***
Angga memasuki restoran Perancis yang terkenal di pusat kota dengan Tania yang bergelayut manja memeluk lengannya. Ia langsung di sambut ramah oleh pelayan dan diantar ke meja di tengah restoran. Akan tetapi, Tania merasa keberatan duduk di tengah-tengah restoran. Ia pun meminta pada pelayan agar mencarikan meja yang dekat dengan jendela. Pelayan kemudian menunjuk sebuah meja yang letaknya bertepatan dengan jendela yang terbuat dari kaca sehingga bisa langsung melihat ke luar restoran.
Saat itulah tatapan Angga tertuju padanya, pada seorang wanita yang sangat ia kenal, Wanita yang biasanya tampil cuek dengan rambut dengan ekor kuda dan pakaian kasual ala kadarnya, tapi hari itu wanita itu tampak berbeda dengan penampilan yang lebih feminim dan rambut yang biasa dikuncir ekor kuda pun digerai dengan indah. Akan tetapi wanita itu tidak sendiri. Ia bersama seorang pria rupawan yang berwajah asing di mata Angga.
Mata pria itu memicing menatap keduanya dengan penuh selidik, dan mulai mempertanyakan siapa pria itu tanpa ia sadari. Entah mengapa melihat wanita itu tertawa riang bersama pria itu membuatnya kesal. Ia terus mempertanyakan siapa pria itu dana pa hubungannya dengan Ghea, padahal hal itu sama sekali tidak ada hubungan dengannya, tapi rasa kesal itu begitu menganggu ketentraman hatinya sehingga ia melepas pegangan Tania dari lengannya dan berjalan menuju tempat Ghea berada.
Tania yang merasa kesal ditinggal seperti itu pun menyusul Angga dan memanggil namanya, membuat Ghea yang merasa familiar dengan nama itu pun menghentikan tawanya dan berpaling ke asal suara. Namun ia tidak pernah menyangka, nama yang dipanggil itu bukanlah kebetulan belaka, karena kini pria itu - bos sialannya- sudah berdiri menjulang tinggi di hadapannya dan Adhit dengan tatapan tajam seperti belati yang siap menghunus jantungnya kapan saja.
***
Ghea meletakkan kembali alat makan di tangannya dan kembali menatap Angga. Adhit menatap Ghea dengan tatapan penuh tanya, seakan mempertanyakan status pria tampan yang kini berada di depan mereka. Tapi Ghea tidak memberi penjelasan apapun, melainkan bertanya pada Angga yang sudah mengganggu acara kencannya.
“Pak Angga? Ada apa bapak kemari?” Tanyanya.
Tapi sebelum Angga sempat menjawab, seorang wanita menyusulnya dan menyelipkan tangan lentiknya di lengan Angga.
“Harusnya kamu menunggu aku dulu, Ga.” Gerutu Tania yang tentu saja tidak ditanggapi oleh Angga. Sedetik kemudian ia pun menyadari sepasang insan yang sedang makan siang kini menatapnya dengan wajah penuh tanya.
“Loh, mereka siapa? Kenalan kamu?” Tanya Tania sok akrab yang semakin mendekatkan tubuhnya pada Angga. Saat itu ia berpikir jika mereka benar adalah kenalan Angga, maka ini adalah saat terbaik menunjukkan hubungannya dengan Angga. Biasanya pria tidak akan menolak wanita jika wanita mendeklarasikan hubungan mereka secara terang-terangan di depan public, Tania pernah mendengar soal itu dari seorang teman sosialitanya. Sehingga sebelum Angga sempat menjawab apapun, ia sudah lebih dulu mengulurkan tangannya pada Ghea, tersenyum dengan wajah penuh percaya diri dan berkata, “Kenalkan, namaku Tania Haritama, tunangan Angga.”
Ucapan itu sukses membuat mata Angga dan Ghea membesar mendengarnya. Angga terkejut karena Tania mengaku sebagai tunangannya, sementara Ghea sendiri tampak tidak percaya atasannya yang suka bermain wanita ternyata memiliki seorang tunangan.
“Oh, saya karyawannya Pak Angga. Nama saya Natasha Gheandra,” Ghea menjabat tangan wanita itu sambil tersenyum, namun lain halnya dengan Angga, pria itu hanya diam dan menatap Adhit dengan tatapan menyelidik.
“Ghea, beliau ini siapa?” Adhit melirik Angga yang sejak tadi seperti sudah ingin menikamnya hidup-hidup.
Angga mendecih sinis mendengar pria itu memanggil Ghea dengan panggilan sok akrab itu, padahal dirinya sendiri memanggil Ghea dengan sebutan Natasha.
“Pak Angga, kenalkan ini Adhitya Winata, Adhit kenalkan ini atasan di tempat aku bekerja, Namanya Pak Erlangga.”
“Salam kenal,” Adhit mengulurkan tangannya menawarkan persahabatan, tapi bukannya menjabatnya, Angga justru menatapnya dingin tanpa berniat menjabatnya.
“Pak,” Ghea menarik ujung jas Angga, memberi isyarat dengan mata agar atasannya mau menjabat tangan Adhit.
“Erlangga Lionardy Sridjaja,” ucap Angga dingin, tanpa berniat menjabat tangan itu.
Adhit yang sadar bahwa Angga tidak ingin menjabat tangannya, pun menurunkan tangannya.
Ghea melotot melihat sikap Angga. Ia kemudian geleng-geleng kepala. Apa yang bisa ia harapkan dari si sialan yang seenaknya itu. Hanya menjawab uluran tangan seseorang saja ia tidak sudi. Benar-benar tipikal bos fakboy yang arogan.
“Jadi bisa kamu jelaskan Ghea, mengapa kamu bisa berada di sini bersama pria ini?” Angga melirik Adhit dengan tatapan permusuhan.
Ghea bingung harus menjawab apa, namun sebelum ia menjawab, Adhit sudah lebih dulu membantunya menjawab pertanyaan Angga sambil tersenyum. “Hari ini kencan buta kami. Apa Ghea mengganggu anda, sampai anda tampak keberatan dengan kencan karyawan anda sendiri, Pak Angga?” Tanyanya.
Ghea makin bingung dibuatnya. Kedua pria dewasa itu tampak saling bertukar pandang dengan tatapan penuh permusuhan. Bahkan barusan ia seolah mendengar petir menyambar-nyambar di antara keduanya, karena keduanya saling bertatapan dan tidak ada yang mau mengalah di antara mereka.
Hingga akhirnya Tania menarik lengan Angga, dan menyadarkan pria itu kembali ke dunia nyata.
“Sayang? Memangnya ada hubungan apa kamu dengan dia? Sampai kamu mau ikut campur dengan kencan karyawanmu sendiri? Tanya Tania.
“Kamu tanya apa hubunganku dengan dia?” Tanya Angga dingin. Rahangnya mengeras karena rasa kesal yang bahkan ia sendiri tidak tahu pasti apa alasannya. Adhit yang tampak tertarik ke arah pembicaraan ini mengarah pun mulai mengamati Angga dan Tania yang sedang berdebat.
“Memangnya kenapa? Dia kan karyawanmu kan?” Tanya Tania.
“Dia lebih dari itu,” ucapan Angga yang tiba-tiba itu sontak membuat Tania, Adhit, dan Ghea terkejut.
Angga memutar badannya menghadap Tania dengan posisi sempurna. Ia kemudian melanjutkan ucapannya yang sukses membuat jantung Ghea seolah melompat keluar dan jatuh mencium lantai.
“She’s my secret girlfriend. That’s why that’s no hope for me and you.”
Usai membuat bingung semua orang, sebelum Ghea sempat melancarkan aksi protes, tanpa ia sangka-sangka, pria itu menarik Ghea keluar dari sana. Sebelum ia benar-benar berbalik pergi, ia menoleh sekilas, menatap Adhit dengan seulas senyum miringnya yang khas. “I’ll pay for the bills.”
***