MENGHINDAR

1191 Words
Sejak kejadian di hari minggu, hubungan Ghea dengan Adhit semakin dekat. Adhit kerap kali menawarkan diri untuk menjemput Ghea di kantor, tapi Ghea selalu menolaknya dengan halus dan menyampaikan bahwa lebih baik mereka bertemu setiap akhir pekan dan pria itu pun menyetujuinya. Ghea masih harus bekerja di rumah Angga sepulang kerja, jadi tidak mungkin ia memberitahu Adhit bahwa ia harus pergi ke rumah bosnya, salah-salah justru memicu kesalahpahaman yang tidak diinginkan. Jika hubungannya dengan Adhit mengalami kemajuan, maka lain halnya dengan hubungannya dengan Angga. Sesungguhnya setelah kejadian itu, pria itu beberapa kali pulang lebih cepat dari dugaannya dan menemuinya di rumah. Tapi Ghea yang sudah terlampau benci, selalu mencari cara agar tidak berpapasan secara langsung, dan hari ini genap tiga minggu berlalu dan Ghea masih bermain seperti layaknya kucing dan tikus jika bertemu dengan Angga. Dari Mbok Sum, Ghea akhirnya mengetahui bahwa di hari ia bertemu Angga di restoran, ibu Angga pulang dari luar negri dan pulang kembali ke kediaman pribadinya keesokan harinya. Ia kemudian berpikir bahwa selama tiga minggu bosnya tidak membawa wanita pulang ke rumah dan pulang cepat sebelum makan malam dikarenakan kepulangan Sang ibu. Tapi Ghea tidak pernah mengira bahwa sesungguhnya pria itu memang pulang cepat selama tiga minggu ini memang untuk bertemu dengannya. Hanya saja momennya selalu tidak tepat. Setiap pria itu hendak buka suara, Ghea selalu membalikkan badan dan menghindar darinya. Selalu seperti itu sampai tiga minggu berlalu. Dan karena pria itu tidak memiliki cara lain, ia menggunakan satu cara yang ia yakini pasti tidak akan bisa ditolak oleh Ghea., seperti yang ia lakukan sekarang… “Ghea?” Neva, supervisor divisi purchasing yang baru saja mengakhiri pembicaraan di telepon menoleh pada Ghea. Ghea langsung menghentikan pekerjaannya dan menghampiri supervisornya. “Ada apa, Bu Neva?” Tanyanya sopan. “Kamu dipanggil Bu Santi, ke ruang CEO.” Kata Bu Neva kepadanya. “Hah? Bu Santi itu siapa ya, bu?” Ghea justru balik bertanya pada Bu Neva. “Bu Santi itu sekretaris CEO.  Sekarang juga cepat kamu pergi menemui beliau,” ucap Bu Neva. “Memangnya ada apa, bu? Buat apa sekretaris CEO manggil saya yang bukan siapa-siapa ini?” Ghea balik bertanya. “Mana saya tahu, Ghea. Justru saya juga ingin tahu dari kamu,” ucap Bu Neva Gemas. “Kalau kamu nggak pergi kamu tidak akan tahu apa alasan kamu dipanggil.” “Kerjaan dari ibu belum selesai. Kita kan mau menggunakan data itu untuk rapat sore nanti?” Ghea beralasan. Sesungguhnya ia sudah memiliki firasat buruk bahwa yang memanggilnya bukanlah Santi, melainkan Angga, sehingga ia sedang bernegosiasi supaya ia tidak perlu bertemu dengan pria yang sedang sangat ia hindari itu. Akan tetapi Bu Neva tetap memaksa Ghea untuk pergi. Ia tidak mau mengambil resiko dan dipanggil HRD karena mengabaikan kelakuan para bawahannya seperti waktu lalu. Ia cukup pintar untuk mengetahui bahwa anak baru ini mengenal CEO mereka walaupun ia tidak tahu pasti hubungan apa yang tercipta diantara mereka berdua. “Duh, Ghea. Kamu harus tahu yang mana prioritas. Kamu dipanggil Bu Sekretaris CEO, kemungkinan CEO yang ada perlu dengan kamu. Lagian cuma pergi sebentar saja, memangnya kamu pergi seharian? Sudah deh daripada diomelin sama bos besar, mendingan pergi saja sekarang.” Mendengar ucapan Bu Neva, Ghea pun tidak mempunyai pilihan lain selain menghela nafas panjang dan menurut. Para staff lain mulai berbisik membicarakannya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Angga selalu membuatnya diterpa kesulitan. Dalam hatinya ia berjanji akan memaki pria itu sampai puas begitu berhadapan dengannya. Dan di sinilah ia berada sekarang, di depan pintu ruangan bertuliskan CEO of CANVAS BOX ADVERTISING. Santi menyambutnya dan mempersilahkannya untuk masuk karena Angga sudah menunggunya sejak tadi. Begitu Ghea memasuki ruangan itu, dilihatnya Angga masih terlibat pembicaraan di telepon. Tapi begitu melihat kehadiran Ghea, pria itu memberikan isyarat pada Ghea untuk menunggu sebentar dan tak lama kemudian ia mengakhiri pembicaraan. “Ada apa memanggil saya?” Tanya Ghea kepadanya. Ia tidak mau berlama-lama berhadapan dengan Angga. Ia ingin sekali pergi dari sana, kalau bisa ia ingin memilih angkat kaki dari sana sekarang juga. “Kita butuh bicara, Natasha Gheandra.” Kata Angga kepadanya. Mata pria itu menatap tajam kepadanya, sebagai tanda bahwa pria itu sedang serius. “Duduklah.” Katanya kemudian. Ghea hanya menatap kursi kantor di hadapannya dengan datar, kemudian berpaling dan menjawab, “Saya cukup nyaman berdiri saja.” Mendengar itu, Angga merasa kesal. Ia sudah cukup kesal dengan wanita itu mengindarinya selama berminggu-minggu dan tidak memberinya kesempatan untuk bicara, dan melihat sikap wanita itu sekarang, kesabarannya habis. Sepertinya ia terlalu lunak padanya. “Saya menyuruhmu duduk. Kamu tidak mendengarnya Gheandra?” Angga melayangkan tatapan menghujam. “Atau perlu saya yang memaksamu untuk duduk?” Sebelah alis Angga terangkat. Ghea menghela nafas lalu menuruti permintaan Angga. Ia duduk tepat di hadapan pria itu dan berkata, “Saya sudah duduk seperti yang anda mau. Sekarang ada perlu apa bapak mencari saya?” “Sepertinya kamu memang harus dipaksa dulu baru mau menurut,” Angga tersenyum, namun senyuman itu entah mengapa terlihat arogan di mata Ghea. “Saya hanya ingin cepat keluar dari sini. Bapak kan orang sibuk, jadi saya tidak mau berlama-lama, takut mengganggu anda.” ucapan Ghea jelas bermakna kebalikannya. Justru ia yang ingin pergi dari sana tapi tidak ingin mengakuinya. “Oke, kalau begitu. Kalau begitu saya akan langsung ke intinya, Ghea.” Angga menatap Ghea intens. “Kenapa kamu menghindari saya selama tiga minggu terakhir ini?” “Ah, saya tidak menghindari anda.” Elak Ghea. “Kamu menghindar.” “Tidak.” “Iya.” “Saya bilang saya tidak menghindar,” Ghea tetap kekeuh. “Kalau begitu mengapa setiap saya ingin memanggil kamu, kamu selalu pergi?” Tanya Angga. “Oh bapak memanggil saya? Mungkin saya sedang tidak mendengarnya.” “Jangan berpura-pura.” “Siapa yang berpura-pura?” Ghea masih pantang menyerah untuk berkelit. “Jika anda hanya ingin membicarakan ini, saya pamit. Ini masalah sepele dan bukan masalah pekerjaan. Lagipula staff kecil seperti saya tidak memiliki hubungan pekerjaan langsung dengan CEO.” Melihat Ghea berbalik pergi, Angga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Entah mengapa ia merasa kesal harus melihat wanita itu memungunginya lagi untuk ke sekian kalinya. “Sekali kamu melangkah lagi, kamu melanggar aturan perusahaan nomor 55 yang berbunyi ‘Bersikap tidak sopan pada atasan/ melawan perintah atasan.Kamu bisa dikenakan SP1.” Ucapan Angga tersebut sontak membuat langkah wanita itu terhenti dan berbalik menatapnya tajam. Ghea bukan takut akan dikenakan SP, tapi ia lebih takut dengan angka 55 yang disebut Angga, sehingga ia memilih untuk tinggal. “Jadi sekarang anda menyalahgunakan kekuasaan, Pak Angga? Untuk urusan pribadi?” Ghea menaikkan sebelah alisnya. “Pada kenyataannya kamu memang tidak sopan pada saya,” Angga berucap santai. Ia kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi tanpa melepas tatapan dari Ghea. “Lagipula jika saya tidak memaksamu, kamu akan melarikan diri lagi.” “…” “Duduklah kembali,” kata Angga kepadanya. “Ada yang mau saya bicarakan padamu, dan ini serius.” Angga sudah memikirkannya matang-matang. Tiga minggu ini ia diterpa kesulitan karena tidak bisa membicarakannya dengan Ghea, tapi sekarang ia tidak bisa menunda lagi. Ia harus memaksa wanita itu untuk setuju dengan ‘rencananya’, apapun yang terjadi… ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD