Sosok pria paruh baya sedang menatap anak nya yang baru saja pulang dari sekolah, sejak seminggu sejak kematian sang ibu Nara mulai bersekolah dan selalu pulang sore dengan alasan materi tambahan.
Toni yang semula membersihkan giginya dengan tusuk gigi sambil duduk kemudian beralih berdiri saat putrinya sampai di rumah.
"Materi tambahan lagi?" ucap Toni tiba-tiba dan bertanya pada Nara.
Anak bernama Nara itu tidak menoleh kearah sang ayah dan hanya menjawab sambil melepaskan sepatunya.
"Iya," jawab nya singkat, sama seperti hari sebelumnya setelah kematian sang ibu.
"Buatkan aku makan!" lanjut Toni meminta Nara membuatkan makan malam.
Nara yang baru saja sampai dan terlihat letih hanya bisa menarik nafas dan menghembuskannya pasrah.
Kakinya berdiri dan melangkah menuju dapur tanpa melepas seragam sekolahnya tanpa banyak bicara sama sekali.
Toni yang melihat putrinya berjalan melewatinya begitu saja hanya menatap jengah dan kembali duduk melanjutkan aktivitas sebelumnya.
"Dasar anak muda jaman sekarang, diperintah orang tua saja masih perhitungan." gumam Toni merasa tak berdosa dan kasihan pada putrinya.
"Kakak!" Suara kecil dan samar-samar didengar oleh telinga Nara.
Matanya mengedarkan pandangan mencari sumber suara, dan ternyata suara itu berasal dari bocah laki-laki yang bersembunyi dibalik tangga dapur.
"Iya?" jawab Nara sedikit terkekeh melihat tingkah sang adik, rasa lelahnya seolah lenyap seketika saat melihat wajah pangeran kecilnya.
"Ehm, Kakak tidak lelah? ganti baju dulu sana, biar Brian yang jaga disini," ujar Brian sambil menyuruh Nara untuk berganti baju terlebih dahulu.
"Tidak apa Bi, lagi pula sebentar lagi selesai, ehm ... kamu sudah makan kan?" jawab Nara sembari bertanya.
"Iya sudah, kue yang tadi pagi kakak beri Brian nggak habis, jadi Brian makan tadi sore eheheh ...." jelas anak itu sambil tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi rapinya.
"Sekarang kamu makan dulu," sahut Nara sambil menyodorkan sepiring makanan yang dia hidangkan, dia selalu menyisakan untuk dirinya dan sang adik sebelum ayah nya tahu.
Bukan tanpa alasan, hanya saja ayah nya itu terkadang suka perhitungan karena ekonomi yang menipis dan hobinya berjudi masih berlanjut, mau tidak mau Nara harus menerima keadaan.
"Kakak sudah makan?" sahut Brian sambil menerima piring dari sang kakak.
"Iya sudah, Brian makan saja sampai kenyang ya?" ucap Nara.
Setelah mendengarkan jawaban dari sang kakak, bocah itu hanya diam dan mengerucutkan bibirnya.
"Kakak bohong, Brian tahu kakak belum makan kan? sini Brian suapi!" ujar Brian sambil menyodorkan secuil bakwan untuk sang kakak.
Nara yang mendengar dan melihat sang adik hanya bisa tersenyum begitu bahagia dan menitikkan air matanya, dalam benak nya dia begitu kasihan pada sang adik yang harus terbiasa pada kenyataan yang memaksa dirinya untuk seperti ini, hidup dengan sosok ayah tapi terasa mengerikan bagaikan tawanan.
"Aaaaa ...." ucap Brian bermaksud menyuruh Nara untuk membuka mulut.
Satu suapan berasil mendarat di mulut Nara bersamaan dengan setetes air matanya.
"Kakak harus jaga kesehatan juga, kalau kakak sakit nanti Brian sendiri nggak ada temannya, Brian nggak mau kalau kakak nanti ninggalin Brian seperti mama," ujar Brian sambil ikut makan.
Nara mengelus pucuk kepala sang adik dengan senyum begitu tulus, diusianya yang dibilang muda dia harus membiasakan diri menjadi kakak sekaligus ibu untuk Brian.
"Sekarang Brian makan sampai habis di kamar ya? kakak nanti nyusul, habis makan jangan lupa mandi dan belajar, okey?" sahut Nara setelah mengusap pipinya yang basah karena air mata.
Bocah itu mengangguk paham dan bergegas pergi menuju kamarnya, patuh pada ucapan Nara- sang kakak.
"Huft ... sepertinya akan terus seperti ini, bersembunyi dan berbohong dari fakta," gumam Nara sambil mengusap kening nya dengan punggung tangannya lalu melanjutkan memotong sayuran.
Disini, dua orang yang berbeda sifat. Antara ayah dan putri, yaitu Toni dan Nara.
Nara hanya diam dan menyajikan makanan di meja makan tanpa ada sepatah katapun. Toni yang hanya duduk menatap hidangan buatan sang putri tiba-tiba berulah.
Prang!
Sebuah piring melayang dan jatuh ke lantai beserta isi nya. Nara yang semula diam seketika terkejut dan respek mundur menjauh dari sang ayah.
Dirinya seperti otomatis menjauh dan takut jika ayah nya akan berulah lagi seperti sebelumnya.
"Siapa yang mau makan ini semua!? aku ini ayah mu bukan hewan peliharaan! hanya makan telur dan sayur tidak membuat ku kenyang!" bentak Toni tepat saat piring itu pecah berkeping-keping.
"Hanya itu yang ada," jawab Nara singkat tanpa menatap wajah sang ayah, dengan ekspresi datar dan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak sudi makan ini semua! beli daging dan buat kan untuk ku!" sergah Toni sambil melempar selembar uang berwarna merah ke lantai.
Nara diam menatap uang itu dengan amarah yang berusaha dia tahan sekuat tenaga.
"Apa yang kau lihat! kau mau dipukul?!" ujar Toni sambil berdiri dan hampir melayangkan tangannya.
Nara seketika mengambil uang itu dan berjalan menuju dapur melepas celemek nya. Dalam batin gadis itu menangis dalam diam, sekuat tenaga dia menahan kondisi demi keselamatannya dan sang adik.
Dari balik dinding, Febri melihat semuanya lagi-lagi anak itu menyaksikan kondisi kakak nya yang menderita.
Saat Nara berjalan ke dapur dia melihat sebagian tubuh Febri yang bersembunyi dari balik dinding, dalam hati Nara semakin merasa bersalah dan tak sampai hati, bocah itu tidak bisa dibiarkan terus melihat dan terlibat dalam kondisi orang tua dan kakak nya.
"Aku akan menyelamatkan mu! tunggu sebentar lagi," gumam Nara sambil berjalan cepat dan bergegas membeli daging.
Berbeda dari Nara yang mengayuh sepeda warna pink nya menuju supermarket, bocah bernama Febri itu sedang menangis di dalam kamar nya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Ma? Mama dengar Febri kan? Mama disana pasti bahagia, hiks ... tap- tapi disini kakak sedang sedih Ma, Febri minta selamatkan kakak dari monster tua itu, hiks ...." ucapnya dalam tangis dan memeluk sebuah foto sang mama yang tersenyum bersamanya dan sang kakak.
Anak itu sebenernya tidak bisa dibiarkan seperti ini, anak seusianya tidak bisa terlibat dalam kejam nya keluarga, itu benar dan Nara sedang berusaha.
"Hiks ... Mama segera kirim malaikat buat kakak ya? Febri nggak bisa jaga kakak sekuat Mama," lanjutnya sambil mengusap kasar air matanya lalu perlahan tertidur sambil memeluk fotonya bersama ibu dan kakaknya.
Kamar yang gelap dengan jendela tertutup, pintu yang terkunci dari dalam dan lampu yang dimatikan, hanya beberapa titik cahaya dari celah tirai jendela yang remang-remang masuk ke dalam kamar Febri.
Anak itu tidak pantas seperti ini, dia harus segera bebas dari jeratan ayah nya yang kejam seperti monster.