PRIA YANG TIDAK BISA DITEBAK

1345 Words
*** Sepulangnya dari hotel, Ghea langsung pulang ke rumah Angga. Seperti biasa ia akan melakukan tugasnya mengurus hewan-hewan peliharaan yang sepertinya bahkan tidak pernah dilirik oleh sang empunya rumah. Ia merasa kerjaan Angga hanyalah pergi pagi untuk bekerja dan pulang malam untuk bertualang cinta. Sama sekali tidak ada tanggung jawabnya. Ia memelihara binatang peliharaan semahal dan sebanyak itu tapi tidak pernah diurus, kadang disitulah ia merasa kasihan.  Akan tetapi, hari ini diluar dugaan Angga pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Ia pulang ke rumah jam enam sore, tepat sesaat setelah Ghea pulang berjalan-jalan dengan David dan Diego keliling kompleks, dan bertemu dengan Ghea di halaman belakang. Tadinya Ghea pikir, pria arogan itu akan mencari kesempatan untuk mengerjai ataupun membulinya seperti yang sudah-sudah, akan tetapi hari ini entah kerasukan apa, pria itu tiba-tiba melewatinya dan langsung menghampiri dua ekor anjing kembar miliknya.  Melihat Angga bermain bersama dua ekor anjing Alaskan Malamute itu itu, membuat Ghea hanya bergeming di tempat. Tepat saat itulah Washington Dc mengeong meminta untuk dikeluarkan dari dalam kandang. Ghea yang merasa kasihan, pun mengeluarkan si kucing seharga sebuah rumah itu dari dalam kandang. Namun siapa sangka, kucing itu langsung melompat ke arah Angga, namun Angga justru terjengkang ketakutan sambil bersin-bersin. "Jauhkan dia cepat! Cepat jauhkan dia dari saya!" Titah Angga. Meski heran, Ghea tetap melakukan seperti yang diminta, ia menggendong kucing itu, menjauhkannya dari Angga. "Kenapa sih jerit-jerit, Pak? Ini kan kucing bapak?" Sementara Angga buru-buru memasukkan para anjing peliharaannya ke dalam kandang, sebelum mereka bergelut dengan si kucing. Akan tetapi yang ditanya sama sekali tidak berniat menjawab dan justru terlihat pucat. Ghea mulai menangkap ada hal yang tidak beres dan mulai mengerti mengapa Angga bisa menunjukkan gelagat aneh. "Pak, jangan bilang anda takut kucing?" "..." "Diam berarti iya," Ghea mengambil kesimpulan sendiri. "Saya cuma alergi. Itu kucing ibu saya, jadi bukannya saya takut ya. Jauhkan dia dari saya sekarang." Akan tetapi Ghea bukannya menurut, ia justru mempunyai ide iseng. Semakin disuruh menjauh, ia semakin ingin mendekat.  Sampai akhirnya ia mengejar Angga  yang masih bersin-bersin dengan menggendong seekor kucing. *** "Nggak nyangka ya, badan segede bapak, tapi takut kucing." Ghea tertawa terbahak-bahak. Sekarang ia sedang duduk selonjoran di lantai sambil memeluk Washington, sementara Angga kini sudah menjaga jarak dua meter darinya karena takut diserang kucing. "Mau berapa kali saya bilang? Saya ini tidak takut kucing, saya cuma alergi." Angga tetap bersikeras bahwa ia hanya alergi, bukan takut kucing.  "Makanya kalau takut kucing, jangan melihara kucing ya, pak." Ghea memberi saran, sekaligus menyindir, tapi yang disindir justru tidak terima dan gengsi untuk mengakui. "Sudah saya bilang saya nggak  takut kucing, dan ini kucing ibu saya. Ngerti kamu?" "Oh, iya iya pak. Saya ngerti kok. Nggak usah ngotot gitu. Saya ngerti kok bapak itu gengsi mengakui." ucap Ghea. Merasa bicara dengan Ghea tidak ada gunanya lagi, Angga pun berkata, "Capek saya debat sama kamu. Saya kemari cuma buat ngecek kalau kamu ngasih makan mereka dengan baik." "Soal itu sih bapak tenang saja, saya tipe orang yang sangat bertanggung jawab, sangat berbeda dengan seseorang yang suka sekali menyalahgunakan kekuasaan." sindir Ghea. "Kamu menyindir saya?" Angga memicing menatap Ghea tajam. "Bapak merasa kesindir?" Ghea balik bertanya. "Saya heran ya, kenapa kamu sangat suka berdebat dengan saya?" "Saya ini sangat pintar meniru seseorang. Saya belajar dari bapak. Bapak lupa ya?" Ghea menaikkan alisnya, menatap Angga. "Ah, sudahlah. Pokoknya saya  kesini cuma ingin mengingatkan, mau besok kamu pindah ke tempat baru, kamu tetap harus sampai di rumah tepat waktu." ucap Angga dan berlalu. Saat itulah Ghea teringat sesuatu. "Lho, memangnya aku ada kasih tahu dia kalau aku pindah kantor besok?" Tapi setelah ia pikir kembali, Canvas Box dan Hotel sama-sama adalah milik Angga, mustahil sang empunya sama sekali tidak tahu menahu mengenai kepindahannya. *** Keesokan harinya, Ghea menemui Pak Satria  di Canvas Box Advertising. Ia kemudian ditempatkan di bagian purchasing sebagai staff pemula. Tadinya ia pikir hari pertamanya akan berjalan dengan lancar seperti yang sudah ia harapkan selama ini, tapi ia sama sekali tidak menyangka di kantor itu akan diberlakukan yang namanya hukum rimba, dimana yang terkuat menindas yang lemah. Belum setengah hari Ghea bekerja di sana, bukannya mengerjakan tugasnya sendiri, ia justru disuruh membantu mengerjakan tugas staff lain, dan bahkan disuruh memindahkan galon aqua. Padahal kantor sebesar itu memiliki office boy, tapi Ghea sendiri tidak mengerti mengapa ia yang disuruh-suruh. Akan tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain selain menurut dan mengangkat galon air itu dengan langkah tertatih. Dan ironisnya, saat ia mengangkat galon Aqua dari lantai dasar ke lantai 10 dengan menggunakan tangga, karena lift umum rusak, ia bertemu dengan Angga yang hendak masuk ke lift khusus eksekutif. Ghea tidak pernah merasa sesenang ini melihat Angga. Ini adalah saat pertama ia merasa bertemu dengan pria itu adalah sebuah keberuntungan. Ia menganggapnya sebagai penyelamat sekarang. Bagaimanapun ia adalah pekerja di rumahnya, seharusnya pria itu bisa sedikit berempati dan menolongnya yang sedang ditindas di hari pertama bekerja. Tapi harapan hanyalah harapan. Angga hanya meliriknya sekilas dan masuk ke dalam lift tanpa mengatakan apa pun, seolah ia sama sekali tidak mengenal Ghea dan tidak peduli dengan apapun yang wanita itu lakukan. Baru saja wanita itu mendengus sinis dan hendak mengangkat kembali galon aqua itu menuju tangga darurat, pintu lift eksekutif yang sempat tertutup terbuka kembali. Angga muncul menjulang tinggi di depan Ghea yang sedang membungkuk untuk mengangkat galon. “Masuk.” Perintah pria itu, dingin, singkat, namun tegas. Ghea bersyukur dalam hati, Angga ternyata tidak setega itu melihatnya menaiki tangga darurat dengan membawa galon seberat itu. Ia kemudian hendak mengangkat galon itu dan membawanya masuk ke dalam lift eksekutif ketika pria itu kembali bersuara “Tinggalkan.” “Apa?” Ghea mendongak menatap Angga. “Tapi.. Saya akan dimarahi jika tidak membawa ini.” “Saya tidak mau mengulang ucapan saya, Natasha.” kata Angga kepadanya. “Lift ini lift khusus petinggi, bukan lift barang dan saya mengijinkan kamu masuk bersama saya.” Melihat Ghea masih berpikir lama, dengan kesal Angga menarik tangan wanita itu dan memaksanya masuk meninggalkan galon air yang tidak penting itu di depan sana. Karena Angga menariknya secara tiba-tiba, tubuh wanita itu menabrak d**a bidang Angga yang terbalut jas mahal keluaran prancis. Jarak keduanya sangat dekat sampai-sampai Ghea bisa mencium aroma parfum Angga yang menggoda. “Mau sampai kapan kamu ngeliatin saya?”Tanya Angga kepadanya. “Siapa yang ngeliatin bapak?” Ghea buru-buru melepaskan diri dan melangkah mundur beberapa langkah. Kepalanya menunduk karena malu ketahuan menatap atasannya itu terlalu lama. “Dua pertanyaan, Natasha.” Angga berucap dan menatap wanita di depannya dengan tatapan tajam. “Apa yang kamu lakukan dengan galon air? Dan mengapa kamu tidak bekerja?” “Saya diminta memindahkan ini ke lantai atas oleh senior saya, kebetulan lift umum dan lift barang rusak.” Jawab Ghea. “Lalu jawaban untuk pertanyaan kedua saya?” Angga menaikkan sebelah alisnya menatap Ghea. “Sampai detik ini saya sedang bekerja, Pak Angga.”Ghea membela diri. “Bekerja sebagai ob, maksudmu?”Tanyanya. “Tentu saja tidak. Saya bekerja sebagai staff purchasing.”Ghea agak tersinggung dengan ucapan Angga. “Kalau begitu, tunjukkan kalau kamu memang layak untuk posisi itu,” Ucapan Angga bertepatan dengan terbukanya pintu lift yang tiba di lantai 10. Pria itu mendahului Ghea keluar dari lift, tapi sebelum pria itu menjauh, Ghea bisa mendengar ucapan pria itu dengan amat sangat jelas. “Jangan hanya berani denganku, tapi takut pada orang lain. Tidak ada yang bisa menolongmu selain dirimu sendiri.” Ghea terbengong-bengong mendengarnya. Wanita itu keluar dari lift tanpa melepaskan pandangan dari punggung Angga yang kini sudah menghilang di balik koridor. ‘Apa maksud pria itu? Jangan bilang dia berkata begitu karena mencemaskanku?’ Tapi hal itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Ghea buru-buru mengenyahkan pemikiran itu dari kepalanya. Angga adalah fakboy yang harus diwaspadai meskipun di kantor ia terlihat berwibawa selayaknya seorang atasan, tapi ia adalah seorang petualang cinta yang sangat tidak bertanggung jawab. Tapi perilakunya hari ini sangat aneh, seperti seseorang yang sudah kebanyakan meminum dosis obat. ‘Entahlah, biarkan saja. Dasar pria yang sulit sekali ditebak.’Batin Ghea dalam hati dan kembali ke ruangannya.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD