Sepulang dari tempat yang super misterius, Sasha berjanji tak akan memberitahu siapa pun soal tempat itu. Tempat di mana seorang pria bernama Dave membawanya dan menyelamatkannya dari uberan wartawan juga reporter.
Seorang CEO muda, tampan, yeah meskipun duda. Tapi, jaman sekarang bukankah kematangan seorang pria akan menjadi pilihan seorang wanita untuk diminta menikahinya? Ah, terlalu jauh. Sasha hanya penasaran kenapa pria itu dingin sekali, dasar kulkas tujuh pintu!
Cut!
Sasha mengibas cantik rambutnya, pemotretan sudah selesai. Setidaknya ia sudah berdiri, duduk dan rebahan santai dengan gaya yang nyentrik di depan kamera selama hampir satu jam. Tubuhnya lelah dan meminta waktu untuk istirahat di tempat ganti kostum.
Gina membelikannya kopi dan mengatakan akan ada pemotretan di dekat Anyer. Sedikit bisa menghirup udara di luar karena jujur, Sasha sudah bosan harus berlama-lama dari studio satu dan studio lainnya.
“Hmmm, dia cool banget. Ada rambut tipis di jambangnya, membuat jiwa maskulinnya keluar. Ah, Dave, you make me glow!”
“Dave?” Gina berusaha mengingat, pria mana lagi yang akan jadi target keisengan Sasha, sahabatnya.
Ia juga dapat job yang sama dengan Sasha, meskipun namanya tidak begitu booming setidaknya Gina masih bisa berguna. Ia bisa menjadi tempat keluh kesah sahabatnya ketika muak dengan kisah percintaannya.
“Gue saranin, lu ubah mindset lu deh. Dia itu naga, Sha. Tampang aja cuek, tapi punya simpenan segudang. Mendingan lu terima pendekatan dari Brian. Tampan, baik, pengusaha batu bara yang gak neka-neko. Gak hobi clubbing, see? Dari segala aspek, dia jauh menguntungkan daripada si duda itu.”
No! Sasha suka tantangan. Semakin susah ditaklukkan, semakin membuatnya maju seribu langkah. Mungkin untuk sekarang, Dave akan memasang tameng supaya pertahanannya susah untuk masuk, tapi lihat saja, jangan panggil Sasha kalau ia tak sanggup merobohkan dinding yang sudah dibangun pria kulkas itu.
Baginya, jatuh cinta lagi itu bukan perkara mudah. Apalagi baru saja mengalami patah hati yang hebat, tapi ketika melihat Dave Lennon, pria yang punya wajah kebule-bulean, Sasha begitu takjub dengan wajah romawinya.
“Dia kan juga seorang pengusaha, punya banyak perusahaan tentunya. Dia punya semacam suatu produk yang bisa gue perankan jadi modelnya? Cari tahu dong, Gin.”
“Dih, ogah. Lagian, jadwal pemotretan lu full bulan ini, lu aja kadang males gerak ini malah minta job. Kalau kata pepatah, jodoh gak akan pergi ke mana kok, santai aja. Kalau beneran dia jodoh lu, kalian akan bertemu di waktu yang tepat.”
Sasha mengaminkan ucapan Gina dan langsung menutup ponselnya sambil memejamkan mata. Lumayan capek juga, terkadang ia sangat ingin menikmati liburan atau bisa kencan buta, tapi selalu saja ada kabar yang enggak-enggak, entah dari media, entah dari pasangan yang mengajaknya kencan.
Itulah mengapa, sosok Alan tak tergantikan. Ah, ralat, hampir digantikan sebentar lagi, tunggu saja. Sasha akan menghapus semua kenangan tentang pria itu, apalagi ia sudah merasa yakin akan instingnya soal Dave.
(Bagian Kedua)
Hidup penuh dokumen, banyaknya rapat dan pertemuan, menghadiri makan malam bersama klien juga tak kenal waktu. Menjabat jadi seorang manager yang akan naik pangkat, Dave punya bakat memikat banyak klien termasuk Nona Celine, klien ternama yang bahkan sering memuji Dave.
“Padahal anda juga termasuk mumpuni untuk jadi modelnya. Model-model sekarang terlalu muda dan tak bisa menjiwai, produk saya kan khusus untuk rambut, jadi saya ingin mencarikan model dari perusahaan anda. Tapi, rata-rata mereka berwajah manis dan tidak terlalu manly, terlalu kelihatan young banget.”
Sejak tadi Josh hanya angguk-angguk. Ia tahu, bukan kali ini saja kliennya memuji Dave. Bahkan, puluhan fotografer ternama ingin sekali Dave bisa mencoba dunia mereka, tapi sayang sekali, pria itu selalu saja menolak karena bukan seperti itu pekerjaannya.
“Kebetulan ada Marvel, Jacob dan Andrea. Mereka adalah tiga top model tetap dan kerjanya juga gak usah diragukan lagi. Nanti akan saya kirimkan beberapa foto hasil dari ketiga-tiganya pada Miss Celine kalau semisal anda tidak keberatan.”
Celine menjabat tangan Dave dan beranjak dari kursinya, diikuti oleh sekretarisnya. Mereka keluar dari restoran yang sudah dipesan oleh Dave, Josh lega karena bisa saja pak Tama akan marah besar kalau tidak dapat persetujuan kontrak dengan perusahaan kolaborasi mereka, milik Celine Alena, The Ephipany Beauty.
Karena acara setelah ini hanya kembali ke perusahaan dan menyampaikan salam dari Miss Celine, Dave memilih pergi ke tempat lain.
“Ke rumah itu?”
Ya, sebuah tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri, mendengar musik, memasak atau apa pun asalkan tidak ada kaitannya dengan bekerja.
“No. Lu bisa ke manapun juga bukan? Kita pisah di sini, see you, nanti gue bakalan mengabari pak Tama, santai aja.”
Oke, Josh memilih pergi dan menyalakan mobilnya membiarkan Dave berdiri sambil menunggu taksi. Pria itu sebenarnya tidak akan ke rumah in the junglenya, hanya berjalan-jalan sebentar ke sekitar pantai Anyer. Sore-sore begini pasti angin akan terasa menampar wajahnya, sejuk dan mendamaikan.
Taksi pesanannya sudah sampai, Dave langsung duduk dan mengatakan tempat tujuannya. Kadang, Ia ingin sekali menikmati liburan di berbagai pantai di seluruh Indonesia. Tidak terlalu memikirkan soal pekerjaan meskipun ia tidak akan mati kelaparan karena tidak bekerja selama berminggu-minggu.
Sesampainya di sana, Dave langsung melepas setelan jasnya dan hanya menyisakan kemejanya. Tangannya melingkis sampai ke siku, Dave memesan kopi dan berjalan lebih jauh dari tempatnya membeli minuman, memilih duduk dan menatap pantai juga bebatuan.
“Hah, hidup terlalu sepi.” ucapnya pada diri sendiri.
Ia bahkan tidak peduli pada keadaan sekitar yang terlihat agak ramai dari biasanya karena padahal setiap Dave ke sini, hanya ada beberapa orang yang mondar-mandir dan berjalan untuk memanjakan kaki mereka meskipun berpasang-pasangan tetapi setidaknya Dave tidak terlalu terganggu dengan aktivitas mereka.
Sulit menemukan tempat di Jakarta untuk menenangkan diri kecuali Villa pribadi. Dave memutar kepalanya sebentar, ada apa sih? Kenapa ada kerumunan seperti itu? Ah, Dave harus benar-benar tak peduli. Ia ke sini hanya ingin menghirup udara pantai.
Sedangkan di kejauhan, sosok wanita yang menggunakan topi duduk di atas pasir beralaskan kain. Meskipun tidak benar-benar memakai bikini Sasha sangat memukau.
“Cut! Oke Sasha, kamu bisa istirahat sebentar sebelum take kembali.”
“Oka, Kak.” jawabnya sambil merapikan selarik selendang yang menutupi bagian pinggangnya. Ia meminta waktu pada Rendi untuk berjalan-jalan sebentar, meskipun bisa dibilang liburan. Tetapi kalau tetap bekerja dan melakukan pemotretan pasti ia akan jenuh juga bukan?
Sasha terus berjalan tanpa diikuti oleh siapapun. Dan inilah waktu bagi kebebasannya selama beberapa hari belakangan ini yang sangat padat. Sesuatu seperti masuk ke dalam kakinya, pasti pasir-pasir kecil. Sasha membenarkan selendangnya, tapi karena angin terlalu kencang selendang itu akhirnya terbang dan berhenti tepat di dekat pria yang sedang duduk menatap air pantai.
“Hei, punyaku. Sorry.” kata Sasha berhati-hati sekali. Ia bahkan tidak membuka kacamatanya. Tapi, saat Dave mengembalikan selendangnya, mata mereka saling beradu.
“Kamu?!” ucap mereka bersamaan. Ah, Tuhan memang selalu mendengar doa-doa dari hamba yang ingin segera move on.
Dave menatap tubuh Sasha sesaat lalu cepat-cepat melemparkan selendang itu. Sial, kenapa matanya harus melihat tubuh indah milik wanita itu sih?