***
Begitu Ghea kembali ke dalam restoran, ia mendapati Adhit masih berada di dalam restoran, sementara Tania sudah tidak berada di sana. Wanita itu sudah berlari keluar menyusul Angga dan Ghea sejak tadi, sehingga sewaktu Ghea kembali ke dalam, ia sama sekali tidak berpapasan dengannya.
Ghea mendekati meja tempat Adhit berada. Dilihatnya pria itu sama sekali tidak menyentuh makanannya lagi. Ia hanya memandang makanannya dengan rahang mengeras.
“Adhit,” Panggil Ghea yang sukses membuat Adhit menoleh padanya.
“Oh, kamu kembali?” Tanya Adhit dengan wajah datar. Sama sekali tidak ada senyum ramah seperti yang ia lihat tadi. Ia yakin sekali Adhit pasti marah padanya. Jika ia berada di posisi Adhit yang baru berkenalan dengan seseorang di hari pertama, kemudian seseoang datang mengaku sebagai pacar rahasianya, tentu saja ia akan merasa marah.
“Aku tahu kamu marah. Tapi aku sendiri pun tidak mengerti mengapa si bos sialan itu melakukan ini kepadaku. Yang jelas, aku sama sekali tidak tahu menahu. Maaf untuk yang tadi.” ucap Ghea sungguh-sungguh.
“...” Adhit tidak menjawab dan hanya menatap Ghea selama beberapa waktu dan menemukan kesungguhan di matanya. Melihat sepertinya wanita itu berkata jujur, tatapannya melembut dan senyumnya kembali tersungging di wajahnya.
“Kamu mengatakan yang sebenarnya?” Tanya Adhit.
Ghea buru-buru mengangguk.
Adhit tersenyum melihat ekspresi Ghea. “Baiklah kalau begitu. Kita pergi saja dari sini.”
“Lho, kemana?” Ghea tampak bingung. “Kita belum menghabiskan makanannya.” Ia melirik makanan yang tertata di meja makan dengan tatapan menyayangkan. Ia jarang sekali makan makanan seenak dan semahal ini dan sekarang ia harus membuang makanan yang entah kapan bisa ia nikmati kembali.
“Kita pindah ke tempat lain.” Ucap Adhit kemudian. “Lagipula makanan ini dibayar oleh bos yang sudah menyusahkanmu. Lebih baik kita makan di tempat lain saja, atau mungkin ada tempat yang ingin kamu kunjungi?”
“Aku pikir kamu ingin mengantarku pulang.”
“Pertemuan kita terlalu singkat untuk pulang. Kita bahkan belum berbincang lebih dari setengah jam.” jawab Adhit. Ia kemudian menatap langsung ke dalam mata Ghea dan tersenyum, membuat jantung Ghea entah mengapa berdebar karena melihat senyumnya.
“Setengah jam tidak cukup bagiku untuk tahu lebih banyak tentangmu.” lanjutnya yang kontan membuat wajah Ghea bersemu merah.
Usai berkata demikian, keduanya meninggalkan restoran sambil mengobrol ringan dan berjalan menuju parkiran. Sementara Angga yang berada tak jauh dari mereka, yang sedang menghadapi Tania yang melontarkan segudang aksi protes pada Angga pun teralihkan pada mereka berdua.
Tania kemudian mengikuti arah pandang Angga dan mendapati pria itu kini teralihkan pada wanita dari kasta rendah yang kini sudah masuk ke dalam mobil Adhit.
“Angga! Lihat aku! Aku sedang bicara sama kamu! Kenapa kamu justru ngelihatin dia? Aku tidak terima kalau kamu terus memperlakukan aku seperti ini. Aku akan adukan semua kejadian ini ke mama kamu!”
Mobil yang dibawa Adhit kini sudah meninggalkan parkiran restoran. Angga tadinya ingin mencegah Ghea mengikuti pria itu, tapi karena ocehan dan Tania yang menahannya, membuatnya lengah. Mood-nya langsung anjlok entah mengapa. Dengan kesal ditatapnya wanita itu dan berkata, “Lakukan apa maumu. Aku tidak peduli.”
BLAM! Suara pintu mobil ditutup kasar oleh Angga. Tania yang tidak terima ditinggalkan begitu saja pun menggedor kaca mobil dengan sekuat tenaga, tapi Angga sama sekali tidak memedulikannya. Ia melajukan mobilnya dan meninggalkan Tania di belakang sana, melontarkan sumpah serapah dan meneriakkan namanya berulang kali.
Angga tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia merasa tidak senang melihat Ghea kembali menghampiri pria itu dan kini mereka berdua justru pergi entah kemana. Rasa penasaran sempat menggoda Angga untuk menyusul mereka, tapi Tania menghambat langkahnya, dan akibatnya kini ia kehilangan jejak mereka.
Sebenarnya mengapa ia melakukan hal ini? Ia yang sekarang tidak seperti dirinya yang biasanya.
Ucapan demi ucapan yang dikatan Ghea beberapa saat lalu berputar-putar di dalam benaknya bagai kaset rusak.
“Anda pembawa sial.”
“Saya bilang anda pembawa sial. Anda dan angka lima terkutuk itu sama-sama pembawa sial dalam kehidupan saya!”
“Anda benar-benar hanya mementingkan diri sendiri, bersikap semaunya, dan bertindak seolah anda tahu yang terbaik untuk semua orang. Tapi itu semua hanya baik menurut anda. Anda hanya egois, bahkan tidak peduli mengorbankan orang lain asalkan anda terbebas dari masalah.”
“Menyedihkan.”
“Itulah mengapa saya sangat membenci orang seperti anda. Anda egois dan memperlakukan semua wanita seperti sebuah mainan yang tinggal dibuang jika bosan. Tetaplah seperti itu. Karma itu ada, dan suatu saat anda sendiri yang akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan orang-orang.”
Sebenarnya apa alasan wanita itu itu membencinya sampai seperti itu? Dan mengapa ia menganggap Angga adalah seorang pembawa sial dan apa hubungannya dengan angka lima?
Angga terus bertanya-tanya dalam hati, tapi hanya keheningan yang ia dapat. Ia tidak bisa mendapatkan jawabannya meski ia berpikir sekeras mungkin. Ia jelas tahu bahwa Ghea hanyalah karyawan biasa yang tidak ada kelebihan apapun. Ia sama sekali tidak cantik, hanya sedikit enak dipandang. Tapi wanita itu terlalu misterius bagi Angga, sampai membuat pria itu terjerumus dalam rasa penasaran yang dalam, dan menyadarkan Angga bahwa ia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang wanita itu.
Tanpa Angga sadari, rasa penasaran kecil itu perlahan-lahan berkembang menjadi besar. Pria itu tidak menyadarinya, bahwa rasa ingin tahu tentang wanita itu akan mengubah alur hidupnya.
Ia tidak pernah menyangkanya. Bahkan membayangkannya saja tidak pernah.
***