Malam Panjang

1256 Words
Malam terus beranjak, menebar udara Kota Batu yang semakin menyusupkan dingin melalui celah-celah jendela. Embun dan kabut yang turun perlahan, menjadi saksi atas dua insan yang masih saling berpeluk di bawah seimut tebal. Arka mendekap Myria dengan perasaan campur aduk. Satu sisi, ia sangat mengasihi wanita ini. Namun, benaknya terus dipenuhi bayangan Azmya ketika ada wanita lain dalam dekapannya. Harusnya, ini menjadi malam membahagiakan. Namun, Arka menapaki malam pertama tak seperti pengantin lainnya. Hatinya dilanda gamang. Apakah Azmya merasakan bahwa saat ini suami yang dikasihinya tengah berbagi cinta dan raga? Sebagai lelaki, Arka merasa dirinya begitu jahat. Tidur bersama Myria, lalu teringat Azmya, apa namanya? Sementara rasa bersalah terus saja bergelayut di hatinya. Ia ragu, apakah benar-benar bisa berlaku adil nantinya? Arka tak tahu apa yang akan menyambutnya di depan sana. Yang pasti, ia akan terus membuat kedua wanitanya berbahagia, meski tak mengenal satu sama lain. Sampai waktunya ditentukan, ia akan menepati janji kepada Myria, bahwa pernikahan mereka tetap rahasia. "Apa kau ingin melakukan hal gila?" bisik Arka tepat di telinga istrinya. Sementara, tangannya masih erat mendekap tubuh wanita yang meringkuk di dadanya. "Membiarkanmu mengucap ijab kabul siang tadi, adalah hal paling gila yang pernah aku lakukan," ucap Myria terdengar malas di antara deru napas. Wanita itu membenamkan wajah ke d**a bidang sang suami, sembari menghirup aroma tubuh yang belakangan menjadi candu. Wangi yang membangkitkan kenangan semasa di Kalimantan dulu. Sejenak Myria tersenyum dengan mata memejam. Ia baru tersadar, jika rasa cinta itu ternyata sudah tumbuh sejak lama. Bahkan, mungkin ia sudah jatuh cinta kepada Arka sejak pria itu mengajaknya berbicara di cpffee shop, sambil menatap hujan. Arka mengusap punggung Myria yang berpeluh. "Bagaimana kalau kubilang hal yang menyenangkan?" Mendengar itu, Myria mendesah pelan. "Kamu juga baru saja melakukannya, Mas." "Ada yang lebih menyanangkan," bujuk pria itu. "Mau kubantu bangun dan berpakaian?" lanjutnya kemudian. "Malas." Myria mendesis, lalu berbalik memunggungi lelaki yang masih memeluknya. Tak lupa ia menaikkan selimut demi menghalau udara, karena pintu kamar yang tak sempat ditutup. “Ayolaah." Arka masih merayu, menjejakkan kecupan-kecupan kecil ke rambut yang begitu harum. "Aah, besok saja," jawab Myria saat menengok jam yang menunjuk angka sebelas, dari temaram lampu teras. Bagaimanapun, dia percaya bahwa tidur pasti lebih baik dari pilihan gila yang menjadi ide suaminya itu. “Aku yakin kau tidak akan menyesal. Atau ... kau ingin kita melayang sekali lagi? Atau ... bagaimana kalau kukatakan kita akan mengulang semua keindahan tadi hingga pagi?” Mendengar itu, sesuatu dalam d**a Myria berdebar kencang. Bagaimana bisa Arka berkata demikian, sedangkan apa yang baru mereka lakukan tadi membuat seluruh tubuhnya terasa remuk? Wanita itu bahkan merasa seperti ada ratusan jarum yang menusuk permukaan kulitnya. Rasa tak nyaman itu menyisakan perih, nyeri, dan ngilu yang masih terasa saat bergerak. Oleh karena itu, menuruti suaminya akan lebih baik daripada harus mengulangi aktivitas mereka lagi. Dengan malas, ia lantas berucap, "Baiklah, ke mana?" Arka tersenyum penuh kemenangan saat mulai bisa menebak titik lemah Myria. "Untuk mengetahui, bukankah kau harus bangun terlebih dahulu?" Pria itu antas meraih tubuh Myria dengan hati-hati, seakan-akan wanita itu adalah kaca yang rentan pecah. Bagaimanapun, ia paham bahwa sang istri masih merasakan nyeri atas pergulatan mereka beberapa jam lalu. Sementara itu, Myria menggigit bibir saat harus bangkit dari posisi berbaring. Desakan rasa perih dan tidak nyaman, membuat ia merasa seluruh susunan tubuhnya bergeser dari posisi semula. “Apa sakit sekali?” tanya Arka dengan wajah cemas. Melihat Myria memejam sambil mengernyit, tak urung ia merasa kasihan. Bagaimanapun, itu adalah ulahnya. “Ini … ternyata tidak sesederhana yang kubayangkan. Tubuhku seperti terpecah belah,” keluh Myria. Sementara wajahnya berhias semburat merah saat berkata demikian. Selanjutnya, Arka membopong tubuh mulus itu ke kamar mandi. Membasuh dengan perlahan, memberi pijatan lembut di beberapa bagian, juga membantu wanitanya berpakaian. Ia tidak peduli meski Myria merasa risih dan mengusirnya berkali-kali. Keduanya lantas meninggalkan kamar. Arka menggandeng Myria ketika menapaki tangga. Keduanya berjalan pelan, tampak sekali jika Arka mengkhawatirkan wanitanya ini. "Mau ke mana?" Pertanyaan Bayu membuat Arka dan Myria tergagap. Pria paruh baya itu menatap ke pertengahan tangga, pada putri dan menantunya yang bergandengan tangan. Melihat arah pandangan sang ayah, Myria berusaha menarik tautan jemari dari Arka. Namun, lelaki itu justru menggenggam lebih erat, membuat Myria salah tingkah. Bagaimanapun, ia belum terbiasa dengan status baru yang disandangnya. "Oh, ng ... itu, Pak. Kami—“ "Kami mau keluar sebentar, Pak. Saya izin membawa Myria. " Arka menyela kalimat Myria. "Ke mana? Malam-malam begini?" Bayu mengernyit dan melirik sekilas ke arah jam dinding. "Ke alun-alun, Pak," jawab Arka santai disertai senyuman. "Alun-alun?" Bayu dan Myria berucap nyaris bersamaan. "Oh, baiklah ... kunci mobil ada di dekat pintu," jawab ayah Myria kemudian sebelum berlalu. "Apakah boleh saya memakai sepeda motor saja, Pak?" "Apa?" Myria membulatkan mata, ia tak menyangka bahwa Arka akan benar-benar segila itu. "Semua kunci tergantung di dekat pintu." Bayu berbalik sebentar, lalu kembali menuju kamar di sudut bangunan. Gegas Arka menuju garasi, lalu memilih sepeda motor matic yang ada di sana. Seperti saat menuruni tangga, ia juga berpesan agar Myria hati-hati saat menaiki jok motor. "Apa yang akan kita lakukan di alun-alun?" tanya Myria setengah berteriak, ketika sepeda motor yang dikendarai Arka melaju. Melalui sekitaran Kali Lanang yang mulai sunyi. Pria itu tak menjawab, hanya balas menangkup tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Menghalau dingin yang menusuk. Tak butuh waktu lama untuk sampai di alun-alun, karena jaraknya dari rumah Myria tak begitu jauh. Nyaris tengah malam, suasana titik nol kota sudah tak begitu ramai ketika pengantin baru itu sampai. Myria mengamati sekitar, menghela napas dalam-dalam. Begitu turun, Arka melepas helm yang dikenakan istrinya. Udara malam membuat Myria menggosokkan kedua telapak tangan, demi mengusir dingin yang nyaris membekukan tubuh. Meski itu adalah kota kelahirannya, terbiasa di tempat panas membuat Myria harus kembali beradaptasi dengan udara dingin, setiap mengunjungi Kota Batu. "Dingin?" Myria hanya mengangguk. Lalu, Arka meraih tangan sang istri dan meniupkan udara dari mulut untuk memberi kehangatan. Perlakuan yang membuat Myria terpaku dengan d**a berdebar luar biasa. Berdiri di antara deretan sepeda motor yang terparkir rapi, tetapi saat ini apa yang dilakukan Arka membuat wanita itu merasa kakinya menjejak hamparan padang bunga. Wajah ayunya bahkan merona mendapat perlakuan sedemikian lembut. Seperti inikah jatuh cinta? Jika aku tahu akan seindah ini, tentu aku akan melakukannya sejak awal. Aku bahkan tidak percaya jika telah menjadi istrinya. Arka menggamit pinggang istrinya, lalu melangkah perlahan, seperti tahu jika setiap langkah Myria berbalut ketidaknyamanan. Keduanya menyusuri deretan penjaja makanan yang masih menawarkan dagangan mereka. Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah lapak Pak Tua. "Kau suka?" "Kedelai rebus? Tentu saja!" Mata Myria berbinar. "Dari semua jajanan ini, apa yang paling kau sukai?" "Jasuke!" Arka mengernyitkan dahi. "Apa itu?" "Jagung serut s**u keju!" Jawaban Myria sontak membuat tawa Arka meledak. "Siapa yang memberi nama seperti itu?" Keduanya melangkah lagi, menyinggahi satu per satu penjaja makanan yang berderet di sisi kanan alun-alun. Sesekali tawa mereka mengudara, melepas rasa tak nyaman di bagian bawah tubuh Myria. Pun dengan Arka yang berusaha melepas gundah-gulana. "Apa benar saat ini aku sudah menjadi istrimu?" tanya Myria. Ia berkata sembari menggigit sendok plastik, dengan jagung serut dalam mulut. Setelah membeli beberapa jenis makanan, keduanya memutuskan duduk di bawah biang lala yang telah berhenti. "Apa benar, saat ini Myria telah menjadi milikku?" Arka balik bertanya. "Aish! Kamu bahkan lupa dengan keberuntunganmu beberapa jam tadi!" Wanita itu mendengkus sembari mengerucutkan bibirnya. “Apa tidak masalah jika sekarang aku menciummu?" Myria mendorong wajah pria itu dengan gemas. Malam ini mereka banyak berbincang. Tentang masa kecil, masa sekolah, semuanya. Pada dasarnya, keduanya belumlah saling mengenal dengan baik. *** tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD