***
“Lepaskan saya!” Ghea menghentak-hentakkan tangannya agar terlepas dari genggaman Angga, namun tenaga Angga begitu kuat, sehingga sekuat apapun ia berusaha melepas genggaman itu, ia tetap tidak bisa melepasnya.
Angga mengabaikannya dan terus berjalan ke tempat mobilnya terparkir. Ia bahkan tidak peduli dengan Ghea yang berteriak di belakangnya sampai membuat tatapan orang di sekitar kini tertuju pada mereka.
Sesampainya di depan mobilnya, Angga membukakan pintu untuk Ghea dan menariknya masuk. Saat itulah, genggaman Angga pada tangannya melonggar dan Ghea memanfaatkan momen itu untuk menggigit tangan Angga sampai tangan pria itu terlepas seutuhnya dari tangan Ghea.
“Awh! Apa yang kamu lakukan?” Angga bertanya dengan marah dan mengelap tangannya yang digigit Ghea dengan tissue yang diambilnya dari dashboard mobil. Namun yang ditanya tidak langsung menjawab, melainkan menatap Angga dengan tatapan membunuh.
“Harusnya saya yang bertanya apa yang bapak lakukan pada saya tadi?” Tanya Ghea.
“Memangnya apa yang saya lakukan?” Angga justru balik bertanya dengan wajah tidak berdosa.
Ghea terperangah mendengarnya. Bisa-bisanya pria itu bersikap tidak berdosa setelah apa yang ia lakukan dan membuat Ghea terperangkap dalam permainannya. Masalahnya disini adalah Angga mengakui Ghea adalah kekasih rahasianya di depan tunangannya sendiri, dengan kata lain pria itu bisa membunuhnya secara tidak langsung. Ghea akan dianggap sebagai pelakor seperti yang sering ia lihat di drama korea.
Bisa saja setelah ini, tunangan Angga menerornya, mecakarnya, atau menjambaknya. Dan yang paling parah adalah Angga mengatakan kebohongan yang tak masuk akal di depan Adhit.
Hancur sudah masa depan Ghea sekarang. Ia memang tidak berharap bisa menjalin hubungan dengan pria yang dikenalkan Elise, tapi meski ia dan Adhit tidak berjodoh, setidaknya mereka masih bisa berteman, dan lihatlah apa yang terjadi? Bos sialannya ini menghancurkan semuanya hingga tak bersisa…
“Bapak masih bertanya apa yang bapak lakukan? Bapak sama sekali tidak merasa bersalah ya?” Ghea melotot dengan berkacak pinggang.
“Mengapa saya harus merasa bersalah? Saya pikir saya justru menyelamatkan kamu dari situasi yang tidak mengenakkan. Bertemu dengan orang asing untuk kencan buta pasti memberikanmu pengalaman yang buruk. Jadi tidak perlu berterima kasih, saya tahu saya sangat berjasa dan saya melakukannya dengan ikhlas.” Angga berucap dengan tidak tahu malu, membuat Ghea tergoda ingin menghajar kepalanya dengan sepatu hak 3 cm miliknya, tapi ia buru-buru membatalkan niatnya karena masih ingin bekerja.
“Bapak tidak perlu sok peduli dengan saya. Saya sama sekali tidak merasa terganggu. Saya memang mengikuti kencan buta karena keinginan saya sendiri.”
“Memangnya sebegitu tidak lakukah kamu sampai mau mengikuti kencan buta?” Angga menaikkan alisnya menatap Ghea. Dan ucapannya kali ini sukses membuat tali kesabaran di otak Ghea terputus.
“Yang konyol adalah anda punya tunangan secantik itu, tapi justru mengakui ‘saya yang tidak laku’ ini sebagai pacar rahasia.” Sindir Ghea.
“Kamu harus merasa beruntung kalau begitu,” Angga tersenyum bangga.
“Merasa beruntung karena anda adalah fakboy kelas kakap yang doyan gonta ganti pacar seperti mengganti baju? Begitu?” Ghea menatap Angga berang. Ia benar-benar marah sekarang.
“Sudahlah. Kamu masuk saja dulu. Kita bicara di dalam mobil.” Angga menarik tangan Ghea, mencoba memaksanya masuk, tapi Ghea justru menghentakkan tangannya dan bergerak mundur. Tatapan marahnya masih tersirat di matanya.
“Bapak benar-benar tidak merasa bersalah ya? Hari ini saya libur, Pak? Mau anda apa sih?
Sejak mengenal anda saya sering sekali sial, tapi hari ini sudah keterlaluan.”
Angga mulai terusik dengan makian Ghea. “Apa katamu? Coba katakan sekali lagi.”
“Anda pembawa sial.” Ghea menjawab tanpa berkedip.
“Apa?” Tanya Angga kesal, tidak terima disebut sebagai pembawa sial.
“Saya bilang anda pembawa sial. Anda dan angka lima terkutuk itu sama-sama pembawa sial dalam kehidupan saya!” Ghea berkata dengan mata berkilat-kilat marah. Ia sudah tidap peduli lagi dengan status bos yang melekat di diri pria itu. Sekarang ia hanya ingin menumpahkan segala macam uneg-uneg di hatinya.
“Anda benar-benar hanya mementingkan diri sendiri, bersikap semaunya, dan bertindak seolah anda tahu yang terbaik untuk semua orang. Tapi itu semua hanya baik menurut anda. Anda hanya egois, bahkan tidak peduli mengorbankan orang lain asalkan anda terbebas dari masalah.”
“Saya tidak seperti itu,” Angga mencoba membela diri. Ia tampak berpikir sejenak. Ia menghela nafas panjang kemudian berkata, “Wanita tadi bukan tunangan saya. Sesungguhnya saya meminta bantuanmu agar saya bisa pergi darinya.”
“Dengan melibatkan saya kan?” Ghea tersenyum miris. Beberapa detik kemudian, senyum di wajahnya lenyap berganti dengan rahang yang tertutup kaku dan menatap Angga tajam. “Menyedihkan.” Ucapnya sinis. “Itulah mengapa saya sangat membenci orang seperti anda. Anda egois dan memperlakukan semua wanita seperti sebuah mainan yang tinggal dibuang jika bosan. Tetaplah seperti itu. Karma itu ada, dan suatu saat anda sendiri yang akan merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan orang-orang.”
Usai berkata demikian, Ghea berbalik pergi, meninggalkan Angga mematung di tempatnya dan menatap punggungnya yang bergerak menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sebagian hatinya memintanya untuk menyusul wanita itu, tapi otaknya memintanya untuk tetap tinggal. Pada akhirnya otaknya memenangkan perperangan batin itu dengan mementingkan ego, dan membuat Ghea semakin terlarut dengan kesalah pahaman.
Tadinya ia hanya sedikit merasa kesal karena wanita yang menolak pesonanya mentah-mentah bisa berada dalam jarak dekat dengan pria asing. Ia kemudian memanfaatkan keadaan dengan menyeretnya ke dalam masalahnya, agar Tania menyerah dan ia tidak perlu dipaksa untuk dijodohkan dengan Tania. Tapi masalah semakin meluas karena satu kesalahan ucapan. Ghea marah padanya. Bagi Angga, melihat wanita marah seharusnya sudah biasa, tapi entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman melihat punggung Ghea bergerak menjauh.
Ada yang salah dengannya. Tapi ia tidak tahu apa yang salah…
***