Rasa Sakit

1268 Words
"Apa ini?" Arka mengangkat papan tablet kontrasepsi di tangannya, sembari memandang Myria dengan tatapan tak suka. Selama ini, mereka memang membicarakan apa pun berdua. Banyak pembahasan terkait rumah tangga mereka yang melibatkan satu sama lain. Sementara untuk tablet kontrasepsi itu, Arka tak pernah mengetahuinya sama sekali. Lalu, pagi ini ketika membuka laci untuk mencari sesuatu, Arka tak menyangka akan menemukan obat penunda kehamilan. Myria yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu mengerjap. Ia menatap tablet kontrasepsi di genggaman sang suami. Jujur saja, ia tak tahu harus mengatakan apa sebagai alasan. Namun, ia tak pernah melakukan apa apa pun tanpa pertimbangan. Myria bangkit, berdiri sejajar dengan Arka. "Mas, aku .... " Arka menatap wanitanya dalam-dalam. "Kenapa kau melakukannya, Honey? Bukankah sudah kubilang bahwa aku tidak pernah memaksamu?" "Mas, itu ... aku ... aku cuma ...." Bahu Arka yang sempat menegang, kini mengendur. Ia menatap Myria dengan mata meredup. Ada rasa bersalah ketika melihat wanita di depannya balas menatap dengan raut sedih. "Apa kau menikah denganku karena terpaksa?" Arka memelankan suaranya. "Apa kau menikah denganku bukan karena mencintaiku? Myria terhenyak. Bagaimana mungkin Arka bisa mengucapkan hal itu? Sementara hari-hari mereka selalu hangat dan manis, penuh kebahagiaan. "Apakah kau menikah denganku semata-mata hanya ingin mengabulkan permintaanku untuk memiliki anak, lalu pergi?" Arka masih berbicara dengan nada pelan. Ada getar tertahan dalam suaranya. "Mas ...." Mata Myria berkaca-kaca sekarang. "Aku membebaskanmu untuk semua hal, Sweetheart. Pekerjaan, apa saja. Aku tidak mengekang dan membebaskanmu melakukan apa saja karena aku mencintaimu. Dan aku pun ingin hal yang sama." Arka masih menatap wanita yang terpekur di depannya. "Lalu ini? Apakah kau melakukan ini semua karena tidak percaya kepadaku? Apakah kau pikir aku akan pergi darimu begitu saja setelah mendapatkanmu? Kita menikah, Myria. Kau istriku, dan kau berhak segala hal atas diriku. Tapi kenapa--" "Mas, tolong mengertilah!" "Apa yang harus aku mengerti? Apa yang tidak aku mengerti?" "Aku belum menginginkannya, Mas! Mengertilah!" potong Myria cepat. "Tolong jangan menyudutkan aku seperti ini." "Apa yang kau kejar? Apa aku belum cukup bagimu?" Arka menekan suaranya agar tak meninggi. "Kamu segalanya bagiku, Mas. Tapi kumohon, aku .... " Myria menghentikan kalimatnya. Sepasang suami istri itu selalu menghabiskan kebersamaan dengan bahagia. Mereka akan melakukan banyak hal untuk membahagiakan satu sama lain. Lalu, ketidaksiapan Myria memiliki momongan inilah yang menjadi pemicu kekecewaan bagi Arka pagi ini. Bahkan, ini adalah perselisihan mereka untuk kali pertama sejak menikah. Berkali-kali Arka mengatakan bahwa ia menginginkan hadirnya putri cantik di antara mereka. Sejujurnya, lebih dari siapa pun, Myria pun menginginkan hal yang sama. Akan tetapi, Myria merasa mengabulkan semua itu bukan prioritas dalam waktu dekat. Keraguannya jika Arka akan berubah tak lagi mencintai, membuatnya gamang. Apalagi membayangkan jika lelaki itu akan mencampakannya jika telah memiliki keturunan. Oleh karena itu Myria mencegah kehamilan tanpa diketahui oleh Arka. "Apa kau berpikir akan meninggalkan aku, Myria?" Kali ini, Arka menyebut nama wanitanya. Hal yang jarang terjadi, dan hanya ia ucapkan jika marah. “Apa kau ingin pergi, karena itu kau mencegah kehamilanmu?” Arka sampai pada kesimpulan yang bahkan tak ingin didengarnya. "Bukan seperti itu, Mas. Aku--" "Lalu?" potong Arka cepat. "Jangan membuatku menjadi serakah, Mas ...! Aku--" "Myria, please!" Arka menghunjam tatap memohon. Pria itu berniat mendekat pada Myria, ketika ponselnya bergetar. Nama yang tertera di lempengan bening itu, membuat Myria menelan getir. Rasa yang tercipta karena keputusannya menerima Arka menjadi suami, meski tak jarang menyakiti. "Itulah yang menjadi pembatas di antara kita, Mas. Jangan membuatku melewati batasanku." Menitik air mata Myria. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan untuk tak meluruh. Namun, seperti mempertahankan perasaannya, kali ini pun ia gagal. Myria terisak-isak hanya dengan melihat nama Azmya terpampang di ponsel Arka. "Assalamualaikum, Bunda," jawab Arka pada dering ponsel yang memanggil sembari meninggalkan Myria. Wanita itu tertunduk dalam tangis, menikmati sakitnya sendiri. Myria terus terisak sampai beberapa saat. Merasakan panas dari api yang ia mainkan. Kobaran yang membakar hatinya, saat menerima posisi yang sesungguhnya. Bahwa ia bukanlah satu-satunya, di hati lelaki yang begitu ia sayangi. *** Irama lagu memenuhi seluruh ruang pendengaran, melalui sepasang earphone yang terpasang di telinga Myria. Mata indahnya memejam, sebagai tanda bahwa dia tengah menikmati alunan nan merdu. I'm so sorry. *kiss emoticon Love you. *love emoticon Enggan, Myria melirik beberapa pesan yang masuk di aplikasi w******p. Kalimat yang sama dari Arka tanpa ia berniat membalas. Terkadang, wanita itu sama sekali tak ingin mendengar kata maaf terucap dari lelakinya. Sama seperti ketika ia tak suka jika harus mengucapkannya. Bukan semata karena keangkuhan, tetapi lebih dari itu, bagi Myria sebuah tindakan lebih baik daripada hanya sebuah kata maaf. Sayangnya Arka masih terus mengucapkan kata itu, meski pria itu tahu bahwa ia tak menyukainya. "Maaf, Mbak. Sudah sampai." Ucapan driver taksi online itu membuat Myria tersentak dari kenangan masa lalu. Lamunan saat pertama bertemu dengan sang kekasih, kurang lebih dua tahun yang lalu. "Oh? Maaf, Pak. Saya tertidur … maaf," ucap Myria sembari menyerahkan beberapa lembar uang. Saat mengayun langkah memasuki kantor, beberapa orang berpapasan menyapa wanita anggun itu. Mengulas senyum tipis, Myria terus berjalan dengan menegakkan tubuh. Wibawa serta keanggunan yang membuat ia disegani, selain posisi sebagai tangan kanan Bima di kantor itu. "Mbak Ri, hari ini bukannya cuti?" sapa seorang gadis saat Myria sampai di ruangannya. "Oh, itu …. " "Karena Mbak ada di sini, ini laporan hasil meeting kemarin. Ada beberapa yang harus ditandatangani Pak Bima." Gadis bernama Ulfa itu mendekat, lalu menyerahkan sebuah map. "Kenapa bukan kamu saja?" "Ah, lebih baik Mbak saja, deh. Tolong ya, Mbak." Gadis itu menatap dengan mata memelas. "Oke. Baiklah. Siang ini, ambil di mejaku, ya." Myria menerima map itu, dan menelitinya sekilas. "Mau keluar lagi, Mbak?" "Ahh, itu … sepertinya hari ini aku akan pulang cepat. Karena seharusnya aku cuti." "Baik, Mbak," ucap Ulfa kemudian, sebelum pergi. Menyisakan Myria berdiri di ambang pintu ruangan Bima dengan menarik napas perlahan. Myria mematung sejenak di depan ruangan sang bos. Kalimat Arka melintasi kepalanya lagi. Apa yang dicarinya? Kesuksesan? Harta? Uang? Nama besar? Myria memejam sesaat. Bahkan, meski belum mencapai puncak dari segalanya, ia sudah hidup dalam kecukupan dan bisa berhenti kapan saja. Namun, entah, Myria merasa bahwa ini adalah hidupnya, hidup yang harus dijalaninya entah sampai kapan. Tak lama kemudian, Myria mendorong pintu perlahan. Tampak Bima terkejut dengan kehadirannya. Pria itu mengangkat wajah sekilas, lalu kembali menunduk menatap kertas-kertas di mejanya. "Kau masuk hari ini?" Bima menyapa ketika menyadari siapa yang berdiri di ambang pintu. "Bukankah kau yang meminta cuti?" Pria itu mengamati dengan saksama. "Oh ... ngg ... saya melupakan sesuatu, jadi saya akan mengambilnya. Setelah itu, saya akan pulang." Myria menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Apa ada sesuatu?" Seolah-olah tak percaya, lelaki itu menatap ke arah sang sekretaris. Banyak menghabiskan hari bersama, membuat Bima sedikit banyak memahami Myria. Bahkan jika sosok cantik di hadapannya itu mencoba berbohong seperti sekarang. "Tidak, Pak. Sungguh,” jawab Myria sembari meletakkan map yang ia bawa. Tak lupa mengulas senyuman, berusaha mengabarkan bahwa dia baik-baik saja. "Kau sudah memeriksanya?" Bima tersenyum saat melihat Myria mengangguk. Lelaki itu langsung menandatangani lembaran di hadapannya, lalu mengembalikannya pada sang sekretaris. Seperti biasa, ia tak pernah memeriksa apa pun, jika Myria telah melakukannya. Sebab, sekretarisnya ini telah terlatih dengan baik untuk masalah detail. "Myria ...," panggil Bima saat Myria hendak pergi dari ruangannya. "Kalau kau lupa, aku ingatkan lagi. Bahwa kau bisa menceritakan apa pun padaku." Lanjut pria itu, membuat Myria mengerjap sesaat. "Ah, baik, Pak." Myria membungkukkan badan sebelum pergi. Menuju tempat untuk menenangkan diri, entah sekadar berkeliling mal atau ke salon. Sebab baginya kini, pulang tak lagi mampu membuatnya tenggelam dalam kebahagiaan seperti biasanya. Bertemu dengan Arka, untuk pertama kali ia merasa bahwa itu hanya akan membuatnya mengingat semua rasa sakit. *** tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD