Prolog

661 Words
Dear, Dabina… my beautiful daughter. Orang yang ada bersamamu ini adalah orang yang paling mencintaimu di dunia kini. Meski hatinya pernah begitu patah, tapi hati itu masih bisa menyayangi kamu dengan begitu tulus. Cemasku hilang saat meninggalkanmu bersama seseorang yang begitu mencintamu seperti aku mencintaimu, Anakku. Namun kuyakin, di balik tawa dan keceriaannya yang selalu ditunjukan padamu, jauh di dasar palung hati terdalamnya, ia masih menyayangi pria yang telah meninggalkannya. Pria yang menghancurkan semestanya. Setelah surat ini sampai kepadamu, kumohon, gantikan aku untuk menjaganya. Jaga ia jika sewaktu-waktu pria itu kembali datang dan meruntuhkan dunianya sekali lagi. Dan juga bantu aku menjaga rahasia ini dengan cara tidak mempertanyakan apa pun kepadanya sampai ia sendiri yang menceritakan kepadamu. Karena sampai kapanpun, Molla selalu kuanggap sebagai adik kecilku dan setelah kepergianku, ia adalah satu-satunya keluarga yang kamu miliki. Begitupun ia. Ia hanya memilikimu di dunia ini. ***  Dabin memandangi kanvas kosong di hadapannya. Dia masih ingat betapa menyilaukannya matahari sore ini, masuk melalui jendela besar yang menghadap ke hutan kecil di belakang gedung kampus. Dan kini menyisakan langit sendu, antara hari mulai menggelap atau memang baru saja hujan turun dengan derasnya. Selama itu pula ia belum menorehkan apa pun ke atas kanvasnya. Pikirannya masih menyisakan kegelisahan perkataan mentornya, Kean, mahasiswa semester akhir yang juga menjabat sebagai ketua untuk klub melukis di kampus. “Dabina, sori tapi kayaknya pameran tahun ini gue nggak akan merekomendasikan karya lo sebagai perwakilan kampus kita.” Jelek? Ya, saat Dabina, atau gadis yang biasa dipanggil Dabin itu menanyakan alasannya pada Kean, dengan santai Kean menjawab kalau lukisan Dabin jelek. Jangankan untuk sebuah pameran, bahkan untuk sekadar dipajang di aula kampus pun, Kean merasa malu. “Gue nggak tahu ya, ada apa sama lo belakangan ini, tapi…” Kean menjeda ucapannya dengan helaan napas frustasi. “Nggak ada yang pengin tahu masalah lo, Dabina, nggak ada yang peduli. Yang mereka pengin tahu itu ya cuma karya lo yang selalu berhasil memanjakan mata yang melihatnya.” Kean benar tentang dua hal. Pertama, memang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya belakangan ini. Dan kedua, hal itu lah yang membuat ia tidak bisa melukis seperti biasanya. Ada kalanya seseorang menciptakan maha karya miliknya dari sebuah hati yang patah, kekecewaan, amarah, kegagalan. Tapi tidak bagi Dabina. Ia terbiasa melukis hal-hal yang menyenangkan. Semakin hatinya merasa bahagia, maka semakin indah hasil lukisannya. Bahkan lukisannya sudah dua kali mewakili kampusnya dalam pameran nasional yang selalu diadakan tiap tahun. Dabin yang jenius, kini berubah menjadi sangat payah. Mungkin kemarin ia masih bisa melukis sesuatu, meskipun hasilnya ‘jelek’ seperti yang diucapkan Kean. Tapi sekarang, ia sama sekali tidak tahu harus menggambar apa. Untuk sekadar goresan acak saja ia merasa tak punya kemampuan. Dabin mengikat rambutnya asal, membuatnya menjadi cepolan yang sedikit menyisakan anak rambutnya. Hari semakin gelap, dan tampaknya akan kembali turun hujan. Ia harus segera pergi bila tidak ingin kehujanan menuju parkiran. Dabin memakai coat cokelat tua yang menjadi hadiah ulangtahunnya bulan lalu. Pemberian Cloe, teman baiknya. Kata Cloe, Dabin seperti pemain drama Korea bila memakai coat, sangat cocok. Dabin selalu tersenyum ketika mengingat bagaimana Cloe selalu memujinya seperti aktris Korea yang ditontonnya. Lorong sepi membuat derap langkahnya terdengar jelas. Membuat Dabin teringat dalam adegan film horror yang belum lama ditontonnya. Di mana seorang gadis berjalan sendirian di lorong sepi, lalu sosok menyeramkan mengikutinya dari belakang. Ah tidak, Dabin tidak sepenakut itu. Langkah kaki Dabin melemah seiring terdengarnya alunan piano yang berasal dari ruang musik. Dabin tahu, atau mungkin sangat hapal pemilik alunan sendu yang kini semakin terdengar jelas di telinganya. Dabin tidak akan pernah melewatkan kehadiran pria yang kini dilihatnya dari luar jendela. Jemari pria itu menari di atas tuts dengan lihai. Kepala tertunduk itu menyisakan rambut pekat segelap malam. Padahal nada yang dimainkan terdengar menyedihkan, tapi entah mengapa justru membuat hati Dabin semakin menghangat. Sesaat Dabin melupakan kecemasan di dalam hatinya. Sesaat Dabin melupakan kegundahan yang mengusik hari-harinya. Sesaat Dabin melupakan bahwa bukan alunan piano yang menenangkan jiwanya, melainkan karena pria itu, Kai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD