Jino menarik lengan Dabin tepat sebelum gadis itu memasuki mobilnya. Mata Dabin memanas, kesal sekali sampai-sampai ingin menangis. Mengapa Jino harus mengacaukan malamnya seperti ini?
“Ngapain lo ngejar gue? Kalau ada yang perlu lo ajak bicara, itu Kim, bukan gue!”
“Ya, tapi lo nggak perlu sampai pergi.”
“DAN LO JUGA NGGAK PERLU NGEJAR GUE SAMPE SINI!” Dabin menarik tangannya kasar. Hendak masuk ke dalam mobil, tapi lagi-lagi Jino menghalanginya.
“Apa lagi, Jino?” tanya Dabin menahan kesal. Jino membelakangi pintu mobil Dabin, menutup akses agar gadis itu tidak pergi darinya.
“Kasih tahu gue, Dab, gue harus apa?” Jino terdengar lirih.
“Harus apa untuk apa?” Dabin mulai gemas. “Ya lo harus ngasih penjelasan ke Kim supaya dia nggak salah paham sama kita lah. Kenapa lo tanya ke gue apa yang harus lo lakuin!”
Jino tak membalas, hanya menatap Dabin dengan tajam.
“Kalau emang lo punya perasaan sama gue, sebaiknya lo simpan itu baik-baik sampai urusan lo dan Kim selesai. Lo nggak bisa seenaknya bilang suka sama gue padahal lo tahu hubungan gue dan Kim seperti apa.”
“Kim nggak akan terima…”
“That’s the point!” potong Dabin cepat. “Apa yang lo katakan ke gue kemarin, atau hari ini, semua itu akan berimbas buruk buat gue. Kim nggak akan mudah terima karena lo mengatakan semuanya di saat yang nggak tepat. Lo nggak bisa tiba-tiba muncul dan bilang suka sama gue, sementara lo tahu seberapa baik hubungan gue dan Kim. Dan lo juga nggak bisa mencampakan teman gue begitu aja, Jino!” Dabin begitu kesal sampai-sampai tidak bisa lagi menahan air matanya.
“Tapi gue bener-bener suka sama lo, Dab!”
Dua tangan Jino meraih wajah Dabin dengan cepat – pipi gadis itu terasa dingin akibat tangis dan angin malam. Yang dilakukan Jino kemudian adalah mencium bibir gadis itu tanpa meminta persetujuannya. Tidak ada yang bisa dipikirkan Jino selain membawa dirinya untuk mencium gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Dabin mendorong Jino dengan kasar hingga pria itu terdorong ke mobil Dabin. “Argh! What the hell are you doing, Jino! You’re so funny! f*****g funny!” teriaknya penuh amarah.
Jino tak melawan. Pandangannya justru terkunci pada sesuatu yang ada di belakang Dabin. Meski Jino tidak menunjukan ekspresi apa pun, Dabin tahu ada seseorang di belakangnya.
Tidak, itu bukan seseorang. Melainkan Kim dan Kai, juga semua temannya yang masih ada di pesta ulangtahun Kim tengah berdiri tak jauh dari parkiran. Memandangi ia dan Jino dengan masing-masing pertanyaan di benak mereka. Entah sejak kapan mereka ada di sana, tapi Dabin yakin, Kim melihat jelas bahwa Jino baru saja menciumnya.
***
Sudah hampir satu jam Dabin duduk di ruang tamu, membuat Mbak Yayah merasa serba salah. Ia menyadari jika nona mudanya sedang bertengkar dengan temannya, tapi ia tidak ingin memaksa Dabin untuk pulang, juga tak bisa memaksa Kim untuk menemui tamunya.
Biasanya, bila berkunjung ke rumah mewah ini, ia akan langsung menuju kamar Kim. Tak jarang Mbak Yayah sendiri tidak menyadari ada tamu di kamar majikannya.
“Sudah telepon Non Kim belum?” tanya wanita yang memang khusus ditugaskan untuk melayani Kim secara pribadi. Mbak Yayah tidak tahu alasan nonanya tidak mau menemui Dabin, tapi ia merasa kasihan jika Dabin pulang tanpa bertemu dengan Kim.
“Telepon sama w******p aku diblok,” jawab Dabin santai.
Sebelum ke rumah Kim, Dabin sudah yakin jika gadis itu pasti akan sangat marah kepadanya. Tapi Dabin sudah bertekat akan menjelaskan semuanya pada Kim sebelum mereka bertemu di kampus. Entah Kim mau menerima penjelasannya atau tidak, setidaknya Dabin harus memastikan jika Kim mendengar ucapannya.
Dabin menyesal, seharusnya semalam ia tidak langsung pergi begitu saja. Harusnya ia menjelaskan pada Kim detik itu juga, bersama Jino kalau perlu. Entah pria sialan itu sudah berbicara dengan Kim atau belum, yang penting Dabin harus bertemu Kim sekarang.
Sebentar lagi pukul 10, Dabin tidak peduli harus melewatkan kelas – untuk yang kesekian kali, agar bisa bertemu dengan Kim.
“Gimana kalau besok ke sini lagi? Mungkin Non Kim masih butuh waktu.”
Dabin terdiam. Kakinya masih terasa berat untuk meninggalkan rumah Kim.
“Mau ngomong apa?” Kim muncul, menuruni anak tangga dengan langkah perlahan. Wajah Kim sangat terlihat jelas jika ia tidak tidur semalaman. Matanya yang sembab membuat perasaan bersalah Dabin makin besar.
Kim menduduki sofa yang bersebrangan dengan Dabin. Mbak Yayah tampak lega melihat nona mudanya akhirnya keluar dari kamar.
“Saya bikin minum du –“
“Nggak usah,” potong Kim. “Dabin nggak lama kok, di sini.” Mbak Yayah kembali merasa tidak enak. Tanpa permisi lagi ia segera meninggalkan mereka berdua.
“Kim…”
“Gue tuh sebenarnya udah curiga ya, kalau Jino emang lagi deket sama cewek lain. Tapi gue benar-benar nggak nyangka kalau ceweknya ternyata lo.”
Dabin sempat kehilangan kata-katanya. Tapi ia tidak akan membiarkan dirinya terintimidasi oleh kemarahan Kim.
“Gue sama Jino nggak ada apa-apa. Lo sendiri tahu kan, siapa yang gue suka?”
“Nggak ada yang tahu lo sama Jino ada apa-apa atau nggak. Bisa aja lo emang dekat sama Jino untuk ngedeketin Kai. Atau bisa aja lo juga balik suka sama Jino karena nggak bisa dapetin Kai. Nggak ada yang tahu, kan?” Kim mulai dengan pikiran-pikiran liarnya.
Dabin tahu dan sadar, Kim tidak akan mudah diajak bicara. Kim akan selalu mendahulukan pemikirannya daripada mencaritahu kebenaran. Karena kebenaran bagi Kim adalah apa yang ada di pikirannya.
“Kalau lo teman dekat gue, seharusnya lo mau dengerin gue dulu, Kim,” Dabin mulai tak sabar.
“KALAU LO TEMAN DEKAT GUE, LO NGGAK BAKAL NYEMBUNYIIN HUBUNGAN LO SAMA JINO DI BELAKANG GUE!” Kim berteriak. Ia bahkan sampai bangun dari duduknya hanya untuk berteriak pada Dabin.
“Lebih baik lo pergi dari rumah gue, Dab,” Kim mulai menangis – meski ia berusaha menutupinya. “Gue nggak mau denger apa-apa dari mulut lo.”
Kim kembali ke kamar. Meninggalkan Dabin yang sama kecewanya dengan dirinya.
***
Dabin tetap ke kampus meski ia melewatkan salah satu mata kuliahnya. Kenapa tiba-tiba banyak masalah singgah di dalam hidupnya. Pikirannya masih belum tenang memikirkan berbagai pemberitaan mengenai hubungan Molla dengan seseorang. Hal itu pula yang membuatnya tidak bisa melukis dengan baik. Ia selalu merasa senang dan bangga bila salah satu karyanya mengikuti pameran seni nasional, tapi tahun ini ia harus mengubur dalam-dalam keinginannya itu. Kini, hubungannya dengan Kim berantakan gara-gara pria sialan bernama Jino.
Meski tak pernah bisa melukis dengan perasaan kacau seperti sekarang, Dabin tetap mengunjungi galeri seni dan kini sudah duduk di depan kanvas – yang masih kosong tentunya. Jendela besar yang ada di sampingnya sengaja ia buka lebar-lebar. Berharap kicauan burung dan tiupan angin – juga matahari yang menyilaukan mengingat saat ini sudah hampir pukul 12 siang, akan sedikit menenangkan pikirannya.
“Dab,” sapa Cloe. Cloe menutup pintu galeri seni perlahan. Tidak ada siapapun di ruangan ini selain mereka. “Lo berhasil ketemu Kim?” tanya Cloe kemudian. Ia menarik sebuah kursi untuknya.
“Berhasil. Tapi ya, lo pasti udah nebak gimana ceritanya.” Cloe sudah mendengar cerita Dabin semalam. Mengingat kedekatan Kim dan Jino selama ini, ia benar-benar tidak menyangka jika Jino akan menyakiti Kim dengan cara seperti ini. Juga membuat pertemanan Dabin dan Kim terancam.
Jika memilih siapa yang akan Dabin ajak bicara, tentu saja Cloe. Ia tahu Cloe tidak akan memihak siapapun, pikirannya sangat terbuka. Berbeda dengan Jess. Jess sudah pasti ada di pihak Kim. Apa pun kebenarannya, Jess akan selalu ada di belakang Kim.
“Lo mau gue ngomong sama Kim?” tawar Cloe, tulus.
Dabin menggeleng pelan. Ia hanya tidak mau Kim salah paham dan menganggap Cloe ada di pihaknya. “Nggak perlu, Cloe. Mungkin Kim emang butuh waktu. Gue nggak masalah kalau sekarang dia masih benci sama gue. Gue juga salah, harusnya dari awal gue cerita ke Kim.”
“Tapi gue ragu Kim akan terima meskipun lo ngomong di awal,” sanggah Cloe. “Seperti yang kita tahu, Kim benar-benar tergila-gila sama Jino. Seharusnya Jino sendiri yang membereskan kekacauan ini.”
“Entah kenapa gue ngerasa kalau Jino punya maksud lain.”
Cloe tampak bingung, “Maksudnya?”
“Gue rasa Jino punya alasan khusus kenapa tiba-tiba ninggalin Kim dan bilang suka sama gue,” sahut Dabin mantap.
Dabin akan mencari tahu apa yang sebenarnya tengah Jino rencanakan.
***