Sang Penggoda

1069 Words
Hari ini dilalui Myria seperti biasa. Ia mendampingi Bima menyelesaikan banyak hal penting. Sepanjang waktu ia tersenyum ketika mengingat kemesraan dengan sang suami. Myria dan Arka melalui banyak waktu menyenangkan ketika bersama. Tak ada detik terbuang sia-sia, meski mereka menghabiskannya dengan tetap menjaga rahasia. Selama ini, keduanya tak pernah membahas hubungan ini akan dibawa ke mana, tetapi menjalaninya dengan bahagia. Pasangan itu tak mau membuang waktu dengan memikirkan hal yang belum terjadi. Lebih baik bagi mereka untuk bersenang-senang, dibanding membahas tujuan awal menikah. Bagi Myria sendiri, hadirnya anak merupakan hal yang tak bisa dipaksakan dan semua harus berjalan sesuai kehendaknya. Sungguh di luar dugaan awal, hari ini Myria pulang terlambat. Ia tak menyangka bahwa setelah penandatanganan mandat, sang atasan mengajaknya untuk makan malam bersama beberapa kolega. Mempertimbangkan sang suami yang menunggu, wanita itu sempat menolak, tetapi Bima terus membujuk dengan wajah mengiba. "Please, Ri. Tidak akan sampai tengah malam. Lalu, nikmatilah liburanmu." Bima terus membujuk Myria yang hanya memutar bola mata. "Sekali ini saja, Ri. Ya," sambungnya lagi masih mengiba. “Saya tidak mau Bapak seperti ini lagi!” Myria menyahut ketus. "Saya sudah menyiapkan ini dari jauh hari, dan Pak Bima sudah setuju." “Baiklah, aku tidak akan ingkar janji lagi. Kau bisa pulang setelah ini, hm?” Mau tak mau, Myria mengalah, dan hanya mampu mendesis ke arah sang atasan dengan sinis. Tak lupa, ia menampilkan tatapan khas, yang tak ayal membuat nyali Bima menciut. Bagaimanapun, tatapan itulah yang selalu membuat dia tetap jatuh hati kepada sekretarisnya yang kian cantik. Dalam pandangan Bima, Myria kian memancarkan aura kematangan. Khas ranumnya buah, yang menggoda siapa saja untuk memetik. Keduanya lantas menuju tengah kota, pada sebuah restoran Jepang. Tiba di tempat tersebut, Myria semakin gelisah. Sebab tentu, Arka sudah menunggu. Selama acara makan malam, Myria tak bisa menyembunyikan kegundahannya. Meski bibirnya terus berusaha tersenyum, wajahnya menampakkan ketidaknyamanan itu. Ia ingin acara selesai dan cepat pulang ke rumah. "Sebentar lagi." Hanya itu yang diucapkan Bima ketika Myria memberi kode. Tak lupa, ia mengembangkan senyuman, berusaha agar Myria tetap tenang mendampinginya. Penunjuk waktu sudah mengarah angka sembilan lewat, tetapi acara masih berlangsung. Para lelaki buncit kolega Bima masih saja bersenda gurau. Hal itu membuat kesabaran Myria habis, dan ia memutuskan pulang satu jam kemudian. “Kau bisa pulang,” kata Bima setelah acara hampir selesai. Sebenarnya, belum selesai sepenuhnya. Sebab seperti biasa, Myria yakin akan ada beberapa wanita penghibur setelah ini.Orang-orang itu lantas akan melanjutkan acara meeting dengan geliat basah dan peluh penuh cinta semalam. “Ada supir yang akan mengantarmu. Sudah malam.” Bima menambahkan. "Oh, iya. Untuk bonusmu, aku sudah mentrasfernya." “Terima kasih. Tapi, soal supir, saya rasa tidak perlu, Pak. Saya bisa pulang sendiri,” tolak Myria. Ia enggan jika sopir sang atasan mengetahui tempat tinggalnya. Meski dekat secara personal dengan Bima, tetapi selama ini Myria menutup rapat hal pribadi. Tak ada yang boleh mengetahui apa pun tentangnya. Termasuk merahasiakan di mana unit apartemennya berada. Selain menjaga privasi, ia tak ingin atasannya itu mengetahui apa yang ia sembunyikan. Hubunga dengan Arka tentu saja. Sampai saat ini, yang Bima ketahui adalah bahwa Myria masih lajang. Setelag menghabiskan waktu kurang lebih satu jam, Myria sampai di apartemennya. Wanita itu lantas mengayun langkah tergesa, agar secepatnya sampai di lantai sebelas, unitnya berada. Sesampainya di dalam ruangan, mata Myria mendapati dua buah lilin yang berpendar, berikut serbet yang dibentuk tertata di meja makan. "Akhirnya kau pulang," Arka berkata pelan sembari mendekat. Lelaki itu lantas meraih tubuh wanitanya, dan memberikan banyak kecupan di wajah Myria. "Maaf membuatmu menunggu." Myria menyambut pagutan hangat di bibirnya. Diletakkannya satu telapak tangan di d**a Arka. "Kau lebih sering menghabiskan waktumu menungguku, bukan?" bisik Arka lagi dengan tatapan khasnya. Dengan wajah merona, Myria berpaling. Menghindari tatapan mata yang membuat degup jantungnya lagi-lagi semakin bertalu tak menentu. Perlahan, Arka membungkuk dan meraih dagu, lalu kembali melabuhkan kehangatan. Ciuman hangat kedua insan yang saling merindukan itu perlahan berubah memanas, seiring tangan Arka yang membuka satu persatu kain yang melekat di tubuh Myria. Melemparkan lembar demi lembar itu ke lantai, lalu membopong tubuh wanitanya seperti saat pertama kali. “Bagaimana dengan makan malam romantis itu?” desah Myria di antara ciuman mereka. Tatapannya terarah pada meja makan berhias lilin-lilin tinggi Tentu, Arka sudah menyiapkan semuanya untuk mereka malam ini “Ada yang lebih romantis di dalam sana,” balas Arka sembari terus melangkah masuk. Keduanya bergerak menuju peraduan tempat berbagi kenghangatan. Myria memejam, menyambut kelembutan yang menghapus jarak di antara keduanya. Menyatu dalam irama syahdu, yang selalu berhias biru yang menggebu. Dua insan yang mabuk asmara itu kembali melayang, menyentuh ribuan mega, mencapai setiap puncak terindah dengan berjuta bahagia. "Mintalah sesuatu," kata Arka. Deru napas keduanya telah kembali normal setelah sesi bercinta yang memabukkan. "Saat kamu di sini, aku tidak memerlukan apa pun.” Myria merapatkan tubuh pada lelakinya. "Jangan seperti ini, Honey... kau adalah tanggung jawabku, jadi mintalah apa pun yang kau inginkan.” Arka berkata lagi. Selama ini, Myria terlalu mandiri. Tak pernah sekalipun wanita itu meminta hal yang berbau materi. Uang, barang mewah, perawatan mahal, pakaian indah, Myria nyaris tak pernah menyebut itu semua. Myria hanya menggeleng pelan mendengar kalimat suaminya. "Aku merasa belum memerlukan apa pun." "Nafkah bagimu, itu akan menjadi dosa ketika tidak kutunaikan dengan baik." "Hanya jika aku menuntut, Mas. Sedangkan aku bisa memenuhi segala kebutuhanku sendiri." "Itu sebabnya kau mengembalikan semua pemberianku?" "Kamu lebih membutuhkannya, Mas ... proyek yang akan kau ambil ini, membutuhkan banyak amunisi." Myria beralasan. "Sejauh ini pun, kau masih tetap dengan keras kepalamu." "Aku hanya belum siap, jika suatu saat kamu akan meminta sesuatu, yang tidak bisa kukabulkan." Myria mengeratkan dekapan. Menikmati belaian Arka pada rambut panjang yang terbiar meriap ke punggung. "Apa kau akan terus seperti ini?" Arka menatap istrinya dalam-dalam. Sekian lama terikat pernikahan, Myria sama sekali tak berubah. "Seperti ini sudah cukup bagiku. Aku tidak membutuhkan apa pun lagi." "Apa kau sedang berusaha melepaskan diri dariku, Sweetheart?" "Apa mungkin aku bisa melakukannya, sementara saat ini aku sedang memelukmu?" "Kau selalu memiliki jawaban. Ah! Aku lupa bahwa kau adalah Myria." "Bukankah kamu, maksudku kalian, memilihku karena aku adalah Myria?" Myria mengangkat wajah yang sedari tadi terbenam di d**a suaminya, sembari mengedipkan mata. "Apa kau selalu secantik ini?" "Bukankah aku juga menggemaskan?" Myria menggoda dengan berkedip beberapa kali. "Aku mencintaimu...," bisik Arka kemudian. "Dan aku akan membuatmu tetap seperti itu. " “Bolehkah kita mengulangnya sekali lagi?” Arka mengerling ke arah Myria yang hanya tersenyum. *** tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD