DUA

1537 Words
Di pinggir kota, berdiri sebuah kedai kopi yang tidak terlalu besar. Gedung berdinding bata merah itu terdiri dari tiga lantai. Lantai dasar untuk tamu, tengah untuk dapur dan gudang, lalu lantai atas digunakan pemiliknya sebagai tempat tinggal. Buka sore hari, membuat kedai tersebut kerap ramai pada malam. Dan alasan utama yang membuat kedai ini begitu ramai bukan karena kopinya, melainkan sang pemilik juga menjual beer dan soju. Semenjak orangtua Bri, meninggal, ia bersama anaknya sematawayangnya, Martian, meneruskan bisnis keluarganya. Tidak pernah ada nama khusus untuk kedai tersebut. Dulu Kakek Martian hanya memberi papan nama ‘Kedai Kopi’ untuk kedainya, tapi lambat laun para pelanggan, suka menyebutnya Kedai Koju – singkatan kopi dan soju. Nuansa Koju khas dengan lampu temaram. Dengan bar panjang di dekat pintu masuk. Biasanya Brisa akan selalu berada di belakang meja bar untuk membantu bartender dan kasir. Sedangkan Martian berkeliling menuliskan dan mengantarkan pesanan, juga merapikan meja yang ditinggalkan pengunjung. Semenjak Koju masih diurus oleh orangtua Brisa, mereka tidak pernah mengadakan live music seperti kafe-kafe pada umumnya. Alasannya sederhana, yang datang ke sini untuk mengobrol atau menyendiri. Jam menunjukan pukul 11 malam, tapi justru saat ini adalah saat-saat tersibuk untuk Martian dan Brisa. Memiliki beberapa pegawai, tetap saja Martian ikut serta dalam menjalankan usaha ibunya. Meski ramainya Koju merupakan hal yang menguntungkan bagi ia dan ibunya, Martian sering mengeluh heran, “Orang-orang pada nggak punya keluarga apa, ya? Jam segini masih nongkrong di luar,” ucapnya sambil mengelap meja bar dari luar, yang habis ditinggalkan salah satu pelangan. “Kalo punya keluarga, ya nggak akan datang ke sini di jam segini,” Brisa tertawa kecil sambil menunjuk pintu masuk dengan dagunya, “Kayak dia, tuh.” Martian menoleh, mendapati Dabin yang tersenyum lebar padanya. “Hai, Tante Bri,” sapanya. Dabin duduk di kursi bar yang kosong. Tepat di samping Martian yang masih menatapnya curiga. “Bawa mobil, Dab?” tanya Bri. Dabin mengangguk. Tak lama segelas air putih tersedia di hadapannya. “Jangan minum alkohol kalo gitu.” “Tapi nggak air putih juga kali, Ma, bisa kasih kopi kek, jus, apa gitu yang ada rasanya,” protes Martian, membuat Dabin tertawa geli mendengarnya. Untuk ukuran lelaki, Martian memang cerewet dan kerap komplain dengan hal-hal spele. Pernah ia mengomentari celana piama yang Dabin pakai ketika mendatangi Koju. Katanya, kenapa celana piama atasnya kaos, padahal piama diciptakan sepasang, atas bawah. “Ya bagus, dong, sehat!” balas Bri. Seseorang memanggilnya untuk dibuatkan pesanan, meninggalkan Dabin dan Martian. Hampir seluruh meja terisi. Seharusnya Martian akan sibuk, tapi bila Dabin sudah mengunjunginya seperti ini – hampir tengah malam, ia akan memberikan waktunya khusus pada teman baiknya itu. “So, whats going on?” tembak Martian. “Nope,” Dabin menggeleng perlahan, matanya berpendar memperhatikan nuansa Koju yang semakin ramai. Martian menyilangkan tangannya, menatap Dabin dengan alis berkerut. “Biasanya kalo kayak gini harus ditinggal dulu, nih, pasti nanti kalau udah mau pulang baru diceritain.” Lagi-lagi Dabin tertawa, kali ini lebih keras. Ia kenal dengan Martian sejak semester satu. Saat itu Martian adalah seniornya yang dua kali tidak lulus mata kuliah dasar Teori Komunikasi. Padahal Martian harus lulus mata kuliah tersebut bila ingin mengajukan outline skripsi. Tapi hampir tiga tahun berlalu sejak ia lulus mata kuliah tersebut, skripsipun tak kunjung dikerjakannya. Ia malah mendapati julukan mahasiswa abadi oleh Dabin. “Tian, tolong bantu Amar bersihin meja 2 dan 4 dulu boleh? Soalnya ada tamu waiting list di luar?” Permintaan Bri langsung diiyakan Martian. Sebelumnya Dabin mengangguk, menandakan bila ia tidak apa-apa bila tidak ditemani. “Take your time, Dab,” pesan Bri sebelum kembali sibuk membuatkan pesanan tamunya. Dabin merogoh ponsel di saku coat. Tidak ada satupun pesan dari Molla. Aman. Mungkin tantenya sudah tertidur dan Dabin bisa bersantai sedikit lebih lama, tanpa memikirkan Molla akan menunggunya pulang. Dabin teringat janjinya untuk menghubungi Kim. Sebenarnya ia merasa tidak enak meninggalkan ruang obrolan tadi. Tapi itu lebih baik daripada ketiga temannya harus melihat Molla yang memasuki kamarnya. Ketiganya sedikit banyak tahu tentang keadaan Dabin di rumah. Semenjak kepergian ibunya 10 tahun yang lalu, Dabin tinggal dengan Molla, yang menjadi satu-satunya keluarga yang ia punya. Sejak memasuki usia remaja, Molla sudah berkecimpung di dunia modeling dan merambah menjadi pemain film. Kariernya perlahan menanjak diiringi dengan berbagai penghargaan serta pundi-pundi uang yang dimilikinya. Dabin tidak pernah melewatkan satu judul film yang diperankan tantenya. Molla memang artis yang hebat dan jenius, begitu pikirnya. Hubungannya dengan Molla memang tidak buruk, hanya saja Dabin mulai cemas saat tahu Molla tengah dekat dengan pria yang dicurigai sudah beristri. Hal itu juga didukung dengan banyak pemberitaan belakangan ini, Dan Dabin makin tidak menyukainya saat Molla sering memberinya barang-barang yang sengaja dibelikan pria itu untuknya. Jarang dikabarkan dekat dengan pria mana pun justru membuat opini bergiring kepada hal yang negatif. Mulai bermunculan berita bahwa Molla dikabarkan menjadi simpanan seorang pengusaha kaya yang membuatnya tidak bisa menjalin hubungan percintaan dengan siapapun, ada juga yang menyebutkan jika pria itu merupakan teman lamanya. Awalnya Dabin hanya merasa semua itu gosip murahan yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak menyukai Molla. Cara ampun untuk menghancurkan karier seseorang. Tapi sepertinya Dabin harus menerima bahwa semua gosip itu memang benar adanya. Beberapa kali ia melihat Molla diantar pulang seorang pria. Bahkan pria itu tak malu menunjukan wajahnya meski hanya dari dalam mobil. Menatapnya tajam tiap Dabin membukakan pintu rumah. Dan semua itu diperkuat dengan kedatangan seorang wanita dua bulan yang lalu. Dabin tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Ia hanya mendengar wanita itu berkata, “Saya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.” Ia khawatir jika pria itu adalah pria yang sama yang diceritakan ibunya lewat surat. Pria yang pernah menghancurkan hidup Molla. Hal itu pula yang membuatnya tidak bisa melukis dengan benar. Ingin rasanya mengatakan pada Molla jika ia mengetahui semua rahasia masa lalu dari cerita ibunya, hanya saja ibunya telah melarang ia untuk mengatakan sampai Molla sendiri yang mengatakan kepadanya. Alasannya sederhana, Moana tak mau seseorang membuat Molla kembali mengingat kesedihannya, sekalipun orang itu adalah Dabin. “Aloha, Dab, gue kira udah tidur lo,” sapa Kim saat sambungan telepon Dabin terangkat. “Bentar, kayaknya rame banget. Lagi di mana lo?” “Gue di Koju, hehehe.” “Harusnya lo ngajak gue. Jadi kan gue bisa minum-minum sambil teriak-teriak memanggil nama Jino. Uuuu, Jinoooo, di mana kamuuu?” Dabin terkekeh geli, “Yang bener aja lo, hahaha.” “Lo ngapain ke Koju jam segini? Kangen sama Martian atau….” “Nggak apa, lagi malas aja di rumah. Lagi ada tante gue juga soalnya.” Dabin tersenyum getir. Dibandingkan Cloe dan Jess, Dabin lebih terbuka pada Kim. Mungkin karena Kim akan selalu mengatakan hal-hal yang membuatnya memiliki dukungan. “Hadeuh, tante lo tuh, nggak ngeri diberitain yang aneh-aneh lagi ya? Untung di kampus kita gak banyak yang tau kalo Molla Alessa yang terkenal itu adalah wali lo.” “Udah ah, gue kan telepon lo pengin tahu lo udah dapat kabar dari Jino atau belum.” Dabin memutar kursi barnya. Bola matanya membulat sempurna kala mendapati seseorang yang tengah berdiri di hadapannya. Entah sejak kapan ia membelakangi pria ini sampai-sampai Dabin tidak menyadi keberadaan orang tersebut. “Kim, sorry, nanti gue telepon lo lagi ya.” Tanpa persetujuan Kim, Dabin langsung menutup panggilannya. Ditatapnya dengan heran lelaki yang berdiri tegap di dekatnya. Lebih tepatnya, terlalu dekat. Sampai-sampai Dabin bisa mencium aroma vanilla dari tubuh pria itu, padahal asap rokok di mana-mana. Pria tampan dengan tatapan sendu itu memiliki kulit putih dengan rambut sedikit panjang yang ia ikat ke belakang. Meski dengan pencahayaan yang minim, Dabin tidak mungkin salah mengenali sosok yang ada di hadapannya saat ini. “Jino?” “Hei.” Dabin membuat gerakan tubuh memundur meski hal itu tidak membuat jarak di antara mereka. Ia hanya merasa tidak nyaman sedekat ini dengan Jino. “Lo… lo ngapain di sini?” tanya Dabin canggung, dan juga heran. “Lo tahu nggak kalau Kim nya…” “Dab,” potong Jino cepat. “Can we talk?” “Sure.” Dabin ragu meski berkata sebaliknya. “Tapi lo ke sini bukan sengaja buat ngobrol sama gue kan?” “Nggak.” “Hah?” “Wess, udah sampe aja lo, Man. Cepet banget, lo naik Naga Indosiar ke sini?” sapa Martian tiba-tiba. Tapi karena ia sibuk membawa banyak minuman dalam nampan, ia langsung pergi sebelum Jino membalasnya. “Gue nggak tahu teman lo lagi selain Martian, karena nggak mungkin kan, gue nanyain lo ke Kim, Jess, atau Cloe.” Perkataan Jino seolah menjawab isi pikiran Dabin meskipun belum bisa menjelaskan semuanya. Dabin kehilangan kata-kata. Jino yang beberapa hari ini menghilang, tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengatakan hal-hal yang tidak ia mengerti. Jika ia tidak salah tangkap, apakah Jino baru saja memberi tahunya bila kedatangannya ke Koju memang khusus karena ia ingin bertemu dengannya. Oh atau mungkin Jino butuh teman untuk membicarakan hubungannya dengan Kim. Iya, pasti seperti itu. Seseorang meninggalkan kursi bar tepat di samping Dabin. Segera Jino menduduki kursi kosong itu. Seorang bartender memberikan sebuah botol beer tanpa diminta. Apa Jino juga pelanggan tetap di sini? Tapi ini kali pertama Dabin bertemu dengan pria itu di sini. “Dab, gue suka sama lo.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD