Sementara itu, di belahan bumi yang lain ....
“Opsi bayi tabung kupikir memang yang terbaik, Sayang.” Arka meneliti lembar demi lembar kertas berlogo rumah sakit yang ia pegang. Sebuah informasi dari dokter spesialis, tentang program yang akan dia pilih sebagai alternatif memiliki momongan.
“Aku juga sepakat dengan pilihan itu, Mas. Tapi ... tiga kali gagal dengan proses normal mebuatku takut. Bagaimana kalau kita gagal lagi? Maksudku ... aku takut kandunganku yang lemah akan lebih beresiko. Kamu tahu sendiri, kan ... bayi tabung itu butuh perlakuan ekstra?” Azmya meletakkan secangkir kopi ke meja.
Sebenarnya ia bukan tak ingin. Hanya saja, ia merasa keadaaannya belakangan ini tidak begitu baik. Sering merasa nyeri di bekas operasi pengangkatan ovariumnya beberapa bulan lalu. Meski awalnya berkeras, tapi dukungan dari seluruh keluarga membuat istri Arka itu menyerah. Melepas harapannya, demi orang-orang yang mencintainya.
Toh, masih ada rahim sebagai sumber kehidupan, meski kemungkinan untuk banyak hal menjadi minim keberhasilan. Setidaknya, itu yang menguatkan Azmya kala itu.
“Terima kasih.” Arka meraih cangkir yang masih mengepulkan asap, lalu meyeruput perlahan. “Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu istirahat dan makan dengan baik akhir-akhir ini? Tidak ada obat yang terlewat, ‘kan?”
Arka mengulur tangan dan memeriksa dahi, berikut leher istrinya. Sementara, matanya memindai wajah ayu yang seikit pucat.
“Aku baik-baik saja, Mas ... dan aku akan lebih baik jika kamu mau mengabulkan permintaanku.”
“Apa? Apa mungkin ada yang kulupakan?”
“Menikahlah, Mas ... berikan aku seorang putri cantik, buah cinta kita.”
Arka menghela napas, lalu meletakkan cangkir kopi ke meja. “Azmya ....”
“Mas, kamu mencintaiku, ‘kan? Lalu mengapa begitu berat bagimu mengabulkan permintaanku?”
Arka menarik napas dalam. Memindai wajah sang istri dengan saksama. “Apa hanya itu yang akan membuatmu bahagia?” tanyanya serius.
Azmya merengkuh lengan sang suami. Tak dapat ia pungkiri, jika hatinya begitu teriris. Akan tetapi, tidak ada jalan lain yang lebih baik, selain merelakan lelakinya ini menikah lagi. Hanya dengan begitu, ia bisa melihat rupa Arka dalam bentuk malaikat kecil, seperti yang selama ini hanya sebatas impian. Sementara, mewujudkan itu semua ia dihadapkan dengan kata mustahil yang begitu besar.
“Bukan hanya bahagia, Mas. Aku bahkan akan bertahan seribu tahun lagi, tidak peduli sejauh apa penyakit ini melemahkan.” Azmya tersenyum lembut, meyakinkan Arka yang tampak keberatan.
“Baiklah.” Akhirnya satu kata itu terucap dalam satu tarikan napas berat.
Seketika wajah pucat itu berseri-seri. “Benar kamu setuju, Mas?”
“Iya. Tapi bukan sekarang. Akan kupikirkan, Sayang ... menikah bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak keluarga yang—“
“Aku akan mengurus semuanya. Surat keterangan dari pengadilan agama, bahkan surat izin dariku dari notaris dan dengan persetujuan orang tua kita. Aku janji!”
Azmya menggebu-gebu, mengabaikan hunjaman sembilu di hatinya sendiri. Pun ia abai pada perasaan Arka yang seakan-akan tercabik di waktu yang sama.
“Mya ....”
“Kesediaanmu saja sudah cukup bagiku, Mas.” Azmya mendaratkan kecupan bertubi di pipi dan bibir suaminya. “Oh iya, kapan kamu ke Jakarta? Katanya mau ketemu klien penting?”
“Mungkin lusa. Kenapa?” Arka meraih pinggang sang istri dan mendudukkan wanita itu dalam pangkuan.
“Apa kali ini akan lama?” Azmya melingkarkan tangan ke lengan suaminya.
'Jika ini waktu terakhir sebelum kau berbagi, maka akan kunikmati saat ini ….'
“Mungkin, karena setelah itu aku akan ke Ternate, lalu ke Kendari. Kenapa?”
“Kalau begitu, pergilah minggu depan. Setelah semua dokumen selesai kuurus.”
“Dokumen?”
“Iya. Dokumen pernikahanmu dengan ibu dari anak kita. Aku hanya ingin kamu tidak kesulitan saat bertemu gadis baik nantinya, Mas. Bukankah di Jakarta banyak sekali wanita cantik yang akan kamu temui? Itu juga sebagai bukti bahwa aku--”
“Tidak perlu sejauh itu, Sayang ....”
“Aku mencintaimu! Aku ingin hidup lebih lama bersamamu, dan satu-satunya jalan adalah ... anak kita. Biarkan malaikat kecil itu menjadi penyambung nyawaku.”
Azmya mendekap sang suami. Mengabaikan mata lelaki itu yang berkaca, juga hela napas berat.
Bagaimana mungkin aku akan berbagi, jika memilikimu saja sudah cukup?
Bagaimana aku akan menikah lagi, jika memandang wanita lain saja rasanya aku seperti pengkhianat?
***
Baru saja Myria sampai, dan berniat merebahkan diri di kasur yang nyaman, ketika terdengar ketukan. Gadis itu mengernyit lalu bangkit dengan malas, menuju pintu. Ia tidak tahu siapa yang datang, padahal seingatnya tidak ada satu pun yang tahu tempat tinggalnya kecuali kerabat dekat, bahkan tempat ini terlarang bagi Bima sekalipun.
"Pak Arka? Ap--apa yang Bapak lakukan di sini?" Mata Myria membulat melihat siapa yang datang, sedangkan satu tangan masih memegang gagang pintu yang belum sepenuhnya terbuka.
Beberapa kali terlibat dalam urusan bisnis yang membuat keduanya sempat dekat, tapi tidak ada yang spesial sampai bisa membuat Arka datang ke tempatnya. Sekali lagi, hanya sebuah hubungan profesional di antara mereka selama ini. Tidak lebih. Meskipun Myria tak lagi bisa menyangkal bahwa ada yang berdesir aneh di dalam dadanya saat ini. Seperti buncah bahagia atas rindu yang terobati.
"Apa kau tidak berniat menyuruhku masuk?" sapa Arka dengan senyuman khas.
Mengenakan celana jins biru navy dipadu kaus putih di balik jaket, membuat pria itu terlihat lebih segar. Sepatu kets putih dan topi dengan warna senada, membuat ia juga sangat berbeda hari ini. Menimbulkan gelenyar aneh dalam d**a Myria mana kala memindai sosok tampan itu.
"Masuk? Ah! Tapi, saya hanya sendirian, tidak mungkin saya--" Myria tergagap ketika di luar dugaan Arka menepis tanganmya, dan masuk bahkan sebelum mendapat izin.
"Tunggu!" Masih di pintu, Myria mencegah pria itu masuk.
"Apa kau akan mengusirku?" Arka berbalik.
"Jika Bapak ada perlu denganku, kita bicara di luar!"
"Apa akhirnya, kau memberiku kesempatan untuk berbicara selain pekerjaan? Denganmu? Seorang Myria?"
"Apakah tidak apa, jika saya harus berubah pikiran?”
Myria yang susah payah menguasai diri akhirnya tegak berdiri. Bersedekap, ia melayangkan tatapan penuh intimidasi pada pria yang telah lancang merangsek ke apartemennya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa mengusir Arka sekarang. Seperti ada yang bertentangan dengan logikanya sekarang ini.
"Baiklah. Kalau begitu, aku tunggu kau di bawah."
Lagi, tanpa aba-aba, lelaki itu berlalu. Melewati Myria yang mematung bak pilar tak bernyawa. Dengan cepat ia menyambar kunci mobil dan tas, lalu membuntuti Arka. Tak ingin jika sampai lelaki itu kembali, padahal bisa saja ia menghindar dan berlari melalui pintu keluar yang lain.
Sampai di area parkir, Myria baru menyadari bahwa kakinya hanya mengenakan sendal bulu bermotif boneka. Belum lagi, tampilannya yang lelah dengan blus yang agak kusut karena dipakai seharian tadi di kantor. Ia bahkan mengendus aroma tubuhnya sendiri, takut jika ada aroma tak sedap.
"Kau tetap cantik. Percayalah!" Kalimat Arka membuat Myria tersentak.
Arka berkata seolah-olah mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu. Maklum, selama ini gadis itu selalu tampil sempurna pada setiap kesempatan. Menggoda mata siapa saja yang melihat, melambungkan indra penciuman yang menangkap wangi gadis itu.
"Kemarikan, aku yang mengemudi!"
“Bagaimana Bapak bisa tahu kalau itu mobilku? Apa Bapak menguntitku?”
Tak menjawab, pria itu menyambar kunci mobil dari tangan Myria dan memaksa gadis itu masuk. Entah karena enggan jadi pusat perhatian atau apa, Myria hanya menurut.
Sebagai usaha menjaga image bahwa selama ini, ia tak pernah dekat dengan lelaki mana pun, apalagi sampai datang ke tempat tinggalnya. Jika ia menurut kali ini, setidaknya pikiran Myria yakin bahwa Arka adalah pria baik.
Mobil melaju jauh, melesat ke pinggiran kota yang mulai didekap dinginnya malam. Terhenti di tepian pantai yang sunyi, tempat yang hanya menunjukkan beberapa kendaraan saja yang berlalu lalang.
Deburan ombak terdengar saat Myria dan Arka turun dari mobil. Keduanya lantas berjalan menuju tepian berpasir yang tersaput kelamnya malam.
Sebenarnya Myria tak menyukai pantai, tetapi entah mengapa ia tak menolak saat Arka menepikan kendaraan yang mereka tumpangi. Berdiri menatap ke tengah lautan, mata gadis itu menangkap kerlip perahu nelayan yang berkedip bak kunang-kunang, di bawah naungan kelam berhias jutaan bintang.
Menghalau dingin yang menyerang, Myria bersedekap. Blouse berbahan sifon yang dikenakannya tak mampu menghalau angin laut yang berembus kencang. Melihat itu, Arka mendekat dan membuka jaket yang ia kenakan.
Tak ada yang terdengar di antara keduanya, kecuali deburan ombak tak jauh di depan sana.
"Kau harus selalu siap melindungi dirimu sendiri," ucap Arka sembari memakaikan jaket ke tubuh Myria.
"Tidak perlu--"
"Akan kupeluk, jika kau menolak!" Cepat Arka memotong ucapan gadis itu, ketika berusaha menolak.
"Sebenarnya, apa yang Bapak inginkan dengan datang kemari?"
"Aku merindukanmu."
**
bersambung ....