TAWARAN TIDAK TERDUGA

1184 Words
***   “Sebelum saya mengatakan maksud saya memanggil kamu kemari, saya harap kamu mematuhi aturan saya. Pertama, jangan kabur. Kedua, jangan memotong ucapan saya dan dengarkan sampai akhir. Apa kamu sanggup?” “Sebenarnya apa yang mau bapak katakan? Langsung saja,” Ghea balas menatap Angga dengan heran. “Jawab pertanyaan saya,” Angga menatap Ghea tajam. Ghea menghela nafas. “Oke, Oke. Saya akan tetap tinggal dan tidak akan memotong ucapan anda sampai anda selesai bicara.” “Good,” jawab Angga. “Pastikan kamu menepati janji,” lanjutnya kemudian. Karena ia tahu Ghea tidak akan bisa berdiam diri apabila mendengar rencana yang akan ia katakan.a “Oke, saya akan langsung ke intinya.” Angga menatap Ghea selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan, “Dua hal yang ingin saya sampaikan pada kamu. Pertama, saya minta maaf atas kejadian waktu itu, karena melibatkan kamu di antara saya dan wanita itu. Fyi, dia bukanlah tunangan saya, melainkan wanita yang ingin dijodohkan pada saya.” Ghea berusaha mati-matian menahan mulutnya untuk berkicau, tapi ia tidak bisa menahan ekspresi wajahnya yang jengah dengan ucapan Angga. ‘Apa urusannya denganku? Peduli setan wanita itu tunangannya atau bukan. Tidak ada hubungannya denganku’ Ghea hanya bisa meluapkan uneg-unegnya dalam hati. “Yang kedua, saya ingin minta tolong pada kamu.” Ucapan Angga membuat Ghea menegakkan tubuhnya, merasa tertarik dengan arah pembicaraan ini. “Mari menikah,” ucap Angga pada akhirnya. Mata Ghea membelalak. “APA?” Ia tidak tahan juga untuk tidak bersua. “Kamu sudah janji untuk mendengarkan sampai akhir, dan tanpa memotong ucapan saya.” Angga mengingatkan. Setelah Ghea diam kembali, Angga kembali melanjutkan. “Saya akan jujur.” Angga menatap langsung ke dalam mata Ghea. “Saya tidak berniat menjalin hubungan serius apalagi menikah. Bagi saya komitmen hanya menghalangi kebebasan saya. Ibu saya ingin mengekang saya dengan sebuah ikatan pernikahan, sehingga beliau memaksa saya menemui wanita itu. Dan saat kami pergi ke restoran, saya bertemu dengan kamu. Kamu menyelamatkan saya dari dia, sebelum akhirnya kamu marah dan kembali ke dalam restoran.” “…” “Perjodohan saya berhasil gagal seperti keinginan saya. Tapi wanita itu mengadu pada ibu saya sehingga ibu saya mendesak saya untuk meresmikan pertunangan dan menikah secepatnya.” “Lalu apa hubungannya dengan saya?”Ghea tidak tahan juga untuk tidak bertanya. “Saya mengaku pada ibu saya kalau kamu dan saya mempunyai hubungan yang serius.” Ucapan Angga sontak membuat Ghea bak disambar petir di siang bolong. “Kenapa harus melibatkan saya lagi? Saya kan sudah bilang kalau…” “Kalau kamu membenci saya? Tidak ingin dilibatkan? Saya tahu.” Potong Angga cepat. “Kalau sudah tahu mengapa anda masih membawa-bawa nama saya?” Tanya Ghea kesal. “Saya terpaksa.” “Anda mempunyai banyak wanita. Anda menggonta ganti pasangan seperti mengganti baju dan anda bilang anda terpaksa melibatkan saya?” Nada bicara Ghea meninggi. Ia tidak peduli lagi kalau ia masih berada di kantor dan berbicara dengan nada tinggi pada pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Ia sudah muak terlibat dan dijadikan kambing hitam oleh Angga. Ia hanya digaji untuk bekerja, bukan untuk mengurusi ataupun terlibat dalam kehidupan pribadi bosnya itu. “Karena saya sedang terdesak saat itu. Saya harus melakukan apapun agar ibu saya membatalkan niatnya untuk meresmikan pertunangan.” “Kalau begitu anda bisa sebutkan nama wanita lain. Wanita yang bermalam dengan anda banyak. Kenapa justru anda menyebut nama saya?”Ghea sudah muak sampai ke ubun-ubun. “Anda sepertinya hobi sekali membuat saya sengsara ya? Kemarin-kemarin anda mengakui saya sebagai pacar rahasia, dan sekarang memiliki hubungan serius. Memangnya saya nggak punya hak untuk hidup tenang tanpa mengurusi urusan anda?” “Sudah saya bilang saya terpaksa, Gheandra.” Angga menekankan ucapannya pada kata ‘terpaksa’. “Kalau saya tidak terpaksa, saya tidak akan melibatkan kamu yang sudah menyumpahi saya dengan sederet sumpah serapah.” “Terpaksa apa? Palingan ini cuma akal-akalan anda.” Angga memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya membuka matanya menatap Ghea dengan sorot mata serius dan buka suara. “Karena saya hanya mengingat nama kamu.” “Apa?” Ghea terkesiap. “Saya tidak pernah mengingat nama semua wanita yang pernah berhubungan dengan saya. Saya tidak pernah bertemu dengan wanita yang sama lebih dari satu kali.” “Dasar buaya,” Gumam Ghea refleks. Tapi gumaman sepelan gesekan daun itu bisa terdengar jelas di ruangan Angga yang sepi seperti kuburan. “Terserah kamu mau mengatakan apa. Tapi kenyataannya saya memang hanya mengingat kamu. Karena kamu sering terkena sial dan menyalahkan saya sebagai pembawa sial. Karena kamu hobi memaki saya sekaligus karyawan saya yang paling kurang ajar.” “Pujian anda sangat tidak enak didengar,” Ghea balas menyindir. “Intinya. Saya harus menikah dengan putri Haritama Group, kalau tidak saya tidak akan mendapat warisan saya. Daripada menikah dengan wanita yang sampai sekarang tidak saya ingat namanya, lebih baik saya menikah dengan kamu kan?” Angga berucap seenak jidatnya. “Seenaknya saja memutuskan.” Ghea melotot garang. “Saya tidak mau menikah dengan anda. Saya tidak sudi.” “Tentu saja kita tidak menikah sungguhan, Ghea. Kita hanya menikah di atas kertas, lebih tepatnya menikah kontrak. We’ll be partner with benefits. Kamu akan mendapat kompensasi sebagai istri saya dan kamu juga berhak mengajukan syarat di kontrak pernikahan.” Mendengar Angga memperlakukan pernikahan yang sakral seperti permainan, Ghea menggelengkan kepala dengan sinis, bangkit berdiri dari duduknya dan berkata, “Saya akan menganggap tidak pernah mendengar soal ini, Pak Angga. Saya permisi.” “Bagaimana jika saya katakan hutang keluargamu yang sebesar 1 M akan saya lunasi?” Ucapan Angga tersebut sontak membuat Ghea menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya marah. “Tahu dari mana soal itu?” “Tidak penting saya tahu dari mana,” Angga sok bersikap misterius, kemudian melanjutkan. “Jika kamu menyetujui pernikahan ini, kamu akan mendapat hak sebagai istri saya. Hutang keluargamu lunas, hutangmu pada saya lunas, kamu akan mendapat karir yang layak jika kamu mau, dan biaya pendidikan adikmu akan saya tanggung sampai lulus kuliah. Kamu cukup bertahan selama lima tahun pernikahan bersama saya, setelah itu kita bisa bercerai. Hidupmu dan keluargamu tetap akan terjamin meski sudah bercerai.” “Anda menganggap saya seperti barang yang bisa anda beli dengan uang? Begitu?” Ghea memicingkan mata menatap Angga tajam penuh permusuhan. “Kamu tahu sendiri 1 milyar itu jumlah yang besar. Kamu tidak akan bisa melunasinya meski kamu bekerja keras selama puluhan tahun.” Jawab Angga. Ghea yang sudah emosional hendak menjawab, tapi pria itu lebih dulu menyela ucapannya. “Pikirkanlah baik-baik. Kamu tahu solusi terbaik dalam hidupmu.” Kata Angga. “Kita berdua saling membutuhkan. Berikan jawaban pada saya seminggu lagi.” Ghea tidak menjawab, ia bahkan tidak berpamitan dan hanya keluar dari dalam ruangan dengan amarah yang mengebu-ngebu. Hatinya terluka karena pria itu berhasil menohoknya dengan kenyataan bahwa mau bekerja keras puluhan tahun pun, Ghea tidak akan sanggup melunasi hutang keluarganya. Jangankan puluhan tahun, seumur hidup pun sepertinya ia tidak akan pernah sanggup. Semenyedihkan itukah hidupnya? Ia diingatkan kembali bahwa hidup terkadang memang tidak adil. Tapi lebih tidak adil lagi jika seseorang menggunakan kekuasaan untuk menekannya… ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD