Lebih satu minggu para pengusaha itu tinggal di Kalimantan, dengan kesepakatan demi kesepakatan yang berbelit-belit. Menghabiskan waktu, tenaga, dan juga biaya yang tak sedikit.
Meski tak pernah bosan dengan coffee shop yang ada di lantai dasar hotel, tetapi kali Myria memilih keluar. Menikmati udara panas pulau dengan garis khatulistiwa, berniat mengunjungi toko kerajinan dan pusat oleh-oleh. Berkali-kali Bima menawarkan untuk ikut, tetapi ia menolak karena enggan harus berjalan dengan pria itu, tanpa urusan pekerjaan.
Myria menunggu taksi di depan lobi hotel sembari memainkan ponsel. Memastikan tak ada e-mail yang terlewatkan, lalu berselancar sejenak di sosial media. Namun, genggaman kokoh pada pergelangan tangannya, membuat ia terkejut.
"Tetaplah waspada. Bisa-bisa taksi ini menabrakmu."
Tak menghiraukan Myria yang terkejut, si pemilik suara itu membuka pintu dan menuntun gadis itu masuk. Tanpa izin, dia bahkan melakukan hal yang sama. Masuk dan duduk di sisi Myria dengan santai.
"Apa yang--"
"Jalan, Pak!" Tak selesai kalimat Myria, saat taksi mulai bergerak lambat atas perintah pria itu.
Myria mendengkus kesal, lalu mengibaskan tangan. "Lepas!"
"Aku akan menemanimu," jawab pria itu santai.
"Saya bisa sendiri!"
"Tidak bisakah kau bersikap manis sedikit saja padaku? Aku mengantuk."
Selesai berucap, pria itu menyandarkan kepala di bahu Myria, lalu memejamkan mata.
Sekali lagi ada yang berdesir aneh di dalam d**a gadis itu, sebentuk rasa yang tidak pernah ia alami sebelumnya. Berniat menghindar pun percuma, karena rasa dalam hati memaksanya tetap di tempat, membiarkan pria itu terlelap di bahunya. Arka.
"Sudah sampai, Bu." Sang pengemudi mengingatkan saat mereka telah sampai di tujuan. Sibuk bergulat dengan perasaannya sendiri, membuat Myria lupa berapa lama perjalanan itu ditempuh.
"Ah ... ngg ... maaf, Pak. Sebentar saja, bolehkah...?" Myria menunjuk Arka yang terlelap di bahunya.
Sang pengemudi menganggu pelan, memberi pemakluman. Apalagi, setelah Myria berkata akan memberi bayaran lima kali lipat, karena sudah menyita waktunya mendapat penumpang lain.
Butuh waktu beberapa lama, hingga Arka mengerjapkan matanya. Tentu saja itu disebabkan oleh rasa gerah, karena Myria meminta sopir taksi mematikan pendingin kabin. Cara terbaik membangunkan orang asing itu, meski saat ini bajunya pun mulai basah oleh keringat.
"Kita sudah sampai, Pak?" tanya Arka serak, khas suara orang bangun tidur. Myria sempat mendengkus, tak menyangka jika Arka benar-benar lelap di bahunya.
Arka mengucak mata dan menegakkan tubuh, memberi ruang bagi Myria untuk melesat pergi. Namun, ia mengejar dengan cepat hingga ke dalam toko. Tak peduli jika Myria resah karena dibuntuti.
"Kau suka?" Arka mendekat, ketika Myria memegang sebuah kain tenun khas Pulau Borneo.
"Tidak bisakah Bapak mencari di tempat lain?" Myria berucap tanpa mengangkat wajah.
“Apa menurutmu ini bagus?" Tak menghirau perkataan Myria, Arka menunjukkan untaian kalung dari manik-manik. Membuat Myria memutar bola mata, dan menyerah untuk mengusir lelaki itu. Sebab, percuma saja. Semakin menolak, ia yakin Arka akan semakin berusaha mendekat.
Menghabiskan waktu berkeliling sekitar tiga jam hanya di sebuah toko yang tak terlalu besar itu, perbincangan demi perbincangan keduanya mengalir. Sesekali berhias tawa, dan tampak akrab, meski sebelumnya Myria hanya menjawab seperlunya.
Namun, tawa dan sikap manis itu kembali dingin, ketika mereka kembali ke hotel, dan dipertemukan dalam meja yang membahas kesepakatan kerja. Hanya sampai di situ, dan akan selalu berakhir seperti itu. Seolah tak pernah terjadi apa pun, meski desiran halus dalam d**a Myria semakin terasa, menjadi dentaman yang membingungkan.
***
Hari ini adalah hari terakhir bagi Myria dan para pengusaha itu berada di hotel. Ia lega karena berhasil mendapatkan proyek yang selama enam bulan ini diperjuangkan. Bahkan lelah pun terkikis oleh rasa bangga dan bahagia.
Menunggu penerbangan pulang yang masih cukup lama, Myria kembali mengunjungi coffee shop dengan kopor yang telah ia bawa serta. Duduk di tempat biasa, sembari menikmati hamparan taman berhias aneka bunga, sekaligus menunggu Bima bersiap. Ini adalah perjalanan kerja terlama yang pernah ia lakukan demi menemani sang atasan. Jika yang terdahulu cukup menghabiskan tiga atau empat hari, kali ini sembilan hari.
Menyapukan pandangan ke luar, mata Myria menikmati terik mentari yang cukup menunjukkan kuasanya. Tak ada lagi hujan yang turun beberapa hari terakhir. Gadis itu tersenyum, saat berpikir jika ia mungkin akan merindukan tempat ini suatu saat nanti.
"Pakailah!" Myria menghentikan gerakan menyesap minuman saat terdengar suara berat ada di sampingnya. Mata gadis itu lantas tertuju pada sebuah bingkisan, yang diletakkan tepat di hadapannya. Sementara dari sudut mata, tampak seorang lelaki berdiri, menatap ke luar.
"Apa ini?" tanya Myria tak acuh, bahkan tanpa berbalik.
"Bukalah."
"Tidak mau!" jawab Myria ketus.
"Baiklah, buang saja kalau begitu!"
Refleks, tangan Myria melemparkan bingkisan itu ke lantai. Entah mengapa ia mendadak kesal dengan tingkah pria yang ada di sisinya itu. Sekejap baik dan perhatian, lalu berubah dingin seolah-olah tidak pernah saling menyapa.
Berkali-kali Myria mengingatkan diri sendiri, bahwa hubungan mereka adalah hubungan profesional, demi pekerjaan semata. Namun entah mengapa, ada yang berbeda di hatinya untuk lelaki ini.
Myria bahkan heran karena Arka selalu bisa mengetahui di mana keberadaannya. Bersikap manis, lalu pergi. Dipertemukan kembali dengan wajah tenang, seolah tak pernah terjadi apa pun. Setidaknya demikianlah Arka di mata Myria.
Arka sedikit tersentak saat mendapat respons demikian dari Myria. Pria itu lantas bergeser dari tempatnya berdiri, dan mengambil benda yang terhempas di lantai. Setelah itu ia berlutut, tepat di hadapan Myria yang duduk di sebuah kursi bulat tinggi. Tentu saja itu membuat Myria terbelalak kaget, terlebih saat ia meraih kaki gadis itu tanpa izin.
"Kau justru tampak semakin menggemaskan jika seperti ini, Myria" Arka bergumam dengan senyuman yang berhasil mendebarkan gadis di depannya.
Beberapa orang yang berada di coffee shop memandang ke arah Arka yang berlutut, dan pria itu sama sekali tak peduli. Apa yang dilakukan Arka terlihat seperti potongan reality show, yang menyemat adegan seorang yang melamar kekasihnya. Tentu, itu berhasil membuat Myria gugup dengan wajah merona sempurna. Namun, rok yang dikenakan gadis itu membuatnya tak mampu berbuat banyak.
"Apa yang Bapak lakukan?" hardik Myria dengan menekan suara. Matanya membulat sebagai bentuk protes, sedangkan satu tangan menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Kau bisa membuat seluruh tulang di tubuhmu rapuh, jika selalu mengenakan sepatu seperti ini."
Setelah berucap demikian, Arka mengeluarkan sepatu kets berwarna putih dari dalam bingkisan, lalu memakaikan di kaki Myria. Gadis itu bahkan terkejut saat sepatu itu terasa pas dan nyaman di kakinya.
"Aku akan membawa ini, sebagai sandera," kata Arka seraya bangkit.
Sedetik kemudian ia berlalu, meninggalkan Myria yang masih terbengong-bengong. Membawa serta sepatu milik gadis itu, ia tak peduli jika sang empunya masih bersiap mengajukan keberatan.
“Aku akan mengembalikannya, jika kita bertemu lagi nanti, Myria,” gumam Arka seraya berbalik. Mengutus senyum, pada Myria yang masih mematung di kursi. “Dan saat itu, aku akan menjadikanmu ibu dari anakku.”
***
Sepulang mengurus proyek dari Kalimantan, kehidupan Myria kembali berjalan seperti semula. Sibuk menemani Bima Sakti ke berbagai daerah di negeri ini. Aktivitasnya pun masih senormal biasa, meskipun akhir-akhir ini ia sangat terusik dengan keinginan orang tua yang ingin melihatnya menikah. Bukan hal yang mengherankan, sebab biasanya memiliki anak gadis dua puluh lima tahun dan belum menikah, tak jarang dianggap aneh di kampung orang tua Myria.
Myria bukan tak ingin melepas masa lajang. Hanya saja, ia ingin benar-benar selektif dalam hal menentukan pasangan hidup. Satu hal yang menjadi prinsip, bahwa ia hanya akan mencintai dan menikah dengan satu pria saja selama hidup. Menghamba dan mengabdi sepenuh hati, pada pria yang kelak menjadi imamnya.
Oleh karena itu, Myria tak ingin tergesa. Selain itu, ia bingung bagaimana akan menikah, sedangkan berpikir mengenal seorang lelaki saja tak pernah. Figur yang selama ini berada di lingkungan kerja, membuat gadis itu enggan untuk mencari pasangan. Meskipun ia yakin, tak semua lelaki buaya seperti para pengusaha yang ditemuinya.
Saat gundah memikirkan pasangan, tak sengaja tatapan Myria membentur sepasang sepatu putih yang berada di rak teratas. Situasi yang tiba-tiba membuat ingatannya tertahan pada sosok karismatik, Arkatama. Ia bahkan berpikir tentang bagaimana kabar pria itu saat ini, setelah lebih dari enam bulan tak pernah bertemu.
'Bagaimana kabarnya sekarang?'
Myria bahkan teringat lengkungan senyuman Arka, berikut perhatian, selama kebersamaan mereka di pulau bergaris khatulistiwa. Tanpa sadar, ia tersenyum saat kepingan kenangan bersama Arka melintas memenuhi benak.
Sejenak kemudian Myria mengacak rambut, berniat menghapus ingatan konyol itu. Namun, bukannya pergi, bayangan Arka justru menari-nari dengan bebas di kepala, tanpa mampu ia usir.
Bukan tak ingin mengakui perasaan yang telah tumbuh di hati, tetapi Myria hanya takut jika cintanya tumbuh di tempat yang salah. Usia Arka yang matang, membuat Myria yakin jika pria itu telah beristri.
'Sadar, Myria. Sadarlah!'
***