kim itu, ya. Cantik sekali anaknya. Kalau dia apa kabar, Jino?” tanya Amira sedikit menggoda. Jino hanya menaikan kedua bahunya singkat, tak tertarik untuk membahasnya. “Nyonya, ada tukang paket datang antar barang. Katanya belum dibayar,” lapor salah satu pembantu Amira. Amira teringat pagi tadi ia iseng memesan pemanggang baru lewat salah satu marketplace. Ia tidak menyangka barangnya akan tiba di hari yang sama. Buru-buru ia bangun dari kursinya untuk membayar barang pesananya. “Is it true?” tanya Kai tiba-tiba. Jino memakan suapan terakhirnya sebelum menjawab dengan pertanyaan juga. “Apanya?” “Lo ke Dabin.” “Why?” Jino tampak serius. Kai mengalihkan pandangan. Ia teringat ucapannya pada Dabin sore tadi – ia tidak tertarik dengan urusan orang lain. Sebenarnya Kai tidak benar-benar tidak peduli, ia mengatakan itu pada Dabin untuk membuat gadis itu berhenti bertanya padanya. Namun pertemuannya dengan Dabin membuat Kai ingin memastikan sesuatu pada Jino. “Nevermind. I was just wondering.” “Kenapa? Lo suka juga sama dia?” “How about, Kim?” “Lo sejak kapan peduli sama yang beginian, sih?” Sebelum Kai salah paham dan tersinggung, Jino buru-buru meralat kalimatnya. “Maksud gue, bukannya lo nggak tertarik untuk urusan percintaan, ya.” Kai tidak menjawab, tapi justru membuat Jino harus mengatakan sesuatu. “Nggak masalah, kan, kalau gue nggak lagi dekat sama Kim?” tanya Jino. Mengunci tatapannya pada Kai, seakan menuntut jawaban dari pria itu. “Tapi kenapa tiba-tiba lo suka sama temannya? Sedangkan lo nggak pernah sekalipun cerita sama gue soal Dabin.” Nada bicara Kai kali ini terdengar lebih serius. Entah mengapa ia merasa harus memastikan isi hati Jino kali ini – lebih tepatnya isi kepala Jino.  “Itulah alasan gue kenapa bertanya, apakah pernyataan cinta lo ke dia serius?” lanjut Kai lagi. Jino tak mengatakan apa pun. Ia sadar kali ini Kai benar-benar dilanda rasa ingin tahu, meskipun Jino sendiri tidak tahu apa yang membuat Kai begitu penasaran. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbagi isi hati dan pikirannya pada Kai. Tidak hari ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD