Sore tadi Jino mendapat kabar jika ibunya, Feya, dibawa ke rumah sakit. Feya ditemukan pingsan di ruang kerja oleh asistennya. Sebelum menemui Feya di ruang inap, Jino sudah mendengar penjelasan dokter. Feya hanya kelelahan dan butuh bedrest setidaknya dua sampai tiga hari.
“Lagian Mama bisa-bisanya sih, nggak tidur tiga malam, sampai lupa makan pula,” omel Jino, dengan tatapan cemas.
Feya duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajah pucatnya tidak memudarkan kecantikannya. Feya merasa dirinya baik-baik saja, meski ia menyadari tubuhnya sangat lemas. Jino tidak suka melihat tubuh Feya yang semkain kurus. Dan Jino juga tidak suka melihat Feya berusaha terlihat baik-baik saja hanya untuk membuatnya tidak merasa cemas.
“Ngapain punya banyak asisten dan pegawai kalau semua pesanan klien Mama kerjain sendirian?”
Feya bekerja sebagai fashion designer khusus baju pengantin dan sudah memiliki sebuah boutique besar di Jakarta dan beberapa cabang di kota-kota besar lainnya.
“Kamu kan, tahu kalau Mama suka bekerja.”
“Ya tapi nggak sampai menyiksa diri begini.”
Lagi-lagi Feya hanya membalas dengan senyuman. Ia tersadar jika penampilan Jino lebih rapi dari biasanya.
“Kamu mau pergi, ya?”
“Ada teman ulangtahun.”
“Cewek?”
Jino mengangguk tanpa membalas tatapan Feya.
“Pacar kamu?” selidik Feya dengan senyum menggoda.
“Bukan.”
“Belum?”
“Ma…” Jino membalas tatapan Feya, menuntut untuk tak lagi mengorek tentang siapa teman yang akan dia temui nanti. Justru hal itu membuat Feya makin penasaran, tapi ia memilih untuk menanyakannya lain kali, mungkin Kai bisa memberikan bocoran.
“Kamu mau berangkat? Mama nggak apa-apa loh sendirian. Lagian kalo kamu pergi, Mama mau istirahat, kok.”
“Aku nunggu Kai jemput aku,” jawabnya. “Ma,” panggil Jino lagi, tapi kali ini nadanya terdengar lebih lirih.
“Kenapa, Jino? Kamu mau bilang apa?” Feya paham, pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan anak sematawayangnya.
“Papa tahu Mama masuk rumah sakit?” Ada keraguan di sana, tapi rasa penasaran Jino mengalahkannya. Hatinya memanas kala menanyakan hal itu. Ia selalu tidak mengerti kenapa mamanya selalu terlihat baik-baik saja.
Mata Feya berpendar melihat jendela besar yang menampilkan langit jingga kemerahan. Mengangguk perlahan sebelum kembali menatap Jino. “Tahu. Tenang aja, Sayang.”
Jino tak ingin mengatakan apa pun lagi. Ia tidak pernah mau dan tidak pernah berani mencari jawaban meskipun ia tahu jika hubungan kedua orangtuanya sedang tidak baik. Papa memilih tinggal di apartemennya di dekat kantor sementara Mama sering menginap di tempat kerjanya. Rumah besar mereka tak lagi hangat. Jino selalu takut pulang ke rumah. Bila sudah begitu, ia lebih memilih pulang ke rumah Amira, neneknya, di mana Kai juga tinggal di sana.
Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh. Kelapa Kai muncul dengan senyum lebar. Feya langsung merentangkan kedua tangannya begitu melihat kedatangan keponakan tersayangnya itu. Berbeda dengan Jino, meski Kai juga menghawatirkan Feya, ia lebih memilih untuk percaya jika tantenya baik-baik saja.
Kai memeluk Feya erat. Feya ngusap kepala lelaki itu dengan gemas. Kai yang selalu tampak dingin, bisa terlihat begitu menggemaskan bila sudah bersama Feya. Jino selalu menyukai pemandangan di hadapannya. Ia tidak pernah merasa cemburu bila Kai terlihat lebih akrab dengan Feya daripada dirinya. Orang tua Kai meninggal dalam kecelakaan pesawat saat pria itu berusia 2 tahun. Dan bagi Feya, Kai sudah seperti anaknya sendiri.
“Kai, kamu wangi banget, sih?” Mata Feya tampak berbinar saat melepaskan pelukannya.
Kai mengendus bajunya sendiri. “Masa sih? Padahal aku mau ke ulangtahun pacarnya Jino.”
Jino melotot. Ingin bangun dari duduknya dan memukul kepala lelaki itu. Tapi ia urungkan karena Feya merespons jawaban Kai dengan tawa. Jino berharap, semoga Feya benar-benar setegar kelihatannya.
***
Jino terlambat. Pesta hampir usai saat ia dan Kai datang ke rumah Kim. Beberapa tamu undangan sudah pulang, menyisakan beberapa orang yang dikenalnya seperti Dabin, Cloe, Jess, Bian, Rama, dan Martian. Khusus malam ini Martian diperbolehkan untuk tidak menjaga Koju. Bri tidak mau Martian menjadi kakek-kakek pemarah yang menyesal tidak menikmati masa mudanya. Sedangkan Bian dan Rama memang sengaja menunggu kedatangan Jino dan Kai.
“Happy birthday, Kim, maaf ya, aku telat. Tadi aku mampir ke rumah sakit jengukin Mama.” Perkataan Jino membuat mata Kim membulat. Ia tidak menyangka alasan keterlambatan Jino karena mamanya sakit. Tanpa Jino ketahui jika dari awal pesta ulangtahunnya, Kim menunjukan rasa tidak semangatnya secara terang-terangan. Bian dan Rama sampai bosan ditanya keberadaan Jino.
Aula megah yang menghadap ke taman belakang dan kolam renang terasa kembali menyenangkan untuk Kim. Meski sebagian dekorasi ulangtahunnya sudah berantakan, juga makanan yang hampir habis – Cloe dan Martian masih berdiri di dekat kue ulangtahun yang terpotong, memakan kue itu dengan lahap, Kim merasa pesta ulangtahunnya baru saja dimulai.
“Its okay, Jino. Makasi ya, kamu tetap datang ke sini.” Kim tampak lebih cantik dari biasanya. Dress biru muda yang dikenakannya membuat ia terlihat seperti seorang puteri. “Terus keadaan Mama kamu gimana?” tanya Kim lagi.
“Baik-baik aja, kok.” Jino mengangguk kecil. Pikirannya tak lama tersadar kala melihat tumpukan kado di sudut ruangan. Ia tidak membawa hadian apa pun untuk Kim.
“Kai, lo bawa kado?” bisik Jino, tapi masih bisa didengar Kim.
“Nggak. Gue kan, ke sini diajak sama lo, jadi gue cuma nemenin lo,” jawab Kai santai.
Jino menoleh tidak enak pada Kim. Bisa-bisanya ia datang tanpa membawa apa pun. Buru-buru Kim menenangkannya. “Nggak apa-apa, Jino. Kamu datang ke sini aja aku udah senang banget. Tadinya aku pikir kamu nggak bakalan datang.” Jino menoleh pada tangan kirinya yang telah berpindah di genggaman Kim. Jino membiarkannya.
Kai melihat sebuah piano grand di dekat tumpukan kado. Idenya muncul. “Kim, gue boleh pakai piano lo?”
“Sure,” jawabnya cepat.
“Gue akan mainin satu lagu sebagai hadiah ulangtahun lo,” ucap Kai mantap. Kim terlihat begitu senang – juga tidak percaya. Kai meninggalkan mereka dan duduk depan piano, membuat yang lainnya langsung memusatkan perhatian padanya. Kim memutar badannya, sambil mengeratkan pelukannya pada lengan Jino. Ia tampak tidak sabar mendengar permainan piano Kai.
Cloe dan Martian langsung berhenti memenuhi perut mereka, berganti menatap ke Kai. Jess, Rama, dan Bian yang sedari tadi asyik mengobrol di sofa juga langsung menoleh ke arah yang sama.
“Lagu yang mau gue mainin sebenarnya belum sempurna, tapi semoga aja bisa menghibur kalian semua, terutama Kim. Happy birthday, Kim,” ucap Kai sebelum nada-nada indah itu ia mainkan.
Bertepatan dengan kalimat Kai, Dabin memasuki aula dengan segelas air di tangannya. Pandangannya langsung terkunci pada sosok di balik piano hitam itu. Lagu ini, lagu yang selalu Kai mainkan di ruang musik. Lagu yang selalu membuat Dabin rela membuang waktunya untuk mendengarkan dari luar jendela. Dan tidak ada pemandangan lain yang membuat Dabin setenang ini selain melihat Kai bersama pianonya.
Hanya saja, tak sama seperti biasanya, Dabin merasa tidak setenang ini kala mendengarkan permainan piano Kai. Apa karena permainan piano Kai kali ini khusus untuk ulangtahun Kim? Tapi bukankah siapapun boleh mendengar lagu yang Kai ciptakan ini. Dabin mencari-cari alasan atas kegusaran hatinya sendiri. Mengapa? Mengapa ia tidak suka yang lain juga menikmati alunan ini selain dirinya, terlebih Kai bermain khusus untuk Kim.
Suara tepukan tangan terdengar kala Kai menyelesaikan permainan pianonya. Juga menyadarkan lamunan Dabin. Kai tampak senang, tak menyangka teman-temannya begitu puas dengan permainannya. Padahal ia sendiri merasa lagu ciptaannya barusan belum sepenuhnya sempurna.
Dabin terkejut kala tatapan Kai kini tertuju padanya. Kai tersenyum kecil padanya, yang kemudian dibalas anggukan oleh Dabin. Bisa-bisanya Kai yang biasa bersikap dingin kini tersenyum padanya. Atau itu hanya pikiran Dabin sendiri. Dabin mengalihkan pandangannya dengan meminum air putih yang dibawanya.
Kai kembali menghampiri Kim dan Jino. Senyum Kim terukir lebar. “Thank you, Kai. Yang barusan bagus banget.”
“Kalian mau minum?” tawar Kim. “Sebentar ya, gue minta seseorang untuk buatin kalian sesuatu.” Kim pergi. Kai menghampiri Rama dan Bian.
“Dab,” panggil Jino. Dabin terkejut, tapi tak menghindar saat Jino semakin dekat padanya. Ia sempat mengalihkan pandangannya pada Martian – yang ternyata juga tengah menatapnya tajam, dengan mulut yang kembali penuh makanan. Tatapan Martian seakan menyuruh Dabin untuk melakukan apa yang disuruhnya tempo hari.
“Hai,” sapa Dabin, berusaha untuk bersikap seperti biasa. “Jino, sorry ya, waktu di Koju gue nyiram lo. Gue nggak maksud buat ngelakuin itu. Gue…”
“Nggak apa-apa, Dab. Gue juga salah karena udah bilang hal yang pasti bikin lo kaget.”
Dabin merasa sedikit lega. Mungkin kah Jino juga menyadari bahwa ucapannya malam itu bukan sesuatu yang serius.
“Gue akan coba ngomong sama Kim malam ini,” ucap Jino pelan, tanpa beban. Seakan Dabin tidak boleh merasa lega.
“Maksud lo?”
“Gue akan meluruskan perasaan gue ke Kim supaya dia nggak lagi salah paham sama kedekatan kami.”
Dabin sempat melihat sekeliling, berharap tidak ada yang memperhatikan mereka. “Nggak di hari bahagianya, Jino. Lo gila, ya? Lo nggak mikirin perasaan Kim?”
“Mikirin,” jawab Jino santai. “Makanya gue nggak mau dia terus-terusan salah paham sama hubungan kami. Gue juga pengin bisa bebas menyukai seseorang seperti dia.”
Andai saja ini bukan di rumah Kim, mungkin Dabin sudah kembali menyiram wajah Jino dengan air yang ada di gelasnya. “Kalau gitu terserah lo mau ngomong apa sama Kim, tapi gue minta lo nggak perlu bawa-bawa gue di antara hubungan kalian.”
“Terus lo mau gue nyembunyiin ini dari Kim?” tanya Jino lagi. Tanda sadar jika Kim sudah berdiri di dekat mereka dengan membawa dua gelas minuman.
“Nyembunyiin apa?” Suara Kim membuat Dabin dan Jino menoleh. Berbeda dengan Jino yang tampak biasa saja, Dabin tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Entah sudah berapa lama Kim berdiri di dekat mereka dan apa saja yang sudah didengar gadis itu.
Tatapan Kim begitu datar, tapi menusuk. Sampai-sampai Dabin tak berani membalas tatapan matanya. Rupanya situasi tersebut membuat yang lain menoleh pada mereka. Dabin sadar jika semua teman-temannya, termasuk Kai, kini sedang melihat ke arah mereka.
“Kim, gue akan biarin lo dan Jino ngobrolin masalah kalian.” Dabin pergi setelah meletakan gelasnya.
Mata Kim memanas, begitu pun dengan hatinya. Ia sadar betul ada sesuatu yang tidak beres di sini. Sebenarnya ia masih memikirkan alasan perubahan sikap Jino padanya, hanya saja ia terlalu takut untuk menebak, apalagi mencari tahu. Tapi melihat Jino yang begitu intens mengobrol dengan teman baiknya sendiri membuat Kim tidak bisa lagi menyembunyikan rasa curiganya.
“Kamu ada apa sama Dabin?” tanya Kim dingin.
Jino tidak menjawab, ia memilih untuk mengejar Dabin. Kim menghela napas berat, seakan bersiap untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan terburuk yang belakangan ini menghantuinya.
***