EPISODE 4: Kau bohong, Adrian

1727 Words
Mauryn mengikuti langkah Adrian untuk menaiki tangga menuju lantai dua. Sesekali, perempuan itu mengedarkan tatapannya saat merasakan jika tidak ada satupun hal yang berubah di dalam rumah itu. Posisi tangga, dan bahkan kamar yang ada di dalam rumah itu masih terlihat sama persis dengan apa yang ada di ingatannya. "Rumah ini terlihat tidak pernah berubah." gumam Mauryn Mendengar bisikan itu, Adrian menoleh dan tersenyum pada Mauryn. "Iya, kan? Yang berubah hanya wallpaper pada dinding. Dulu, lantai dua di d******i oleh wallpaper tentang ruang angkasa dan astronot." sahut Adrian. Dia mengulurkan tangannya pada Mauryn, "Hati hati. Jangan sampai kau jatuh karena sibuk melihat lihat." Mauryn tersenyum tipis dan meraih tangan Adrian. Sesaat setelah melewati tangga, Mauryn kembali melepaskan genggaman tangannya. Dia takut jika ada yang melihat tangan mereka saling menggenggam seperti itu. "Kamar kedua orang tua ku ada di lantai tiga. Sedangkan kamarku ada di lantai dua." jelas Adrian tiba tiba, seolah memancing respon dari Mauryn "Yang itu?" tanya Mauryn sambil mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkan nya pada sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari tangga "Benar. Sepertinya kau masih sangat mengingatnya." ucap Adrian Mauryn berdeham dan kembali menurunkan tangannya. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah lain, tidak ingin beradu tatap dengan Adrian. Jika kedua mata mereka bertemu, Mauryn tidak bisa menahan sensasi jantung nya yang berdebar dengan kencang. "Kenapa kau tidak ganti kamar? Aku lihat, di rumah ini ada banyak kamar kosong. Karena itu juga Mama menawarkanku untuk menginap, kan?" tanya Mauryn berbasa basi. Pasalnya, dia ingat jika Adrian dulu sangat menginginkan untuk pindah ke kamar yang lebih luas. Pria itu selalu mengeluhkan hal itu kepadanya sejak duduk di sekolah dasar. "Tidak. Aku tidak berminat ganti kamar. Mana mungkin aku meninggalkan kamar yang dulu menjadi saksi kebersamaan kita?" Mauryn tersedak ludahnya sendiri. Dia menepuk pelan d**a nya pelan untuk meredakan batuknya. Adrian terkekeh kecil, "Kau masih terlihat lucu seperti dulu. Reaksi mu selalu sama saat aku menggodamu." "Jika ada orang lain yang mendengarnya, mereka bisa salah paham." elak Mauryn "Orang lain siapa? Tidak ada orang lain di rumah ini. Hanya ada kedua orang tua ku, Clara, lalu kau dan aku." sahut Adrian. Pria itu menarik satu sudut bibirnya dan melangkah mendekati Mauryn. "Aku ulangi. Di lantai ini, hanya ada kau... dan aku. Tidak ada orang lain disini." ulang Adrian Mauryn menipiskan bibirnya. Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke dinding berwarna putih yang mengelilingi nya dibandingkan menatap Adrian yang ada di hadapannya. "Apa dinding itu jauh lebih menarik dariku?" tanya Adrian setengah berbisik Nafas pria itu berhembus menerpa Mauryn. Membuktikan betapa dekatnya jarak mereka saat ini. "Ehm, Adrian... dimana kamarku? Aku sedikit mengantuk." cicit Mauryn pada akhirnya Adrian kemudian menarik tubuhnya kembali ke posisi semula. Pria itu menatap Mauryn yang masih enggan untuk menatapnya balik dengan tatapan rumit. "Kamarmu tepat di samping kamarku, Mauryn." ujar Adrian. Pria itu membuka sebuah pintu yang berada tepat di samping kamarnya. "Masuklah. Tapi jangan dulu tidur." lanjutnya Mauryn berdeham kecil dan mengangguk. Dia menatap Adrian sekilas sebelum akhirnya melangkah memasuki kamar yang akan menjadi tempatnya tidur malam ini. Dia tersentak kecil saat menyadari jika kamar yang ada di depannya terlihat sangat gelap. Perempuan itu kemudian berbalik, hendak memanggil Adrian untuk menemani nya hingga dirinya berhasil menemukan saklar. Namun apa yang dilakukannya justru membuat wajahnya membentur d**a bidang Adrian. Sesaat kemudian, terdengar sesuatu dan lampu kamar nya menyala terang. Kedua pupil Mauryn melebar, perempuan itu mendongkak dan menemukan Adrian yang tengah menatapnya dengan satu tangan yang terangkat di atas saklar. "Jangan khawatir. Aku tidak akan meninggalkan mu dalam kegelapan." tandas pria itu Mauryn tanpa sadar menghela nafasnya. Dia kembali memutuskan kontak mata nya dengan Adrian dan menggumamkan terima kasih. Desainer muda itu mengerjapkan matanya saat Adrian tanpa kata berbalik dan keluar dari sana. "Apa dia marah?" ucapnya lirih Mauryn meremas pelan bagian bawah dress yang dipakainya. Dia berbalik dan melangkah memasuki kamarnya. Setelah menaruh tas miliknya diatas sofa, Mauryn berjalan menuju balkon yang ada di dalam kamarnya. Kedua mata nya perlahan menyendu, "Tidak. Tidak apa. Adrian pantas marah padaku. Dengan begitu, dia akan menjauhi ku dan aku..." gumamnya menggantung "Dan aku apa? Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Berpura pura tidak mengenalnya? Mustahil." sambung nya Mauryn mendongkak, dia menatap bulan yang bersinar terang. Benda itu terlihat sangat jelas dan besar dari tempatnya sekarang. "Ada seseorang yang kau rindukan? Karena itu kau menatap bulan dan berharap rindu mu tersampaikan?" Tubuh ramping itu terperanjat kecil saat mendengar suara berat yang bertanya padanya. Mauryn berbalik dan menemukan Adrian yang sudah berada di dalam kamarnya. Pria itu membawa sesuatu di tangannya. "Ganti dress mu dengan ini. Walau dress itu terlihat cantik di tubuhmu, pakaian itu jelas tidak akan terlihat nyaman jika dipakai untuk tidur. Aku juga membawakan sabun untuk membersihkan riasanmu. Ini milik Mama yang sudah tidak digunakan lagi karena dulu tertinggal disini." pinta Adrian sambil menyodorkan benda yang ada di tangannya Mauryn menipiskan bibirnya dan melangkah mendekati Adrian. Dia meraih kaus berwarna putih polos dan sebuah celana pendek berwarna hitam. 'Apa ini pakaian milik perempuan tadi? Istri Adrian?' batinnya "Mauryn?" panggil Adrian yang membuat Mauryn mengerjapkan matanya dan menatap pria itu "Aku harap kau tidak keberatan memakai pakaianku. Karena sejujurnya, kedua orang tua ku juga sudah tidak tinggal disini. Mereka kebetulan ada disini karena tengah berkunjung. Jadi tidak ada pakaian perempuan di rumah ini. Mama hanya memiliki celana ini. Itu pun belum pernah dipakai karena kekecilan. Jadi aku harap, kau tidak keberatan memakai kaos ku." jelas Adrian seolah menjawab pertanyaan yang ada di dalam kepala Mauryn Raut penuh keterkejutan lagi lagi terlihat di wajah Nabeela Mauryn. Perempuan itu menatap pakaian yang ada di tangannya dan Adrian secara bergantian. "Ganti pakaianmu. Dress mu cukup terbuka. Jangan sampai kau jatuh sakit karena angin malam." Adrian mengulang perintahnya. Pria itu berjalan ke belakang Mauryn dan mendorong pelan tubuh perempuan itu untuk menuju sebuah pintu yang ada di dalam kamar. Mauryn membuka pintu yang di depannya dan menatap Adrian. Dia kembali menggumamkan terima kasih sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Mauryn terdiam. Dia meraih kaos putih yang tadi di sodorkan oleh Adrian dan membentangkan nya lebar lebar. "Dari ukurannya, ini jelas pakaian pria." ringis Mauryn. Dia ingat, perempuan yang bersama dengan Adrian siang tadi bertubuh ramping. Tidak mungkin dia memakai pakaian sebesar ini Belum lagi, aroma parfum khas seorang pria tercium dari kaos yang ada di tangannya. "Ini jelas benar benar milik Adrian." ujarnya pelan Mauryn kemudian membuka dress yang membalut tubuhnya. Dia mengganti nya dengan kaos kebesaran milik Adrian. Perempuan itu kemudian meraih celana pendek yang dipinjamkan oleh Adrian. Ukuran nya kecil. Walau tubuh perempuan tadi ramping, tapi tetap saja mustahil untuk memakai celana sekecil ini karena tinggi badannya. Karena itu, Mauryn menyimpulkan jika celana ini memang milik Mama Lidya. Ibu dari Adrian yang memang memiliki tubuh hampir setipe dengan dirinya. "Ini aneh. Adrian bilang, tidak ada perempuan di rumah ini. Apa artinya dia belum menikah? Semua dugaan ku salah?" ucap Mauryn pada dirinya sendiri sambil membersihkan make up yang dipakainya dengan air dan sabun cuci muka yang diberikan Adrian. Setelah selesai dengan membersihkan make up di wajahnya, Mauryn menatap pantulan tubuhnya di cermin. Tubuhnya yang kecil dan ramping, benar benar tenggelam dalam kaos kebesaran yang dipakainya. Celana pendek nya bahkan tertutup oleh kaos Adrian. "Sudahlah. Seharusnya aku berterima kasih karena sudah dipinjam kan. Tak masalah bila kebesaran." tukas Mauryn. Dia tersenyum dan melangkah keluar dari kamar mandi. Sambil menepuk pelan wajahnya, Mauryn melipat dress miliknya dan menaruhnya di meja. Saat hendak menutup pintu balkon, Mauryn tersentak hebat saat menemukan Adrian masih berada di sana. Pria itu tengah bersidekap sambil bersandar di pintu balkon dan menatap lurus ke arahnya. Hal itu membuat Mauryn terdiam. "A-aku kira kau sudah kembali ke kamarmu." ujar Mauryn pelan "Tidak. Belum. Dan rasanya mustahil untuk meninggalkanmu dengan sejuta kesalahpahaman yang ada di dalam kepalamu itu, Mauryn." sahut Adrian Mauryn membuka mulutnya, hendak membalas ucapan Adrian yang entah kenapa terasa menyentilnya. Namun kemudian, dia kembali menutup mulutnya saat tidak tahu apa yang harus di katakan oleh nya. Ada begitu banyak pertanyaan di kepala nya saat ini. Seperti, siapa perempuan yang bersama Adrian siang tadi? Bagaimana kabar pria itu selama ini? Apa yang sudah dilakukannya dalam beberapa tahun terakhir? Apa dirinya baik baik saja? Apa Adrian merindukannya yang selama ini menetap di Paris agar bisa fokus pada study dan mengembangkan bisnis nya disaat yang sama agar bisa kembali ke tanah air dengan cepat? Dan yang paling penting... Mauryn ingin bertanya, Apakah masih ada tempat untuknya di hati pria itu? Ada begitu banyak pertanyaan. Namun seolah terkunci, dia tidak bisa menyampaikan pertanyaan itu pada Adrian. Jangankan untuk menanyakan tentang perasaan pria itu untuknya. Untuk sekedar bertanya kabar pun, Mauryn tidak bisa. Dirinya terlalu takut. Takut jika pria itu selama ini bahagia dalam hubungan nya dengan perempuan yang dilihatnya siang tadi. Mauryn tahu, ini egois. Karena itu, alih alih menanyakannya dan bersikap egois, Mauryn memilih untuk terdiam membisu dan menekan perasaan nya dalam dalam agar tidak berlari dan memeluk pria itu seperti dulu. Ya, dulu. Saat pria itu masih menjadi miliknya. "Tidak ada yang ingin kau katakan padaku, Mauryn? Saat ini, kita hanya berdua. Kau bebas mengatakan apapun yang ingin kau katakan padaku. Apapun itu." tuntut Adrian. Pria itu menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekat pada Mauryn. Ekspresi murung dan kebisuan yang ditunjukan Mauryn padanya, terasa sangat mengusiknya. Perempuan itu bahkan tidak menjawab pertanyaan menuntut darinya. Mauryn terdiam murung seolah asik dengan dunia nya sendiri. "Kenapa kau tidak mengatakan apapun?" tanya Adrian pelan. Pria itu berhenti tepat di hadapan Mauryn. Mauryn merasakan tangan lembut Adrian meraih dagunya. Pria itu mengangkat kepalanya yang sejak tadi tanpa sadar tertunduk lesu. "Aku merindukan mu, Mauryn. Aku sangat merindukanmu. Tapi kenapa kau tidak mengatakan apapun? Apa kau tidak merindukan aku juga?" bisik Adrian. Kedua mata pria itu terlihat berkaca, seolah terluka dengan reaksi yang ditunjukan Mauryn padanya. Saat tatapan mereka beradu, Mauryn tertegun. Tangannya refleks terangkat menyentuh wajah Adrian. "Kenapa kau menangis?" lirihnya "Karena kau tidak terlihat merindukanku. Katakan padaku, Mauryn. Apa diantara kita... hanya aku yang merindukanmu setiap harinya? Apa hanya aku yang merasa akan menjadi gila jika kau tidak kembali tahun ini? Aku menantimu bertahun tahun lama nya, tapi-" Adrian menghentikan ucapannya saat melihat cairan bening perlahan lolos dari sudut mata Mauryn. Cairan itu meluncur bebas menyusuri pipi dan dagu perempuan itu. "Bohong. Kau bohong Adrian." bisiknya lirih "Kau tidak mungkin merindukan ku saat ada perempuan yang jauh lebih sempurna dariku, ada di sisi mu. Mustahil."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD