***
“Hmm... Kopi di sini memang paling enak.” Tania Haritama meletakkan kembali cangkir kopi yang baru saja ia minum dan menatap pria tampan di depannya.
Di hadapannya, Angga duduk dengan cuek, mengabaikan ucapannya dan menyesap kopi seolah Tania sama sekali tidak berada di sana, padahal wanita itu adalah wanita yang sangat cantik dan modis. Bahkan model pakaian yang ia kenakan adalah model yang sangat jarang dijual di pasaran. Wanita itu terpelajar dan bentuk tubuhnya pun bagus, akan tetapi Angga sama sekali tidak berminat kepadanya.
“Angga, makanan apa yang kamu sukai? Hobimu apa? Tipe wanita yang kamu sukai seperti apa?” Tania tetap berusaha membuka percakapan, tapi Angga menanggapinya dengan datar.
“Aku suka semua makanan, hobiku main perempuan, dan tipe wanita yang kusuka jelas bukan dirimu.”
Mata Tania melebar mendengarnya. Ia jelas merasa kesal, tapi ia pantang menyerah begitu saja karena ia menyukai Angga sejak pertama kali melihatnya di pesta ulang tahun perusahaan ayahnya beberapa tahun silam. Kesempatan datang kepadanya setelah ibu Angga ingin menjodohkan putranya dengan Tania, dan Tania tidak mungkin melepaskannya begitu saja walaupun ia mengetahui sifat Angga yang terkenal suka main perempuan. Selain wajahnya yang luar biasa tampan, pria itu juga berhasil membawa perusahaan periklanannya menjadi salah satu perusahaan periklanan terkenal di Indonesia. Jika Tania menikah dengan Angga, maka perusahaan keluarganya juga akan banyak terbantu.
“Kalau begitu katakan tipe wanitamu seperti apa, aku akan berubah.”ucap Tania kepadanya.
“Meskipun kamu tidak menjadi diri sendiri?” Angga mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa tidak? Berubah demi kebaikan tidak terlalu buruk. Aku menyukaimu, jadi aku akan mengusahakan yang terbaik agar kamu juga bisa menyukaiku.”
“Pardon, kamu menyukai seseorang yang belum setengah hari kamu temui?”
“Beberapa tahun silam kita bertemu di pesta ulang tahun perusahaan ayahku - Haritama Group. Kita sempat berkenalan di sana. Mungkin kamu lupa.”
Angga tampak berpikir sebentar, tapi ia tetap tidak bisa mengingatnya. Mengingat, tidak ada wanita yang benar-benar diingat baik wajah maupun namanya lebih dari dua kali kecuali rekan bisnis.
“Mungkin,” jawabnya singkat. Padahal ia tahu bahwa ia tidak pernah lupa, karena mengingatnya saja tidak.
“Jadi, bagaimana pendapatmu tentang aku?” Tanya Tania kemudian.
Angga menatap Tania dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mengangguk. “Kamu cantik dan terlihat seperti sosialita kelas atas.”
Senyum Tania merekah mendengarnya. “Kalau begitu kapan kita bisa bertunangan? Mama kamu bilang kita cocok sekali. Kita akan bertunangan setelah pertemuan pertama kita. Jadi kapan kamu mau melamar aku secara resmi?”
Angga menghela nafas panjang mendengarnya. Ia tidak habis pikir mengapa wanita yang dijodohkan ibunya kepadanya memiliki sifat yang terlalu ambisius padahal mereka belum mengenalnya dengan baik. Kemungkinan mereka terburu-buru ingin bertunangan hanya ada dua. Antara sudah tergila-gila dengan wajah Angga atau mengincar hartanya.
“Tania,” Angga beralih menatap Tania dengan wajah serius. “Aku tegaskan di sini bahwa aku tidak ingin menikah.”
Ucapan Angga itu sukses membuat Tania terkesiap. “Kenapa?”
“Aku menemuimu hari ini semata-mata karena aku menghargai permintaan mama. Tapi menemuimu tidak berarti aku akan bertunangan apalagi menikah.”
Tania tampak terkejut, akan tetapi beberapa detik kemudian ia kembali tersenyum. “Tidak masalah. Kita memang butuh waktu untuk saling mengenal lebih jauh.”
“Aku tidak tertarik untuk itu,” Angga mejawab pendek.
“Karena kamu menghargai mamamu, maka kamu harus tertarik.” Tania mulai memanfaatkan nama ‘Linda’ untuk mengikat Angga.
“Aku tidak punya alasan untuk tertarik, Ms. Haritama.” Angga tetap kekeuh pada ucapannya. “Aku hanya datang menemuimu hari ini, dan tidak tertarik untuk mengenalmu lebih jauh.”
“Aku yakin aku punya pesona yang menjanjikan untuk membuatmu jatuh hati padaku,” Tania berkata dengan percaya diri.
Angga tersenyum miring. “Memang, tapi tidak akan mempan padaku.”
“Maka dari itu biarkan aku mencoba,” Tania menatap mata Angga dengan sungguh-sungguh. Tapi sekali lagi, pria itu tidak menggubrisnya. Pria itu justru mengabaikan Tania dan melanjutkan kegiatan menyesap kopi.
Tindakan Angga itu membuat Tania merasa kesal sekaligus merasa tidak dihargai. Tapi ia tidak menyerah. Ia memutar otaknya, mencoba menahan Angga yang kini sudah mulai bangkit dan ingin meninggalkannya sendirian. Segera ditahannya tangan kokoh pria itu sampai pria itu menoleh padanya dengan raut wajah merasa terganggu.
“Aku rasa kita tidak ada urusan lagi.”Kata Angga kepadanya.
“Kita baru berbincang kurang dari setengah jam, Mr. Sridjaja.”Tania beralasan. “Kebetulan sekali sudah jam makan siang. Kamu harus membawaku pergi makan siang.”
“Misiku sudah terpenuhi Tania. Aku hanya perlu menemuimu dan tugasku selesai.”
“Tapi tidak secepat ini, Angga.” Sela Tania. “Mama kamu meminta kamu untuk menemuiku hari ini, itu berarti seharian ini waktumu milikku.”
Angga menatap Tania dengan kesal. Ini adalah salah satu alasan mengapa ia tidak mau menikah. Hubungan serius apalagi ikatan pernikahan hanya menjadi beban yang menekan kebebasannya. Ia merasa terbebani dengan wanita yang akan terus bersamanya sepanjang hari dan setiap waktu. Melihat wajah yang sama setiap hari hanya membuatnya bosan, apalagi harus memenuhi tuntutan permintaan yang tak berujung.
“Fine, hanya makan. Setelah itu aku akan pergi.” Ucapan Angga tersebut membuat senyum penuh kemenangan terukir di wajah cantik itu. Wanita itu kemudian bangkit dan menggandeng tangan Angga. “Kalau begitu ayo kita pergi.”
Angga tidak menolak, dan menuruti permintaan wanita itu. Menurutnya ini hanyalah makan siang biasa, setelah itu ia akan pulang. Tapi ia tidak pernah menduga bahwa hari itu akan menjadi hari yang panjang baginya...
***