Mauryn meraih sebuah bingkisan yang terlihat antik. Dia menghela nafasnya sebelum berbalik dan menatap Grace yang tengah menilai penampilannya sendiri.
“Bagaimana? Tidak berlebihan?” tanya Mauryn
“Nope. Perfect seperti biasanya. Tidak heran, Nona mengambil jurusan design dan fashion di Universitas.” Jawab Grace. Dia memberikan tas tangan berukuran kecil pada sang Nona, “Pergilah. Sebentar lagi pukul enam. Pastikan Nona tidak terjebak macet.”
“Kau yakin tidak mau ikut denganku? Kau bisa menemaniku agar lepas dari suasana yang aku yakin akan terasa canggung.” Tawar Mauryn
“Tidak, Nona. Satu orang yang terjebak, lebih baik daripada dua. Saya akan dibelakang Nona jika nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di masa depan. Tapi saya harap, tidak ada yang terjadi.” Tolak Grace sambil tersenyum
Mauryn menatap sebal Grace sebelum akhirnya melangkah keluar dari penthouse nya. Keduanya menuruni lift menuju ke lantai satu sebelum akhirnya berpisah di lobby.
Grace akan pulang ke apartemen nya sendiri, sementara Mauryn akan menunggu taxi yang sudah dipesannya untuk datang ke rumah Adrian.
“Nona Mauryn?” tanya seorang pria dengan seragam supir taxi nya
Mauryn mengangguk dan berjalan memasuki taxi tersebut. Dia duduk dengan tenang dan menatap jendela. Dia mengamati dengan lekat pemandangan kota yang sudah menjelang malam.
Bintang bintang mulai menghiasi langit, bersamaan dengan semburat merah muda yang menandakan jika malam akan segera tiba dalam beberapa jam.
Sekelebat kenangan, mulai kembali merasuk di ingatannya. Samar samar, Mauryn bisa melihat sepasang remaja yang memakai seragam sekolah bergandengan tangan menyusuri trotoar. Tertawa riang walau dahi mereka sudah basah oleh keringat, menandakan jika mereka tengah kelelahan.
Masa lalu nya.
Dia bisa mengingat setiap moment yang dilewatinya dengan Adrian.
‘Ini sedikit menyeramkan. Semakin lama aku di negara ini, semakin sering aku merasakan déjà vu.’
‘Sepertinya… lima tahun berlalu, hanya aku yang tidak pernah berubah.’
Mauryn mengerjapkan matanya saat perasaan sendu mulai hinggap di hatinya. Dia terasa menyedihkan.
Diam diam, selama ini, Mauryn selalu berharap agar saat dirinya kembali ke Indonesia, Adrian akan menunggunya. Dia berharap bisa kembali melanjutkan hubungan mereka yang sempat terpisah oleh jarak dan waktu, seperti sepasang kekasih yang normal.
Sayang nya, harapan tersebut hanya bisa menjadi sebuah angan.
Dia tidak yakin jika Adrian masih mencintainya. Dia juga tahu, jika harapannya adalah sebuah keegoisan semata.
‘Yah, pokoknya… sebisa mungkin, aku harus tersenyum dengan tulus. Sekaligus berikan selamat atas pernikahan nya.’
***
Perjalanan yang seharusnya memakan waktu cukup lama itu terasa singkat. Entah karena jalanan yang tidak macet atau karena Mauryn terlalu sibuk dan larut dalam lamunan nya sendiri.
Di sini lah dia sekarang.
Perempuan itu melirik sebuah rumah berukuran besar yang berada tepat di samping nya. Mauryn menghela nafasnya sebelum memantapkan hatinya untuk keluar dari taxi yang membawanya datang ke tempat ini.
Setelah menyerahkan sejumlah uang pada supir, Mauryn segera beranjak keluar dari dalam mobil. Seorang penjaga keamanan yang mengenalnya langsung tersenyum dan membukakan gerbang tinggi rumah itu.
Sesaat setelah gerbang itu terbuka, Nabeela Mauryn bisa melihat punggung tegap seorang pria yang membelakanginya. Pria itu terlihat tengah menghubungi seseorang lewat panggilan telfon.
‘Siapa yang sedang dia hubungi? Apa perempuan yang waktu itu? Istrinya?’ pikir Nabeela Mauryn
Namun pertanyaan nya terjawab saat ponsel nya bergetar pelan. Kedua netranya melebar saat melihat nama ID caller yang terpampang dilayar ponselnya.
Saat Mauryn mengangkat kepalanya, pandangan mereka bertemu.
Perlahan, pria yang sangat dia rindukan itu menyunggingkan senyuman hangat. Senyuman yang terlihat sama walau lima tahun sudah berlalu.
“Kau sudah disini? Kau menepati janjimu. Seperti biasanya.” Tanya pria itu. Ia menekan sebuah tombol di ponselnya dan berjalan ke arah Nabeela Mauryn.
“Selamat datang kembali, Mauryn. Aku sangat merindukanmu.” Ucap nya
Perempuan itu menggigit pelan bibirnya. Tubuhnya yang semula menegang, perlahan kembali melemas saat merasakan sensasi hangat dari pria itu.
Ya, dia… Adrian Naufal. Pria yang pernah sangat dekat dengannya di masa masa sekolah, pria yang dicintainya… dan mungkin sekaligus seorang Ayah dari anak perempuan yang diselamatkannya siang tadi.
‘Seharusnya aku tidak begini. Ini salah. Adrian sudah memiliki istri. Pelukan seperti ini jelas tidak akan terlihat baik walau seandainya, dia hanya memelukku sebagai sahabat nya.’
Mauryn lantas melepaskan pelukannya. Perempuan itu tersenyum canggung dan mengedarkan tatapannya ke arah laim, enggan menatap Adrian yang masih menatapnya dengan hangat.
Dia sedikit tersentak saat tangannya di genggam oleh pria itu.
“Ayo masuk. Semua orang sudah menunggu.” Ajak Adrian sambil membawa Mauryn untuk masuk ke rumah yang terlihat tidak berubah sama sekali itu
“MAMA, PAPA, CLARA!” panggil Adrian. Pria itu menoleh pada Mauryn dan tersenyum, “Lihat siapa yang datang!” seru nya
Mauryn menatap Adrian dengan kedua mata melebar. Dia mencoba melepaskan tangannya yang digenggam oleh Adrian. Apalagi setelah tubuhnya di dera oleh rasa takut. Dia takut akan di nilai buruk karena berpegangan tangan dengan Adrian.
Beberapa saat kemudian, sepasang suami istri yang sudah berusia cukup senja, terlihat menuruni tangga.
Mauryn terdiam saat melihat Clara ada di gendongan seorang pria paruh baya yang sangat di kenalnya.
Seulas senyuman perlahan tersungging di bibir Mauryn saat melihat Ibu dari Adrian yang menatapnya dengan hangat.
“Astaga Mauryn! Kesayanganku!” pekik wanita paruh baya itu
Genggaman tangannya dan Adrian langsung terlepas saat dirinya dipeluk dengan hangat oleh Ibu Adrian.
‘Syukurlah. Sepertinya tidak ada yang sadar.’ Batin Mauryn
“Kau baik baik saja? Akhirnya kau kembali ke Indonesia! Mama senang sekali melihatmu datang kemari.” Ujar wanita itu
“Mama… apa kabar?” sahut Mauryn canggung
“Apa ini? Apa kau baru saja canggung padaku?” tukas wanita itu. Mauryn menjawab nya dengan tawa kecil.
“Maaf, Mama. Aku sedikit terkejut karena Mama memelukku.” Ungkap Mauryn
Saat pelukan dari Ibunda Adrian terlepas, perhatiannya langsung mengarah pada seorang pria paruh baya yang berada di sisi wanita itu.
“Papa.” Sapa Mauryn sambil tersenyum
“Hai, Mauryn. Senang melihatmu. Aku yakin kau tidak bisa membayangkan bagaimana senang nya istriku saat mendengar Adrian mengatakan jika dia baru saja bertemu denganmu.” Balas pria paruh baya itu, Ayah dari Adrian
Mauryn melirik Adrian sebelum akhirnya kembali tersenyum canggung. Ini di luar ekspektasinya.
Keluarga Adrian masih sehangat seperti terakhir kali mereka bertemu.
“Masuklah, sayang. Sebentar lagi waktunya makan malam. Mama ingin mendengar cerita bagaimana kau menjalani kehidupan lima tahun ini.” Ajak Ibu Adrian
“Mama, Mauryn terlihat jauh lebih bahagia saat melihat Mama dibandingkan aku.” Ujar Adrian setengah menyindir
“Diam. Mama masih marah padamu. Bisa bisa kau meninggalkan Clara dengan dalih sibuk?” ketus wanita paruh baya itu
Hal itu membuat Mauryn tertawa kecil. Clara terlihat dicintai.
Yah… tentu saja, Adrian hidup bahagia dengan istri dan anak nya itu, kan? Tapi, kenapa perempuan yang dilihatnya siang tadi, tidak ada disini? Adrian dan istrinya tidak bertengkar karena dirinya, kan?
Tawa itu berubah menjadi senyuman.
‘Setelah makan malam ini, walau berat, mari menjauh dari Adrian. Jangan berurusan lagi dengan pria ini ataupun keluarga kecilnya.’
***
“Kau sudah menikah?”
Mauryn sontak menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Ibunda Adrian.
“Tidak. Belum…” sahut Mauryn
“Punya pacar?” tanya wanita paruh baya bernama Lydia itu
“Tidak ada…” balas Mauryn pelan. Perempuan itu menyunggingkan senyuman tipisnya, dahinya berkerut samar saat tersadar jika sejak makan malam mereka selesai, Ibu dari Adrian itu bertanya seperti tengah menginterogasi nya.
“Kenapa? Padahal kau sangat cantik, Mauryn. Pasti para pria di Paris mengantri untuk berkencan denganmu.” Timpal Ayah Adrian
Mauryn hanya tersenyum untuk membalas ucapan dari sepasang suami istri di hadapannya.
Dalam diam dia bertanya tanya… kenapa sampai akhir, wanita yang dia perkirakan sebagai istri dari Adrian yang dilihatnya siang tadi tidak juga muncul. Hatinya mulai gelisah karena mengira jika mereka sedang bertengkar karena nya.
“Tapi itu bagus. Mama dengar, kau menjadi desainer terkenal disana. Rekan kerja ku yang berasal dari Paris mengeluh karena mereka selalu kehabisan stok dress dari butikmu. Mereka bahkan mengatakan tentang sebuah tanda dan stok langka yang kau miliki, Mauryn.” Puji Lydia
“Tanda? Stok langka?” tanya Adrian. Pria itu menoleh dengan alis terangkat pada Mauryn, “Apa artinya?”
“Ada beberapa dress yang aku desain dan aku beri tanda. N, tanda nya aku membuat sekitar 450 stock. M, tanda nya aku membuat sekitar 50 stock desain. Sedangkan B… aku tidak pernah membuatnya. Rencana nya, rancangan yang aku beri huruf B, hanya akan ada satu di dunia.” Jelas Mauryn sambil tersenyum
“Wow. Aku yakin mereka akan membayar mahal demi desain berlogo huruf B yang kau buat.” Komentar Ibu Adrian
Wanita paruh baya itu melirik Clara yang sudah tertidur di kursi nya.
Mauryn memperhatikan bagaimana Ibu dari Adrian itu meraih tubuh Clara dan berpamitan pada mereka semua untuk menidurkan anak perempuan itu di kamarnya sendiri.
“Mauryn, terima kasih karena telah menolong Clara. Aku tidak bisa membayangkan jika kau tidak ada disana dan malah orang jahat yang menemukan nya.” Ujar Ayah Adrian yang bernama Aditya
“Bukan masalah. Kebetulan, aku ada disitu untuk menunggu Agen properti. Tapi mereka justru tidak ada disana.” Sahut Mauryn
“Ini semua karena Kakak nya yang menyebalkan. Bagaimana mungkin kau bisa meninggalkan adikmu sendirian, Adrian? Sampai sekarang, Papa tidak habis pikir dengan mu.”
Sesaat setelah mendengarnya, Mauryn refleks mengalihkan perhatiannya pada Adrian yang duduk tepat di samping nya. Perempuan itu terkejut, sekaligus tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
‘Adik?! Jadi Clara adalah adik dari Adrian… DAN BUKAN ANAKNYA?!’
Wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan oleh Mauryn, membuat sudut bibir Adrian terangkat.
“Kenapa? Apa kau mengira Clara adalah anakku?” tanya Adrian tepat sasaran
Mauryn hanya bisa menetralkan ekspresinya tanpa berkata apapun. Perempuan itu terdiam dan mengalihkan perhatian nya pada dessert yang ada di atas piring nya.
“Salahkan kedua orang tua ku yang memberikan ku adik di usia 19 tahun. Tepat satu tahun setelah kepergian mu ke Paris.” Sambung Adrian menjelaskan. Pria itu dengan tenang meraih gelas dan meminum air yang ada di dalam nya hingga tandas.
Sesaat kemudian, Ibu Adrian kembali bergabung bersama mereka. Wanita paruh baya itu menatap jam dinding antik yang ada di ruang makan dan menatap Mauryn.
“Mauryn, menginap saja ya? Sudah malam sekali. Padahal rasanya kita baru berbincang sebentar, tapi waktu ternyata berjalan dengan sangat cepat.” Ujar Lydia
Mauryn turut melirik jam yang ada di dekatnya, benda itu menunjukan pukul sepuluh malam.
“Ah, benar. Sudah cukup malam.” Gumam perempuan itu
“Menginap saja, ya? Adrian tidak bisa mengantarmu karena dia sudah bekerja seharian ini. Mama juga tidak mengizinkanmu pulang dengan taxi.” Desak Lydia
Mauryn terdiam. Dia tidak yakin apakah ini ide yang baik. Dia akan satu atap dengan Adrian.
Walau terbukti jika Clara bukanlah anak dari Adrian, tapi status pria itu belum jelas. Walau prasangka nya yang itu terpatahkan, tapi untuk status Adrian dengan perempuan yang siang tadi dilihatnya, Mauryn yakin dirinya tidak salah.
“Menginaplah. Tidak ada yang akan keberatan.” Tegas Adrian
Mauryn menipiskan bibirnya sebelum akhirnya mengangguk ragu.
“Maaf aku akan merepotkan. Malam ini aku akan menginap dan pulang besok pagi.”
‘Tidak akan ada yang terjadi, kan?’ pikir Mauryn
Ya. Seharusnya tidak ada yang terjadi.
Seandainya Adrian tidak datang ke kamarnya dan membuat Mauryn kembali terlena pada pria itu, membuatnya melupakan sesuatu, tentang perempuan yang dilihat nya siang tadi.