Takut Kehilangan

1584 Words
Waktu terus berlalu, tanpa terasa seminggu sudah Arka dan Myria kembali ke Jakarta setelah pernikahan mereka. Keduanya sepakat menyimpan kabar bahagia itu tetap menjadi rahasia dan semua kembali normal, seperti tidak ada yang terjadi. Myria kembali bekerja, menjadi asisten pribadi musuh bebuyutan sang suami. Beberapa kali Arka meminta Myria berhenti dan ikut bersamanya ke Mamuju. Akan tetapi, istri keduanya itu menolak dengan alasan yang tidak bisa dibantah. Seperti yang didengarnya dulu, Myria adalah sosok teguh yang tak pernah dua kali memutuskan sesuatu. Sekali tidak, maka jawabannya akan tetap tidak sampai kapan pun. “Biarkan penikahan ini berjalan sesuai kendaliku, atau semua cukup sampai di sini.” Itu yang berulang kali diungkapkan Myria demi membendung keinginan Arka. Yang ia inginkan hanya satu, memberi bahagia tanpa terlebih dahulu menyakiti. Sebab, melangkah mundur pun percuma setelah tenggelam sejauh ini. Ada perasaan bersalah bergelayut di hati Arka saat ia harus meninggalkan Myria seperti saat ini. Kunjungan kerja sudah habis, dan tiba waktunnya untuk lelaki itu pulang ke rumah istri pertama. Bukan saja karena hubungan dengan istri baru sedang manis-manisnya, tetapi ia merasa bagai pecundang sekarang. Tidak memiliki cukup keberanian menunjukkan Myria ke keluarga, pun tidak berani menolak keinginan Azmya akan hadirnya putri kecil di antara mereka. “Kenapa melamun, Mas?” sapa Azmya mengagetkan Arka yang baru saja sampai. “Ah ... tidak. Mungkin aku hanya lelah. Bagaimana kabarmu hari ini?” Arka memindai wajah Azmya yang pucat. Pria itu lantas mengecup kening istrinya lama. Tanpa sengaja, bayangan Myria hadir dan membuat hati Arka menghangat. Berikut rasa bersalah menjalar memenuhi seluruh rongga d**a, untuk dua wanita yang kini mengisi hatinya. “Aku baik. Sangat baik. Bahkan, beberapa hari ini aku tidak lagi minum obat dari dokter, dan menggantinya dengan ramuan. Tapi, apa kau tahu, Mas ... meski lepas dari obat-obatan itu, rasanya badanku lebih segar.” Wanita itu berkisah dengan mata berbinar. Arka bahkan tidak menyangka prospek kesehatan istrinya begitu baik sejak ia menyanggupi keinginan menikah lagi. Hal yang semula ia pikir sebagai emosi sesaat dari Azmya, ternyata membangun semangat wanita terkasih untuk sembuh. “Oh iya, Mas. Apa kamu sudah bertemu wanita yang cocok untuk menjadi ibu dari anak—“ “Sayang ... aku lelah. Kita bahas nanti, ya?” Azmya mencebik, lalu melepas dekapan dari pinggang suaminya. Ia menatap pria berwajah tampan itu dengan sorot merajuk. “Bagaimana kalau aku yang akan meng-handle -perusahaan di sini. Jadi, Mas Arka yang—“ “Azmya, aku pergi dua minggu dan mendapat sambutan ini begitu kembali?” “Tapi, Mas ... aku ingin segera mendengar kabar baik. Bukankah di tempatmu bekerja banyak wanita cantik dan pintar? Kabarnya, para sekretaris pengusaha muda itu adalah perempuan-perempuan cerdas? Aku rasa ....” Azmya yang membuntuti sang suami menghentikan langkah saat Arka berbalik. “Tujuan utamaku bekerja, Sayang. Bukan—“ “Mas ....” Arka melanjutkan langkah menuju kamar dan merebahkan diri. Saat ini, ia benar-benar disiksa oleh rasa bersalah. Ingin mengabarkan yang sesungguhnya, tetapi takut jika Myria pergi. Jika itu terjadi, maka pernikahan kedua yang telah terjadi akan sia-sia. *** Myria yang masih meringkuk di balik selimut menggeliat pelan. Aroma lezat masakan yang menyusup ke dalam rongga penciuman berhasil membangunkannya dari buaian mimpi indah pagi ini. Wanita itu mengutus senyum di bibir, sedangkan matanya masih terpejam. Perlahan, ia menyibak selimut yang membalut tubuh polosnya, sebelum mengutip satu per satu gaun malam yang terserak di lantai. Piama satin tipis, saksi keindahan bersama sang lelaki terkasih malam tadi. Selesai berpakaian, Myria mengayun langkah gemulai meninggalkan kamar, dan menuju sumber aroma yang mengusik tidurnya. Kaki mulusnya terbiar telanjang tanpa alas, menapaki permukaan karpet berbulu yang membentang memenuhi hampir seluruh ruang apartemen. Untuk sesaat, wanita itu mematung dengan tatapan tertuju ke Cooking Station. Tampak Arka berdiri membelakanginya dengan tangan yang sibuk dengan spatula. Lelaki itu bahkan tidak menyadari saat sang istri mendekat, lalu mendekap dari belakang. "Kau sudah bangun?" Arka bertanya dengan suara beratnya. "Kamu sengaja membangunkanku, bukan?" balas Myria sembari meninggalkan kecupan kecil di telinga pria itu. Matanya bahkan masih memejam, menikmati aroma maskulin segar yang menguar dari tubuh sang kekasih. "Mandilah," titah Arka sembari berbalik, lalu mendaratkan sebuah kecupan. "Aku ingin melakukannya bersamamu. Tidakkah bathtub itu menyenangkan di pagi hari? Kamu tidak menginginkannya?" Myria berucap dengan sedikit menggoda. "Aku sudah mandi, Honey." Mematikan kompor yang membuat suara letupan masakan terhenti, Arka berbalik dan menatap wanitanya dengan penuh kasih. Mata mereka saling mengunci kerinduan di udara, sebelum pria itu mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Myria. "Mandilah, lalu kita sarapan bersama." Menuruti kata suaminya, Myria beranjak menuju kamar mandi, meski langkahnya tampak berat untuk terayun. Kerinduan dalam hati, membuatnya enggan berpisah dari sisi Arka, meski hanya sekejap. Seperti arti nama indah yang tersemat atas dirinya, hidup Myria memang selalu beruntung dan menakjubkan. Termasuk memiliki pria sebaik Arka sebagai tempat berlindung, meski menempatkannya dalam posisi kedua. Pesona yang terpancar darinya, membuat takjub setiap mata, hingga membuat beberapa lelaki bertekuk lutut. Bersedia mengorbankan apa saja demi mendapat perhatiannya, termasuk atasan di tempat dia bekerja. Pemimpin perusahaan raksasa penyuplai bahan baku pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru negeri. Kecakapan dan kecerdasan Myria dalam bekerja, membuat wanita itu mampu bertahan selama lima tahun ini mendampingi Bima, sang atasan. Padahal sebelumnya, tidak ada yang mampu bertahan lebih dari enam bulan mendampingi pria gila kerja itu. Akan tetapi, sekali lagi, Myria berbeda. Wanita itu sungguh memegang teguh prinsip, juga tidak sedikit pun tergoda dengan buaian rupiah. Hal yang justru menjadi daya tarik bagi lelaki mana pun. Membiarkan air dingin mengguyur seluruh tubuhnya, lagi-lagi bibir Myria menyunggingkan senyuman tatkala mengingat semuanya kembali. Awal pertemuan, hingga ia menjatuhkan hati pada seorang Arkatama. Lelaki berkharisma yang berbeda dengan lainnya. Tidak pernah sedikit pun bermain hati, meski bekerja dalam kecimpung basah dan gelimang rupiah. Segala kelembutan Arka pada akhirnya menarik Myria untuk jatuh hati. Perhatian pria itu dari waktu ke waktu, rasa cinta dan kelembutan sikapnya, membuat wanita asal kota Malang itu luluh. Terus merindukan pria itu, meski sedang bersama seperti saat ini, bahkan setelah dua tahun berlalu sejak pernikahan rahasia mereka. Sebagai ketua himpunan pengusaha di negeri ini, Arka sangatlah sibuk. Posisi penting yang ia jabat, membuat pria yang berasal dari bagian barat Pulau Sulawesi itu jarang menghabiskan waktu bersama wanita terkasih. Saking sibuknya, Arka bahkan bisa mengunjungi beberapa pulau, dalam seminggu. Oleh karena itulah, maka tak heran jika Arka dan Myria sangat menghargai kebersamaan mereka, seperti saat ini. Tak akan ada waktu sedetik pun yang terbuang percuma ketika bersama. Saling melabuhkan banyak rindu dan juga cinta, membuat mereka enggan melepas satu sama lain. Seperti wanita lainnya, tak jarang Myria dilanda takut. Takut jika uang dan segala kemewahan yang dimiliki membuat Arka jatuh dalam buai rayu perempuan lain di luar sana. Bukan hal yang mustahil, mengingat jarak yang terbentang di antara mereka. "Apa kau akan pulang larut lagi?" tanya Arka begitu keduanya telah duduk di meja makan. "Oh … tidak. Aku hanya menemani Pak Bima melakukan penandatanganan proyeknya di kedutaan. Setelah itu, pulang." "Akhirnya dia mendapatkannya?" Pria itu mengambil dua porsi tumis sayuran. "Ya. Akhirnya. Apa kamu tahu, bagaimana susahnya meyakinkan importir asal Cina itu? Mereka bahkan tidak percaya hasil lab dari negara kita," keluh Myria. "Semua importir memang seperti itu." Arka mendekat, menyuguhkan sarapan sembari mengecup bibir wanitanya sekilas. "Tapi, aku lega karena pada akhirnya mereka memilih kami." "Berarti dia akan memberikanmu hadiah seperti sebelumnya?" "Aku meminta libur sebagai hadiah." "Sungguh?" Arka menatap Myria dengan mata berbinar. "Ya. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, selama kamu di sini, Mas.” Myria menghela napas sejenak sembari memindai setiap inchi wajah lelakinya. “Sebelum kamu pergi lagi." "Maafkan aku, Sweetheart." Arka meraih tangan Myria dalam kecupan. Sementara matanya mengutut tatapan yang selalu bisa menembus jantung Myria, untuk kembali berdebar dan jatuh hati seperti pertama kali. "It's okay," bisik Myria sembari membalas genggaman di tangannya. "Akan ada saat aku bisa menghabiskan banyak hari bersamamu, melepaskan diri dari semua ini ...," lirih Arka penuh sesal. "Aku akan menunggumu.” Arka berjalan mendekat, lalu membawa Myria dalam pangkuan. "Mau kuantar?" "Tidak usah. Istirahatlah. Kamu pasti lelah setelah perjalananmu kemarin, kan? Lagi pula, siang nanti kamu ada meeting dengan klien dari Singapura. Aku sudah memesan tempat di Plaza Senayan, atas namamu." “Terima kasih,” jawab Arka pelan. Ia beringsut, membingkai wajah sang kekasih dengan kedua telapak tangan. “Ah, bukankah sebaiknya kau jadi sekretarisku saja?” Myria memejamkan mata saat Arka membelai pipinya dengan lembut. Menikmati banyak rindu dalam d**a yang selalu menggebu setiap waktu. “Aku tidak yakin akan menerima gaji lebih tinggi datimu, sebaga pegawai baru.” Myria tersenyum. “Pak Bima bisa menggajiku lebih tinggi, karena aku sudah senior di sana.” "I love you, Sweetheart," "Love you more," jawab Myria sembari menyambut pagutan Arka pada bibirnya. Seperti itulah saat pasangan itu bersama. Hangat dan b*******h setiap saat. Terpaut usia sepuluh tahun, membuat Arka begitu menyayangi dan lembut memperlakukan Myria. Hal yang membuat wanita itu semakin tergila-gila oleh cinta mereka. Selain itu, perhatian Arka yang masih sama seperti pertama kali membuat Myria semakin mencintai pria itu dari waktu ke waktu. Tautan bibir yang awalnya lembut dan hangat itu semakin memanas ketika Arka mulai memainkan tangan di atas tubuh Myria. Akan tetapi wanita itu mendorong pelan d**a lelaki itu, guna menghentikan aksi mereka. “Aku harus pergi,” bisik Myria sembari melepaskan bibirnya. Jika boleh memilih, sesungguhnya Myria pun enggan beranjak. Ingin memeluk tubuh tegap itu sepanjang hari ini, karena rindu yang masih masih menggebu setelah berpisah sekian lama. Akan tetapi, tuntutan pekerjaan masihlah menjadi yang utama. Dia begitu menjunjung profesionalisme, atas karir yang membuat dia memiliki segalanya di usia yang masih muda. *** tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD