***
13 tahun yang lalu, Ghea kelas 1 SMA
Siang harinya di kantin sekolah. Istirahat kedua tepat pada jam makan siang. Ghea anak X IPS di salah satu SMA yang cukup terkenal di Bandung, sedang luar biasa lapar. Uang jajannya bulan ini sudah telat dikirim seminggu karena usaha orang tuanya di kampung halamannya - Bengkulu sedang bermasalah sehingga ia sudah menahan lapar di sekolah selama seminggu.
Di Bandung, Ghea tinggal menumpang tinggal di rumah saudara jauh ibunya- Om hari (Ibunya ibu Ghea dan ibu Om Hari kakak beradik). Om Hari-nya sih baik, tapi istrinya itu pelitnya bukan main. Memang sih tante Anya tidak sejahat ibu tiri di film-film, tapi orangnya terlalu perhitungan. Dia yang memasak setiap hari , dan merasa biaya bulanan untuk makan sehari-hari bertambah karena jatah makan Ghea.
Memang tante Anya tidak melarang Ghea untuk makan, tapi ocehannya setiap hari tentang Ghea yang 'menghabiskan beras' keluarganya membuat telinga Ghea lama-lama gatal juga.
Kalau Om Hari memberi uang jajan untuk Ghea pun harus sembunyi-sembunyi. Suatu hari, ketahuan oleh Tante Anya kalau Om Hari memberikan uang jajan untuk Ghea. Tanpa sepengetahuan Om Hari, Tante Anya memarahi Ghea. Ia menganggap Ghea sudah menumpang tinggal di rumahnya justru melunjak minta uang. Uang jajan pemberian Om Hari pun di sita, dan Ghea terpaksa harus menahan lapar karena uang jajan dari Bengkulu belum dikirim.
Singkat kata, di minggu ke dua tepat pada hari senin siang, Ghea tidak kuasa lagi menahan lapar. Mau pinjam uang pada teman, tapi tidak ada yang akrab. Kalaupun pinjam uang, dia tidak yakin bisa segera mengganti. Akhirnya ia pun mengantri di kantin sekolah.
Saat itu kantin sedang ramai-ramainya. ibu kantin dan dua orang pegawainya tampak kewalahan melayani banyaknya murid yang mengantri. Ghea menyadari bahwa beberapa anak langsung memasukkan uang ke dalam toples dan ibu kantin tidak menyadari hal itu.
Saat tiba giliran Ghea untuk memesan makanan, ia pun memilih makanan yang ia inginkan. Dan saat ingin membayar, ibu kantin tiba-tiba berbalik mematikan kompor, saat ibu kantin berbalik lagi, ia pun mengatakan bahwa ia sudah memasukkan uang itu ke dalam toples.
Ibu kantin mengenyit sebentar lalu memeriksa uang di toples yang sepertinya tidak bertambah. Ia pun bertanya pada Ghea dan Ghea masih kekeuh mengatakan bahwa ia sudah membayar dengan memasukkan ke dalam toples.
Karena Ghea tidak pintar berbohong, ia gemetar. Melihat itu, Ibu kantin jadi curiga. Ia pun berkata dengan lantang, "Kalau kamu nggak taruh uangnya di sini gimana?" Tunjuknya pada toples berisi uang. "Dosa ya kamu! Sial sepanjang tahun ya!!!"
Setelah mengatakan hal itu, ibu kantin membiarkan Ghea membawa makanan itu pergi, dan Ghea berjanji dalam hati.
'Maaf bu, setelah saya terima uang , saya akan kembalikan uang makanan hari ini.' batinnya.
Tapi yang namanya makanan yang didapat dengan cara yang tidak baik itu tidak akan menjadi berkah. Malamnya Ghea sakit perut dan demam.
Beberapa hari kemudian ia jadi sering terkena sial, dan walaupun Ghea sudah mengembalikan uang makanan itu secara diam-diam ke dalam toples uang ibu kantin, kesialan itu terus berlanjut.
Dan entah itu kebetulan atau tidak, Ghea selalu ketiban sial dalam berbagai hal di setiap tanggal lima atau tanggal yang habis dibagi lima.
Ketika undian kelompok presentasi ia mendapat angka lima, ia berkelompok dengan dua orang yang paling malas di kelasnya, sehingga ia yang harus mengerjakan sendiri.
Saat persentasi, usbnya tiba-tiba terkena virus, padahal lima menit sebelum persentasi, usb tersebut belum terkena virus, akhirnya dua orang pemalas yang tidak mengerjakan apa-apa justru mendapat nilai, sementara Ghea tidak mendapat nilai karena difitnah oleh kedua orang tersebut bahwa dirinya berleha-leha selama tugas kelompok.
***
Masa kini,
Dalam masalah percintaan dan kehudupan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan kehidupan sekolahnya. Kesialan itu terus berlanjut. Yang paling mengenaskan adalah kehidupan cintanya. Ia hanya pernah menjalin hubungan sebanyak LIMA KALI sepanjang 28 tahun hidupnya. Tapi hubungannya selalu kandas di tanggal yang berhubungan dengan angka LIMA.
Pacar pertama minta putus setelah jadian LIMA jam.
Pacar kedua minta putus setelah LIMA hari.
Pacar ketiga minta putus setelah LIMA minggu.
Pacar ke empat minta putus setelah LIMA bulan.
Dan pacar ke LIMA putus setelah LIMA tahun. Kali ini Ghea yang minta putus. Itu pun karena si pacar ketahuan kalau ia ternyata seorang Gay tulen.
Sejak kejadian berakhirnya hubungannya yang selama lima tahun dengan lelaki yang ternyata seorang gay, pikiran Ghea mulai terbuka. Ia yang tadinya tidak percaya takhayul jadi mempercayainya. Bahkan sekarang ia tidak lagi mempercayai bahwa semua itu adalah kesialan biasa. Ia bahkan menganggap angka LIMA adalah angka pembawa sial dan sebuah kutukan.
Ia berubah menjadi pesimis dan seringkali mengutuk dirinya sendiri yang telah membuat kesalahan kecil di masa lalu yang berakibat fatal di masa depan.
Saat kuliah, ia mendapat beasiswa dan merantau ke Jakarta. Disanalah ia bertemu dengan Elise yang kemudian menjadi teman terbaiknya hingga saat ini. Ia mati-matian mempertahankan beasiswanya dengan menghindari angka lima dengan sekuat tenaga dan untungnya ia berhasil lulus dengan beasiswa.
Tapi setelah lulus, ternyata penderitaan itu di mulai. Ia tidak bisa bekerja cukup lama di satu tempat, selalu menjadi pesuruh di kantor hanya karena ia adalah junior di sana, atau dikarenakan perusahaan tersebut hampir bangkrut sehingga terpaksa merumahkan beberapa karyawan, dan karyawan yang terpilih untuk dirumahkan , salah satunya adalah Ghea.
Selama 5 tahun pacaran dengan Rico, Ghea sempat 4x ganti pekerjaan. Dan yang paling menyedihkan, setelah kisahnya dengan Rico berakhir, lima bulan kemudian, ia difitnah oleh teman kerjanya bahwa ia menjadi mata-mata perusahan saingan sehingga ia dipecat dengan tidak hormat.
Lagi-lagi angka lima! Ghea membatin geram.
Sekarang ia sibuk melamar kerja ke sana kemari, tapi ia selalu ditolak.
Sebenarnya apa yang membuatnya ditolak? Dibilang bodoh, ia lulus dengan c*m laude, Dibilang kerjanya jelek, ia adalah tipe yang cepat belajar. Jadi dimana letak salahnya?
Ah, letak kesalahannya adalah ia sering sial. Semua gara-gara angka LIMA yang terkutuk itu. Ia yang sekarang selalu mengambinghitamkan angka LIMA.
Hingga suatu hari, Ghea mengira hidupnya berubah saat ia janjian bertemu dengan Elise di Starbucks coffee Pondok Indah Mall.
"Jadi lo punya kerjaan buat gue, Lis? Kebetulan banget tabungan gue sudah menipis!" Ghea berkata dengan berbinar penuh semangat, menganggap Elise adalah penyelamat hidupnya.
"Ya, kerjaannya di Hotel. Itupun kalau lo mau. Tapi katanya lagi butuh customer service. Gue tau dari saudara gue. Hotel mewah ini, bintang lima!" Elise tersenyum bangga.
"Lagi-lagi angka lima!" Ghea menghela nafas kasar. "Nggak mau ah! Nanti gue sial lagi!"tolaknya.
"Parno lo ke angka LIMA makin menjadi saja ya, Ghe..." Elise melipat tangan di depan d**a dan menatap Ghea tajam. "Kosan lo bayarnya pakai apa? Pakai daun? Disuruh tinggal sama gue lo nggak mau kan?"
Mendengar hal itu, Ghea seolah terlempar kembali ke pahitnya realita, bahwa kebutuhan akan uang untuk kelangsungan hidup lebih penting dibanding nasib yang selalu sial. Ia membutuhkan pekerjaan ini.
"Antrian nomor 555 atas nama kak Ghea." Suara lantang barista Starbucks terdengar memanggil namanya. Raut wajah Ghea berubah jadi tidak enak dilihat saat mendengar angka triple lima disebut.
"Lis, plis. Ambilin kopi gue." mohonnya dengan memelas.
"Nggak ah. Lo kebiasaan deh! Dimana mana angka sial itu angka 13. Nomor lima itu hoki tahu kata mbah google! Sana, hadapi kenyataan! Atasi rasa takut berlebihan lo sama angka lima!"Usir Elise.
Dengan berat hati, Ghea pergi mengambil minuman, dan tidak terjadi apa-apa. Semuanya aman!
Ghea baru saja mau tersenyum senang karena firasat buruknya tidak menjadi kenyataan. Tapi semuanya berjalan begitu cepat. Ia tidak sengaja menabrak seseorang yang tinggi tegap dan menumpahkan kopi di jas yang dipakai pria itu.
"Maaf, maaf" Ghea yang panik pun mengambil tissue basah dari dalam tas dan menyeka noda kopi, tapi noda itu justru melebar kemana-mana.
"Jas ini anti sekali dengan kopi," suara pria itu terdengar. "Tidak akan bersih dengan cara apapun."
Mendengarnya, Ghea pun menggigit bibir. Belum juga ia mendapatkan pekerjaan, sekarang harus mengeluarkan uang untuk mengganti jas.
Jas seperti ini harganya berapa ya? Empat juta mungkin ya... Sebulan gaji gue dulu dong? batinnya.
"Saya ganti saya ya, mas." Ucap Ghea dengan setengah tidak ikhlas.
" Kamu mau ganti?" tanya si pria dengan raut wajah kurang yakin.
"Tapi karena jasnya sudah mas pakai, jadi dihitung penggantiannya setengah harga ya?" Ghea nyengir garing. Nawar.
"Oke, " jawab pria itu pada akhirnya meskipun awalnya ia merasa kurang yakin. Penampilan perempuan di depannya sangat sederhana, hanya memakai sweater gombrong berwarna pink dan celana 3/4 berwarna coklat. Penampilan cukup sederhana,tapi ia cukup nyali yang cukup besar untuk mengganti rugi atas kesalahannya.
"Jadi berapa mas? Saya minta nomor rekeningnya." Ghea mengeluarkan ponsel, bersiap membuka aplikasi mobile banking. Tapi jarinya langsung mematung di tempat saat pria bernama Angga itu menyebutkan harga jasnya.
"20juta." Sosok tampan itu menjawab singkat.
"Hah?" Ghea ternganga ditempat.
"20 juta sudah harga second, setengah harga. sesuai permintaan kamu." Ulang pria itu lagi. Super santai.
20 juta? Uang dari mana? Dan lagi-lagi angka yang bisa habis di bagi lima! Dasar angka lima terkutuk!
LAGI-LAGI ANGKA LIMA! KALI INI TRIPLE LIMA, SIALNYA TRIPLE KILL!!!
***