Pagi yang tenang, hanya ada kicauan burung dan juga suara air mancur dari halaman rumah. Cahaya masuk dari setiap sudut celah yang ada, udara dingin yang membuat diri ingin tidur kembali dibalut dengan selimut yang tebal.
Jasmine menguap berkali-kali, bahkan bulu remang nya juga berdiri karena saking dinginnya. Berat rasanya untuk mandi sepagi ini. Apa dia harus mandi? Tapi ini hari pertama sekolah setelah libur panjang yang membosankan bagi Jasmine.
Senyum tipis tergores diwajah gadis itu. "Mah, Pah. Jasmine kangen tau." Ucap Jasmine pada bingkai foto yang tergantung di dinding kamarnya itu.
Kepalanya tertunduk lemah. Ya walaupun dia tinggal dengan eyang nya tapi tetap saja. Martin juga punya kesibukan diluar, apalagi jika itu mengharuskannya untuk bertugas di luar kota. Jasmine sendiri dirumah sebesar itu tanpa ada orang.
"Coba aja mamah sama papah masih hidup. Gua ga bakal sesepi ini." Gumamnya.
Tangan mungil itu bergerak mengusap pipinya yang basah. Dulu Setiap kali Jasmine menangis, dia ingat sekali papanya selalu siap menghibur, dan kedua tangan mamanya selalu ada untuk mengusap tiap tetesan air mata yang keluar. Sekarang dia harus melakukan itu semua sendiri.
Jasmine turun dari atas kasur, mengambil handuk yang ia gantung di balik pintu kamarnya lalu menuju ke kamar mandi.
Menatap wajah yang kusut di cermin dengan rambut seperti singa. Matanya begitu gesit melihat satu tonjolan yang ada disebelah pipi kirinya.
"Aihh.. Jerawat lagi..."
Coba saja tadi malam dia tidak langsung tidur dan pergi mencuci muka, pasti ini ga akan terjadi. Bagaimana lagi, Jasmine begitu lelah seharian menemani Eyangnya di bandara.
Tidak apa, mungkin masih bisa ditutupi dengan sedikit foundation. Jasmine juga ga se alay itu hanya karena satu jerawat.
TOK! TOK! TOK!
"JASMINE!!!! MASIH LAMA GAAA!! GUA TINGGAL NEEH!"
Jasmine menghela nafas berat. Dia kira siapa yang datang kerumahnya sepagi ini membuat keributan. Ternyata itu Aurel sahabatnya dari kecil yang selalu saja membuat kekacauan.
Padahal kelas mereka di mulai tepat jam 07.30. Masih ada waktu untuk tidur satu jam lagi, tapi Aurel datang sepagi ini. Ga etis banget sih!
Jasmine mendesah pelan, mengambil facial wash miliknya. Menuangkan sedikit di telapak tangannya lalu memijit pelan wajahnya.
"JASMINE!!!"
"Iya sabar Napa..." Pekik Jasmine yang sama sekali tidak mungkin bisa dijangkau oleh Indra pendengar Aurel.
Jasmine Membasuh wajahnya dengan air mengalir, Lalu mengusap pelan dengan handuk yang tergantung di lehernya.
"IIHHH JASMINE GUA CAPE TAU!!"
Ia melempar handuknya tepat di atas kasur lalu keluar dari kamar menuruni tangga secepat mungkin. Telinganya mulai panas mendengar teriakan Aurel. Yap begitulah sahabatnya yang satu itu, Ga sabaran banget jadi orang.
"Apa sih berisik banget Lo jad—"
Aurel langsung memeluk erat tubuh Jasmine seperti orang yang tidak pernah berjumpa. lalu mencubit gemas pipi yang chubby itu, Jasmine hanya bisa terdiam pasrah.
"Iihhh gua kangen banget tau sama Lo. Kenapa sih pintu pake dikunci segala." Ucap Aurel tak terima sambil mengibas-ngibas wajahnya manja.
"Yakali gua buka pintu lebar-lebar sepagi ini." balas Jasmine malas. "Yaudah masuk." Ajaknya sambil merangkul tangan Aurel.
"Lo makin cakep aja." Puji Aurel takjub.
Jasmine mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tidak salah tingkah.
Bukan cuma Aurel yang merindukan Jasmine, begitupun sebaliknya. Tapi hanya saja Jasmine tidak mau terlihat terlalu berlebihan.
Semenjak kepergian orang tua nya, Jasmine berubah menjadi gadis pendiam yang tidak banyak bicara. Aurel juga mengakui itu, berubah seratus persen mungkin?
Sangat lelah rasanya bersikap seperti ini, bahkan Jasmine punya banyak ruang untuk bergerak. Tapi dia tetap mencoba untuk me manipulatif pikiran nya sendiri.
"Eh Lo ga mandi?" Kata Aurel to the Point sambil mengendus ke arah Jasmine dengan brutal.
Jasmine mendorong wajah Aurel menjauh darinya yang langsung terduduk manis di kasur."Biasa aja kali."
"Gila lo ga mandi, kan bahaya kalau ada orang yang mencium aroma kebusukan. Apalagi gua jalan sama Lo, bisa-bisa gua yang ken—"
"asushaisahsuagsjsssshh.. diem gausah bacot." Jasmine mengusap kasar wajah Aurel.
Aurel mencibikkan bibirnya. padahal niatnya itu baik untuk membujuk Jasmine mandi. Seharusnya Aurel tau kalau Jasmine kurang suka bersentuhan dengan air di pagi hari.
Jasmine menyisir rambut hitam sepundaknya dengan pelan, lalu merapikan poni tipis yang menghiasi wajahnya.
Beruntung rasanya mempunyai wajah yang cantik, tapi terkadang rasa insecure menghantui pikiran Jasmine. Masih tetap ada hubungannya dengan kepergian orang tua nya. Rasa percaya diri juga ikut hilang.
Dulu Jasmine dijuluki happy virus dikalangan teman-temannya. Dimana ada Jasmine, pasti tempat yang awalnya suram terlihat lebih berwarna.
"Eyang Lo keluar kota lagi ya?" Tanya Aurel.
"Hmm iya, dia lagi ada tugas di Kalimantan."
"Bi Lastri mana?"
"Pulang kampung, anaknya sakit." Jawab Jasmie singkat.
"Eh gua ada saran." Ucap Aurel tiba-tiba yang membuat dahi Jasmine berkerut.
"Apa?"
Sejenak Aurel berpikir. "Lo ga ada niat gitu?"
"Niat apa?"
Aurel kembali diam, berpikir keras seolah sekarang dia sedang berhadapan dengan matematika.
"Lo mending cari cowo." Spontan Aurel sambil tersenyum manis dan berharap Jasmine menyukai sarannya.
Tapi itu salah! Jasmine meraih dasi di atas meja lalu menggantungnya asal di leher. Tidak lupa dengan ransel miliknya kemudian pergi meninggalkan Aurel. Menurutnya itu adalah saran yang bodoh dan gila.
"IHHH KOK LO GITU SIH!" Pekik Aurel tak terima menyusul Jasmine.
"Gua cuma ngasih saran Jasmine, gua tau Lo kesepian!!" Ucap Aurel ngos-ngosan mengejar Jasmine. jika ada lomba menuruni tangga tercepat, Jasmine kemungkinan besar pemenangnya.
"BIG NO!"
BRAK!
Aurel tepat berhenti di pintu lebih dulu menghalangi jalan Jasmine. Mirisnya lagi nafasnya terengah-engah seperti habis dikejar setan.
"L....Lo b...butuh orang yang ada disamping Lo 24/7 Jasmine..." Ujarnya terbata-bata.
Jasmine mengigit bibir dalamnya, memutar bola matanya malas. "Emang tampang gua kayak orang kesepian apa?"
"Iya miris banget malahan." celetuk Aurel ngasal.
"Gila lo ya, Lo kira gua lumpuh apa, yang ngapa-ngapain butuh ditemenin."
"Seenggaknya lo ga kesepian lagi."
"Tapi gua gamau!" Tolak Jasmine mentah-mentah.
"Banyak tau yang mau sama Lo." Terang Aurel yang itu memang fakta.
"BIG NO! "
Menurut Jasmine itu ga banget. Percuma Aurel ngasih solusi yang menurut Jasmine itu ga masuk di akal. Dia tau niat Aurel baik, tapi Jasmine ga semanja itu juga.
"Kalau tau gitu mending gua nikah." Cicitnya pelan.
"Sama pak Handoko aja! Dia kan duda kaya anak satu. Gua jamin hidup Lo bahagia." Jasmine mendorong Aurel menjauh dari pintu. Ini udah di luar nalar banget.
"Jas!"
"No!"
"Anjir Lo dikasih duda malah gamau."
"f**k YOU!!"