04. Anak kandung yang tak bersalah.

1482 Words
Suasana malam dengan rintik hujan menjadi teman gadis pendekar yang sedang mengayuh sepedanya menuju rumah setelah selesai membeli daging untuk ayah nya. Gadis pendekar itu bernama Nara, pejuang hebat dengan ribuan sayatan luka yang dia sembunyikan dari balik baju besi nya, yaitu jiwanya yang tegar. Kedua roda sepedanya berputar dan kakinya tak berhenti mengayuh pedal, walau dia terlihat kelelahan tapi seulas senyumnya itu tak pernah luntur dari bibir mungilnya. Ada banyak derita untuk hidup nya kali ini, tapi dia memiliki satu kewajiban dan tanggung jawab untuk terus berjuang dan tidak menyerah. Pemikirannya kembali teringat akan kejadian di luar supermarket tadi. Beberapa jam sebelumnya .... "Apa dia putri nya Rusman?" sebuah suara membuat langkah Nara terhenti seketika tepat di depan pintu kaca. "Iya, benar dia putri nya." jawab salah satu dari mereka. "Ah, aku sedikit prihatin kepadanya, aku kira dia sudah tidak bersekolah." sahut sosok pria dengan jas hujan berwarna biru. "Kenapa kau berpikir demikian?" sahut yang lain. "Apa kau tidak tahu jika Rusman sekarang sudah bangkrut? mana sanggup dia membayar sekolah kedua anak nya?" sergah pria tadi. "Buktinya dia masih bersekolah! sudah tutup mulutmu itu, jangan membicarakan orang lain, lebih baik selesaikan pekerjaan mu!" jawab sosok ibu-ibu yang sebelumnya melihat Nara berhenti di dekat mereka. Lalu semua orang yang membicarakan Nara langsung terdiam dan pergi satu persatu. "Huft ... ternyata hidupku lebih menarik untuk dibicarakan orang lain," gumam Nara sambil membuang nafas nya lalu terrsenyum singkat dan berjalan menuju sepedanya sambil membawa kantong plastik berisi daging ayam untuk ayahnya. "Nak tunggu!" teriak sesorang dari belakang Nara membuat dirinya berhenti dan menoleh. Sosok ibu-ibu yang menolongnya tadi ternyata sedang memintanya untuk berhenti, Nara yang mendengarnya langsung turun dari sepedanya dan memberikan salam. "Ah, iya?" Nara. "Ah, begini ... apa kamu benar masih bersekolah?" tanya ibu-ibu itu sedikit membuat Nara risih. "Eh, maaf jika aku mempertanyakan hal yang tidak sepatutnya aku tanyakan ...." lanjut ibu-ibu tadi seolah tahu posisi Nara. "Ah, tidak kok Bu ... saya masih bersekolah dan sudah tahun terkahir ini, kebetulan ini sudah bulan terakhir seusai ujian." jawab Nara dengan sopan. "Apa kamu tidak lelah?" lanjut ibu-ibu itu membuat Nara terkejut dengan pertanyaannya. "Aku mendegar kondisimu sedang tidak baik-baik saja, benarkah?" lanjutnya masih terus bertanya. Nara memilih diam dan menjawab seadanya, menurutnya hal ini tidak perlu dibicarakan dengan orang asing. "Tidak, saya baik-baik saja, dan terimaksih untuk bantuannya tadi Bu ... saya permisi dulu ...." jawab Nara sambil memundukkan kepalanya memberi salam. "Kalau ada perlu pekerjaan silahkah hubungi saya ya! di toko bunga seberang jalan! ...." teriak ibu-ibu itu saat Nara sudah sedikit jauh mengayuh sepedanya. Nara yang masih bisa mendengarnya hanya tersenyum kecil dan berpura-pura tidak mendengarnya, rasa percayanya untuk orang lain telah lama hilang dari diri gadis itu. Menurutnya tidak ada yang benar-benar peduli kepadanya kecuali dirinya sendiri. Nara yang mengingatnya hanya menggeleng kecil dan lagi-lagi tersenyum singkat lalu turun dari sepedanya karena sudah sampai di rumah nya. Daging yang dia beli dengan uang ayah nya itu sama sekali tidak dia inginkan, hanya untuk ayah nya saja, dia tidak akan pernah makan uang pemberian dari ayahnya sekaligus tidak mengizinkan Febri untuk makan. Setelah berjam-jam dia berkutat di dapur akhirnya menu makan malam untuk ayah nya telah siap, Nara menyajikannya dan berjalan menuju kamar Febri. Pintunya terkunci, Nara hanya tersenyum karena begitu paham dengan sang adik. Dia tahu pasti jika Febri pasti sedang menangis sampai tertidur, rasanya dia benar-benar ingin menyudahi ini semua, tapi kenyataan masih begitu kokoh untuk dia robohkan. Kini dia duduk di meja belajar dengan beberapa buku dan pena, tangannya bergerak membuka halaman demi halaman untuk dipelajari, tapi mata dan pikirannya menatap jendela kamar nya dengan tatapan kosong. Rintik hujan dan jendela kamar nya yang tertutupi embun membuat pikirannya teringat sesuatu mengenai sang ibu, siapa yang menyangka jika ibunya telah pergi secepat ini, dan tanpa diduga minggu depan adalah tepat satu bulan mendiang kematian ibunya. Mata Nara melirik sebuah foto di sampingnya, senyum sang ibu begitu terasa sampai detik ini, memori kejadian demi kejadian masih dia ingat dengan jelas, bahkan ketika ayah nya mengamuk hebat dan melampiaskan kepada anak dan istrinya. Sejujurnya Nara masih begitu takut dan kecewa pada Toni, belasan tahun dia dibesarkan tapi tak seharipun dia bisa tertawa bersama ayahnya. "Ma ... apa kabar disana?" gumam gadis itu sambil menatap wajah sang ibu dengan mata berkaca-kaca. "Nara belum bisa bahagiakan mama, dan Tuhan telah memanggil mama terlebih dulu. Sejujurnya aku sangat ingin membenci Papa, tapi aku juga tahu jika mama akan memarahiku jika aku berbuat demikian, tapi apalah dayaku, Ma? Febri semakin dewasa, dan hari semakin berlalu, tapi Papa masih sama ....." Matanya berkaca-kaca dan tak terbendung lagi, basah sudah kedua pipi gadis itu. Sayup-sayup angin malam menggerakkan gorden kamar gadis itu, seulas kenangan yang tersisa begitu sangat dia rindukan, berjuang melewati masa remaja yang menyakitkan dengan ribuan duri yang dia cabut demi sang adik. Saat Nara tenggelam dalam tangis tiba-tiba sebuah teriakan terdengar begitu melengking memanggil namanya dan membuatnya terkejut, siapa lagi jika bukan sang Ayah - Toni. "Nara! ...." teriak pria paruh baya itu membuat sang putri terlonjak kaget dan meletakkan cepat foto sang ibu. "Apa aku putrinya? kenapa dia selalu bersikap demikian?!" gumam Nara sambil berjalan turun. "Hei gadis bodoh! apa kau tidak mendengar panggilanku!?" lanjut Toni masih berteriak bahkan menyebut Nara sebagai gadis bodoh. "Iya ...." teriak Nara menjawab sambil berlari turun. Tepat di depan tangga dia tidak berhati-hati dan siku nya membentur ujung meja, dan akhirnya dia terluka, tapi gadis itu tidak bisa merasakan sakit lagi karena begitu panik dengan panggilan sang ayah. "Iya?" ucap Nara tepat di depan Toni. "Dasar bodoh!" sergah Toni sambil memukul kepala Nara. Dug! "Akhh ...." rintih Nara saat kepalanya dipukul dengan tangan kosong. Wajah gadis itu tertunduk diam, tetapi dia mengutuk sang ayah dalam hatinya, sebenarnya ini tidak bisa Nara lakukan, tapi sang ayahnya sendirilah yang memaksanya demikian. "Aku dengar kau bekerja?! Ha! apakah itu benar!?" lanjut Toni sambil bekecak pinggang dan menatap Nara yang masih menunduk diam/ Dalam hati Nara dia sedikit kebingungan dan bertanya-tanya dari mana ayahnya bisa mengetahui jika dirinya bekerja. "Jawab! apa kau tidak punya mulut!" sergah Toni lagi lagi tangannya ikut maju. Rambut Nara telah ditarik paksa hingga membuatnya mendongak spontan, matanya sudah memanas karena merasakan sakit akan perlakuan Toni. "Iya! aku bekerja, aku bekerja paruh waktu!" jawab Nara kehabisan kesabaran dan spontan Toni melepaskan kasar cekalannya pada rambut Nara. "Anak tidak tahu bersyukur!" teriak Toni. Plak! Sat tamparan mendarat sempurna dengan begitu kasar dan tepat sasaran pada pipi sang putri. "Kemana uang yang aku beri selama ini? kau habiskan untuk apa? kau terus berfoya-foya! dan kau bekerja paruh waktu untuk apa? ingin mempermalukanku?" sergah ayah itu dengan teriakannya yang menggema. Nara yang mendengarkanya sesekali menutup mata karena wajah ayahnya yang begitu dekat dengannya. Tangannya menggenggam kuat dan sedikit ketakuan, pipinya yang menanas dan air mata yang mengalir membuat gadis itu semakin terlihat menderita. "Aku tidak mempermalukanmu, aku hanya bekerja, tidak mencuri atau menjual diri Pa!" jawab Nara dengan segenap keberanian yang dia kumpulkan untuk menjawab. "Berani kau menjawab! anak durhaka!" Toni. Plak! Lagi-lagi satu tamparan melayang pada pipi Nara, dan akhirnya gadis itu menangis tersedu-sedu. "Kenapa aku bernasib demikian?" batin Nara dalam tangisnya. "Papa! ...." Suara bocah laki-laki mulai terdengar. Kini pertikaian itu bukan hanya dua orang melainkan tiga orang, Febri ikut membela Nara yang diperlakukan kasar oleh ayahnya. "Kau! kau mau apa?" sergah Toni sambil menarik lengan Febri begitu kasar hingga membuatnya terseret. Nara yang semula terududuk di lantai spontan berdiri dan berusaha menyelanatkan adiknya dari kegilaan monters itu. "Hiks ... hiks ... sakit!" tangis Febri saat tangannya dicengkram kuat oleh Toni. "Pa! kau ini -" teriak Nara terhenti saat dia kehabisan kata-kata. Nara berjalan mendekat dan melepaskan cekalan Toni dengan kasar, lalu memeluk erat sang adik dalam dekapannya. "Dua anak tidak tahu diuntung! kau berani melawan aku?" jawab Toni semakin menggila. "Siapa yang akan menyelamatkanmu kali ini, teriak saja minta tolong pada mayat ibu mu itu!" lanjut Toni dengan kasar tanpa belas kasihan. "Pa! lepaskan kakak! kau monster! aku benci wajahmu itu! kau sama sekali bukan manusia!" teriak Febri saat melihat sang kakak ditarik paksa menuju kamar mandi. Tapi Toni tetaplah sama, orang tua yang begitu tega kepada anak anaknya, cara didik yang sama sekali tidak patut untuk dilakukan. "Papa ... lepaskan kakak Pa ...." ucap Febri dengan isak tangisnya sambil menarik paksa baju Toni. "Anak gila!" Bersama dengan ucapan itu Toni mendorong paksa tubuh Febri hingga tersungkur dilantai. Nara yang melihatnya sudah tidak bisa menahan diri. "Monster! kau gila! kau tidak waras! dimana peri kemanusiaan mu!" jawab Nara sambil menolong sang adik. Toni yang melihat kedua anak nya mulai tidak tahan dan hanya diam sambil mengelus tengkuknya, lalu dia menendang sofa dengan kasar membuat Nara terlonjak kaget, lalu Toni berlalu pergi meninggalkan rumah. Malam yang suram dan menyakitkan untuk dua insan manusia yang hidup bersama sosok ayah yang begitu kejam, lagi-lagi kekerasan kembali mereka alami tanpa ada yang mampu menolongnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD