Prolog
Gadis itu berlari di bawah derasnya rintikan hujan. Ia bingung harus lari kemana lagi, tidak ada tempat yang bisa dia jadikan untuk tempat persembunyian. Sedangkan para geng motor itu tetap mengikuti dan mengejarnya sambil mengayunkan celurit.
Nafasnya tidak beraturan, berusaha untuk tetap lari sekuat tenaga. Jasmine tidak bisa membayangkan jika hidupnya harus berakhir di tangan para b*****h itu.
"b*****t!" umpatnya.
Jasmine menoleh ke sekitarnya, tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Jalanan benar-benar sepi hanya di hiasi lampu jalan yang berkedip-kedip. Apa sebenarnya motif mereka mengejar Jasmine, dan apa yang mereka incar dari seorang gadis yang tak bersalah ini.
"SINI LO CEWE b******k!" Teriak salah satu anggota geng motor itu brutal.
"s****n! Mereka maunya apa sih."
Rintik hujan tak berhenti membasahi wajahnya di campur dengan keringat dingin yang terus bercucuran keluar di sekujur tubuhnya.
Bingung harus mencari pertolongan kemana lagi. Bahkan tidak ada tempat yang tepat untuk dijadikan persembunyian sesaat.
"JANGAN LARI LO! PERCUMA!"
BRAK!!
Ia tersungkur, lutut dan sikunya berdarah. Begitu juga dengan Sepatunya juga ikutan koyak. Matanya berkunang-kunang menahan sakit.
Jasmine teringat akan satu kasus di sekolahnya, salah satu siswi yang meninggal karena p********n. Bukan cuma itu, kejamnya lagi sampai di perkosa secara bergantian. Kemudian mayatnya yang dibuang di dekat sungai.
Gak! Itu ga akan terjadi juga padanya. Jasmine tau wanita kaum yang lemah, tapi bukan berarti diperlakukan dengan seburuk itu. Bagaimanapun dia harus tetap mempertahankan harga dirinya dan tidak ada yang boleh merenggut itu darinya.
"MAU LARI KEMANA LAGI LO HAHAHAA!!"
Jasmine menoleh kebelakang ketakutan, sekarang jarak mereka cukup dekat. Ia memaksakan untuk bangun, berlari sebisa mungkin. Namun langkahnya sempoyongan, kakinya juga ikut gemetar.
"Mau kemana anak manis.." Goda salah satu anggota geng motor itu yang tiba-tiba sudah berada di depan menghalangi jalannya.
Bukan satu orang ataupun dua orang, Tapi mereka bertujuh. Jasmine bingung apa yang harus dia lakukan, sedangkan keadaannya tidak memungkinkan.
Wajah yang sangar dan badan yang besar. Bahkan tubuh mereka penuh dibalut tato yang memberikan. Telinga yang penuh dengan tindik dan tangan yang memegang berbagai benda tajam.
"Sikat aja bro." Perintah salah satu pria yang kemungkinan itu adalah ketua geng mereka.
"JANGAN MENDEKAT! Bentak Jasmine. Lo jalan sedikit aja—"
"Apa hmm apa?? Lo mau bunuh kita?" Potong laki-laki berambut gondrong sambil turun dari motor diiringi dengan tawa yang menggelegar, berjalan ke arah Jasmine.
Jasmine kesusahan menelan Saliva nya. Tubuhnya gemetar, apakah ini adalah hari terakhirnya? Bahkan sampai saat ini dia belum bisa membahagiakan dirinya. Matanya tak tenang menatap sekitar, sialnya benar-benar tidak ada orang. Dia masih berdoa ada orang yang bisa membantunya.
"Kalau dilihat-lihat badannya mulus juga nih." Ucap pria berambut pirang dengan tatapan penuh nafsu yang tidak diterima Jasmine.
"Kuat berapa lama neng?" Tanya pria bertubuh sangar yang mendekat kearahnya.
"GUA BILANG JANGAN MENDEKAT!" Jasmine ketakutan. Berusaha me manipulatif pikirannya kalau mereka tidak berbahaya seperti yang ada dalam pikiran Jasmine.
Seenaknya mereka memperlakukannya seperti ini. Jasmine mengepal kuat jari-jarinya. Bukan berarti badannya kecil, mereka bisa seenaknya mengira Jasmine adalah gadis yang lemah.
"Liat cuy tangannya. Ahahaha..."
"Dikira kita takut apa."
Jasmine mencoba bangkit, dia tak peduli apa yang akan terjadi. Menatap Pria itu dengan tatapan yang menantang dan mendekat perlahan.
"Kenapa dek, Coba pukul sini pukul." Ledek laki-laki itu menunjuk pelipisnya. "loh kok diam? Ga berani atau lo—"
"BRENGSEEEKKK!!!"
BUG!!
Satu pukulan mendarat sempurna di wajah laki-laki biadab itu, darah segar juga mengalir dari hidungnya. Jasmine terperangah dengan apa yang dia lakukan barusan. Sekuat itukah tenaganya?
Jasmine sudah lama tidak melakukan latihan, mungkin ini saat baginya melampiaskan pada laki-laki b******n itu. Dia juga tak ingin harga dirinya jatuh begitu saja di depan mereka.
"KURANG AJAR LO! JANG—"
BUGGG!!
Pria berbadan besar itu terpental jauh akibat tendangan yang dia dapatkan di perutnya. Semua orang terpelongo tak percaya, begitu juga dengan Jasmine yang refleks menutup mulutnya kaget.
"Lo sentuh dia dikit aja. Gua jamin hari ini hari terakhir lo!"
" Kak B—Bryan."
Ini mimpi atau apa? Bryan datang bersama Bastian, Angga, Alex, dan Kenzo yang menemaninya.
"Tetap di belakang gua." Bisik Bryan menarik Jasmine dan menggenggam erat tangan Jasmine seolah tak ingin dia lepaskan.
"K—Kak?"
"Gua ga bakal biarin mereka nyentuh Lo seujung jaripun." Ucap Bryan yang tak bisa membuat Jasmine bicara.
"Udah bro, habisin aja." Sahut Angga yang dadanya sudah menggebu-gebu sedari tadi menahan emosi.
Para preman itu mencoba menolong temannya, bahkan mencoba untuk kabur tapi langkahnya ditahan lebih dulu oleh Alex dan Kenzo.
heran, padahal Mereka lebih banyak dan juga memiliki badan yang besar tapi kenapa tatapannya seolah takut dengan Bryan.
"Lo masih mau hidup atau mati?" Tanya Bryan sambil mendekat ke arah pria berambut gondrong yang ketakutan itu.
"Padahal kemaren udah kita kasih pelajaran, tapi masih belum kapok juga. Heran." Tambah Kenzo sambil memainkan pisau yang ada ditangannya.
Ternyata mereka sudah saling kenal sebelumnya. Sekarang Jasmine paham kenapa mereka diam dan tidak melakukan perlawanan sedikitpun.
"M—maaf gua g—"
"Maaf? Mungkin kalau tadi gua ga ada, gua ga tau nasib dia gimana!"
BUG!!
Lagi-lagi Pria itu terjatuh, bahkan mulutnya mengeluarkan darah yang begitu banyak. Jasmine tidak kuat melihat, antara tega dan tak tega. Tapi itu pantas dia dapatkan.
"Biar mereka liat apa yang bakal gua lakuin kalau mereka gangguin cewe gua lagi."