Sambil menikmati sarapan paginya, akhirnya Sasha menelpon asistennya, Rendi. Pasti pria itu ngomel-ngomel nanti karena Sasha sengaja mematikan semua notifikasi. Untungnya tidak ada paparazzi yang memotret dirinya saat makan di warung jalanan kaki lima.
Masakan pria itu enak sekali. Sialnya, Sasha lupa siapa nama pria itu. Tampan sih, penuh brewok, mirip bintang film yang sedang naik daun, Refal Haldy kalau nggak salah.
“Bisa fokus saja mata kamu sama makanannya. Gak usah ngelihatin saya, seolah-olah saya ini pria yang bakalan ngapa-ngapain kamu setelah ini.”
“Nggak kok, Dude. Hanya merasa spesial, biasanya aku sarapan sendiri, tidak bisa menikmati sarapan santai di manapun. Tahu kan kalau aku ini sangat terkenal?”
Oke, selama Sasha tertidur mirip putri salju, Dave tak sengaja melihat tanda pengenal dan ada nama lengkapnya. Ternyata perempuan itu memang seterkenal itu, pantas saja semalam apartemennya ramai dengan para wartawan.
Apa enaknya hidup dalam kungkuman media? Disibukkan dengan banyak orang menyebalkan dan selalu dituntut jadwal selama satu minggu tanpa jeda.
“Tidak ingin tahu. Lekas habiskan dan cuci piring kamu sendiri. Punya tangan kan?”
Galak amat! Sasha mengutuk mulutnya yang sudah membatin pria itu tampan. Tapi memang beneran tampan, gimana dong!
“Hmmm, oke.”
“Juga, lekas telpon manager atau siapa pun. Agar urusan kita benar-benar selesai setelah ini. Paham?”
Sasha terintimidasi mengangguk. Lalu akhirnya menghabiskan sarapannya, mencuci sendiri, bahkan seumur hidupnya baru kali ini ia disuruh-suruh. Meskipun saat di rumahnya, sang mami akan memerintahkan putri kesayangannya ini dan itu, tapi Sasha memang jarang mengerjakan pekerjaan rumah.
Ayolah, Sasha! Only satu set peralatan makan, tidak akan membuat kukumu sobek atau rusak.
“Terima kasih atas jamuannya, Dude. Tapi, boleh aku bertanya sesuatu?”
Dave mendongak ke arah Sasha, perempuan itu lagi-lagi memamerkan gigi gingsulnya. Sialan, cuma senyum saja bisa semanis itu.
“What happen?”
“What your name? Sorry, aku lupa. Aku hanya ingat inisial D, tidak mungkin benar-benar Dude, kan?”
Dave tersenyum dalam hati, perempuan satu ini lumayan berani. Tangannya menunjuk cangkir kopi yang tertata rapi, ada beberapa yang menggunakan namanya. Lalu, Sasha iseng memotret, supaya tidak melupakannya lagi.
Ah, jadi namanya Dave, Dave Lennon. Nama yang keren, terlihat seperti bule dengan wajah kebapakan. Rasanya Sasha seperti terjun dalam dunia duda rasa duren. Duda keren, tapi kan Sasha tidak tahu apakah pria itu sudah menikah, single atau bahkan memang benar-benar Duda. Karena sesuai dugaannya, kenapa punya rumah rahasia yang tak ada foto siapa-siapa di sini. Hanya beberapa CD musik kuno dan klasik, dasar pria yang unik.
Sasha menelpon Rendi dan menyuruh pria itu datang menjemput, tapi baru saja menyebutkan sebuah tempat yang sedang ia tiduri semalam, Dave menyita ponselnya dan mematikannya.
“Dude!”
“Aku tidak suka siapapun tahu tentang tempat ini. Tolong hormati privasi saya, bisa?”
“Bisa. Tapi aku terlanjur tahu, gimana dong? Gak apa-apa.”
“Asal jangan ember. Pakai ini, dan ini.” Dave memberikan kacamata hitam, topi dan masker. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Dave mengantarkan lagi perempuan sombong itu sampai ke halte terdekat lalu pergi begitu saja. Bahkan, Sasha tidak sempat mengucapkan kata terima kasih.
Tapi, katanya, pria itu tidak mengenal siapa dirinya? Kenapa malah menyuruhnya memakai kacamata, topi dan bahkan masker? Barang-barang yang sering dipakai selebriti atau orang terkenal saat melihat kerumunan maupun tempat umum.
(Bagian Kedua)
DAVE LENNON, manager utama di The Care Ghanami Group. Waw, pangkat yang lumayan.
“Sasha! Jawab pertanyaan gue, semalam tidur di mana? Ditelpon gak bisa, direject sembarangan. Lu kabur ke planet mana sih, heh!”
Suara Gina benar-benar berisik.
“Kamu di mana, sama siapa, semalam berbuat apa! Sekalian aja nyanyi, Gin! Tahu gak, semalam gue tidur sama pria ganteng, pakai banget. Saking gantengnya, gue yakin dia gak sadar dengan kegantengannya.”
Bicara soal ganteng, Sasha tidak pernah bohong. Mata jelinya selalu fokus terhadap barisan kaum jantann yang memang menggemaskan untuk dilihat, sekalian cuci mata.
Bergelut di dunia akting, baik Gina maupun Sasha banyak mengenal pria handsome bak keturunan Yunani. Ah iya, Sasha juga memuji kalau wajah Dave sangat bule sekali.
“Kenapa bisa tidur sama pria? Lu diculik?”
Akhirnya Sasha cerita semua dari awal dan akhir, tidak bisa dijeda sama sekali. Dan juga, mengatakan kalau sosok Dave Lennon itu pria perfect.
“Dia bekerja di perusahaan fashion. Cari tahu tentang perusahaan itu, dan buat gue jadi modelnya.”
“Gila aja, segitu napsunya lu! Oke, dia ganteng.” ada satu gambar tentang biografi Dave, meskipun buram tetap kelihatan kok. Gina juga tidak lupa memuji wajahnya memang rada-rada bule.
Tapi, sekali kenal gak mungkin langsung beneran suka kan? Okelah, maybe jatuh cinta pada pandangan pertama bisa terjadi sama umat siapa pun, di belahan dunia manapun.
Sasha tak peduli, ia bahkan memaksa Rendi buat cari tahu tentang The Care Ghanami Group. Perusahaan tentang kecantikan juga fashion.
“Baiklah. Siapa tahu di sana ada lowongan, siapa tahu di sana ada kontes. Soalnya itu perusahaan yang besar, Sasha. Model-model di sana beneran top dan sering keluar masuk majalah kota Paris Fashion Show.”
Oke, Sasha siap bersaing dengan mereka.
Lain halnya dengan Sasha yang beneran penasaran akan sosok Dave, pria itu juga tengah melakukan hal yang sama. Ya, Sasha juga menarik baginya, tapi hanya sebatas itu.
“So, pastikan nggak bakalan ada skandal apa pun tentang kalian. Oke?”
“Hmmm, Oke. Santai saja, gue hanya gak sengaja ketemu dan makan bareng, oh iya, lupa, gue juga gak sengaja ngajak ke The Penthouse Garden.”
What! Josh beneran kaget. Dia saja sangat dilarang ke tempat persembunyian Dave ketika muak dengan keluarga, dengan Grace yang terus mengejar dan tuntutan pekerjaan. Baginya, tempat itu adalah tempat satu-satunya yang bisa menenangkan. Banyak musik-musik lama yang membuatnya merasa sedikit damai.
“Kalian nggak ngapa-ngapain kan? Gue sih percaya sama lu, cuma si Sasha, dia kan..?”
Dave malah tertawa. Memang sih, Sasha tidur sangat heboh, tidak seperti dirinya yang memang jarang bergerak. Hanya beda model tidur beberapa kali perjam, Sasha? Jangan ditanya, sudah beberapa kali perempuan itu hampir memeluknya, sampai-sampai pria itu hafal bau shampoo Sasha, wangi buah melon.
“Hanya tidur. Just sleep, Josh. Gak ada kamar lain, gue malas tidur di sofa dan gak tega juga sama dia.”
What! Kali ini Josh benar-benar kaget bukan main.