“Dab, gue suka sama lo.”
Dabin memukul setir saat kalimat itu kembali muncul di kepalanya. Jam menunjukan pukul 1 malam saat ia meninggalkan Koju. Itupun karena Martian memaksanya pulang dengan tawaran akan mengajaknya makan siang sebelum membuka Koju. Pikirannya melayang ke mana-mana selama perjalanan pulang, bahkan sampai ia tiba di depan pagar tinggi berwarna hitam.
Ia harus memikirkan kejadian ini baik-baik. Berbagai pilihan muncul layaknya sebuah essai yang harus segera dikerjakannya, menentukan kelangsungan pertemanannya dengan Kim. Ingin sekali Dabin menceritakan semua pada Kim, menyadarkan gadis itu bahwa betapa nggak jelas lelaki pujaannya. Tapi itu bukan ide yang bagus. Dabin tahu betapa cintanya Kim pada Jino, apalagi hubungan mereka baru membuahkan hasil belakangan ini. Kim sedang berada di puncak mencintai seorang Jino, ia tidak akan dengan mudah mendengarkan dirinya meski Dabin adalah teman baiknya.
Bercerita pada Cloe dan Jess? Tidak. Bercerita pada mereka sama saja bercerita pada Kim lewat perantara. Bukan karena mereka tidak bisa menjaga rahasia, tapi Cloe dan Jess pasti akan sangat membenci Jino dan tidak ingin Kim terluka.
Kim memang sudah pasti akan terluka, tapi Dabin memikirkan hal terburuknya. Bagaimana bila Kim tidak percaya dan cerita itu justru menjadi boomerang untuknya. Jino sialan! Dari sekian banyak gadis menarik di kampus, kenapa ia harus menyukai teman dekat pacarnya sendiri. Ya anggaplah Kim dan Jino berpacaran. Tapi kan, memang terlihat seperti itu.
Tok, tok…
Suara ketukan pada kaca mobil membuyarkan pikiran kusutnya. Pak Lim, satpam rumah, tampak mengintip dari luar. Dabin tersadar oleh pagar besar di hadapannya yang sudah terbuka lebar. Buru-buru ia menurunkan kaca mobilnya.
“Non, kenapa belum masuk?” tanyanya bingung.
“Ah, iya. Maaf, Pak.” Tak ingin memberikan penjelasan apa pun, Dabin membawa mobilnya masuk. Menyisakan kerutan bingung di dahi Pak Lim.
***
Aroma kopi dan butter membuat Dabin berbelok ke arah dapur. Tadinya ia ingin langsung ke kampus dan makan pagi di sana, tapi pikirannya berubah dengan cepat. Dabin meletakkan tasnya pada kursi kosong di sampingnya. Menyantap roti butter yang tersedia di hadapannya tanpa menghiraukan Molla yang sedang memandang luar jendela dengan cangkir kopi yang masih mengepul. Molla masih memakai piama, tanpa riasan wajah tetap terlihat cantik. Ia sudah seperti model iklan kopi di pagi hari.
“Good morning, Dabby,” sapanya manis. Molla memutar badannya. Berdiri di depan cabinet sambil mengoleskan roti panggang dengan butter. “Aku udah transfer uang kuliah kamu semester depan, ya. Sama bonus jajan buat kamu.” Dabin belum menjawab karena Molla kembali berucap, “Tenang, bukan uang haram, kok, uang itu hasil bayaran iklan terbaru aku.”
Uang haram katanya. Dabin tahu Molla sedang menyindirnya dengan sebutan uang haram. Padahal kalau dipikir dengan kepala jernih, sebelum menjadi ‘pacar’ pria beristri itu, Molla sudah kaya raya. Tapi tetap saja Dabin tidak akan pernah menyetujui hubungan panas Molla dengan pria itu.
“Thank you,” balas Dabin singkat.
“Dab, kamu udah ngecek rekening kamu belum? Soalnya Dion bilang dia sudah transfer uang ke kamu untuk dua lukisan yang dia suka.” Dion adalah manager Molla. Dabin cukup mengenal baik pria lajang itu karena Dion adalah salah satu pengagum karyanya. Dabin tidak pernah sengaja menjual hasil lukisannya, hanya saja beberapa memang kerap menawar untuk membeli karyanya.
Dabin meraih ponsel di sampingnya, senyum kecil terukir kala mengetahui nominal yang dikirim padanya. Dion yang baik hati itu rupanya membayar tiga kali lipat dari harga yang disebutkannya. Sayang, akhir-akhir ini dia tidak bisa melukis dengan benar.
Sebuat chat muncul pada notif bar. Membuat ia mendadak kesulitan menelan sarapannya.
Kimberly
Akhirnya Jino balas pesan gue
Ternyata dia lagi sakit
Sorry ya udah riweh beberapa hari ini
Sakit? Iya, Kim, Jino kayaknya sakit. Otaknya!
Dabin ingin mengetik sesuatu, tapi belum usai kalimatnya, Kim kembali mengirim pesan.
Kimberly
Dab, lo pagi ini ada kelas bareng Jino, kan?
Titip Jino-ku, yaaaa.
Nanti kita makan siang bareng, siapa tahu ada Kai :p
Biasanya Dabin tidak pernah peduli orang-orang di kelas manapun, tapi mulai hari ini semua berbeda. Keberadaan Jino adalah masalah baru untuknya. Entah apa yang sebenarnya direncanakan pria itu, Dabin berharap jika Jino tidak benar-benar serius dengan ucapannya semalam.
***
Ada dua hal yang membuat Dabin merasa aman, setidaknya untuk hari ini. Pagi ini ia tidak melihat Jino di kelas, semoga saja pria itu mendadak pindah jurusan sehingga tidak perlu lagi berada di kelas yang sama dengannya. Heran, dari sekian banyak kelas dan jam, mengapa semester ini ia banyak memiliki kelas yang sama dengan Jino. Tapi yang penting, ia tidak bertemu Jino pagi ini.
Kedua, nanti ia tidak perlu ikut makan siang bersama Kim dan lainnya karena sudah ada janji bertemu Martian. Ia berhutang cerita pada Martian meskipun sebenarnya pria itu tidak menuntut untuk diceritakan. Setidaknya, Dabin punya alasan untuk tidak bertemu dengan Kim. Dabin merasa sangat jahat menyembunyikan semua ini dari Kim, tapi ia juga tidak siap untuk mengutarakannya. Ia akan berusaha bersikap seperti biasa, dengan sedikit ‘melarikan diri’ lebih tepatnya.
Dabin memasukkan buku-bukunya ke dalam lemari loker, mengganti isi tasnya dengan beberapa cat air dan kuas. Beberapa hari lalu ia sempat berbelanja alat tempur-nya yang kemudian ia simpan di dalam loker. Masih satu setengah jam lagi dari jadwal makan siang bersama Martian, Dabin akan menghabiskan waktu di dalam galeri seni. Membayangkan kemungkinan dapat bertemu dengan Kai di gedung seni sedikit menenangkan pikirannya.
Ketenangannya tidak berlangsung lama, karena saat ia menutup pintu loker, sudah ada Jino berdiri di sampingnya. Bersandar pada pintu loker lain sambil menyilangkan tangannya.
“Hei,” sapanya dengan senyuman yang begitu ringan.
Hampir saja Dabin berteriak. Beruntung ia dapat menguasai rasa terkejutnya. Matanya bergerak ke sana kemari, takut-takut kalau Kim menemukan mereka berdua sedekat ini. “Mau apa lo?” tanyanya setelah merasa aman. Ia ingat Kim tidak ada kelas pagi hari ini.
“Mau ngajak makan, sambil nanyain isi kelas pagi ini,” jawab Jino santai.
“Gue sibuk.”
Dabin berniat pergi, tapi dengan gerakan cepat Jino menarik tangannya, membuat tubuh Dabin kembali berbalik menghadap Jino, kali ini lebih dekat. Buru-buru ia melepaskan pegangan tangan Jino. Sakit. Jino menariknya terlampau keras.
“Apaan sih, lo? Mau lo apa?” tanya Dabin kesal, meski ingin sekali meneriaki Jino tapi ia berusaha memelankan suaranya, tak ingin menjadi pusat perhatian seperti di Koju.
“Gue nggak ada maksud apa-apa, Dab.”
“Bohong! Nggak mungkin lo tiba-tiba bilang suka sama gue kalau nggak ada tujuan tertentu. Beberapa hari yang lalu lo masih baik-baik aja sama Kim, dan lo nggak bisa seenaknya deketin gue kayak gini.”
“Maksud lo, lo mau gue pisah baik-baik sama Kim, terus baru deketin lo?” tanya Jino santai, terlewat santai sampai-sampai Dabin ingin sekali berteriak padanya.
“Jino, gue kasih tahu sama lo, jangan pernah deketin gue lagi dan jangan pernah nyakitin perasaan teman gue. Gue serius!” Tatapan Dabin menajam, semoga ucapannya barusan terserap dengan baik di otak Jino.
“Gue juga serius waktu bilang suka sama lo!” Dabin menutup mulu pria itu spontan dengan kedua tangannya. Jino berbicara terlampau keras. Ia tidak ingin ada yang mendengarnya, termasuk telinganya sendiri.
Jino mengambil satu tangan Dabin, dan mengecup perlahan jemari gadis itu. Dabin menariknya dengan kasar. Jino benar-benar menyebalkan, pikirnya. Ia pergi setelah mengunci lokernya. Meninggalkan Jino dengan segala ketidakwarasannya.
Jino… Dabin mencoba mengingat pertemuan pertamanya dengan pria itu bersama dengan langkah kakinya menuju gedung seni. Tidak, Dabin tidak memiliki ingatan apa pun tentang pria itu. Meski pernah mendengar para mahasiswi membicarakannya karena pria itu lumayan tampan dan menarik di angkatannya, Dabin tetap tidak peduli. Meski banyak informasi tentang pria itu dari Kim, Dabin tidak pernah mengingatnya dengan baik. Meski beberapa kali ada di kelas yang sama, Dabin tidak pernah berinteraksi dengan Jino, kecuali berkaitan dengan mata kuliah.
Sial, sepertinya Jino terus mengikutinya sampai gedung seni. Langkah kaki Dabin semakin cepat. Pikirannya berkata ia harus bersembunyi di suatu tempat. Ia tidak bisa masuk ke galeri dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa Jino makin leluasa mengatakan omong kosongnya bila berada di ruangan yang sama dengannya.
Dabin masuk ke ruang musik tanpa memedulikan orang yang ada di dalamnya. Ia langsung menutup pintu dan mengintip ke luar lewat jendela. Persis maling yang sedang dikejar warga. Aman, pikirnya lega.
Tak lama Dabin tersadar bila suara di dalam ruangan ini tak terdengar lagi, tapi ia juga mendadak terlalu takut untuk menoleh ke belakang.
“Sorry, tapi kayaknya lo harus daftar dulu untuk pakai ruangan ini, karena saat ini gue yang pakai ruangan ini.”
Dabin sangat hapal suara berat ini. Bisa-bisanya ia tidak menyadari jika seseorang yang bermain piano di ruangan ini adalah Kai. Pikirannya terlalu sibuk dengan Jino.
Dabin menoleh dan berusaha menunjukan senyuman terbaiknya, tapi terasa canggung karena Kai terus menatapnya dingin, merasa terganggu dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Dabin pasti sudah mengganggu permainan piano Kai.
“Lo… lo bisa terusin latihannya, anggap aja gu – gue nggak ada di sini,” sahut Dabin terbata. Jika ia memiliki keberanian untuk menatap Jino saat pria itu bicara, tapi tidak dengan Kai. Ia tidak lagi berani membalas tatapan pria itu.
“Gue nggak mau ada orang lain di ruangan ini ketika gue lagi latihan,” balas Kai sinis. “Lo benar-benar mengganggu.”
Dabin terpaku. Baiklah, lebih baik menghadapi Jino daripada membuat Kai kesal. Ia memaklumi Kai bersikap tidak menyenangkan padanya meski hal itu membuatnya sedih. Hanya anggukan yang dapat dilakukannya sebelum keluar dari ruang musik.
***