JAS BUTUT 20 JUTA

812 Words
*** 20 juta? Mata Ghea berkedip-kedip bak barongsai yang lagi joget. Jika 20 juta saja sudah setengah harga, maka harga asli jas itu 40 juta? Satu jas saja seperti ini harganya setahun gajinya? Yang benar saja. Gila! Gila! Jiwa misqueen Ghea langsung meronta-ronta. Tapi jas ini bahannya memang berbeda sih dengan jas 500ribuan di pasar loak. Ghea meraba-raba jas tersebut dengan seksama. "Jadi diganti?" Tanya pria itu. Ghea yang tersadar kembali ke realita pun nyengir garing. "Gimana kalau saya laundry saja dulu, mas?" Tawarnya agar terbebas dari ganti rugi 20 juta. Pria itu tampak berpikir sebentar, tatapannya tak lepas dari jas mahal miliknya yang sekarang sudah berada di tangan Ghea. "Hmm, boleh." Katanya pada akhirnya. Senyum Ghea mengembang mendengarnya. "Tapi saya butuh jaminan," Angga mengulurkan tangannya, memberi isyarat agar Ghea menyerahkan sesuatu. "KTP," Pintanya. "Jaga-jaga agar kamu tidak lari." Dan dengan manyun, Ghea menyerahkan Ktp nya. Setelah itu , Angga tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan memotret Ghea beberapa kali. "Apaan ini mas? Kok saya di foto?" "Jas saya ini memang yang paling murah. Tapi saya paling benci jika barang saya dibawa orang, apalagi orang asing." katanya. "Kalau kamu lepas dari tanggung jawab, saya terpaksa harus memproses masalah ini ke jalur hukum." "Saya akan kembalikan jika sudah bersih dari noda kok!" Ghea berucap dengan sungguh-sungguh. "Kembalikan ke alamat ini dalam seminggu," Angga menyodorkan kartu nama pada Ghea. Erlangga Lionardy Sridjaja Vice President of Canvas Box Advertising. Ghea terngaga membacanya. Pantas saja jasnya mahal segitu. Rupanya orang ini Vice president di perusahaan periklanan terkemuka di Indonesia. "Jika kamu tidak mencari saya dalam seminggu, Saya pilih jalur hukum." Tekannya sambil memamerkan KTP Ghea yang sekarang berada di tangannya seolah kalau ingin menekankan bahwa KTP Ghea adalah sandera. "Saya akan kembalikan jas anda dengan utuh setelah seminggu." Bahasa Ghea mendadak berubah formal. Nyalinya memang suka ciut jika sudah berhadapan dengan perbedaan kasta. "Saya ada urusan, saya pamit dulu." Angga berlalu melewati Ghea. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, ia teringat sesuatu dan menoleh. "Bahan jas ini paling lemah dengan kopi. Sulit hilang dengan cara apapun. Pastikan kamu tidak merusaknya." Usai berkata demikian, Angga pun berlalu membiarkan Ghea mematung memikirkan nasib selanjutnya. "Ghe! Lo kenapa! Sadar woy! Sadar!" Elise tahu-tahu sudah berada di sampingnya dan mengguncang tubuh Ghea yang mematung bak patung lilin. Dengan ekspresi terbengong-bengong, Ghea menoleh perlahan pada Elise. Persis seperti zombie yang menjadi pilon karena sudah seminggu tidak mendapat asupan otak. "Lis..." Panggilnya lirih. "Iya! Gue Elise! Muka lo jangan kaya gini ah, serem tau!" "Lis!" "Iya!" "Lis!" "Ngomong aja! Kenapa?" "Lis!" Ekspresi Ghea masih seperti zombie versi i***t. Merasa kesabarannya habis, Elise mengepalkan tinjunya dan bersiap memukul kepala Ghea. "Lo mau ngomong yang bener atau mau gue tabok?" Ekspresi Ghea langsung berubah menjadi normal karena mendengar ancaman 'kena tabok'. Lebih baik ia serius daripada harus menerima tabokan Elise yang terkenal menyakitkan dan tak pandang bulu. "Harga jas butut second macam ini 20 juta!" Ia menunjukkan jas Angga pada Elise. "Eh ini jas bermerek tahu. Harga aslinya harusnya 40-50jutaan." Kata Elise setelah memastikan merek dan bahan jas tersebut. "Lo yakin ini bukan jas yang belinya di pasar loak?" Tanyanya kurang yakin. "Disini aja tulisannya Made in Italy, cong. Ini barang ori nih." Elis menunjukkan tulisan di di label baju pada Ghea. "Kalau di cuci bisa nggak ya? Kata dia sih noda kopi ga bakalan bisa hilang." Ghea mengacak rambutnya dengan frustasi. "Itu sih gue kurang tahu. Tapi coba saja dulu." "Kalau nodanya ngga bisa hilang, gue terpaksa ganti. Uang dari mana??? Apa gue jual ginjal saja ya?" Tanyanya putus asa. "Nggak bakal ada yang mau beli. Lagi Covid. Orang-orang pada takut ke rumah sakit, apalagi terima donor! Ginjal lo nggak laku!" Putus Elise blak-blakan. "Udah mending sekarang lo pulang, coba cuci dulu, terus besok ke hotel yang gue kasih tahu barusan. Lumayan gajinya buat nyambung hidup dan gantiin jas orang." Ghea terpaksa mengangguk menurut. Bebannya sekarang bertambah gara-gara sebuah Jas! LAGI-LAGI INI SALAH ANGKA LIMA! *** Ghea sudah mencoba dengan membawa jas itu ke laundry dan nodanya tetap tidak bisa hilang. Ia frustasi dan mencoba mencuci kembali secara manual dengan gaya mencuci beraneka macam gaya. Kanan, kiri, atas, bawah sudah ia gosok. Sampai diinjak-injak dengan kaki pun, noda tersebut tidak juga bisa hilang. Bagaimana ya? Ia menggigit jari dengan panik sambil bolak-balik bak setrika di dalam kamar kos. Ah! Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan mengeluarkan ide yang tidak masuk akal. "Coba di setrika saja, siapa tahu warnanya jadi pudar!"Ucapnya sok ide. Diaturnya tingkat kepanasan setrika dengan tingkat kepanasan maksimal dan mulai menyetrika. Tapi karena ia tinggal sebentar untuk ke toilet, ia lupa untuk mengangkat setrika dari atas jas, sehingga jas 20 juta itu sampai bolong di tengah. BOLONG DITENGAH SAUDARA - SAUDARA!!! Ghea sukses berteriak histeris di detik itu dan buru-buru menyambar handphone untuk browsing di internet, siapa tahu ada orang yang tidak peduli pada COVID-19 dan membutuhkan donor ginjal dalam waktu dekat . ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD