KENCAN BUTA

1421 Words
*** Drrrt..Drrrt... Suara ponsel bergetar di atas nakas, membangunkan Angga di pagi itu. Pria itu meraba-raba nakas dengan malas. Saat ia ingin menegakkan tubuhnya barulah ia sadar bahwa dirinya sendiri. Sebelah tangan lentik melingkar di pinggangnya. Diliriknya wanita yang bahkan tidak ia ketahui namanya itu. Ia kini berada di hotel setelah melewati satu malam yang panas dengan wanita itu. Dipindahkan tangan wanita itu dan menegakkan tubuhnya, mengangkat telepon itu. “Halo.” “Kenapa kamu lama sekali mengangkat telepon mama?” Linda Sridjaja- Sang mama bertanya kepadanya di seberang sana. “Aku baru saja bangun, ma.” Angga menjawab malas. “Ada apa sampai mama meneleponku?” “Memangnya mama tidak boleh menelepon anak sendiri?” Tanya Linda kesal. “Tentu saja boleh,” Jawab Angga cepat. Sesungguhnya ia bisa menebak bahwa ibunya menghubunginya bukan tanpa alasan. Hanya saja ibunya adalah tipe yang memaksakan keinginannya dan Angga terganggu akan hal itu. “Bagus. Kalau begitu kapan kamu mau bertemu dengan Tania?” Tanya Linda. Dugaan Angga tepat sasaran ternyata. Ibunya menghubunginya hanya dengan satu tujuan, memaksanya untuk menikah. “Aku sibuk, ma.” Angga menjawab sekenanya. Saat itulah, wanita yang bersamanya terbangun dan meraih pundak Angga. “Sayang, telepon dari siapa?” Sontak saja Linda di seberang sana membelalakkan matanya. Dengan nada yang meninggi dua oktaf, ia berkata, “Angga! Kamu lebih memilih menghabiskan satu malam dengan wanita tidak jelas daripada bertemu dengan Tania??? Kamu gila ya? Tania itu wanita berkelas, sederajat, dan terhormat. Cocok sekali menjadi calon istri kamu.” Angga melirik wanita di sampingnya, dan merangkul pundak telanjangnya sambil menjawab telepon Linda. “Aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak ingin terikat dengan pernikahan. Terikat dengan satu wanita itu sangat menyusahkan. Aku mungkin mau menemuinya jika dia bersedia menjalin hubungan sebatas satu malam saja. Jika lebih dari itu, dengan sangat disayangkan, aku tegaskan bahwa aku tidak berminat.” Ucapan Angga itu membuat Linda naik darah. “Kamu kira Tania bisa disamakan dengan w************n?” “Jika dia tidak bisa, tidak masalah.” “Mama mau kamu menikah, Erlangga.” “But I don’t want to have a serious commitment, ma.” “Memangnya kamu tidak mau punya anak?” Tanya Linda. “Di usiamu yang sudah menginjak 33 tahun sudah seharusnya kamu memberikan mama cucu.” “Sesungguhnya aku tidak mau, tapi jika mama begitu menginginkan cucu, aku bisa memberikannya meski tanpa pernikahan.” Angga berucap seenak jidatnya. Ia kemudian melirik wanita dipelukannya. “Hey, berminat punya anak denganku?” Wanita dipelukannya tampak berpikir sebentar. Ia hanyalah wanita yang bertemu dengan Angga di Klub malam dan menghabiskan satu malam karena dibayar. Ia belum pernah berpikir untuk melahirkan anak, tapi melihat pria di hadapannya adalah pria tampan dan kaya raya, ia pun tidak perlu berpikir dua kali untuk mengangguk. Namun sebelum kegilaan  Angga semakin menjadi, Linda memotong pembicaraannya. “Erlangga! Jika kamu benar-benar melakukannya, jangan mengganggap mama sebagai mamamu lagi!” “Aku tidak akan melakukannya jika mama tidak mau.” Linda terdengar mnghela nafas mendengar ucapan putranya. Berbicara dengan putra semata wayangnya yang berjiwa bebas benar-benar membuatnya darah tinggi. “Mama tidak mau tahu lagi, Erlangga! Jika kamu masih menghargai mama sebagai mamamu, temui Tania hari ini juga. Jika tidak, jangan salahkan mama jika hak warisan kamu dicabut!”Tukas Linda yang kemudian mengakhiri pembicaraan mereka sebelum Angga sempat menjawab apa pun. Ting! Sebuah pesan w******p masuk ke ponsel Angga. Chat itu dari Linda yang isinya berupa waktu dan tempat janjian dengan Tania, wanita yang akan dijodohkan dengan Angga. Melihat itu, Angga hanya menghela nafas panjang. Wanita di sampingnya tampak melihatnya dengan tatapan bingung. “Kita tidak jadi bikin anak?” Tanyanya polos. Mendengarnya, Angga langsung bangkit berdiri dan mengenakan pakaiannya kembali. Selesai berpakaian, ia meninggalkan sejumlah uang di atas nakas dan pergi dari sana tanpa berkata apapun. Ia tidak pernah meghabiskan malam lebih dari satu kali bersama wanita yang sama. Ia sangat membenci komitmen karena hanya mengikat kebebasannya saja, apalagi dengan kehadiran seorang anak. Ia tidak ingin terbebani dengan semua itu. Akan tetapi Angga menginginkan warisan keluarganya. Sepertinya kali ini ia tidak memiliki pilihan lain selain memenuhi permintaan ibunya. *** Sementara itu, di sebuah restoran mewah ternama di pusat kota. Pria bernama Adhitya Winata itu aslinya ternyata jauh lebih tampan dari di foto. Ghea sendiri bingung mengapa Elise tidak mau mengejar pria setampan itu dan justru mengenalkannya padanya. Akan tetapi Elise memiliki selera yang sangat tinggi dan sudah menyukai orang lain, sehingga ia memutuskan untuk menjodohkan Ghea dengan pria yang ia rasa baik untuknya. Adhitya bertubuh tinggi , tegap, dan berbahu lebar. Ia memiliki lesung pipi di pipi sebelah kiri yang membuatnya terlihat manis setiap kali tersenyum. Mereka janjian bertemu di sebuah restoran mewah di pusat kota. Restoran model seperti ini pastilah sekali makan seharga dengan gajinya setengah bulan, tapi Ghea tidak mempunyai pilihan lain karena Adhit ingin bertemu dengannya di sini. Dan di sinilah ia berada sekarang. Ia baru saja tiba di restoran sejak beberapa menit lalu. Tidak ada lagi pakaian kasual seperti biasa, Ghea tampak cantik di hari itu dengan terusan berwarna putih selutut dan makeup tipis yang membuatnya terlihat manis. Rambutnya yang biasa sikuncir kuda pun di gerai dan di keriting di bagian ujung. Semua ini tentu karena campur tangan Elise yang membantu mendandaninya untuk hari ini. "Natasha Gheandra?" Adhitya mengulurkan tangannya begitu Ghea tiba di mejanya. Ia sama sekali tidak mengalami kesulitan mengenali Ghea meskipun hari itu adalah hari pertama mereka bertemu. "Adhitya Winata?" Ghea balas bertanya namun tetap menerima uluran tangan pria itu. "Kamu tidak jauh berbeda dari yang di foto," puji Adhitya tulus. Ghea tersenyum. “Kamu juga tidak berbeda jauh dari foto.” "Ada yang ingin kamu pesan?" tanya Adhit ramah sambil menyodorkan buku menu pada Ghea. Ghea melihat-lihat buku menu itu dan seketika saja matanya melebar. Restoran ini adalah restoran Prancis yang mewah di ibu kota. Harga seporsi makanannya seharga dengan biaya hidupnya setengah bulan. Dan satu masalah lagi. Ia sama sekali tidak mengenal nama-nama makanan yang tertera di sana. Seketika saja tangan Ghea bergetar memegangi buku menu. Ingin sekali ia mengajak Adhit pindah, tapi ini adalah pertemuan pertama mereka, setidaknya ia harus memberikan kesan yang baik. Jadilah ia memutuskan untuk mengorbankan biaya hidupnya setengah bulan untuk hari ini. “Aku pesan apa yang kamu pesan,” Jawab Ghea akhirnya, saking bingungnya karena dari semua menu makanan ia hanya mengenal croissant dan crepes. “Oke,” Adhit tersenyum. Ia kemudian memanggil pelayan dan memesankan dua porsi makanan yang sama untuk mereka. Adhit memesankan sejenis steak dan menyerahkan kembali buku menu kepada pelayan. Setelahnya, tatapannya kembali beralih pada Ghea. “Namamu Natasha ya? Aku boleh memanggilmu dengan sebutan apa?”Tanyanya. “Panggil saja aku Ghea.” Adhit tersenyum. “Kalau begitu, kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Panggil aku Adhit.” Ghea sempat terpana selama beberapa saat. Adhit benar-benar tipe yang bertolak belakang dengan Angga yang arogan. Jika Angga adalah tipikal yang ketus dan menyebalkan, maka Adhit lebih ramah dan lebih tenang. Benar-benar tipikal pria baik-baik yang diidolakan semua orang. “Baiklah kalau begitu.” Tak Lama kemudian pelayan kembali dengan minuman pesanan mereka. “Ceritakan tentang dirimu,” pinta Adhit tiba-tiba. “Tidak ada yang istimewa. Usiaku dua puluh delapan tahun. Aku merantau di sini dan bekerja sebagai seorang staff kecil.” “Oh ya?”Adhit tampak tertarik. “Bagian apa?” “Purchasing. Bagaimana denganmu?”Ghea balik bertanya. “Mungkin Elise sudah bercerita tentangku. Aku lebih tua tiga tahun darimu,  seorang Manajer PR di Hello Cosmetic.” Ghea terpana mendengarnya. Tatapannya pada Adhit kini berubah menjadi tatapan kagum. “Itu kan perusahaan cosmetic nomor satu di negara ini? Kamu hebat sekali.” “Kamu terlalu memuji,” Adhit merendah. “Aku tidak sehebat itu. Justru kamu yang hebat, kuliah sambil kerja, anak beasiswa, dan merantau sendirian di Jakarta. Aku banyak mendengar tentang kamu dari Elise.” “Ah, Elise banyak bercerita tentangku ya?” Ghea menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena malu. “Tidak ada yang bisa dibanggakan dariku.” “Menurutku, justru yang seperti itu hebat. Tidak semua orang bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan orang tua.”ucap Adhit tulus. Tidak banyak yang bisa seperti Adhit yang bisa menghargai pekerjaannya sebagai staff kecil dan juga orang yang belum sukses padahal usianya hampir menginjak kepala tiga. Adhit berhasil menanamkan kesan yang baik di hari pertama mereka berjumpa. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan mereka melanjutkan obrolan sambil makan. Saat itulah Ghea tidak menyadari, seseorang sedang mengamatinya dengan raut wajah kesal dari kejauhan, dan sepasang mata itu milik Angga. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD