TIGA

1506 Words
Dabin pernah membantu Martian menghapal segala macam teori dasar komunikasi agar bisa lulus ujian mata kuliah tersebut. Hampir seluruh mata kuliah Martian jalani dengan baik, begitupun dengan nilainya. Namun pria itu bingung luar biasa saat tidak bisa mengajukan outline skripsi karena masih ada 3 sks yang belum selesai. Dan yang lebih mengejutkannya adalah ia belum lulus mata kuliah dasar yang seharusnya sudah ia selesaikan saat semester awal. Beruntung saat ikut kelas tersebut Martian berkenalan dengan mahasiswi cerdas bernama Dabin. Bila yang lain merasa sungkan untuk dekat dengan Martian – karena dia adalah senior, tapi tidak dengan Dabin. Seminggu sebelum ujian akhir, Dabin tidak pernah absen datang ke Koju untuk membantu Martian belajar. Tak disangka, sempat dua kali mengulang mata kuliah tersebut –membuat Martian tidak ingin mengikuti mata kuliah itu lagi, akhirnya ia lulus dengan nilai A. Dabin ikut lega karena lulusnya mata kuliah itu dapat menjadi tiket masuk bagi Martian untuk membuat outline skripsi. Lalu semua berubah ketika Koju menjadi milik ibunya. Martian lebih memilih membantu Brisa di Koju daripada melaksanakan tugas akhirnya. Tiga tahun lebih, meski Martian terus membayar uang kuliahnya – semata-mata agar tidak dikeluarkan dari kampus, ia belum juga mengerjakan skripsinya. Apakah itu membuat Dabin terkejut? Tidak sama sekali. Malah ia sering bergurau dengan mengatakan, jangan-jangan sebenarnya alasan Martian menunda tugas akhirnya karena menunggunya menyelesaikan semua mata kuliahnya. Pernah juga suatu hari, Kim berencana mengajak teman-temannya untuk mengunjungi kakaknya yang sedang menyelesaikan S3-nya di Jerman. Dabin, Cloe, dan Jess diminta untuk mengurus visa mereka karena waktu liburan akan tiba dalam waktu kurang dari dua bulan. Tapi seminggu sebelum waktu kepergian yang telah ditentukan, dengan implusif Kim berkata bahwa ia tidak ingin datang ke Jerman karena bertengkar dengan kakaknya. Dan secara implusif pula ia membelikan tiket pesawat ke Bali sebagai permintaan maafnya. Cloe dan Jess sebenarnya kesal dengan perubahan rencana mereka, apalagi dengan alasan yang menurut mereka kekanakan. Tapi karena Kim sudah membelikan mereka tiket pergi dan pulang, ditambah menyewa penginapan, mau tidak mau mereka menuruti gadis itu. Sedangkan Dabin merasa perubahan mood Kim itu adalah hal yang biasa. Mungkin ia tidak akan mempermasalahkan bila Kim benar-benar membatalkan liburan mereka. Namun tidak dengan Jino yang tiba-tiba menyatakan perasaan padanya. Tidak. Dabin tidak bisa menerimanya. Kalimat barusan adalah jokes terburuk yang pernah didengarnya. Dan Jino benar-benar keterlaluan bila ingin mengerjainya. Berasal dari jurusan yang sama, tidak membuat Dabin kerap berinteraksi dengan Jino. Bahkan ia menyadari ada mahluk bernama Jino di dunia ini karena Kim tidak pernah berhenti membicarakannya. Juga karena Kai yang selalu menemui Jino di kantin gedung komunikasi. Tidak pernah mengobrol berdua, tidak pernah terlibat dalam tugas kelompok, pokoknya Dabin tidak tahu apa-apa tentang Jino, kecuali Kim membicarakannya. Semenjak Jino dekat dengan Kim beberapa bulan belakangan ini, Dabin mulai terbiasa dengan keberadaan Jino di dekatnya – sesekali menyapa bila tak sengaja bertatap wajah. Juga, keberadaan Jino seakan menjadi petunjuk Dabin untuk menemukan Kai, selain di kelas tentunya. Dabin tahu betapa sukanya, atau mungkin terobsesinya Kim pada Jino. Meski ia tidak pernah mencari tahu apakah sebenarnya Kim dan Jino resmi berpacaran, tapi yang Dabin tahu Jino sudah membalas perasaan Kim. Lalu apa yang membuat Jino muncul di hadapannya, dan mengatakan bahwa pria itu menyukainya. Ah, pasti Jino sedang mabuk. Pasti sebelum ke Koju ia sudah minum di tempat lain. Pasti Jino sedang bertengkar dengan Kim sehingga pikirannya tidak waras. “Are you okay, Jino? What the hell are you talked about?” Dabin berbicara pelan tapi tegas. Tapi semakin diperhatikan, Dabin ragu Jino tengah mabuk. Ah, tidak, tidak, tidak, pasti ada lanjutan dari kalimat dia barusan. Jino mengulas senyum. Menggerakan kursi bar dan menopang kedua lengannya di atas meja bar. Apa Jino tidak sadar ya, kalau saat ini ia benar-benar kebingungan. “Jino…” Dabin mencondongkan tubuhnya pada pria itu. “Lo baik-baik aja kan, sama Kim? Lo udah dua hari ini menghilang dan Kim benar-benar kebingungan. Lo juga barusan dengar gue bicara sama Kim di telepon kan?” Jino menoleh. Lagi-lagi mengulas senyum yang begitu manis. Menatap Dabin begitu lembut seakan tidak ada lagi manusia selain dirinya di sini. Bila ia adalah Kim, pasti dirinya sudah terbang dan tidak bisa kembali lagi. “Gue nggak pernah suka sama Kim. Alasan gue dekat sama dia, ya karena kasihan aja sama dia yang terus-terusan ngejar gue dari awal masuk kuliah. Tanpa dia sadar kalau yang gue suka itu sahabatnya sendiri.” Dabin menyiram Jino dengan minumnya. Spontan ia melakukannya. Beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka, Sebagian berbisik-bisik. Mungkin mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar. “Apa lo bilang? Kasihan?” Raut wajah Jino berubah dingin. Ia memegang pergelangan tangan Dabin dengan erat. Dabin meringis kesakitan. Ia tidak bisa menarik tangannya karena gelas tadi masih ada di genggamannya. Tapi yang kemudian dilakukan Jino adalah mengambil gelas itu dan meletakannya di atas meja bar dengan hati-hati. “Gue serius. Termasuk perasaan gue ke lo, Dab.” “LO GILA, YA!” teriak Dabin. Para tamu yang tadi sempat mengabaikan mereka kini kembali menoleh. Dabin tertunduk malu. Ia sadar ucapannya barusan memancing perhatian orang-orang. “Honey,” Bri mendekat dan sedikit berbisik padanya. “Im so sorry, tapi apa kalian bisa menyelesaikan urusan kalian di luar? Aku tahu orang-orang datang ke sini untuk saling berbicara, tapi nggak dengan bertengkar.” Dabin sadar ia baru saja mengganggu kenyamanan Koju dengan teriakannya barusan. “Im sorry, Tante Bri.” “Its okay. Silakan bicara di luar, nanti bila sudah selesai kalian bisa masuk lagi, dan makan sesuatu, mungkin,” tawar Brisa. Dabin mengambil ponselnya di atas meja dan meninggalkan Jino. Alasannya datang ke Koju adalah ingin mengobrol dengan Martian. Dan kini keinginan itu semakin besar. Dabin harus berbicara dengan Martian saat ini juga. Semoga saat ini Martian sudah lebih santai. Dabin bisa melihat punggung Martian, pria tengah berbicara dengan seseorang di parkiran Koju. Jino dengan santai melangkah mengikuti Dabin. Di luar Koju tidak seramai saat Dabin tiba di sini. Beberapa pengunjung ada yang pulang dan ada yang sudah pindah ke dalam karena cuaca di luar semakin dingin. Lagi-lagi Dabin dikejutkan dengan sosok yang menjadi lawan bicara pria itu. Martian menoleh sebelum ia sempat memanggilnya. Kai sedang bersandar di pintu mobil, menyilangkan tangannya dan menatapnya datar – seperti biasanya. Kenapa ada Kai? Kenapa Jino harus ke sini Bersama Kai? “Loh, udah ngobrolnya?” Raut wajah Martian berubah kala menyadari wajah dan rambut Jino yang sedikit basah. Ia tahu ada yang tidak beres, tapi ia berusaha bersikap sewajar mungkin. “Oh, lo kegerahan ya di dalam, sampe berkeringat gitu, hehehe.” Ingin rasanya Dabin menenggelamkan Martian Bersama Jino di sungai yang ada di sebrang Koju. Tapi kehadiran Kai membuatnya sedikit lebih tenang. Dabin tahu Kai tidak peduli dengan urusannya, hanya saja ia tidak ingin pria itu tahu jika ada kejadian tidak menyenangkan di dalam. “Tolong dipikirin lagi omongan gue ya, Dab,” ucap Jino sembari menghampiri mobil yang menjadi sandaran Kai. Kai masuk ke pintu kemudi tanpa mengatakan apa pun, sedangkan Jino terdiam sesaat sebelum masuk ke mobil. “Tolong kasih tahu Kim kalau dia nggak perlu nyariin gue lagi. Gue baik-baik aja.” Kehadiran Kai membuat Dabin tidak bisa mencerna dengan baik perkataan Jino barusan. Jino memang menyebalkan. Dan mulai saat ini apa yang keluar dari mulutnya tidak akan Dabin hiraukan, termasuk ucapannya barusan. Meski samar karena terhalang kaca mobil, pandangannya hanya tertuju pada Kai. Bisa tidak sih, Kai tetap tinggal dan pergi sama Jino bersama Martian. Sekilas Kai membalas tatapannya, dan itu membuat jantung Dabin hampir mencelos ke luar. Kadang Dabin penasaran, apakah perasaan Kim pada Jino sama seperti apa yang ia rasakan pada Kai? Kalau Dabin seberani Kim, apakah ia bisa dekat dengan pria itu? “Thanks, Martian. Kalau lagi ke kampus kabarin gue, ya,” pamit Jino yang dibalas lambaian tangan Martian. Mobil Kai meninggalkan parkiran Koju. Harusnya Dabin lega karena ia tidak perlu lagi melihat Jino dan mendengar omong kosong pria itu. Tapi kenapa kepergian mereka juga menyisakan kekosongan di hatinya? “Dab…” Panggilan Martian menyadarkan Dabin. “Heh! Lo ngasih tahu Jino kalau gue ada di Koju, ya?” Martian menatap sebuah jari telunjuk yang mengarah padanya. “Ngapain dia nyariin gue? Lo nanya-nanya nggak kenapa dia tiba-tiba nyariin gue? Lo nggak curiga tiba-tiba dia nanyain gue ke lo?” Martian berjalan mendekat, menurunkan tangan Dabin dengan genggamannya. “Gue nggak mau kepo meskipun gue jadi penasaran ada apa sama kalian,” ucapnya lembut, dijeda dengan helaan napas panjang. Martian layaknya seorang kakak yang habis menyaksikan adik-adiknya bertengkar – meskipun sebenarnya ia tidak melihat apa yang terjadi di dalam. “Dia tadi telepon gue, nanya gue di Koju apa nggak, ya gue bilang kalau gue di sini. Karena gue tahunya kalian saling kenal, ya gue bilang ke dia kalau lagi ada lo juga di sini.” Dabin terdiam, menanti lanjutan perkataan Martian. “Tapi ya, mana gue tahu kalau dia ke sini malah mau nemuin lo. Orang biasanya juga ke sini ya, ke sini aja sama sepupunya.” Dabin menoleh cepat, membalas tatapan Martian. “Sepupu?” “Iya. Kai sama Jino kan, sepupuan.”  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD