Sebuah Pencapaian

1172 Words
Meninggalkan Arka di lantai dasar, Myria menuju kamar tempat atasannya beristirahat. Dia akan bertanya perihal pakai memakai yang selama ini sangat mengganggu. Myria memang sering mendengar adanya pertukaran sekretaris untuk ‘dipakai’. Akan tetapi, ia tidak menyangka jika Bima melakukan hal yang sama, mengingat kesetiaannya mengabdi pada lelaki itu selama ini. Gadis itu mematung tepat di depan kamar, dengan tangan yang melayang di udara. Urung mengetuk, ragu jika Bima akan berasumsi lain dengan kedatangannya. Saat Myria sedang berada di dalam kebimbangan, pintu terbuka. Membuat Myria terkesiap. "Myria?" Bima pun sama kagetnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Di depan kamarku? Kau berniat memukulku?" Kepala pria itu melongok ke kiri kanan, mungkin mencari tahu, jika saja ada yang melihat mereka sekarang. "Oh, itu ... nggg ...." Myria salah tingkah dan menurunkan tangannya. "Ada yang ingin kau katakan?" "Pak, apa benar bahwa ...." Myria menggantung kalimatnya. Ragu. Seperti dapat menebak tanya Myria, Bima tersenyum. "Kau mendengarnya?" "Saya hanya ingin memastikan, apakah Pak Bima melakukan hal itu lagi? Membiarkan para bos itu penasaran dan menyuruh mereka datang sendiri kepadaku?" Myria "Ikut aku!" Begitu kata Bima sambil menutup pintu kamarnya. "Ke mana?" tanya Myria sembari mundur selangkah. "Atau mungkin, kau ingin kita bicara berdua? Di kamarku?" "Ah, baiklah! Kita pergi sekarang." Tak ada pilihan bagi Myria selain menurut. Berduaan dengan Bima, siapa yang akan menjamin tak akan terjadi apa-apa? Myria mengekor pada sang atasan dengan pikiran berkecamuk. Menuntut jawaban atas tanya dalam hatinya, membuat Myria merasa sangat buruk. Langkah Bima terus terayun, menyusuri deretan kursi yang berjajar rapi, lalu berhenti di sebuah ruangan tepat di sisi kolam renang. Memilih tempat di sudut, keduanya duduk berhadapan. "Apa ada yang datang padamu seperti sebelumnya?" "Apa sebenarnya arti saya di mata Pak Bima?" Myria balas bertanya. "Kau sangat berarti bagiku." Bima berkata serius. Ia menatap wajah Myria lekat-lekat ketika berkata demikian. "Untuk dikagumi, untuk menarik investor, memancing klien, atau untuk melipatgandakan penasaran?" Bima menarik napas dalam. "Myria ... banyak hal yang tak kau ketahui tentang kehidupan kami." "Tentang kalian yang sibuk di luar rumah, meninggalkan anak dan istri berhari-hari, lalu kemudian memainkan wanita hanya sebagai hiburan, dengan alasan kesepian?" cecar gadis itu dengan tatapan tajam. "Tidak sesederhana itu, Myria." "Sederhana?!" Mata Myria membulat. Bagaimana bisa hal rumit yang disebutkannya dibilang sederhana? "Perlahan, kau akan mengerti." Bima tetap menjawab dalam nada santai. "Sekarang pun, saya sudah mengerti, Pak." "Aku hanya berkata pada mereka, bahwa mereka harus berusaha jika menginginkanmu." "Pak Bima! Apa Bapak sadar, apa yang sedang--" "Karena sampai saat ini, aku pun masih berusaha, Myria!" potong Bima cepat, lalu mengunci tatapan Myria. Berada pada pusaran para lelaki ber-uang, tak urung membuat Myria muak. Ingin rasanya berhenti, pergi jauh meninggalkan ini semua. Akan tetapi, kemudian langkahnya harus terhenti ketika dihadapkan kenyataan, bahwa dia adalah contoh kesuksesan bagi dua adiknya. Sebenarnya biaya Pitaloka dan Yudhistira sang adik bukanlah beban baginya. Namun, Myria berkeras ingin membiayai adiknya tanpa menyusahkan orang tua. Sebagai anak pertama, enggan bagi Myria untuk menyusahkan, sedangkan dia sudah mampu menjadi kebanggaan secara materi. Pekerjaan yang ia tekuni selama tiga tahun belakangan, membuatnya telah mapan, dan lebih dari cukup sebagai seorang gadis lajang. Meski sulit dan terkadang terlibat pada dunia gelap sang atasan, tapi di dunianya yang sekarang, Myria dapat memiliki segalanya. Mengabaikan semua pandangan orang, gadis itu terus maju dan berjalan dengan segenap kemampuan, berdiri di atas kedua kaki, mencoba tak akan goyah. "Jika saja yang di hadapan saya kali ini bukan Pak Bima, mungkin saya akan berdebar." "Hari ini, kau yang melanjutkan presentasi." "Saya?" "Lakukan yang terbaik yang kau bisa. Ini kesempatanmu membuat mereka bertekuk lutut.” Baru saja Myria hendak mengajukan protes, saat atasannya kembali berucap, "Hanya dengan begitu, maka kau bisa menjadi umpan, tanpa harus membuka pakaianmu." Seketika, wajah Myria memerah padam mendengar kalimat Bima. Namun begitu, atasannya itu benar. "Aku akan melindungimu sampai akhir, percayalah padaku,” imbuh Bima lagi. Tanpa menunggu jawaban Myria, lelaki itu pergi. Mengabaikan sang sekretaris, yang bergelut dengan perasaannya sendiri. Sementara itu, tanpa sadar kedua tangan Myria mengepal dan menghantam meja. 'Aku bisa! Aku akan buktikan pada kalian semua, jika tubuh tidak di atas segalanya!' *** Tempat meeting yang berada di suite room hotel berbintang itu sudah mulai dihadiri beberapa orang kolega, ketika Myria dan Bima datang setelah break. Tampak pula Arka dan sekretarisnya yang telah sibuk dengan beberapa dokumen. Sekedar informasi, pria asal Sulawesi itu adalah satu-satunya orang dengan sekretaris laki-laki. Pria berkemeja salur biru navy itu terlihat tenang, berwibawa dan karismatik seperti hari-hari sebelumnya. Myria yang mencuri pandang mengerjap saat Arka menangkap tatapannya. Sorot tajam keduanya sempat terkunci di udara, sebelum terbiar menguap begitu saja karena gadis yang gugup itu berpaling. Terkadang Myria merasa heran dengan sikap Arka yang begitu tak acuh setelah apa yang terjadi siang tadi. Namun, ia sadar dengan cepat, bahwa para pengusaha di lingkup pekerjaannya memang seperti itu. Sama saja dalam hal mempermainkan wanita. Mungkin benar yang Arka katakan siang tadi, bahwa jika sampai saat ini Myria masih bertahan di sisi Bima, itu hanya karena atasannya itu masih penasaran terhadapnya. Entah untuk benar-benar memiliki, atau sekedar berbagi hati, memainkannya sejenak, lalu pergi. Khas para buaya dengan gelimang rupiah. "Ri, sudah siap?" Tanya dari Bima membuat Myria tersentak, tetapi kemudian ia mengangguk dan bersiap memulai presentasi meski terlihat gugup. "Aku percaya kau bisa." Sedikit berbisik, Bima memberi semangat. Semua mata tertuju pada Myria saat gadis itu bersuara pertama kali. Kepiawaiannya menjelaskan setiap hal secara detail membuat para kolega berdecak kagum, memuji kecakapan sekretaris pribadi Bima. Para pria berdasi itu bahkan bertepuk tangan manakala Myria makin menunjukkan kecerdasannya. Sementara di sudut, tampak Arka menyimak dengan saksama. Memindai setiap jengkal gadis yang dia kagumi bahkan saat pertama melihat. Mengerahkan seluruh perhatian untuk mengagumi bentuk ciptaan nan menggoda, tanpa sedikit pun materi presentasi yang ia tangkap. Meeting selesai sekitar setengah sebelas malam, dengan Bima yang menyunggingkan senyum puas. Keputusannya menjadikan Myria sebagai umpan memanglah sangat tepat. Dengan begitu, sekretaris yang dia kasihi itu tak perlu membuka pakaian untuk menarik investor. Hal yang menjadi pembeda antara Myria dan sekretaris pribadi lain yang ia kenal. "Seperti dugaanku, kau memang mengagumkan." Myria mengangkat wajah ketika mendengar bisikan tak jauh dari telinganya. Dia lantas menyunggingkan senyum sinis saat mengetahui sang pemilik suara yang tak asing itu. Siapa lagi kalau bukan Arkatama? Meski menolak rasa yang tumbuh dalam d**a, tak urung ada yang berdesir aneh di hati Myria karena pujian tadi. "Thank you, Ri! Malam ini kamu hebat!" Tepukan Pak Bima di bahunya, menyadarkan Myria dari perasaan aneh yang bergelayut atas pujian yang tadi ia dengar. "Terima kasih, Pak. Semoga saja besok kita sudah mendapatkan hasilnya." "Ya. Aku juga berpikir seperti itu. Sudah terlalu lama kita di sini." Bima menghela napas, dan mengembuskannya lewat mulut. Pria itu tampak lelah. "Saya harap, dengan begitu Bapak akan merindukan anak dan istri di rumah, yang menanti dengan doa dan kerinduan." "Aku selalu mencobanya, Myria. Kau sendiri? Adakah yang mungkin merindukanmu?" "Ah, saya terlalu sibuk untuk merasakan rindu, Pak.” Myria mengabaikan Bima, sebab paham maksud sang atasan. Lelaki yang coba mencari celah di hati sang sekretaris itu berlalu, ketika menyadari Myria begitu membentengi diri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD