"Aku janji, jika aku gagal, maka aku akan pulang. Sekali lagi, kumohon Bapak dan Ibu percaya bahwa jalan yang kuambil bukanlah jalan yang salah." Myria berkata sungguh-sungguh sambil menatap kedua orang tuanya.
Kemudian, seraya bersimpuh di lantai, Myria menceritakan segalanya. Tentang pertemuan dengan Arka, tentang bagaimana pria itu mengasihi dan menjaganya, tentang pekerjaannya. Semua Myria ceritakan, tetapi tidak tentang Arka yang memintanya jadi orang kedua.
Sementara itu, orang tua Myria menyimak dengan saksama setiap kata yang terucap dari putri mereka.Saat itu pula, keduanya yakin bahwa hidup si Sulung ini memang berat, kendati hasil yang diperoleh pun tak sedikit jumlahnya.
Kemudian, sepasang suami istri itu mengerti dan memahami, mengapa akhirnya Myria menjatuhkan hati. Putri mereka ini selalu mendahulukan kenyamanan dan Arka adalah laki-laki yang mengabulkan itu semua. Maka, tak ada alasan untuk menolak pria asing tersebut. Sebab, kebahagiaan Myria adalah kebahagian keluarga juga.
"Kau ini memang selalu punya jawaban." Retno mengusap kepala putrinya dengan lembut. Bagaimanapun, ia tahu bahwa sikap tegas dan keras kepala sang putri sedikit banyak merupakan turunan darinya.
Seperti sang ibu, Myria akan tegas menolak bila sekali berkata tidak. Ia tahu kapan harus memulai dan berhenti, termasuk saat harus pergi dan menentukan waktu untuk kembali. Sejauh ini, Myria tak pernah menyalahgunakan kepercayaan orang tua dan berjalan di atas koridor yang benar.
"Salah satu keistimewaan menjadi Myria. Bukankah begitu?"
Tidak mudah membuat Retno dan Bayu percaya dengan pernikahan mendadak ini, tetapi Myria terus meyakinkan orang tuanya. Awalnya, sang ibu menduga bahwa ia tengah hamil karena pergaulan bebas. Akan tetapi, Myria meyakinkan dengan bersedia dites.
Sebenarnya, ini sama sekali tak mudah bagi Myria, hingga memutuskan untuk menerima pinangan lelaki beristri. Semua terjadi melalui serangkaian pemikiran yang panjang dan matang. Namun, melihat kesungguhan Arka selama beberapa hari, bahkan lelaki itu tak menyentuh sama sekali saat tidur seranjang, Myria merasa memang ada sesuatu.
Myria bahkan terenyuh, saat Arka meminta kepada orang tuanya usai makan malam tadi. Pria itu berkata sungguh-sungguh demi memenangkan restu. Hal itu membuat Muria benar-benar luluh dan memantapkan hati.
Satu lagi ungkapan yang membuat Myria tersanjung, adalah saat Arka sempat berkata, “Kalau kau bertanya kenapa aku memilihmu? Maka jawabanku adalah, hanya kau … wanita yang boleh melahirkan dan menjadi ibu bagi anak-anakku, Myria.”
Kalimat itu adalah pemujaan tertinggi dan penuh arti, saat para lelaki lain memintanya menjadi bunga malam dan pemuas hasrat belaka. Arka menginginkannya menjadi ibu bukan sekadar penghias ranjang yang penuh nafsu.
Pada akhirnya, pernikahan sederhana dan sakral digelar di kediaman orang tua Myria. Tak banyak yang hadir, hanya sanak keluarga terdekat. Proses itu terjadi dengan banyak syarat yang diajukan gadis itu kepada pria yang meminangnya. Termasuk tak ada paksaan kapan harus memiliki anak, lalu menyerahkan semua pada proses seharusnya.
Meski awalnya tampak keberatan, tetapi Arka menurut saja. Beberapa syarat terberat di antaranya adalah, bahwa keluarga Arka sama sekali tidak boleh mengetahui pernikahan ini. Pun keluarga Myria tak boleh sampai tahu bahwa putri mereka adalah yang kedua.
Meski saat ini secara agama Myria telah sah menjadi seorang istri, tetapi pernikahan itu ditentang oleh salah satu adiknya yang bernama Yudhistira. Adik kedua Myria itu menaruh kecurigaan atas pernikahan yang baru saja berlangsung.
Sejak kecil, mereka memang sangat dekat. Mugkin itu yang menyebabkan Yudhistira turut merasakan kegundahan kakaknya. Keraguan yang perlahan menyusup itulah yang membuat Myria menenggak tablet kontrasepsi sebagai pencegah kehamilan.
Bukan tak ingin menpati janji akan memberi bahagia pada Arka dan Azmya, tapi Myria ingin tahu bagaimana sikap Arka jika ia tak kunjung hamil nantinya. Masihkah pria itu mencintai seperti sekarang, atau berubah?
Menentang embusan angin dingin yang menusuk hingga ke tulang, Myria berdiri di teras kamarnya. Matanya memandang lurus, menikmati keindahan hampir seluruh kota Batu di malam hari. Gemerlap BNS serta gradasi warna biang lala di alun-alun kota tampak jelas dari kamarnya yang terletak di lantai dua.
"Kau melamun?" Dekapan di pinggang mengagetkan Myria dari lamunan.
Merasa kecupan mendarat di tengkuk, Myria mendesah pelan, "Aku hanya--"
"Terima kasih, Myria. "
"Untuk apa?"
"Bersedia menjadi istriku."
"Apakah aku terlihat bodoh sekarang?"
"Aku mencintaimu," balas Arka, terdengar sebagai ungkapan hati terdalam.
"Dan aku menikahi seorang suami yang sangat mencintai istrinya." Myria tertawa kecil, entah karena menertawai diri sendiri atau merasa miris dengan keadaan ini.
"Kita berdua mencintainya. Kita akan memberinya bahagia, dan karena itu aku sangat berterima kasih."
"Aku tidak yakin bahwa kamu mencintainya. Karena jika benar kamu mencintainya maka aku tidak akan pernah ada, dan jika kamu mencintaiku, maka kamu akan melepaskannya demi diriku. Bukankah begitu?" Myria berbalik. Ia berusaha menggoyahkan Arka sekarang.
"Terkadang, logika dan kecerdasanmu tidak bisa menembus semua hal di dunia ini, Myria.” Arka mempererat dekapannya, menikmati wangi rambut istri yang baru beberapa jam lalu dia nikahi. “Kumohon, jangan pernah lepaskan tangan kami, dan mari melakukannya bersamaku."
"Mengapa kalian menciptakan aku?" Myria berkata lirih. Tatapannya masih melesat jauh, menikmati pemandangan Kota Batu dari ketinggian.
"Kau tahu, betapa wajahnya berbinar, ketika pada akhirnya kukatakan aku menemukan seorang gadis dan bersedia menikah?"
"Dan mungkin, wajahnya akan berubah muram ketika mengetahui kamu sudah melakukannya, tanpa memberi tahu."
"Apa kau juga tahu, bahwa di antara lelaki yang pernah kau temui, aku adalah satu-satunya yang tidak bernah bermain api?"
"Bukankah, saat ini kamu sedang menyulut api itu denganku, Tuan?" Myria menggoda, dengan mengusap lengan Arka yang melingkari pinggangnya.
"Maafkan aku, jika aku membawamu jauh masuk dalam kehidupanku ... maafkan jika aku membisikkan cinta kepada istriku selagi aku bersamamu. " Arka menekan suara agar tak terdengar bergetar.
Bila boleh jujur, ini adalah hal yang sangat diimpikan pria itu. Menemukan wanita baik, lalu memberikan keturunan untuk istri terkasih. Namun, tetap saja Arka dilema. Sebab cintanya untuk kedua wanita ini tak bisa dipilih, dan ia merasa berat atas keduanya.
Satu sisi, Arka merasa bahagia. Namun, di sisi lain ia merasa menjadi pengkhianat bahkan sebelum jauh berbuat untuk keluarga ini. Sejatinya, satu kapal hanya akan dijalankan satu nakhoda dalam satu waktu.
Mendengar nada bicara sang suami, Myria berbalik, membuat wajahnya sejajar dengan pria yang sejak tadi mendekap dari belakang. "Aku tidak ingin mendengar kata maaf terucap dalam hubungan ini. Sebab kita melakukan semuanya dengan sengaja, dengan bahagia. Apa pun yang terjadi nanti, jangan pernah meminta maaf. Dan aku pun ... tidak akan melakukannya."
"Aku hanya suami yang sangat mencintai istriku," desah Arka kemudian.
Ia tidak menyangka bahwa ketenangannya selama ini akan membawa kalut sekarang. Keinginan membahagiakan istri pertama yang telah terwujud, menjadikannya bagai pengkhianat dalam satu waktu. Sementara itu, ia takut melakukan kesalahan yang akan membuat Myria pergi.
"Dan aku adalah istri yang jatuh cinta kepada suamiku. Aku tidak peduli bila saat ini dia sedang bermain api yang mungkin akan membakar kami."
Myria membalas dekapan suaminya erat. Merasakan bahagia, juga luka yang mendadak menyisakan perih. Bahwa bahagianya malam ini bukanlah untuk diri sendiri, tapi rasa yang ia ciptakan untuk wanita lain.
"Bagaimana jika kutunjukkan bagaimana api itu membakarku saat ini?" bisik Arka. Kalimat lirih disertai sebuah ciuman yang ia tinggalkan di telinga istrinya.
Menikmati gelenyar aneh untuk pertama kali, Myria memejam. Sembari mengatur deru napasnya, ia mengangkat wajah dan berucap, "Apa kamu sungguh mencintaiku?"
"Apa yang harus kulakukan untuk membuktikan ucapanku?"
"Jangan pernah membagi cinta, saat kamu bersamaku."
"Hanya itu?"
"Begitupun saat bersamanya ... karena memilih menjalani ini semua, berarti kamu harus sudah siap untuk tidak menciptakan luka."
Tak ada jawaban yang terucap dari bibir Arka begitu kalimat Myria selesai. Selanjutnya, ia membawa sang istri menapaki indahnya malam pertama. Ditatapnya Myria, sebelum mendekatkan wajah dan menyatukannya melalui pagutan hangat.
Mereka lantas mengganti udara dingin yang menyusup hingga ke belulang dalam tubuh, dengan hangatnya kobaran api dalam d**a. Ada deru napas, ada sentakan bahagia. Keduanya bergerak seirama, memainkan cinta dengan irama sempurna.
Malam itu, untuk pertama kali air mata Myria menitik. Semua keindahan itu, adalah awal kisah cinta Myria, gadis yang menerima cinta pertama atas nama kebodohan.
"A-Arka ...." Myria mencengkeram erat lengan Arka, ketika keindahan itu kembali datang dan menggulungnya. Sementara itu, seakan-akan memahami setiap hal di antara mereka, Arka mendekatnya kian erat. Dan untuk pertama kali, Myria tak ingin hal ini terbagi ....
***