***
Tadinya Angga mengira bahwa mustahil baginya untuk membatalkan pertunangan dengan Tania. Ia pikir ia harus berusaha keras untuk membujuk dan meyakinkan sang ibu begitu ia menyebutkan nama Ghea sebagai kekasihnya. tapi ia tidak menyangka bahwa reaksi Linda yang ia dapat justru kebalikannya.
FLASHBACK
“Memangnya kamu punya calon? Serius? Kamu bukan sedang mencoba membohongi mama kan?” Tanyanya penuh selidik.
“Begitulah,” ucap Angga lirih. Ia tampak berpikir apakah ia harus melakukan ini, tapi setidaknya ia harus meloloskan diri dari pertunangan bersama Tania. Ia tidak memiliki pilihan yang lebih baik selain ini. Ia memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat situasi semakin runyam.
“Dia adalah wanita yang kami temui di restoran tadi siang,” Angga mendongak menatap mata Linda, dan mengucapkan sederet nama yang ia sendiri pun tidak sangka-sangka akan menghafalnya luar kepala. “Namanya Natasha Gheandra Halim.”
Linda mengerutkan dahi mendengarnya. “Siapa dia? Wanita yang selama ini kamu jadikan mainan?”
“Jangan mama samakan dia dengan wanita lain yang menghabiskan malam denganku.”
“Memangnya gadis ini agak istimewa? Kamu ini kan hobi menghabiskan satu malam dengan wanita-wanita yang tidak jelas.” Linda meragukan ucapan putranya.
“Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya.” Ucapan Angga membuat Linda terkejut dan membuatnya terjebak dalam kesalahpahaman. Sebenarnya maksud Angga mengatakan hal itu adalah ia selalu beradu mulut dengan wanita itu dan hal itu membuatnya pusing dan tidak ingin mencari masalah dengannya, tapi Linda justru menangkap maksud lain dari ucapan Angga. Ia menganggap bahwa putranya akhirnya mencintai seorang gadis sampai ia memperlakukan gadis itu berbeda dengan wanita lain.
“Wah mama sama sekali tidak menyangka bahwa anak mama ini akhirnya sudah dewasa,” Linda berkata dengan semringah, senang akhirnya putranya bisa menjalin hubungan dengan normal.
Angga terdiam mendengarnya. Matanya kontan melebar. Mamanya salah paham ternyata.
“Ternyata ini alasan kamu menolak ditunangkan dengan Tania. Kenapa tidak bilang saja dari awal?” Linda menepuk punggung putranya sambil tertawa, sementara Angga terbatuk-batuk karena syok.
“Ma… Sebenarnya…” Untuk pertama kalinya Angga merasa ragu dalam mengatakan sesuatu. Ia ingin mengatakan yang sesungguhnya bahwa Ghea adalah karyawannya sekaligus pengasuh hewan bulu mereka, tapi melihat ibunya sesenang itu, ia tidak sampai hati menyampaikan kebenarannya. Lebih tepatnya ia tidak mau jika ibunya tahu ia hanya asal bicara dan terpaksa melakukannya karena tidak ingin kehilangan warisan.
“Kamu malu kan?” Linda mengambil keputusan sendiri. “Ya ampun. Kamu tidak perlu sampai malu begitu sama mama sendiri. Mama justru senang mendengarnya. Jadi Natasha itu dari keluarga mana?”
“Dia tidak seperti yang mama bayangkan. Dia hanya karyawan Angga,” Angga akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kebohongannya.
“Dari keluarga biasa rupanya?” Linda tidak kaget. Ia tampak berpikir sebentar, kemudian berpaling menatap putranya dan berkata, “Mama nggak masalah. Jadi kapan kamu mau kenalin ke mama?”
“Apa?” Mata Angga melebar mendengarnya.
“Kapan kamu kenalin anaknya ke mama?” Linda mengulang kembali ucapannya. “Mama sudah memutuskan, mama mau memastikan kamu menikah tahun ini. Kalau bisa bulan ini lebih bagus. Mama mau kamu berhenti dengan kehidupanmu yang sekarang. Untuk itulah mama kembali ke Jakarta.”
“Aku akan membicarakan soal ini dulu padanya.” Angga beralasan, padahal sesungguhnya ia sudah luar biasa pusing memikirkan bagaimana cara ia menyampaikan masalah ini pada Ghea.
Linda tampak curiga dengan kelakuan putranya yang tidak biasa. “Kamu tidak sedang membohongi mama kan? Makanya kamu mencari sejuta alasan.”
“Memangnya aku tidak boleh memberitahu dia dulu ma? Dia bisa syok berat jika aku tiba-tiba membawanya bertemu mama. Ghea pasti belum siap mental bertemu mama. Beri dia sedikit waktu untuk menyiapkan diri, oke?”
Merasa ucapan putranya cukup masuk akal, Linda pun mulai percaya. “Oke. Tepati janjimu dan bawa dia ke rumah mama.”
“Tapi ingat, Angga…” raut wajah Linda berubah serius. “Kalau sampai mama mengetahui yang sebenarnya, say good bye sama warisan kamu. Kamu tahu mama tidak pernah main-main dengan ucapan mama.” Tukas Linda.
END OF FLASHBACK
Tiga minggu berlalu semenjak perjanjiannya dengan Linda. Selama tiga minggu itu Angga mencoba mencari waktu untuk berbicara dengan Ghea, akan tetapi wanita itu menunjukkan rasa bencinya secara terang-terangan. Setiap kali melihat Angga, wanita itu akan kabur dan bahkan bersembunyi. Sikap wanita itu membuat Angga tidak mempunyai pilihan lain selain menjebaknya dalam suatu kondisi yang tidak dapat ia tolak, sehingga wanita itu bisa duduk diam dan mendengarkan rencana Angga sampai akhir. Mamanya selalu menghubunginya setiap minggu untuk menagih janji, dan seperti biasa Angga hanya bisa memberi harapan palsu untuk mengulur waktu.
Ia kemudian mengutus seseorang untuk menyelidiki keluarga Ghea dan mengetahui bahwa keluarganya terlilit hutang yang cukup besar. Angga sendiri terjebak dengan perkataannya sendiri. Ia sudah terlanjur menyeret Ghea ke dalam masalahnya sehingga ia terpaksa menyeret wanita itu untuk jatuh semakin dalam ke dalam dunianya. Ia kemudian meminta sekretarisnya memanggil Ghea di kantor, membuat wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain menemuinya, dan menawarinya sebuah tawaran gila. Pernikahan kontrak. Dan sebagai gantinya ia akan melunasi hutang keluarga Ghea dan menjamin hidup mereka meskipun pada akhirnya pernikahan mereka berujung pada perceraian.
Tapi Angga tidak pernah mengira bahwa sehari sebelum waktu yang diberikan Angga pada Ghea untuk berpikir habis, wanita itu justru menunggunya di ruang tamu rumahnya di malam hari. Wanita itu langsung berpaling menatap Angga ketika mendengar suara pintu di buka dari luar. Begitu melihat kepulangan Angga, wanita itu bangkit berdiri. Dengan suara tenang, ia kemudian angkat bicara.
“Saya setuju. Mari kita lakukan.”
***