MAKSUD TERSEMBUNYI

1258 Words
*** Ghea mendengarnya. Ia tidak bodoh dan bukanlah orang yang tidak peka akan situasi jika melihat orang-orang yang berpapasan dengannya sepanjang koridor saling berbisik satu sama lain. “Hati-hati, ada anak baru tukang ngadu.” “Nanti dipecat loh gara-gara dia.” “Masuk sini karena orang dalam kayaknya.” “Atau jangan dia jadi simpenan bos-bos?” Orang-orang itu membicarakannya secara terang-terangan, tapi karena nyalinya kurang, mereka pun hanya berani bicara dengan nada berbisik yang masih bisa didengar Ghea dengan sangat jelas. ‘Sebenarnya apa yang sedang terjadi?’ Ghea bertanya-tanya dalam hati. Ia yang baru saja masuk kerja di hari kedua sampai digosipkan seperti ini. Begitu ia masuk ke ruang divisi pembelian, semua mata tertuju kepadanya. Senior yang kemarin menyuruhnya mengerjakan tugas yang bukan miliknya berpura-pura seolah tidak melihat Ghea, bahkan senior yang kemarin memarahinya karena tidak kembali dengan membawa galon air pun tampang membuang muka seolah menghindarinya. Kemarin karena Angga mengatakan padanya untuk tidak takut pada orang lain, Ghea pun kembali dengan tangan kosong dan mengatakan pada seniornya bahwa itu adalah tugas ob untuk membawakan galon air. Senior itu kemudian pergi sambil marah-marah. Tapi perubahan sikap yang sangat signifikan itu membuat Ghea sangat penasaran. Ia semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dan pertanyaan akan sikap penghuni divisi purchasing kepadanya akhirnya terjawab ketika Pak Satria- HRD Canvas Box memanggilnya ke ruangan. “Sebenarnya kenapa saya dipanggil ke sini, Pak.” Pria paruh baya itu menjawab, “Seharusnya kamu bicara kepada saya terlebih dahulu kalau kamu mengalami masalah di hari pertama, Natasha.” Dahi Ghea berkerut. “Apa maksudnya, pak? Saya sama sekali tidak mengerti.” “Saya mendapat laporan dari Pak Angga- CEO kita, kalau kamu ditindas di hari pertama. Saya bahkan dianggap lalai dalam mengawasi dan mengelola karyawan. Andai saya tahu lebih dulu dibandingkan Pak Angga, saya tentu akan bertindak tegas terlebih dahulu.” Ucapan Pak Satria membuat Ghea semakin binggung. “Apa hubungannya dengan Pak Angga?” “Kamu bertemu Pak Angga saat kamu mengerjakan sesuatu yang bukan tugasmu?” Tanya Pak Satria. Ghea mengangguk. “Pak Angga langsung memanggil saya dan menanyakan apakah saya tahu mengenai hal itu.” Ucap Pak Satria. Ghea terpana mendengarnya. Jadi si Angga itu sampai menegur HRD karena melihatnya mengangkat galon air. Sepertinya pria itu benar-benar salah makan obat. “Saya hanya tidak sengaja bertemu dengan Pak Angga, Pak.” jelas Ghea. “Saya tahu. Alasan saya memanggil kamu kemari adalah saya ingin kamu menjalankan tugas kamu sesuai SOP. Jika ada yang meminta kamu melakukan tugasnya atau menindas, kamu bisa langsung laporkan ke saya. Setiap karyawan berhak mendapat perlakuan nyaman di tempat kerja. Yang melanggar aturan akan dikenakan sanksi sesuai peraturan perusahaan.” “Jadi apa yang terjadi dengan senior-senior saya?” Tanya Ghea yang mulai mengerti arah pembicaraan Pak Satria. “Mereka mendapat SP 1.” Jawab Pak Satria. “Kamu tidak perlu khawatir. Bekerjalah dengan baik. Pihak manajemen akan berlaku adil pada setiap karyawan.” Ucap Pak Satria. Ghea mengangguk. Ia paham sekarang akan alasan orang-orang yang membicarakannya di koridor dan juga para senior yang menghindarinya. Ternyata mereka mendapat surat peringatan pertama karena Angga memergoki Ghea kemarin. Sungguh tidak Ghea sangka, atasannya ternyata merupakan atasan yang sangat tegas di perusahaan, berbeda dengan kehidupan pribadinya yang sangat tidak patut dicontoh. “Baik, Pak. Terima kasih.” Ghea berkata dengan sopan kemudian pamit dari sana. *** “Selamat pagi. Saya Ghea dari divisi pembelian, mau bertemu dengan Pak Angga.” Ghea berkata pada Santi, sekretaris Angga. Wanita itu tampak mengamati ID card yang tergantung di leher Ghea sejenak sebelum akhirnya buka suara. “Apa sudah membuat janji?” Tanya Santi. “Belum.” Jawab Ghea jujur. “Pak Angga akan menghadiri rapat setengah jam lagi, tapi saya akan tanyakan dulu apakah beliau sedang tidak sibuk.” ucap Santi. Ia kemudian mengangkat teleponnya dan menghubungi Angga. Ghea menunggu dengan was-was, tapi kekhawatirannya perlahan lenyap ketika Santi mengakhiri pembicaraannya di telepon dan mempersilahkannya untuk masuk ke dalam ruangan Angga. Pria bertubuh tinggi besar itu mengangkat kepala dan menatap lurus pada Ghea yang mendekat padanya. Ia menutup file berwarna kuning yang sejak tadi sedang dibacanya begitu Ghea berhenti tepat di depan meja kerjanya. “Ada apa sampai kamu tidak sabaran bertemu dengan saya?” Tanyanya. “Maaf saya mengganggu bapak, tapi saya merasa sangat perlu mengatakan hal ini.” ucap Ghea. “Katakan saja,” Angga mempersilahkan. Ghea menarik nafas sejenak sebelum akhirnya berkata, “Saya berterima kasih atas bantuan bapak. Saya tidak tahu apa maksud dan tujuan bapak membantu saya, tapi yang ingin saya sampaikan adalah anda tidak perlu membantu saya lagi lain kali, karena saya yang akan mengatasi masalah saya sendiri.” Angga tersenyum sinis, “Mengatasi sendiri? Dengan apa?” “Maaf?” Dahi Ghea berkerut. “Sepertinya kamu berpikir terlalu banyak.” Kata Angga kepadanya. “Pertama, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya tidak suka melihat karyawan saya menindas karyawan baru.” “Saya tahu.” Jawab Ghea. “Saya akan bersikap seperti yang anda bilang. FYI, saya mengalah dan menurut bukan karena saya takut, tapi saya hanya mengalah untuk menang. Kemarin adalah hari pertama saya bekerja, saya diperintahkan mengerjakan ini itu, jadi saya menurutinya tanpa menolak. Saya hanya menyesuaikan diri di hari pertama, dan saya juga bukanlah tipe yang pasrah ditindas, Pak.” “Benarkah?” Angga terdengar seperti meragukan Ghea. “Tidak peduli ucapan saya benar atau tidak. Yang pasti saya tidak bisa menerima niat baik bapak apapun alasannya. Dengan campur tangan dari anda, tersebar gossip aneh di seisi kantor. Saya dibilang punya koneksi orang dalam, tukang ngadu, simpanan bos-bos, dan mereka takut pada saya yang akan membuat mereka dipecat dengan sekali membuka mulut.” “Kamu menyalahkan saya sekarang?” Tanya Angga. “Tidak. Saya hanya merasa tidak lazim seorang Pak Angga yang terhormat berbaik hati pada saya. Jadi saya akan membuktikan pada anda bahwa saya bisa berkembang di sini. Terima kasih atas kesempatannya. Saya permisi.” Ghea baru saja ingin berbalik, tapi tanpa ia sadari Angga sudah bangkit dari duduknya dan menahan tangannya. Tenaga pria itu terlalu besar untuk Ghea yang bertubuh jauh lebih kecil darinya, sehingga mau tidak mau Ghea menatap ke arahnya. Jarak keduanya berada cukup dekat untuk saling bertatapan. Dari jarak sedekat ini Ghea bisa mengamati wajah pria itu yang selama ini tidak sempat ia amati. Alis tebal rapi yang bagaikan terpahat sempurna, tatapan tajam, garis rahang tegas, dan pundak lebar membuat pria itu pantas menjadi idola setiap wanita, hanya saja kelakuannya sangat disayangkan. “Kalau begitu buktikan kamu bisa berkembang di sini, bukan hanya berani padaku tapi mentalmu lemah terhadap orang lain. Tiga bulan kamu berhasil berkembang, akan kuberikan posisi yang layak untukmu.” “Atas dasar apa anda mau bertaruh dengan saya?” Ghea balik menantang. “Karena saya tahu kamu tidak akan sanggup.” Angga menyeringai penuh arti. “Jika penilaian dari atasan langsungmu mendekati sempurna, saya akan memberi posisi yang layak sesuai janji. Dan sebaliknya, jika kamu tidak sanggup, apa yang sanggup kamu tawarkan pada saya?” “Apapun.” jawab Ghea, tapi sedetik kemudian ia menyesal mengatakan hal itu. “Apapun?” Angga tersenyum miring sembari mengangkat sebelah alisnya. “Yakin?” “Selama itu tidak melanggar hukum dan moral,” koreksi Ghea. Angga kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Ghea. “Fine. Tiga bulan dari sekarang, Natasha Gheandra. Kita lihat apakah mental tikusmu hanya berlaku padaku atau tidak?” Ghea tidak menjawab. Ia juga tidak mengerti maksud tersembunyi dibalik tawaran Angga, namun ia bisa mencium hal yang tidak beres akan terjadi. Ia harus waspada, walau tawaran ini sangat menggiurkan baginya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD