Myria meneliti wajah pria di depannya. Dengan mata sedikit menyipit, dia bertanya, "Berapa usia Bapak?"
"Tak terlalu tua untuk kau sebut Bapak."
Nyaris Myria tersedak. Dia pernah mendengar Bima mengucapkan hal yang sama.
Mungkinkah orang seperti mereka memiliki skrip dialog yang sama, jika berhadapan dengan seorang gadis?
"Apa saat ini, ada yang sedang merayuku?" Suara Myria terdengar sumbang.
"Merayu? Apakah gadis sepertimu masih mungkin termakan rayuan?" Arka balas mentap, tak kalah tajam
"Ah! Aku lupa bahwa bagaimanapun kamu juga tetaplah perempuan.".
"Kenyataan bahwa saya adalah perempuanlah, yang membuat Pak Arka melewatkan makan siang. Bukankah begitu?" Myria tersenyum miring ketika berkata demikian. Terlalu sering ia menghadapi pria seperti Arka..Mendekat dengan maksud yang ... apa lagi kalau bukan kehangatan?
Arka berbalik, tepat saat Myria melakukan hal yang sama. Tatapan mereka beradu sesaat, saling menyapa di udara. Seketika Myria mengerjap, lalu memalingkan wajah untuk kembali menatap hujan. Beradu tatap dengan pria itu membuat hatinya berdesir aneh.
'Apa mungkin, dia menginginkanku?
Myria menatap ke luar dinding kaca. Setiap lelaki yang selama ini datang, mereka meminta tubuhnya. Lalu, sebagai kompensasi, mereka akan mengajukan berbagai tawaran. Limpahan uang, juga materi lainnya. Bahkan, ads nominal yang bisa membuat Myria hidup mewah sepanjang masa tanpa perlu lagi bekerja seumur hidup.
'Seperti kolega Bima lainnya, yang beberapa kali bahkan tanpa segan atau malu, memintaku menemaninya?'
Lagi, Myria membatin. Myria sedikit gugup saat Arka memindai wajahnya. Meski dari samping, tetapi diamati sedemikian dekat membuat gadis itu risi. Belum lagi, saat berpikir jika Arka pernah memintanya sebagai penghibur, seperti rekan bisnis Pak Bima yang lain. Membayangkan hal itu, mendadak Myria merasa muak.
"Apa ada yang Pak Arka inginkan?" tegasnya Myria dingin, penuh penekanan.
"Aku?"
"Tentu saja. Tentu ada alasan yang membawa Bapak kemari, dan berbasa-basi untuk--"
"Aku hanya mencoba melindungi milik Bima yang berharga,” potong lelaki itu.
Myria berbalik, menghunjamkan tatapan tak suka. Ia bahkan berharap, tatapan itu mampu mengintimidasi, dan akan membuat pria itu segera pergi. Namun, di luar dugaan Arka justru mendekatkan wajah ke arahnya, seraya tersenyum. Membuat Myria mengerjap beberapa kali.
'Sayangnya, aku bukanlah gadis yang cepat berdebar, hanya karena tatapan lembut dan senyuman seorang lelaki. Meski kuakui, lelaki ini sungguh memesona. Mempesona? Ck!'
Dengan jarak sedekat itu, Myria bisa mencium aroma maskulin green apple dan caviar lime, yang berasal dari tubuh Arka. Aroma segar yang menenangkan.
"Apa maksud Anda sebenarnya? Apa pun alasannya, tidak baik bagi Bapak berada di sini, bersamaku! Karena walaupun saat ini kita sedang bekerja sama, tapi tetap saja bahwa Pak Arka adalah rival utama kami. Mendekatiku, sama saja mengundang kecurigaan, bahwa Bapak sedang mengincar informasi rahasia dari perusahaan kami! Bukankah begitu?" kata Myria penuh penekanan.
'Melindungi milik Bima, apakah aku ini barang?'
"Aku melindungimu dari beberapa pasang mata yang menginginkanmu," lirih Arka kemudian.
Myria menelan ludah dan mengerjapkan mata.
'Menginginkanku? Apa maksudnya?'
“Kamu tau, mereka yang ada di sana? Arah jam dua."
Myria melirik sesaat ke arah beberapa orang mengenakan jas hitam yang sedang berbincang tak jauh di sudut ruang. Seingatnya, orang-orang itu adalah klien, yang membuat kesepakatan bersama perusahaannya.
"Maksud Bapak?"
"Bagaimana jika mereka memintamu menemaninya melalui Bima?"
"Ah?" Mata Myria membulat.
"Melihat aku sedekat ini denganmu, mereka akan mengira bahwa Bima menyerahkanmu padaku, dan mereka tidak akan berani memintamu menemaninya."
Dada Myria naik turun menandakan amarahnya telah memuncak dengan apa yang dikatakan Arka padanya. Ia memang pernah mendengar desas-desus tentang saling tukar menukar sekretaris di antara atasan tempatnya bekerja. Namun sungguh, ia tak menyangka jika Pak Bima akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya.
'Sialan! Apa mungkin Pak Bima akan melakukan ini padaku?'
Myria beranjak, saat dengan cepat Arka menahan pergelangan tangannya. Tatapan tak suka dari gadis itu lagi-lagi, hanya dibalas dengan senyuman oleh Arka. Myria bahkan benci, ketika tatapan yang ia harap bisa membunuh itu, justru hanya dibalas kedipan dan ketenangan. Berbeda dengan lelaki yang sebelumnya, Arka sama sekali tak terintimidasi, malah dengan lembut, mengulas senyuman.
'Haruskah dia bersikap semanis ini?! Ck!'
"Jika kamu ingin meninggalkan tempat ini, lakukan bersamaku! Atau mereka yang akan membawamu keluar dari sini."
Arka berdiri tepat di sisi Myria dengan masih memegang tangan gadis itu. Awalnya Myria meronta, tetapi sikap lembut dan tenang Arka membuatnya mengalah. Sampai pada akhirnya mereka keluar bersama, meninggalkan coffee shop. Saat itu sudut mata Myria menangkap tatap tak suka dari beberapa orang.
Myria menepis tangan Arka dengan kasar, setelah mereka berdua berada di luar coffee shop. Setelah tautan tangannya terlepas, Myria mengangkat wajah agar sejajar dengan pria jangkung itu. Heels sebelas senti yang dikenakannya sungguh mampu membantu saat ini, meski tetap saja Arka sedikit mencondongkan tubuh, membuat wajah keduanya semakin dekat.
"Apa pun yang Bapak lakukan hari ini, saya tidak akan pernah berterima kasih!"
Myria berucap sengit, seolah-olah mengabarkan pada pria di depannya bahwa dia benar-benar tak suka. Berani menggenggam tangannya, tentu saja Myria merasa Arka begitu lancang. Selain itu, ia ingin menunjukkan bahwa lima tahun berkecimpung di dunia para pengusaha membuatnya bisa melakukan segala hal sendiri, termasuk melindungi diri tanpa bantuan orang lain.
"Karena itu, aku akan terus melindungimu, sampai kamu berterima kasih," ucap Arka santai. Kini, ia telah kembali tegak berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celananya.
"Saya bisa melakukannya sendiri! Siapa Anda, yang tiba-tiba ingin menjadi penyelamat?" ketus Myria.
"Ketika seorang Bima Sakti belum mendapatkanmu, apa kamu pikir kamu akan tetap baik-baik saja?"
Tampak Myria tersentak. Matanya yang membulat mengerjap beberapa kali, sedangkan dadanya naik turun. Namun, kemudian dia merasa sesuatu dalam dadanya berdesir, saat mendapati Arka hanya tersenyum.
"Apa kamu pikir, kamu bisa bertahan selama ini di sisinya, jika dia sudah mendapatkanmu?”
"Apakah begini cara kalian memperlakukan orang yang benar-benar baik, dan ingin mengabdi dengan sepenuh hati mereka?"
"Bukan kami, tapi mereka. Mereka yang sepertimu akan melakukan apa saja, demi tetap mempertahankan posisinya, di samping kami."
Kalimat Arka membuat Myria semakin murka.
"Saya berbeda! Dan saya bukan mereka! Saya bisa mendapatkan apa saja yang saya inginkan, tanpa menukarnya dengan tubuh yang saya miliki!"
"Sampai kapan kau akan merasa yakin?"
Terlibat perdebatan, membuat dua orang itu bagai sepasang kekasih sekarang. Saat Myria terus menghardik, sedangkan Arka tak henti memindai wajah di hadapannya dengan senyum terkembang di bibir. Tetap tenang, seperti tengah meredam amarah Myria dengan kharismanya.
"Apa sebenarnya yang Bapak inginkan?" desis Myria kemudian.
"Kita akan mengetahui, setelah proyek ini ada dalam genggaman kita."
Jawaban dingin dari Arka disertai senyum miring membuat Myria penasaran dan semakin terpancing amarah. Gadis itu sempat menduga jika Arka mengambil kesempatan untuk ‘memakai’ dirinya, melalui Bima.
"Saya akan pastikan proyek ini berada di tangan kita!" jawab Muria mantap, sembari menarik diri. Sedikit menjauh, mengurai aroma wangi Arka yang merusak suasana hatinya.
"Adakah yang mungkin kau ketahui tentang proyek ini? Maksudku, cara yang kamu gunakan untuk melobi-nya?" Arka masih menggoda.
Myria mendengkus kasar sembari berucap, "Kita lihat saja nanti! Yang pasti, saya tidak pernah membuka baju untuk memenangkan tender, jika itu yang ingin Anda ketahui, Pak Arka yang terhormat!"
Cepat gadis itu berbalik setelah berucap demikian, meninggalkan Arka yang menatap punggungnya. Sementara itu, sebuah senyuman terkembang di bibir pria itu. Mengikuti langkah Myria yang menjauh.
“Bunda Sayang ... aku telah mendapatkan ibu dari anak kita. Aku ... akan mendapatkan hatinya seperti dia mendapatkan hatiku, untukmu.”
***