CARE SEORANG SAHABAT

911 Words
*** "Jadi cowok yang lo rusak jasnya itu bos elo?" Elise bertanya dengan nada tidak percaya. Kini ia dan Ghea sedang berada di restoran sushi. Mereka sedang temu kangen sekaligus menggosipi hal yang bisa digosipi.  "Yah, gitu deh." Ghea menghela nafas kasar. Meratapi nasibnya yang entah bagaimana nasibnya di tangan Angga. "Dan yang paling parah ya Lise, semakin sering gue ketemu dia, semakin sial gue. Dan belum cukup sampai situ, dia itu playboy kelas kakap. Lo tahu nggak dia itu nyaris indehoy di depan muka gue!" Ucap Ghea dengan mengebu-ngebu. Elise yang kaget mendengar ucapannya itu sontak melebarkan matanya dan menyemburkan minuman yang baru saja ia minum tepat ke wajah Ghea. Ghea sampai refleks memejamkan matanya agar minuman itu tidak masuk ke dalam matanya. "Buset deh, Lise! Corona woy! Main sembar sembur aja!"  Dumel Ghea sambil mengelap wajahnya dengan selembar tisue. "Sori, sori, Ghea. Gue kaget habisnya." Elise ikut mengelap wajah Ghea dengan tisu. Tapi karena ia penasaran, ia kemudian terkekeh dan kembali bertanya dengan jenaka. " Tapi seriusan lu ngeliat? Gimana gayanya? Maennya kayak gimana?" Tanya Elise tanpa tahu malu. "Dasar lo ya, otak lo lebih ga suci daripada yang gue kira!" Ghea melempari Elise dengan gulungan tisu.  "Lah kan penasaran Ghe," Elise nyengir kuda. "Makanya lo kalau cerita jangan setengah-setengah, kan jadi kepo gue!" "Gimana gue mau cerita lengkap kalau belum selesai cerita aja udah kena semburan maut?" Ghea melayangkan tatapan membunuh. Elise terkekeh. "Iya-iya. Lanjut. Gue kan nggak sengaja, jangan marah dong." Ghea kemudian melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan apa yang terjadi di atas sofa dan ia yang kemudian ketahuan bersembunyi di balik sofa, perihal Angga yang mendadak sering mengerjainya, sampai persoalan taruhan mereka. "Wah, fakboy kelas kakap ternyata. Berhubungan lo sering sial kalau berurusan sama cowok apalagi yang nggak bener, lebih baik kali ini lo menjauh sejauh-jauhnya dari dia." Elise berucap dengan bersungguh-sungguh. "Gue nggak mau lo jadi korban kesekian cowok itu, Ghe. Gue sahabat lo dan ngeliat lo berkali-kali mengalami nasib yang tragis dalam masalah percintaan membuat gue sedih. Saran gue adalah lo ngundurin diri dari sana, dan bayar ganti rugi jasnya." tegasnya kemudian. "Tapi gue nggak ada duit, Lise. Setelah hutang gue lunas, gue akan angkat kaki dari sana." "Tapi dari cerita lo, gue merasa si Angga itu punya maksud tersembunyi. Dia sengaja ngusilin lo dan bisa jadi dia ngincer lo kayak yang gue nonton di film-film. Dia pengen ngebuktiin lo beda atau nggak sama cewek yang dia kenal. Terus taruhan kalian itu, bisa jadi cuma akal-akalan dia aja. Jangan bilang ujung-ujungnya dia ngincer lo, mau tidurin lo!" Elise mulai mengutarakan pikirannya yang esktrim. "Ih gila lo, jangan nakut-nakutin gue dah." Ghea mulai ketakutan. "Makanya nggak ada salahnya lo waspada kan, Ghe. Lo dengerin kata gue, lo ngundurin diri dari sana dan lo bawa uang ini ganti jas dia." Elise mengeluarkan sebuah kartu ATM dan memberikannya pada Ghea. Melihat itu, Ghea buru-buru menolaknya. "Nggak, Lise. Lo udah banyak bantu gue. Gue bahkan belum bisa lunasin hutang ke lo." "Bayarnya kalau lo udah punya kerjaan tetap, Ghe. Bisa cicil sesanggup lo, Ghe. Lebih baik lo terima bantuan gue daripada dibantu sama orang kayak dia." Akan tetapi bujukan Elise sama sekali tidak bisa meluluhkan Ghea. Ghea tetap berprinsip ia akan berusaha sendiri dan menghindari hutang semampu yang ia bisa. Meski Elise benar-benar tulus membantunya, tetap saja Elise memiliki keperluan pribadi. Dan ia tidak enak merepotkannya lebih dari ini. "Oke kalau begitu Ghe. Tapi jangan sungkan minta tolong kalau lo perlu ya. Gue akan selalu ada buat lo." Ghea mengangguk dan tersenyum hangat. Di dunia ini hanya Elise sahabat terbaiknya. Ia sama sekali tidak membutuhkan orang lain selama ia mempunyai Elise. *** Malamnya saat Ghea sedang menonton drama korea di kosan, tiba-tiba saja chat dari Elise masuk ke layar ponsel. Elise : [Ghe, udah tidur lo?] Ghea : [Belom, Lise. Kenapa?] Elise : [Gue mau kenalin lo cowok. Mau?] Ghea : [Kok tiba-tiba? Tumben?] Elise : [Dia cowok mapan. Manajer di sebuah perusahaan bonafit. Temannya sepupu gue. Gue udah cek bibit bebet dan bobotnya. Anak baik-baik. Dia lagi cari cewek, selama ini mantannya nggak beres semua. Cocok deh sama lo. Kalian sama-sama korban patah hati. hehehe.] Ghea : [Boleh aja. Lumayan buat nambah temen.] Elise : [Kali aja jodoh, Ghe.] Ghea : [Kalau dia mau sama gue.] Elise : [Mau lah. Pede dikit napa Ghe? Lo itu cantik kok. Dandan dikit tambah cantik.] Ghea : [Oke, oke, bos.] Elise : [Oke, gue kirim foto lo ke dia ya. Besok lo bisa nggak ketemu sama dia?] Ghea : [Hah? Besok?] Elise : [Biar cepet jadi. wahahahahaha.] Ghea : [Asem lo Lise.] Elise : [Nih gue kirim fotonya. Lo tunggu saja chat dia. Bentar lagi dia cari lo buat ajak ketemuan. Good luck Ghe!] Elise mengirimkan sebuah foto. Sebuah foto masuk ke layar ponsel Ghea. Seorang pria tersenyum lebar dengan senyumnya yang teduh memenuhi layar kaca. Pria itu terlihat ramah, berkulit putih, dan jauh berbeda dengan Angga yang terlihat Arogan. Wajah pria itu tampak lembut dan juga tampan. Dalam hatinya ia berpikir, apakah pertemuannya dengan pria itu besok akan berjalan baik? Mengingat Ghea masih dibayang-bayangi oleh kutukan angka lima. Sementara itu di sebuah apartemen mewah di pusat kota... Ting! Sebuah chat masuk ke ponsel seorang pria bernama Adhitya Winata.  Sebuah foto muncul ke layar kaca begitu ia membuka pesan. Seorang gadis yang tersenyum manis di layar kaca tampak menarik perhatiannya. Ia mau tidak mau tersenyum juga. Ia kemudian menyimpan nomor kontak gadis bernama Natasha itu dan mulai mengirimkan pesan untuknya... TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD