KEGALAUAN GHEA

1442 Words
*** “Jika kamu menyetujui pernikahan ini, kamu akan mendapat hak sebagai istri saya. Hutang keluargamu lunas, hutangmu pada saya lunas, kamu akan mendapat karir yang layak jika kamu mau, dan biaya pendidikan adikmu akan saya tanggung sampai lulus kuliah. Kamu cukup bertahan selama lima tahun pernikahan bersama saya, setelah itu kita bisa bercerai. Hidupmu dan keluargamu tetap akan terjamin meski sudah bercerai.” "Kamu tahu sendiri 1 milyar itu jumlah yang besar. Kamu tidak akan bisa melunasinya meski kamu bekerja keras selama puluhan tahun.” “Pikirkanlah baik-baik. Kamu tahu solusi terbaik dalam hidupmu.” Kata Angga. “Kita berdua saling membutuhkan. Berikan jawaban pada saya seminggu lagi.” Ghea membenamkan kepalanya pada bantal. Sekarang sudah waktunya tidur, akan tetapi ia masih terjaga. Ucapan Angga tadi siang berputar-putar di dalam kepalanya bagai kaset rusak. Sebenarnya pria itu tahu darimana mengenai hutang keluarga Ghea? Ah, setelah ia pikir kembali sepertinya itu adalah hal yang wajar bagi Angga. Pria itu memiliki segalanya, tentu saja 'membeli informasi' tidaklah sulit baginya. Hutang keluarganya tercipta karena usaha perkebunan teh di kampung halamannya ditipu orang. Awalnya Ayah Ghea hanya berhutang lima ratus juta pada rentenir untuk membeli mesin baru, tapi setelah mesin baru itu selesai dilunasi, teman lama ayah Ghea yang menjualnya kabur dengan membawa uang itu. Perkebunan keluarga mereka berada diujung tanduk. Beberapa kali ayah Ghea ingin menjualnya demi melunasi hutang, tapi ibu Ghea mencegahnya. Bagaimanapun perkebunan teh itu dirintis susah payah sebelum Ghea lahir, sangat disayangkan jika harus dijual. Karena tidak bisa membayar hutang pada waktu yang ditentukan, bunga bertambah setiap bulannya dan hutang keluarganya meningkat drastis dalam sekejap dari 500 juta menjadi 1 milyar. Dan sekarang Angga muncul menawarkan diri sebagai penyelamat keluarganya, bahkan menjamin kehidupannya dan keluarga. Hutang yang seumur hidup pun tidak dapat ia lunasi kini memiliki harapan untuk lunas dan hidup tenteram. Tapi hal itu tidak didapat dengan cuma-cuma. Harus ada yang ia korbankan untuk kebebasan dari rentenir dan hal itu adalah hidupnya. Ia harus menghabiskan hidupnya selama lima tahun terkurung dalam sebuah ‘permainan’ bernama pernikahan bersama Angga, pria yang paling ia waspadai selama ini. LIMA TAHUN. Angka sial itu kembali membayangi hidup Ghea. Sekarang ia diharuskan untuk memilih, tapi ia tidak tahu keputusan mana yang harus ia ambil. Haruskah ia memilih keluarganya dan mengorbankan masa depannya sendiri? Ditatapnya layar ponsel yang berisi chat dari ibunya. Pesan itu sudah diterima oleh Ghea sejak tadi sore, akan tetapi mood-nya yang anjlok membuatnya memilih untuk tidak membalas pesan itu. Mama : Ghe, gimana kabarnya? Kamu makan dengan baik kan? Kamu tidak perlu mengirim uang bulan ini, kamu sendiri pasti kesulitan. Papa dan mama bisa mengatasi semua ini. Ghea sudah membaca pesan itu berulang-ulang dan semakin ia membacanya, hatinya tidak tega melihat orangtuanya membanting tulang untuk melunasi hutang dan masih bisa mengkhawatirkan dirinya yang merantau di ibu kota. Ia adalah anak pertama di keluarganya dan masih memiliki seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Uang sekolah adiknya masih ditanggung olehnya karena ia ingin membantu meringankan beban orang tua, disamping itu ia juga membantu menabung untuk melunasi hutang. Apakah masa depannya masih lebih penting dibandingkan ini? TING! Sebuah pesan masuk ke ponsel Ghea di tengah kegalauannya. Ternyata pesan itu dari Adhit. Adhit : [Hi, Ghe. Sudah tidur?] Ghea : [Hi, not yet. Kamu?] Adhit : [Sama. How is your day?] Ghea : [Biasa saja, tidak ada yang istimewa. Kamu sendiri gimana?] Adhit : [Sama, tidak ada yang istimewa. Sama seperti biasa.] Adhit : [Kenapa kamu belum bisa tidur?] Ghea : [Cuma kepikiran saja masalah kerjaan di kantor.] Adhit : [Kalau lagi banyak pikiran, kamu boleh tukar pikiran itupun kalau kamu mau] Ghea : [Hanya soal kerjaan, Dhit. Biasa lah. Hehehe. Kalau dibahas malah makin pusing.] Adhit : [Kalau begitu mau cari angin sebentar?] Ghea : [Cari angin?] Adhit : [Biar refreshing.] Ghea : [Sekarang? Tapi sudah jam 10 malam. ] Adhit : [Kamu belum mau tidur kan?] Ghea : [Iya sih. Tapi kemana?] Adhit : [Keliling komplek saja, cari midnight snack. Mau?] Ghea : [Boleh juga. Tapi besok aku harus bangun pagi.] Adhit : [Hanya sebentar saja. Kita akan pulang ke kosan setelah kamu merasa cukup.] Ghea : [Oke.] Adhit : [Kalau begitu lihat keluar sebentar.] Ghea : [Hah?] Adhit : [Lihat keluar, aku ada di depan kosan.] Kalimat itu sontak membuat Ghea yang tadinya sedang berbaring terlonjak kaget. Buru-buru ia mengintip kebalik jendela dan mendapati Adhit sedang berdiri di depan mobilnya sambil mengetik sesuatu di ponsel. Pria itu kemudian mendongak ke atas, tempat kamar Ghea berada. Ketika tatapannya bertemu dengan Ghea, pria itu tersenyum dan melambai sekenanya. Tak lama kemudian ponsel di tangan Ghea bordering. Dari Adhit. “Halo,” sapa Adhit di seberang sana. “Ternyata kamu memang sudah di depan kosan ya?” Adhit tertawa. “Hanya jalan-jalan malam karena sedang tidak bisa tidur dan kebetulan lewat sini.” “Dasar,” Ghea terkekeh pelan. Perlahan-lahan ia mulai bisa melupakan kegundahan hatinya walau hanya sebentar. “Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan turun sekarang.” Usai mengakhiri pembicaraannya di telepon, ia kemudian menutup jendela dan mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang sedikit lebih layak dilihat (Kaos longgar dan celana training). Ia mencuci wajahnya dan menggunakan pelembab wajah dan memoles bibirnya dengan lipgloss agar tidak terlihat sembab seperti wajah baru bangun tidur. Ia kemudian menguncir rambut menerupai ekor kuda, megambil tas kecil berisi ponsel dan sedikit uang kemudian turun menemui Adhit. *** Senyum Adhit merekah saat melihat wanita itu muncul di depannya dengan tampilan yang sederhana dan super cuek. Ia lebih menyukai penampilan Ghea yang apa adanya seperti ini. “Sepertinya ini bukan kebetulan.” Ucap Ghea kepadanya begitu Adhit melajukan mobilnya. “Kenapa begitu?” Tanya Adhit sambil tetap fokus memperhatikan jalanan di depannya. “Kamu bilang kamu hanya kebetulan lewat. Tapi kamu tiba-tiba muncul di depan kosan seperti pesulap.” “Haha.” Adhit tertawa. “Sebenarnya memang tidak pantas disebut kebetulan.” “Sekarang kamu mau mengakuinya?” Tanya Ghea. “Hmmm… Entah. Mungkin aku akan mengakuinya setelah kita makan.” Adhit mengulum senyum, membuat wajahnya yang tampan tampak semakin berkilau karena kedua sudut bibirnya melengkung naik. “Kamu mau makan apa?” Tanyanya kemudian. “Aku akan mengantarmu pulang sebelum jam setengah 12 malam.” ucapnya/ Karena ia tahu bahwa pagar kos Ghea akan dikunci tepat pada pukul 12 tengah malam. “Sepertinya makan sate begini enak. Mau makan sate?” Tanya Ghea kemudian. “Boleh juga.” Adhit mengiyakan. “Kamu punya rekomendasi tempat makan yang masih buka jam segini?” Ghea mengangguk. “Lurus saja dari sini. Aku akan mengarahkan jalan. Tempat itu menjual sate yang paling enak di ibu kota dan buka sampai pagi. Mereka akhirnya makan di sebuah kedai yang menjual sate paling enak seperti yang Ghea bilang. Ghea yang tadinya kehilangan selera makannya karena kegalauannya pun hampir tak kuasa menahan air liur begitu melihat sate yang begitu menggugah selera dihidangkan di depan mata. Melihat Ghea makan dengan lahap, Adhit terkekeh. Entah mengapa ia lebih suka melihat Ghea yang makan apa adanya seperti ini dibandingkan dengan saat wanita itu makan dengan tertekan di restoran Perancis. Semakin kemari, ia semakin menyukai karakter Ghea yang apa adanya. Di mata Adhit, Ghea sangat berbeda dengan mantan kekasihnya yang dulu. Dan ia semakin yakin dengan perasaannya yang mengakar semakin kuat. Malam itu berakhir dengan Adhit mengantar Ghea kembali ke kosan tepat pada pukul setengah 12 malam. Sebelum Ghea masuk ke gerbang kos, Adhit menurunkan jendela mobil dan memanggil namanya. “Ghea.” Ghea berbalik. “Ya?” Adhit tidak langsung menjawab pertanyaan Ghea. Ia hanya memandangi wanita itu selama beberapa saat dan tersenyum manis. "Soal yang tadi, aku membenarkan aku memang datang kemari karena teringat padamu." Ghea terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. “Thanks for today. Let’s have a date again next time.” Ucap Adhit kemudian, sebelum akhirnya berlalu. Sementara itu Ghea yang baru saja melambai pada Adhit menurunkan tangannya perlahan. Ia masih berdiri di tempatnya, menatap kosong pada mobil Adhit yang menghilang di balik tikungan. “Again?” Gumam Ghea pada dirinya sendiri. Entah mengapa ia ragu apakah ia akan bisa bebas bepergian bersama Adhit seperti sekarang. Ia memang belum mengambil keputusan, akan tetapi firasatnya mengatakan hal yang paling tidak ia inginkan akan terjadi. Dikeluarkannya ponsel dari tas kecil miliknya, ia membuka chat Elise dan mencoba mengetikkan sesuatu. Lise… Sudah tidur? Ada yang ingin aku diskusikan. Namun beberapa detik kemudian, Ghea berubah pikiran. Ia sudah tahu apa jawaban Elise jika ia membicarakan masalahnya dengan Angga. Sahabatnya sudah pasti tidak setuju dan akan memakinya habis-habisan. Jika sahabatnya mengetahui mengenai beban hutang keluarga yang ditanggung Ghea, besar kemungkinan ia akan membantu, dan Ghea tidak ingin hal itu terjadi. Ia sudah berhutang budi terlalu banyak pada Elise dan ia bahkan belum bisa membayar hutangnya. Ia kemudian menghapus kembali pesan yang ia ketik untuk Elise, dan memilih masuk ke dalam kos. Entahlah. Biarkan semua yang harus terjadi, terjadi dengan sendirinya… ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD