Kesepakatan tak Tertulis

1387 Words
"Kau harus selalu siap melindungi dirimu sendiri," ucap Arka sembari memakaikan jaket ke tubuh Myria. Angin pantai begitu kencang berembus malam itu, dan ia tak mau terjadi sesuatu kepada Myria. "Tidak perlu--" "Akan kupeluk, jika kau menolak!" Cepat Arka memotong ucapan gadis itu, ketika berusaha menolak. "Sebenarnya, apa yang Bapak inginkan dengan datang kemari?" "Aku merindukanmu." Myria terkesiap. "Ck! Tidak ada rindu sekonyol itu, kecuali ada bisnis baru yang coba Bapak menangkan." Meski mencoba berkilah, tapi Myria merasa senang dengan ucapan Arka tadi. Arka sendiri tidak yakin apakah ini termasuk kurang ajar atau bukan, jika menyatakan rasa pada Myria sekarang. Gadis dengan segudang talenta, yang bahkan belum ia kenal, sosok istimewa untuk setiap mata memandang. Wanita yang bisa meruntuhkan iman pria mana saja dengan satu kedipan mata. Akan tetapi, ia tak punya pilihan lain saat mengingat betapa sorot mata Azmya memandang penuh permohonan. Istri yang sangat ia kasihi, wanita yang selalu ingin menghadirkan kebaikan bagi keluarga. Maka, dengan segala pertimbangan Arka akan mencoba mengabulkan semua harapan sang istri, melalui Myria. Ia juga tak paham, mengapa harus Myria. Namun, melihat betapa gadis itu membentengi diri dari pergaulan di ladang basah ini, Arka semakin tertarik. Belum lagi kebersamaan mereka di Pulau Borneo beberapa waktu lalu. "Aku sedang mencoba memenangkan hatimu," jawab Arka kemudian. "Ah, hatiku?" Myria berusaha tetap tenang seperti biasanya. Wibawa dan keanggunan yang mampu membuat klien kadang terpukul mundur, bahkan sebelum bertarung. "Menikahlah denganku, Myria,” gumam Arka. Pelan, bahkan sangat pelan. Sepelan apa pun terucap, tetap saja kalimat itu bisa ditangkap oleh Myria, meski tersamar deburan ombak. Nyaris saja jantung Myria berhenti berdegup, dan terlontar keluar mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin Arka berkata tentang pernikahan sedangkan mereka baru saja saling mengenal? Memang sudah sejak lama mereka mengetahui satu sama lain, tapi tidak sekali pun terlibat percakapan selain di Kalimantan beberapa bulan yang lalu. "Maksud Bapak? Apakah saya baru saja menerima pernyataan cinta?" Bergetar Myria berucap, demi menahan kecamuk rasa dalam d**a yang bercampur aduk. "Aku mengagumi setiap yang ada padamu. Keberanianmu, keras kepalamu ...." Ucapan pria itu terhenti, sedangkan matanya masih memandang jauh ke depan. "Kenapa Bapak melakukan ini padaku? Maksudku--" "Aku mengikuti kata hatiku." Arka merasakan satu tikaman di jantung, manakala wajah sang istri terbayang di pelupuk mata. Tidak yakin jika pengkhianatan yang dilakukannya kali ini adalah bentuk cinta seperti yang Azmya inginkan. Ia bahkan tak yakin akan bisa berlaku adil nantinya, jika Myria benar-benar menerimanya. Namun, tidak ada pilihan lain baginya selain mengabulkan pinta sang wanita terkasih itu secepat mungkin. Binar di mata Azmya kala ia menyetujui pernikahan, membuat Arka lega dan terluka dalam satu waktu. "Jangan gila! Saya yakin, Bapak sudah beristri!" "Karena itulah, Myria!" "Cukup, saya tidak ingin mendengar apa pun lagi!" Myria mengayun langkah, berniat menuju ke mobil yang terparkir di tepi jalan. Akan tetapi urung ia menjauh, saat Arka menarik lengannya dengan paksa. "Aku mencintaimu, Myria!” Erat, Arka mencengkeram kedua bahu gadis di depannya, dan membingkai dengan kedua lengannya kokoh. "Tapi tidak dengan saya, Pak Arka!" balas Myria sengit. Ditatapnya Arka dengan sorot tajam, juga tidak terima. "Menikahlah denganku." Sekali lagi, Arka mengulang kalimat itu. "Dan menjadi yang kedua?" Ragu Myria berucap, takut jika cintanya benar-benar berlabuh pada hati yang salah. "Aku yakin kau memiliki perasaan yang sama, Myria." "Jangan salah menilai, juga jangan sok tau perasaan orang, Pak Arka! Saya tidak--" "Katakan bahwa kau tidak mencintaiku!" Mata Myria membulat. "Ah, sa-saya?" "Katakan!" "Ada saatnya rasa harus berhenti, dan cukup mengagumi, Pak Arka! Dan bukan berarti kekaguman itu adalah cinta!" Bergetar suara Myria ketika mengucapkan kalimat tersebut. "Tapi, aku tidak ingin kau berhenti!" Cepat Arka memotong ucapan gadis di depannya. Kali ini, ia mendekatkan wajahnya, dan membuat Myria berpaling. "Maksud Pak Arka? Tolong jangan kurang ajar!" "Menikahlah denganku, Myria." Kalimat itu terulang lagi. "S-saya tidak mau!" "Apa kau mampu merelakan perasaanmu begitu saja?" "Perasaan? Perasaan saya sama sekali bukan urusan Bapak! Jangan selalu ikut campur, seolah-omah Bapak mengerti segalanya!" "Hentikan, Myria! Kau hanya harus jujur padaku, dan bicaralah!" "Apa Bapak lupa, bahwa saya adalah Myria?!" "Karena kau adalah Myria, maka aku memilihmu!" "Berikan satu alasan mengapa saya harus menerima Pak Arka!" "Karena .... “ Arka tercekat. "Apa? Tidak bisa?! Hanya penasaran? Ingin sekedar bermain cinta, lalu pergi?" "Karena aku sangat mencintai istriku, Myria! Karena itu kumohon, menikahlah denganku." Suara Arka melemah, berbalut getar dan perih yang tak ingin terlihat. Myria merasa seluruh belulangnya lemas, tak mampu lagi menopang. Gadis itu terhuyung dan nyaris jatuh, jika saja Arka tak segera membawa dalam dekapan. Ada yang tercabik saat mendengar ungkapan cinta yang begitu didambakannya dari seorang Arkatama. Myria bahkan sangsi jika jatuh cinta itu justru sesakit ini. Air mata gadis itu perlahan luruh di saat yang tidak tepat, membawa kecewa yang teramat sangat. "Kamu jahat, Arka!" Akhirnya, dalam getar kecewa, bibir itu menyebut nama pria yang selalu mengisi angannya. Entah dari mana datangnya kecewa yang tiba-tiba menyergap. Padahal, tadi ia merasa senang, saat kembali dipertemukan dengan Arka. “Kenapa harus aku? Apa kamu pikir aku akan menerimamu? Setidaknya aku belum gila untuk melakukan permintaan konyol itu!” Myria menekan setiap kata yang diucapkannya. "Menjadikan aku yang kedua, apa kamu bahkan sadar bila tidak pentas mengucapkannya untukku? Myria tersenyum sinis, di atas sakit hatinya sendiri. Sakit yang menyusup seiring kecewa, saat mengetahui bahwa sang cinta pertama yang menghias benaknya selama ini adalah lelaki milik orang lain. "Aku akan melakukannya dengan perempuan lain, jika kau menolaknya. Tapi apakah kau tau, aku tidak bisa mencintai siapa pun lagi, Myria. Hanya kau yang selalu menguasai pikiranku. Aku lelah. Sungguh!" Suara Arka terus melembut, tapi berhasil menghujamkan ribuan belati dan berhasil menembus hati Myria yang terus terisak. Ia bahkan tak tahu, mengapa harus menangis untuk kecewa yang begitu bodoh. Terlihat kemah, dan tidak mewakili Myria yang biasanya. Sejenak lalu, pria itu berhasil membuatnya melambung dengan ungkapan cinta. Namun, kemudian menghempaskan rasa yang berbunga, hingga tenggelam menyentuh karang di dasar lautan. Mencipta indah dan perih dalam waktu yang sama. Lelaki itu masih memeluk Myria erat. Sementara kedua tangan gadis itu hanya terkulai, tak mampu membalas pelukan meskipun hatinya begitu ingin. Seakan-akan ada rindu, yang tak dapat menyentuh tempat berlabuh. "Kumohon, Myria. Hanya kau yang bisa aku percaya untuk menyelamatkan istriku. Hanya kau yang--" "Apa kamu tahu, betapa sakitnya hatiku saat ini? Menyadari bahwa cinta pertamaku menginginkanku menjadi yang kedua, apa kamu ...." Bergetar bibir Myria berucap, mengakui perasaan yang coba ia tolak dengan sekuat tenaga. Saat ini ia bahkan merasa bodoh. Bodoh karena baru saja menyadari jika rasa yang mendekam dalam dadanya selama ini adalah cinta. Bodoh karena termakan tulah bahwa cinta itu buta. Arka melepaskan pelukannya perlahan, lalu meraih wajah Myria agar menatapnya dalam keremangan. Untuk pertama kali, Myria tak bisa membalas tatapan itu. Hatinya terus meronta, dan masih berusaha menolak dengan akal sehat yang tersisa. Membuatnya tanpa sadar memejam rapat. Coba meredam gemuruh yang memenuhi rongga d**a yang membawa sesak luar biasa. Myria terkejut saat sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya. Untuk pertama kali ada yang melakukan hal ini, tanpa bisa ia mencegahnya, pun tak bisa menikmati hal itu layaknya ciuman pertama. Untuk pertama kali pula, rasa yang timbul itu mengalahkan pikiran logis seorang Myria selama ini. Meruntuhkan benteng kokoh yang telah ia bangun sekian lama. Pada akhirnya itu terjadi. Myria benar-benar jatuh cinta dan melabuhkan rasa pada hati yang salah. Menyerah pada lelaki yang memperjuangkan istrinya. Memaksa gadis itu tunduk pada hal tak masuk akal, setelah menetapkan standar tinggi bagi kriteria calon suami. Mengapa kisah cinta Myria harus serumit itu? Selanjutnya, hanya hening yang berkuasa di antara semesta yang mulai melukis semburat terang di batas samudra. Myria menyimak dengan saksama, setiap kisah pilu yang terlontar dari bibir Arka. Menentang embusan angin laut semalaman, dan duduk di bawah naungan malam yang sesaat lagi harus merelakan takhtanya pada sang surya, dua orang itu berdua tampak seperti orang bodoh. Dari seluruh kisah yang didengarnya, Myria merasa iba dengan keadaan Azmya yang tak ubahnya sebuah drama. Namun, di sisi lain gadis itu justru merasa cintanya semakin dalam untuk Arka, karena pria itu mau melakukan apa saja demi istri yang dia kasihi. “Aku kembalikan milikmu.” Arka menyerahkan sebuah kotak berisi heels. “Dan aku akan menunggu jawabanmu, Myria.” Begitu lanjutnya sebelum pergi, terpisah dengan Myria usai mengungkapkan rasa yang juga melukai hatinya. Namun, Arka tidak memiliki pilihan lain, sebab Azmya adalah prioritas. Wanita yang mendukungnya dari nol hingga sebesar sekarang … dia harus bahagia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD