Sebuah Permintaan

1424 Words
Setelah pernyataan cinta beberapa malam lalu di tepi pantai, kehidupan Myria berjalan normal kembali. Tak ada perubahan yang berarti, meski hatinya bergejolak tak menentu. Biasanya, ia akan mengabaikan hal yang menurutnya gila, bahkan tidak penting. Akan tetapi, entah mengapa kali ini berbeda. Permintaan Arka membuatnya tidak tenang, resah, juga merasa bersalah dalam satu waktu. Bergulat dengan pikiran selama berbulan-bulan, akhirnya Myria mengambil sebuah keputusan. Gadis itu menerima Arka, lalu menjadi yang kedua demi misi memberikan bahagia pada keluarga lelaki itu. Meski awalnya ragu, tapi entah mengapa Myria ingin melakukan semua itu. Menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain, seperti yang diimpikannya sejak lama. Pada kunjungan bisnis ke Jakarta selanjutnya, Myria meminta Arka tinggal di apartemennya. Pada mulanya, ia enggan serumah dengan pria itu, tetapi keinginan mengenal lebih jauh dan menguji keseriusan Arka membuatnya memunculkan ide gila tersebut. “Aku? Tinggal di apartemenmu? Apa kau yakin? Maksudku –“ Begitu kata Arka, tak mampu menahan rasa terkejutnya. “Bukankah aku harus mengenal calon suamiku?” jawab Myria enteng. Ia tidak yakin apa ini adalah tindakan yang benar. Akan tetapi, ia tidak memiliki pilihan lain setelah melangkah terlalu jauh. Lebih dari apa pun, Myria hanya ingin tahu apakah Arka melamarnya kala itu hanya demi nafsu saja. Sebab, selama ini, banyak kolega Bima yang datang menghampiri, menawarkan lautan rupiah demi semalam bersama. Oleh sebab itu, Myria melakukan kegilaan ini. Ingin menilai, apakah Arka sama bejatnya atau tidak. “Ah ... baiklah. Tapi, bagaimana jika selama kita bersama lalu terjadi sesuatu?” Myria memindai wajah Arka dengan saksama. “Maksudmu?” “Maksudku, kita adalah dua orang dewasa. Aku mencintaimu, dan kau pun merasakan hal yang sama. Jika kita tinggal serumah dan—“ “Jika ada yang terjadi, maka kupastikan pernikahan itu akan batal, Pak Arka!” tegas Myria, yang disambut tawa oleh Arka. Lelaki itu menatap Myria dalam-dalam. “Pak?” “Haruskah kupanggil 'Sayang'?” tanya Myria sinis. “Setidaknya kau harus belajar dari sekarang, Myria.” “Hanya ada satu kamar di unit ini, dan kita bisa berbagi. Tapi, kalo kamu memilih tidur di sofa, silakan saja.” Myria berkata sambil mengikat tali gaun tidur di pinggangnya. “Dan soal perasaanku, jangan terlalu yakin dulu,” ucap Myria lagi, seraya masuk ke kamar. Meninggalkan Arka yang menatap punggungnya dari ruang tamu. Mau tak mau, pria itu menelan ludah melihat bentuk tubuh wanita yang tercetak jelas di hadapannya. Lekukan sempurna yang membuat mata siapa saja tergoda, bahkan saat berbalut jas dan pakaian rapi. Malam itu Myria terjaga dari tidur karena haus. Ia sedikit terkejut saat melihat Arka terbaring di sisinya. Bahkan, tubuh mereka berada di balik selimut yang sama. Urung beranjak, Myria berbalik hingga posisinya tepat menghadap pria yang sedang terlelap. Dengan bantuan temaram lampu tidur, dipindainya wajah tampan yang damai dibuai mimpi itu, hingga terbit senyum di bibirnya. Ingin rasanya Myria membelai pipi itu, tetapi urung. Ia takut jika Arka berpikir macam-macam, sedangkan niatnya adalah bersama demi membuktikan pria itu tergoda menjamah atau tidak. Ia hanya ingin tahu, apakah Arka melamarnya hanya demi nafsu sesaat. Namun, itu terjawab saat Arka memilih tidur di ranjang yang sama, tanpa menyentuh. Padahal, Myria dengan sengaja mengenakan gaun tidur tipis yang menonjolkan kemolekan tubuhnya. Jika ada alasan gila yang membuat Myria menyetujui pernikahan, itu karena Arka adalah lelaki pertama yang datang dan menawarkan sebuah hubungan, bukan uang. Sementara, banyak yang lain hanya datang dengan maksud bersenang-senang. Tak ubahnya seekor kumbang yang hinggap pada kuntum bunga, menghisap sari, lalu pergi. “Kalau kau haus, aku sudah menaruh segelas air di meja.” Kalimat itu mengagetkan Myria. Arka berucap bahkan tanpa membuka mata. “Kemarilah.” Tanpa menunggu persetujuan, Arka menarik Myria dalam dekapan. Menumpu kepala gadis itu untuk berbaring di lengannya. Ia hanya ingin memberi tahu, bahwa dirinya berbeda dari para pengusaha hidung belang yang banyak dijumpai Myria selama ini. Juga sebagai penegasan bahwa lelaki baik tidak akan merusak wanita yang dicintainya. ** “Apa kau yakin ayah dan ibumu akan memberi restu?” tanya Arka saat membantu Myria berkemas. Keduanya berencana pergi ke kampung halaman Myria, guna meresmikan hubungan mereka. Dua hari tinggal bersama, tetapi Myria tampak masih menutup diri meski kadang menggoda pertahanan Arka. Namun, pria itu menahan diri, seperti bisa bisa memahami jika dirinya sedang diuji. Selama itu pula Arka melakukan yang terbaik bagi Myria. Ia menyiapkan semua kebutuhan mereka, bahkan memasak. Sebisa mungkin mengambil hati gadis yang akan memberikan bahagia pada kehidupan rumah tangganya kelak. Pria itu ingin hubungan ini dimulai dengan cinta, bukan ketidaknyamanan. “Kita lihat saja nanti. Aku bahkan tidak tahu bagaimana meyakinkan Bapak dan Ibu agar merestuiku menjadi yang kedua.” Gadis itu mendesah di akhir kalimatnya. “Kenapa kau tidak mau orang tua dan istriku tahu akan hal ini? Maksudku, bukankah orang tuamu akan lebih mudah menerimaku jika mengetahui yang sebenarnya?” Myria menghentikan tangan, dan memandang pria di hadapannya. “Bukankah kamu ingin membahagiakan istrimu?” “Tentu. Tapi, setelah semua ini, bukankah aku juga harus membahagiakanmu?” “Kalau begitu, mari kita membahagiakan istrimu tanpa menyakitinya. Mengenai kebahagiaanku, kurasa kita akan menemukannya tanpa harus melukai wanita yang ingin kamu bahagiakan.” “Myria—“ “Pak ... maksudku, Mas ... percayalah. Aku ... tidak pernah melakukan kesalahan.” Arka hanya mengangguk, lalu meraih tangan Myria dalam genggaman. “Terima kasih ... terima kasih karena kau mau datang dan memberi harapan di tengah keputusasaanku, maaf karena aku menyakitimu, Myria ... tapi percayalah, aku bukan hanya ingin membahagiakan istriku saja, tapi aku juga—“ “Jangan berlebihan. Aku hanya menepati janji pada diriku sendiri, bahwa dalam hidup ini aku hanya akan jatuh cinta, mencintai, dan menikah hanya dengan satu pria saja. Yaitu cinta pertamaku. Sayangnya, aku tidak beruntung karena cinta pertamaku malah menjadikanku yang kedua.” “Myria ....” “Tidak perlu merasa bersalah. Aku hanya mencoba teguh pada diriku sendiri. Jika pada diri sendiri saja aku ingkar, maka siapa yang akan percaya padaku?” Arka tertegun mendengar ungkapan wanita di depannya. “Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi inilah aku. Tetap teguh dengan setiap keputusan yang kubuat, bahkan pada diri sendiri.” Arka menatap wanita di hadapannya dalam-dalam. Pria itu lantas membawa Myria dalam dekapan, membisikkan banyak ucapan terima kasih. Sementara, Myria menghapus tangis dari wajah, tanpa Arka ketahui. Bodoh? Ya. Aku memang bodoh! *** Kota Batu meneyambut dengan gemerlap lampu di sisi kanan dan kiri jalan saat Myria dan Arka sampai malam itu. Pandangan menilai terlontar dari kedua orang tuanya, saat Myria tiba dengan seorang pria, tanpa berkabar lebih dahulu. Setelah makan malam dan mempersilakan Arka beristirahat di kamar tamu, Myria menemui ayah dan ibunya di kamar mereka. Ia tak ingin kedua orang tuanya menunggu jawaban lebih lama lagi. "Menikah?" Mata Retno berbinar saat Myria mengutarakan niatnya. "Tapi, siapa dia?” "Lelaki yang memintaku menjadi istrinya, Bu." Retno membuang napas, sebal. "Maksud ibu, apakah dia--" "Tapi, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang turut serta?" Bayu menatap putrinya lekat. "Pak ... keluarga Mas Arka sangat jauh. Di Mamuju, Sulawesi Barat. Apa bahkan Bapak pernah dengar tempat itu?" "Ini adalah pernikahan, Myria. Paling tidak, kita harus merayakannya dengan mewah. Ibu ingin mengadakan pesta meriah untukmu." "Bu, saat ini aku sedang terikat kontrak dengan salah satu perusahaan, yang tidak memperbolehkan aku menikah, dan mengandung ... aku bisa dipecat kalau ketahuan menikah." "Apa kau akan terus seperti ini? Menggilai pekerjaan, dan melupakan kami di sini?" "Ibu, bukannya Ibu dan Bapak yang mengajarkanku tanggung jawab dan terima kasih? Inilah bentuk terima kasihku pada perusahaan yang sangat menghargaiku ... aku berterima kasih dengan mengabdi." "Apa bagimu, pernikahan adalah sebuah permainan?" desak Retno ingin tahu. "Bu ...." "Kembalilah, Nduk. Tinggallah bersama kami, jika hidupmu terlalu berat untuk kau jalani sendiri." Bayu menatap iba kepada Myria. Putri sulungnya itu sudah banyak berkorban dan bekerja keras untuk keluarga mereka. "Tidak seperti itu, Pak." Myria menggeleng. "Kau tak akan memilih jalan ini, jika jalanmu mudah." "Apa mungkin, Bapak dan Ibu tidak percaya lagi kepadaku?" Myria mengiba. “Aku tidak sedang mengejar harta dengan bekerja, Bu. Aku juga tidak sedang menyerahkan diri pada laki-laki yang salah, hanya karena ingin pernikahan yang mendadak.” "Pulanglah, Myria." Mata Retno berkaca-kaca. Entah mengapa, penjelasan sang putri membuatnya merasakan beban berat sekarang. Perasaannya sebagai ibu bekerja, saat melihat keraguan membias di wajah Myria. "Aku janji, jika aku gagal, maka aku akan pulang. Sekali lagi, kumohon Bapak dan Ibu percaya bahwa jalan yang kuambil bukanlah jalan yang salah." Bersimpuh di lantai, Myria menceritakan segalanya, tapi tidak tentang Arka yang memintanya jadi yang kedua. Sementara, orangtuanya duduk di ranjang, menyimak dengan saksama. Lalu, apakah restu ini akan Myria dapatkan? **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD