Riuh kantin Fakultas Komunikasi siang ini begitu mengganggu pendengaran Kim. Tak seperti Kim biasanya, gadis berambut panjang sedikit ikal pada bagian bawah itu jarang sekali terganggu dengan suara berisik di sekitar. Jess pernah bilang, meskipun berada di tengah serangan bom nuklir, Kim tetap bisa makan dengan tenang.
Kim sebentar-sebentar memijat pelipisnya. Tuna sandwich yang dibelinya belum tersentuh sama sekali. Sebenarnya ia kesal dengan Cloe yang bisa menyantap mi ayamnya dengan lahap. Jess melirik Cloe, memberi tanda bahwa satu temannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Tuh, tadi gue ajak makan di luar nggak mau,” ucap Cloe santai. “Coba kalo kita makan siang di tempat biasa, pasti suasananya lebih nyaman.” Cloe kembali memasukkan suapan mi ayam ke mulutnya. Entah mengapa rasa mi ayam Mang Udin siang ini terasa begitu nikmat.
“Nggak, nggak, nggak,” bantah Kim cepat. “Gue…” Kim membuang napas panjang. Bersandar pada kursi sambil melipat kedua tangannya. Matanya kembali mencari sosok yang sangat ingin ditemuinya. Dengan Gerakan cepat Kim meraih ponselnya di atas meja, mengecek apakah ada pesan masuk untuknya.
“Ini tuh, nggak biasa banget!” keluhnya sambil menatap layar ponsel. “Lo pagi ini ada kelas bareng Jino, kan, Jess?”
Jess menggeleng cepat. “Dabin,” jawabnya, membuat kerutan pada alis Kim. Buru-buru Jess menjelaskan perkataannya. “Yang gue inget, tiap Rabu Jino sama Dabin sekelas.”
“Mana lagi tuh, anak?” keluh Kim kemudian. Entah yang dimaksud adalah Jino atau Dabin.
“Huaaaaah… enak! Kenyang banget.” Cloe menunjukan wajah berseri. Ia seperti orang yang baru pernah menemukan makanan favoritnya. “Kok, lo nggak makan, sih, Kim? Kalo nggak mau, gue makan nih?”
“Cloe..,” panggil Kim datar.
“Iya, iya…” Cloe mengelap mulut dengan tisu, kemudian memajukan sedikit kursinya. “Jadi ada apa sama Jino? Yang gue tahu kan, lo sama Jino selalu baik-baik aja. Nggak pernah lo nyari-nyari Jino sampai kayak gini. Kadang gue wondering, jangan-jangan cuma nyebut nama Jino di dalam hati, orangnya bisa langsung nongol. Abis kayaknya ke manapun kita berada, Jino pasti tahu-tahu muncul.”
Kim terdiam. Cloe benar, tak biasanya Jino sulit dicari seperti ini. Meskipun ia dan Jino tidak pernah mendeklarasikan bahwa mereka berpacaran, atau… sejujurnya sampai saat ini Kim belum pernah mendengar Jino menyatakan cinta padanya, tapi siapapun tahu bahwa keduanya sudah seperti sepasang kekasih. Kim tidak bisa jauh dari Jino, dan Jino selalu ada untuk Kim.
Kim sudah menyukai Jino sejak tiga tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama menjadi mahasiswa baru. Pria tampan dengan kulit pucat itu dapat mengambil hati Kim hanya dengan senyumannya. Mungkin bukan Kim saja, saat itu banyak senior perempuan yang mendekati Jino.
Mendapatkan banyak jadwal kelas yang sama membuat Kim terang-terangan mendekati Jino. Seakan ingin membuat satu kampus tahu bahwa Jino adalah incarannya. Bahkan Kim tak ragu mengatakan bahwa dia menyukai Jino kepada teman maupun senior lelaki yang menyatakan cinta padanya.
Siapa yang tidak kenal Kim. Ayahnya merupakan seorang Menteri dan menjadi penyumbang dana tersebar untuk Yayasan Universitas Yaquinn. Kim mengambil jurusan broadcasting, banyak gosip mengatakan bahwa ia akan langsung memimpin salah satu stasiun televisi milik keluarganya begitu lulus dari sini.
Beberapa bulan belakangan, ia dan Jino menjadi semakin dekat. Pergi bersama, pulang bersama, makan malam, liburan, menonton film, dan apa pun kegiatan selayaknya sepasang kekasih. Kim menyukai semua itu, ada atau tanpa status hubungan yang jelas. Jino milik Kim seorang.
“Harusnya semalam itu dia datang ke rumah gue. Makan malam sama kakak gue yang baru datang dari Jerman. Tapi dari semalam itu mendadak dia nggak bisa dihubungin.” Kim mengulang ceritanya meskipun Jess dan Cloe sudah tahu dari group chat.
“Dabin mana sih?” Kim kembali menatap layar ponsel dan mencari kontak Dabin.
“Di sini.” Dabin muncul di hadapan Kim, duduk di samping Cloe. Sama seperti Kim, gadis itu tak kalah kusutnya, seolah ingin mengadu nasib dengan Kim, bahwa dia bukan satu-satunya orang yang memiliki masalah di dunia ini. Dabin menyandarkan kanvas besar di samping kursinya. Ia membawanya dari ruang seni lukis. Siapa tahu nanti di rumah ada ide melukis.
“Lama banget, sih?” protes Jess sambil menyodorkan air mineral pada Dabin.
“Iya, tadi gue ke-”
“Lo ketemu Jino di kelas pagi nggak?” potong Kim tidak sabaran.
Bukannya menjawab, tatapan Dabin tiba-tiba terarah pada pintu masuk kantin. Membuat Kim harus menoleh karena posisinya membelakangi arah pintu kantin. Jess dan Cloe pun tahu siapa yang tengah dipandangi Dabin saat ini.
Kim menghela napas berat. Dabin benar-benar membuatnya semakin pusing. “Udah gue bilang, lo mau ngeliatin Kai sampe bola mata lo keluar juga, tuh anak nggak bakal tahu kalo lo suka sama dia.”
“Ah, Jino ya.” Dabin segera mengalihkan pandangan dan juga perkataan Kim, membuat Jess dan Cloe harus menahan senyum. Padahal Kim sadar kalau Dabin masih saja curi-curi pandang ke mahasiswa seni musik itu. Karena gedung seni dan gedung komunikasi bersebelahan, kadang Kai dan teman-temannya juga menyambangi kantin yang ada di gedung komunikasi. Apalagi salah satu teman mereka, Jino, merupakan mahasiswa Komunikasi Bisnis.
“Hmm, gue nggak tahu soalnya gue nggak masuk kelas pagi ini,” jawabnya kemudian.
“Terus lo di mana dari pagi sampe sesiang ini?” tanya Jess penasaran.
“Nyari inspirasi.”
“Terus dapat apa?” Kim terdengar sinis, melirik kanvas kosong yang bersandar malas di samping Dabin. Lagi-lagi Jess dan Cloe menahan tawa mereka.
“Dab,” panggil Cloe. “Lo yakin nggak mau usaha lebih keras lagi supaya salah satu karya lo bisa ikut pameran seni tahun ini?”
Belum sempat Dabin menjawab, Kim tiba-tiba berdiri, meraih tasnya hendak pergi. “Pamerin tuh, kanvas kosong!” ucapnya sebelum pergi menghampiri meja kantin yang dihuni oleh Kai dan beberapa teman Jino lainnya.
Kali ini Jess dan Cloe benar-benar tertawa, meski dengan suara pelan. Mereka takut kemarahan Kim akan semakin bertambah jika tahu kedua temannya menertawakannya. Berbeda dengan Dabin, pandangannya hanya tertuju pada gerak Kim yang semakin dekat pada Kai. Di antara semua kelebihan yang dimiliki seorang Kimberly Nayatana, Dabin hanya selalu iri melihat Kim yang dapat berbicara bebas dengan Kai.
***
Membawa kanvas besar berukuran 80 x 100 cm bukanlah hal yang sulit untuk Dabin. Hanya saja membuat beberapa orang harus waspada kalau-kalau Dabin tak sengaja menyenggol mereka. Ia hanya cukup berkata ‘misi-misi’ bila melewati kerumunan.
Kabar bahwa tahun ini lukisan Dabin tidak terpilih untuk ikut serta dalam pameran seni nasional rupanya sudah menyebar. Meskipun bukan berasal dari jurusan seni, karya-karya Dabin lumayan terkenal di kampusnya. Terbukti bahwa tiga tahun berturut-turut, lukisannya tidak pernah absen menjadi perwakilan kampus mereka dalam pameran seni tahunan yang diadakan di Museum Nasional. Bahkan pemilik Yayasan pernah menawarkannya untuk berganti jurusan, tapi Dabin selalu mengatakan bahwa alasannya ikut dalam UKM melukis hanya sekadar hobi, bukan sesuatu yang harus diseriusi olehnya.
Mengingat saat ini ia ada di fakultas kesenian, Dabin menyadari banyak pasang mata yang tertuju padanya, terutama pada kanvas besar yang dibawanya. “Oke, satu lorong lagi gue sampai di parkiran,” ucapnya perlahan.
Dabin harus kembali ke gedung fakultas komunikasi karena pagi tadi ia memarkirkan mobilnya di sana. Namun, sebelum pulang ia harus ke ruang seni lukis untuk menukar kanvas yang tadi sempat dibawanya ke kantin. Meskipun masih kosong, rupanya kanvas yang dibawanya tadi sudah ada pemiliknya.
BRUKK!
“Aw!”
Dabin terkejut mendapati seseorang terkena ujung kanvas saat ia berbelok menuju lorong lain. Dan semakin terkejut kala tahu bahwa orang itu adalah Kai. Pria itu memegangi perutnya yang kesakitan. Sedangkan dua temannya, Bian dan Rama tertawa geli, merasa beruntung karena berjalan di belakang Kai.
“Damn!” umpat Kai kecil, tapi Dabin masih bisa mendengarnya.
“So… sorry, sorry. Gue nggak lihat ada orang.” Dabin benar-benar merasa tidak enak.
“Ngapain lo minta maaf, ada juga nih anak, udah tahu ada orang bawa kanvas segede tanah warisan, masih aja ditabrak.” Bian cekikikan di akhir kalimatnya.
“Tahu lo, Kai! Bae-bae, nih, bisa jadi yang lo tabrak ini mahakarya Dabina Diyasha,” tambah Rama penuh semangat. “Tuh, lihat aja yang dia bawa,” Rama menjeda ucapannya sambil memberikan tatapan serius pada kanvas kosong Dabin, “Invisible art…” lanjutnya penuh penekanan di tiap kata.
“Lah, kan emang kosong?” tanya Bian bingung.
“Ya makanya gue namain invisible art, Monyet!” ketus Rama.
“Mana monyet? Kan, masih kosong?” balas Bian lagi.
“Elu monyet, bukan ada gambar monyet.”
“Apaan, sih!” Kai mulai rishi dengan ocehan kedua temannya. Tanpa menghiraukan Dabin, Kai berlalu begitu saja. Dabin terdiam. Keberadaan Kai barusan sungguh membuat dunianya seakan berhenti bergerak.
“Mau gue bantuin bawa sampai parkiran?” tawar Rama dengan sopan. Tentu saja dengan senyum selebar mungkin. Semenjak Jino dekat dengan Kim, Rama ingin sekali bisa melakukan pendekatan dengan salah satu teman Kim, terutama Dabin. Katanya sih, biar makin hits saja.
Belum sempat Dabin menolak, suara interuspi Kai terdengar lantang. “Ram!”
Buru-buru Rama dan Bian mengejar Kai, menyamakan Langkah mereka menuju kelas.
***
“Yang bikin gue bingung, paginya tuh Jino masih balas chat gue. Kami ngobrol kayak biasa. Mulai nggak bisa dihubungin sore, malam, pagi ini, siang ini, sore ini, sampe malam ini nggak ada kabar. Nomor teleponnya juga nggak aktif.”
“Tadi bukannya lo udah tanya ke Kai?”
“Astaga Jess, gue mendingan ngomong sama mangkok mi ayam Mang Udin deh, dari pada sama itu anak.”
“Lo nyebut mi ayam Mang Udin gue jadi pengin makan lagi.”
“Cloeee….!”
“Iya, iya, sori. Hahaha.”
Dabin tersenyum mendengar ocehan teman-temannya meski ia tidak menatap layar laptopnya. Ia sedang asyik membuat gambar pada buku sketsanya.
“Bilangin tuh, ya sama Dabin, mau sampe kapan jadi kasih tak sampainya Kai?” sindir Kim.
“Kok, jadi ngomongin gue?” sahut Dabin, menoleh layar laptop sesaat, kemudian kembali menggambar. “Kai tuh sumber inspirasi gue, kalian juga tahu alasan gue ikut UKM melukis biar bisa bolak balik gedung seni. Hahahaha.” Cloe dan Jess ikut tertawa, tidak dengan Kim.
“Beraninya ngomong ke kita doang. Ngomong sama Kai sana!” tantang Kim.
“Nggak mau,” balas Dabin santai. “Emang tadi Kai ngomong apa sama lo?” tanyanya mengubah topik pembicaraan.
“Dia bilang, nggak tau, gue bukan ibunya,” jawab Kim, menirukan nada bicara Kai yang selalu datar. Dabin tersenyum kecil, membayangkan ekspresi lelaki itu yang selalu datar, dan selalu membuat Dabin penasaran lebih tepatnya.
“Gue tuh, curiga deh, apa jangan-jangan Jino nyembunyiin sesuatu dari gue, ya. Kalau menurut kalian gimana?” Perkataan Kim membuat Dabin menoleh pada layar laptop.
“Maksud lo cewek?” tebak Cloe tepat sasaran. “Gue rasa semua cewek di kampus juga takut kali ngedeketin Jino.”
Dabin menyadari suara langkah kaki yang menaiki lantai atas. Buru-buru ia menyudahi obrolan video call bersama teman-temannya. “Sori ya, gue off duluan. Kayaknya tante gue udah pulang,” ucapnya cepat. “Kim, nanti gue telepon lo, ya. Mwah!”
Dabin menutup layar laptopnya tepat setelah pintu kamarnya terbuka. Menampilkan sosok wanita cantik dengan riasan wajah tebal. Meski sudah memasuki usia pertengahan 30an, Molla justru terlihat semakin menarik. Bentuk tubuhnya sangat terawat, berbalut gaun satin berwarna merah yang memperlihatkan lekuk tubuh, terutama bagian punggungnya.
“Hi, Darling!” sapanya sambil menurunkan banyak kantong belanja berbagai ukuran dengan asal. Dabin bisa melihat beberapa isi kantong belanja dengan brand mewah itu mengintip dari dalam. Kemudian melirik Mona yang masih bersandar di sisi pintu sambil memainkan ujung rambut cokelatnya yang ikal.
“Apaan tuh?” tanyanya sinis.
“Sepatu, tas, jam tangan, baju…” Molla menjawab sambil menunjuk satu per satu kantong belanjaannya. “Ah, kamu lihat aja. Semua buat kamu, kok.”
“Aku nggak mau. Dan aku selalu bilang, aku nggak mau Tante Molla belanjain aku barang-barang nggak berguna, apalagi uangnya dari pacar Tante yang masih beristri itu!”
Molla tertawa kecil, sama sekali tidak terganggu dengan perkataan Dabin barusan. “Tapi kamu terima-terima aja tuh, aku bayar uang kuliah dan jajan kamu. Kan sumber uangnya sama.” Molla kembali tertawa, dan hal itu benar-benar mengganggu Dabin. “Ah, dan mobil yang kamu pakai sehari-hari itu juga…”
Dabin bangun dari duduknya. “Tante, aku serius. Kalau bukan karena pria beristri itu, aku juga nggak akan ikut campur,” potongnya cepat.
“We’re just friend, Dab. My old friend, come one.” Molla sebenarnya begitu lelah dengan kesibukannya hari ini, tapi ia berusaha mengusir lelahnya untuk kembali berdebat dengan Dabin.
“Mana ada ‘cuma teman’ tapi suka belanjain barang-barang mewah kayak gini, bahkan dia juga selalu beliin aku ini itu.”
“Ya mungkin dia kebanyakan duit, jadi bingung gimana ngabisinnya.” Alasan konyol itu terlontar begitu saja dari mulut Molla.
Dabin meraih tas kecil dan coat cokelat yang tadi siang dipakainya. Berjalan keluar kamar tanpa memedulikan Molla. “You are so unbelievable, Molla Alessa.”
“Wow, apa kamu baru saja menyebut nama lengkapku, Dabina Diyasa?” sindir Molla dengan suara yang sengaja dikeraskan. Tak ada jawaban selain suara langkah kaki Dabin yang menuruni anak tangga.
Selepas kepergian Dabin, senyuman Molla menyurut, berganti dengan tatapan sendu. Ia mengambil kantong-kantong belanjaan tadi dan meletakan semuanya di sudut kamar. Matanya tertuju pada beberapa bingkai foto yang berdiri tegak di atas meja. Tapi hanya satu foto yang menjadi fokusnya. Seorang wanita cantik sedang memangku Dabin yang masih berusia 5 tahun, tampak tersenyum lepas, sangat bahagia. Molla tak pernah suka perasaan yang muncul ketika ia menatap mata sosok itu, meski hanya lewat gambar. Hatinya terasa diremuk dan setelahnya tersiksa dengan perasaan rindu yang tak tertahankan. Dia sangat merindukan Moana, mungkin melebihi rasa rindu Dabin kepada wanita itu.
***