SOLUSI GANTI RUGI

1317 Words
*** Kesialan demi kesialan tidak berhenti sampai di sana. Hotel Kingston tempat Ghea melamar sebagai customer service menghubunginya kembali untuk menginformasikan bahwa posisi customer service sudah terisi, dan menyampaikan bahwa posisi yang tersedia hanya posisi housekeeping. Tadinya Ghea sempat ragu, karena ia lulusan S1. Masa ia belajar empat tahun dengan susah payah hanya untuk menjadi tukang bersih-bersih di hotel? Tapi sepertinya ia tidak mempunyai alasan untuk pilih-pilih pekerjaan ditengah pandemik. Ia sudah terlalu lama menganggur dan sekarang ia sangat butuh uang untuk hidup dan untuk mengganti jas 20 juta sialan itu. Hari pertamanya bekerja adalah hari yang ditentukan untuk mengembalikan jas pada pria bernama Erlangga. Tadinya ia bermaksud untuk mengembalikan jas tersebut sepulangnya ia dari hotel sehingga ia pun membawa jas bolong tersebut ke hotel tempat ia bekerja. Tapi siapa yang menyangka, ia justru bertemu dengan Angga lebih cepat dari yang ia duga. Mereka bertemu di lift. Pagi itu Ghea yang baru saja datang ke hotel untuk menemui manajer HRD, Justru bertemu langsung dengan angga yang ingin naik lift. Mati gue! Mati gue!!! Ghea komat kamit bak dukun yang baca mantra, merutuki kesialannya. "Kebetulan sekali ya Natasha," Angga menyeringai. "Padahal saya belum ke kantor, tapi kita justru bertemu di sini." Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Ghea. "Kebetulan sekali yaaaa, pak. He..he..he.." Ghea mengelap keringat di dahinya dengan gugup. "Jas saya bagaimana?" Tanya Angga. Tatapannya tertuju pada paper bag yang dipeluk Ghea. Sekilas ia melihat jas berwarna coklat miliknya di dalam sana. "Hahaha. Kebetulan sekali ya, pak. Padahal saya baru mau ke kantor bapak sepulang kerja dari sini." Alis kanan Angga terangkat. "Kamu kerja di sini?" "Hari ini, hari pertama saya kerja pak. Kebetulan ketemu bapak disini. Ini saya kembalikan dulu ya, pak." Ia menyerahkan paper bag berisi jas itu dengan terburu-buru. Tepat saat pintu lift terbuka, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk lari. "HEY!" Panggil Angga. Ghea yang sudah berada agak jauh dari lift menjawab dengan setengah berteriak. "Saya lagi buru-buru pak. Bapak kan masih pegang KTP saya, jadi jika ada protes, makian, kesan dan pesan, ditahan dulu ya sampai saya sepulang kerja! Nanti saya cari bapak lagi, Bhay!" Dan pintu lift pun menutup. Angga geleng-geleng mengingat sikap wanita bernama Gheandra barusan. Perhatiannya kemudian tertuju pada jas yang ada di tangannya. Diam-diam ia penasaran juga, seberapa hebat wanita itu menghilangkan noda yang katanya tidak akan bisa hilang di bahan jas kesayangannya itu. Dan saat mengeluarkan jas tersebut, ia sukses terpana. Bagaimana tidak? Noda kopi di jas itu lenyap dengan sempurna. lebih tepatnya karena bagian yang terkena noda tersebut hilang. Jas Angga, BOLONG TENGAH DENGAN SEMPURNA! *** Sore hari di hari pertama bekerja di Hotel Kingston. Ghea diminta supervisornya untuk pergi ke lantai lima , kamar 555 untuk membersihkan kamar karena pemilik hotel tersebut sedang keluar. Lagi-lagi angka lima, batinnya.Ia ingin menolak, tapi ia hanya karyawan baru. Ia tercancam dipecat jika membantah. Akhirnya ia pun tidak mempunyai pilihan selain pergi ke tempat yang dimaksud atasannya dengan patuh. "Bersihkan sampai mengkilap," Ia teringat pesan supervisornya. "Kamar itu hanya khusus di tempati Big Bos kita. Kebetulan orangnya sedang keluar. Jadi bersihkan sampai tidak ada debu barang secuil pun. Beliau sangat mencintai kebersihan." Ghea alhirnya pergi ke kamar tersebut dengan seperangkat alat bersih-bersih, memakai masker, memakai celemek, sarung tangan plastik, dan kemoceng yang ia gantung di pinggang sebagai senjata perang. Ditatapnya angka 555 yang menempel di depan pintu kamar."Hey, angka sial! Aku sudah siap! Aku tidak takut ketiban sial lagi!" gumamnya penuh percaya diri sebelum akhirnya memegang gagang pintu dan membukanya. Namun siapa yang menyangka bahwa kutukan sial itu muncul begitu cepat? Kamar itu terlalu gelap dan Ghea kesulitan menyalakan lampu kamar. Ia tersandung kaki meja dan hampir terjatuh. Tapi untung saja Ghea ia berhasil menemukan pegangan yang cukup kokoh. Ia bergelayut pada gagang pintu tersebut dengan erat sebelum ia jatuh tergelincir lebih parah dari sekarang. Dan.... PLUK! Gagang pintu kamar paling mewah tersebut copot dengan sukses.Belum sempat Ghea melakukan apapun, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang d**a dan hanya mengenakan handuk. "Siapa di sana?" Suara bass itu terdengar bersamaan dengan menyalanya lampu.Dua pasang mata saling bertatapan satu sama lain. "Kamu..." "Kamu!!!" Keduanya saling menunjuk satu sama lain, sebelum akhirnya Ghea sadar bahwa Angga dalam keadaan bertelanjang d**a dan.... "KYAAAA!!!" Teriakan Ghea begitu nyaring sampai semua staff yang berada di lantai itu, termasuk atasan yang mendengar jeritannya langsung berdatangan. "Ini kan ruangan Pak Bos kami! Kenapa anda bisa di sini?" Ocehnya sambil berkacak pinggang, tanpa memberikan kesempatan Angga untuk bicara."Saya tahu anda mau menagih saya untuk mengganti jas anda. Tapi tidak dengan cara seperti ini juga. Ini namanya menguntit, pak! Menguntit!" Pak Suryo-atasan langsung alias supervisor Ghea , menarik tangan Ghea yang sedang berkacak pinggang, bermaksud menyuruhnya berhenti. Tapi Ghea keras kepala. Ia justru bersikeras untuk memarahi Angga. "Nanti kalau Pak Bos kita balik dan ternyata beliau melihat ada orang asing yang mandi di kamarnya, yang kena marah pasti saya juga!" Ucap Ghea, yang membuat Angga sampai geleng-geleng kepala dan tertawa remeh. Ghea makin bingung melihat reaksi Angga dan hendak berkoar-koar kembali. Tapi sebelum Ghea kembali memperunyam masalah, Pak Suryo langsung buka suara. Ia membungkuk hormat dan menarik Ghea agar mengikutinya membungkuk hormat di depan Angga. "Pak, maafkan anak ini. Dia anak baru. Kami mengira bapak sudah pergi dari tadi maka saya minta dia untuk membersihkan kamar. Tapi dia justru membuat masalah." Ghea ternganga mendengarnya."Tapi, Pak. Bapak ini kan juga salah. Masuk kamar bos tanpa ijin!" "Diam sajalah , Ghe. Tundukkan kepalamu." Suryo berkata dengan setengah berbisik. "Beliau ini adalah pemilik hotel yang saya bicarakan." Sukses saja mata Ghea membelalak. Perlahan tapi pasti ia menoleh pada Angga dengan takut-takut. Dilihatnya, Angga tersenyum miring penuh kemenangan. Tamatlah riwayatku! Ringis Ghea, dalam hati tentunya. *** Ghea melirik ke kanan dan kiri dengan kepala tertunduk. Hatinya gelisah melihat Angga yang kini sudah berpakaian rapi duduk di sofa di hadapannya dengan tangan di lipat di depan d**a. Di atas meja tamu, tergeletak dua barang bukti yang telah dirusak Ghea. Barang pertama, Jas yang bolong tengah.Barang kedua, gagang pintu kamar yang rusak. Pintu kamar Angga yang sekarang sudah diperbaiki. Tapi alasan ia mengumpulkan dua barang yang dirusak Ghea dan bicara empat mata dengannya, karena ia ingin meminta pertanggungjawaban wanita selebor itu. "Jas saya jadi hilang noda sama sekali. Keren sekali loh," Ia bertepuk tangan pelan sambil tersenyum sinis. Ghea yang mendengar ucapan itu sampai menunduk dan memejamkan matanya. Habislah Ghea sekarang. Belum genap sehari bekerja, sudah akan dipecat. "Untuk pintunya, saya sampai bingung. Sebenarnya tenaga kamu sebesar apa sampai gagang pintu yang keras begitu bisa kamu rusak juga." Sindiran kedua ini sindiran maut. "Saya benar-benar minta maaf." Ghea menundukkan kepalanya. "Jadi menurutmu, setelah meminta maaf, masalah akan selesai begitu? Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan ini semua? Soal pintu, it's okay lah. Anggap saja misscom. Kalau jas ini? Kamu mau bagaimana?" "Jas bapak seharga dengan gaji saya setahun, pak." Ghea beralasan. "Apa saya tanya soal itu?" Tanyanya dingin. "Saya bertanya bagaimana kamu bertanggung jawab soal jas yang kamu rusak. Apa hubungannya dengan setara dengan gaji kamu setahun?" Tegasnya. Ucapan barusan sukses membuat mental Ghea down. Dari melihat Angga saja, ia sudah bisa melihat aura mengintimidasi yang sangat besar. Dan hal itu membuatnya merasa kecil. "Potong saja dari gaji saya setiap bulannya selama setahun." Ucapnya setengah ikhlas. Angga tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya ia menyetujuinya. "Oke. Tulis surat perjanjian di sini. Enam bulan, bukan setahun." Ia mengeluarkan kertas, pena, dan materai dari dalam laci dan menyuruh Ghea menulisnya sendiri. Saat Ghea hendak menulis, Angga tiba-tiba bertanya. "Keberatan jika saya memberi kamu pekerjaan sampingan?" "Pekerjaan sampingan?" Tanya Ghea. "Saya rasa ini win-win solution. Kamu ganti jas saya dengan tenaga kamu setelah kamu pulang kerja dari sini. Kamu tetap mendapat gaji dari bekerja di hotel. Bagaimana?" "Pekerjaan apa itu?" Tanya Ghea lagi. "Kebetulan saya sedang membutuhkan seorang pengasuh. Keberatan?" "Tidak masalah." jawab Ghea. Setidaknya gaji dari bekerja di hotel akan tetap utuh. "Alergi hewan? Punya riwayat penyakit berat?" "Tidak." "Baik, tulis dan tanda tangan di sini." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD