***
Ghea berdiri di halaman belakang rumah besar milik Angga tanpa bisa berkata-kata.
Kepala ART dirumah itu adalah Pak Anton- seorang lelaki berusia 40 tahunan dan ia lah yang menemani dan menjelaskan tugas-tugas Ghea selama enam bulan kedepan.
"Yang ini namanya Diego, Yang ini namanya David. Mereka bersaudara. Setiap petang, bawa keduanya jalan-jalan. Harus 2 putaran komplek setiap harinya.Cemilan sehari dua kali dan bla bla, bla..." Pak anton menunjuk dua ekor anjing Alaskan malamute yang berada di kandang sebelah kanan. Keduanya berperawakan sama persis sehingga sulit di bedakan. Yang bisa membuat keduanya dibedakan adalah warna chocker di leher.
Pak Anton lalu beralih menunjuk ke kandang kucing yang letaknya tepat berada di sebelah kiri. Angga ternyata juga memelihara seekor kucing Asher yang harganya setara dengan harga sebuah rumah. Pak anton menjelaskan panjang kali lebar bagaimana cara merawat kucing langka bernama Washington Dc itu.
Nama yang sungguh tidak kreatif bukan? Tapi Ghea sedang tidak berselera untuk mengomentari kucing langka yang dinamai dengan nama ibukota Amerika Serikat.Ia sedang luar biasa kesal sampai semua penjelasan Pak Anton sama sekali tidak masuk ke otak!Dasar Angga k*mpret! Ghea ternyata bukan mau dijadikan babu ataupun pengasuh biasa, melainkan PENGASUH HEWAN!!!
***
Tidak pernah terbesit dipikiran Ghea bahwa nasibnya akan semenyedihkan ini. Dia yang tadinya hanya ingin bekerja dengan damai, memenuhi kebutuhan hidupnya dan melunasi satu persatu tunggakan hidup. Tapi mengapa ia harus berakhir mengenaskan seperti ini sebagai seorang pengasuh hewan?
Di sinilah Ghea berada, berada di tengah tengah-tengah antara kandang anjing dan kandang kucing yang sejak tadi luar biasa berisik. Anjing kembar menyalak galak, sementara si kucing bernama Washington itu pun tidak mau kalah dan menggertak balik. Ternyata hewan-hewan berbeda species itu tidak akur satu sama lain, lalu mengapa Angga memeliharanya berdampingan seperti ini?
Kesal mendengar suara berisik terus menerus, Ghea yang kini hanya ditinggal sendiri pun mengambil sapu dan membantingnya ke atas lantai. PLAK!!!
Sukses saja pertengkaran sengit di antara hewan-hewan peliharaan di dalam kandang pun terhenti, karena syok mendapat amukan mendadak dari seorang pengasuh baru.
"Masih mau ribut?"Ghea mengeluarkan Dogfood dan sekaleng whiskas, memamerkannya pada hewan-hewan yang kini sudah menatapnya dengan tatapan memuja dan menggoyang-goyangkan ekor.
Dan begitulah cerita Ghea sebagai babu a.k.a pengasuh hewan dimulai. Ia memulai harinya dengan menjinakkan para anak bulu itu dengan teramat sangat mudah.
***
Ghea mengakhiri pekerjaannya tepat pukul delapan malam. Kini ia sedang makan di pantry rumah Angga yang super besar ditemani oleh Mbok Sum, pembantu paruh baya yang mengaku sudah bekerja selama tiga puluh lima tahun, jauh sebelum majikannya-Angga- lahir.
Ia kini sedang menyantap makanan buatan Mbok Sum dengan hikmat. Ternyata satu hal yang bisa dipetik dari penderitaannya bertemu Angga adalah ia bisa makan empat sehat lima sempurna secara gratis setiap malam. Dengan begitu Ghea bisa lebih menghemat uang makan. Uang makan memang tidak seberapa, tapi bagi Ghea yang baru saja lepas dari gelar 'nganggur' dan belum gajian, hal sekecil ini saja mampu membuat hatinya berbunga-bunga.
Selagi asik makan, Ghea memanfaatkan situasi untuk mengamati kondisi rumah ini yang tidak sempat ia lakukan saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini karena terlalu syok.Rumah ini besar dan modern yang terdiri dari empat lantai dan memiliki sebuah kolam renang di belakang rumah. Ghea melihatnya saat Pak Anton mengajaknya berkeliling tadi sore. Hanya saja yang membuat heran Ghea adalah mengapa rumah sebesar ini begitu sepi dan hanya dihuni oleh hewan peliharaan yang super berisik dan enam orang pekerja? (1 orang kepala ART -Pak Anton, 4 orang ART -Mbok Sum (Juru masak),dan 2 orang ART yang masih muda, 1 orang tukang kebun, dan 1 orang supir. Memangnya kemana orang tua si Angga? Dan mengapa si b*ngke itu belum pulang sampai sekarang? Padahal Ghea sudah menyiapkan diri untuk mengajukan segudang protes padanya.
Karena didorong oleh rasa kepo yang teramat besar, akhirnya Ghea pun mengajukan pertanyaan pada Mbok Sum sambil mengunyak kerupuk.
"Mbok, Pak Angga kenapa belum pulang juga?"
"Oh, Den Angga memang jarang pulang cepat. Biasanya selalu pulang malam dan pergi pagi." Jelas Mbok Sum.
"Terus orang tua Pak Angga kenapa nggak ada di sini? Pulangnya malam juga ya?" tanyanya lagi.
"Kalau Tuan dan Nyonya tidak tinggal di sini. Mereka tinggal di luar negri sejak mereka berpisah, dan Den Angga tinggal di sini sendiri." jelas Mbok Sum.
Ghea mulai tertarik dengan pembicaraan ini sehingga ia berniat mengorek lebih dalam mengenai Angga.
"Sudah lamakah bi? Memangnya Pak Angga sekarang umurnya berapa?"
"Umur Pak Angga 33 tahun."
Ghea manggut-manggut. Ternyata Angga beda lima tahun dengannya. Pantas saja dirinya selalu terkena sialnya setiap bertemu dengannya.
"Sudah sejak Den Angga lulus SMA mereka berpisah dan selama itu juga Den Angga tinggal sendiri. Mbok yang menyaksikan Den Angga tumbuh dewasa dan si aden kelihatan kesepian, Mungkin karena itu Den Angga sering sibuk bahkan jarang pulang." Mbok Sum mengakhiri pembicaraannya, setelah menyadari ia terlalu banyak memberikan informasi untuk seorang anak yang baru bekerja di rumah itu. Ia pun mengalihkan pembicaraan dan meninggalkan Ghea sendirian dengan alasan ingin melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti.
Tapi informasi yang luar biasa singkat, padat, tapi jelas itu sudah lebih dari cukup untuk Ghea. Kini ia tahu bahwa atasan pembawa sial itu akan pulang malam bahkan kadang jarang pulang. Dengan begitu peluang Ghea bertemu dengannya nyaris tidak ada. Artinya apa? Artinya ia bisa merasakan kebebasan dari kesialan untuk sementara waktu.
"Yay!!!" Ghea bersorak senang. Tapi beberapa detik kemudian, ia tersadar sikapnya barusan sangat konyol dan ia bisa dianggap aneh jika seseorang melihatnya. Ia buru-buru bersikap seperti semula dan makan dengan hikmad.
'Jangan pulang ya, Ngga. Kalau bisa nggak usah pulang sekalian. Biar kuhabiskan berasmu sampai tidak bersisa, hahaha!' batin Ghea. Ia mengulum senyum penuh arti dan mengigit kerupuk.
Sementara itu di ruang VIP sebuah bar ternama di kawasan Jakarta Selatan, Angga sedang menghabiskan waktunya bersama seorang wanita bertubuh ramping dan pakaian minim. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu dan mereka baru saja selesai memagut mesra. Wanita itu bersandar pada bahu Angga yang lebar dan kemudian menawarkan untuk menuangkan minuman.
Akan tetapi ketika ia hendak mengambil minuman itu dari tangan wanita itu, tiba-tiba ia bersin.
"Kamu nggak apa-apa, hmm?" Wanita itu mengusap pipi Angga, mencoba memberikan perhatian lebih pada tamu langganan Bar itu yang terkenal super royal.
"Tidak apa-apa," ucap Angga. Hanya saja, sepertinya ada yang sedang membicarakanku." Ucapnya.
"Kalau begitu kutuangkan lagi yang baru," tawar wanita itu.
"Tidak perlu," tolak Angga. Ia meletakkan gelas bening berisi vodca itu kembali di atas meja. Ia menatap wanita itu, mengamati lekuk tubuh sksi yang menggoda dan berakhir menatap wajah cantik yang sedang tersenyum nakal.
Ia tersenyum miring penuh arti, dan menarik tubuh wanita itu mendekat padanya hingga tidak ada jarak di antara mereka berdua. "Daripada minum, aku lebih ingin cepat-cepat melanjutkan permainan yang tertunda," ucapnya.
"Jadi apalagi yang kamu tunggu?" Ia menaikkan sebelah alisnya. "Aku sudah membayar mahal. Jadi berikan servis yang bagus."
***