Bab 18

1079 Words
Stella selesai bekerja, ia keruang ganti khususnya. Stella mengambil hoodie dan memakainya, terakhir Stella mengambil tasnya lalu berjalan keluar club. Biasanya Stella akan memanggil atau memasan taksi langganannya tapi sekarang Will selalu sedia setiap saat. “Terima kasih Will” ujar Stella ketika Will membukan pintu untuknya. Will tidak menjawab ia segera masuk kedalam mobil, sementara anak buahnya menyetir mobil. “Pelan-pelan saja Brook,” peringat Will “Laksanakan boss” Stella perlahan memejamkan matanya dan menghadap kesamping. Matanya langsung terbuka lebar ketika melihat truk melintas dari samping dengan kecepatan diatas rata-rata. “WILL!!” “NONA STELLA!” Teriak Will kencang, Will ingin menolong Stella tapi posisinya tidak memungkinkan untuk menolong. Brukkkk, Brakkkkkkk Mobil Stella berguling-guling ditengah jalan karena tabrakan dari truk besar yang entah dari mana. “Nona Stella!” Panggil Will lemah, dengan susah payah Will keluar dari mobil dan menyelamatkan Stella. “Nona tetap sadar, Nona Stella!” Will begitu cemas dan membawa Stella jauh dari jangkauan mobil, ‘Sial!’ Umpat Will ketika menyadari Brook masih didalam mobil, “Brook bangun! BROOK BUKA MATAMU!” Teriak Will kencang sambil menepuk pipi Brook kencang. “Boss, saya baik-baik saja. Nona Stella?” “Cepat keluar!” Teriak Will karena mobil sebentar lagi meledak. Bummm….Doorrrrr Dentuman besar disertai api yang membakar mobil, jalanan sepi karena masih pukul 3 subuh. Will segera menelpon ambulan ditengah-tengah kesadarannya. Will menampar dirinya sendiri agar ia tidak pingsan. Brook sudah tumbang tidak sadarkan diri disamping Stella. Tidak lama dari itu ambulan datang, Will tersenyum lega. “Tolong selamatkan Nona Stella” ujar Will kemudian pingsan. $$ Semuanya keluarga Stella datang kerumah sakit, Ayah, Ibu, Bryan, Aletha bahkan Bara yang masih tidur digendongan Aletha juga dirumah sakit sekarang. Tidak hanya itu, keluarga dari Brook dan juga Will juga datang. “KAU CARI SIAPA YANG MENABRAK PUTRIKU! INI PASTI SUDAH DIRENCANAKAN! CARI HINGGA KETEMU JIKA TIDAK NYAWA KALIAN YANG MENJADI TARUHANNYA!” Teriak ayah Stella pada orang-orangnya. Polisi? Ayah Stella sama sekali tidak percaya pada polisi. Hanya mengandalkan orang-orangnya dan para kenalannya. Walaupun begitu orang-orangnya lebih bisa diandalkan dibandingkan polisi. “KENAPA DOKTER LAMA SEKALI KELUAR!” Teriak ayah Stella frustasi ingin menerobos masuk namun segera dicegah oleh Bryan. “Dad tenang, Dokter sekarang sedang menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan Stella” “Dimana Roy, sialan. Disaat dibutuhkan dia malah berlibur!” Geram Ayah Stella, Roy adalah dokter pribadi keluarga Stella, “Sayang tenangkan dirimu, sekarang kita berdoa pada Tuhan untuk keselamatan putri kita” ujar ibu Stella dengan lembuat, dalam situasi seperti ini ibu Stella membuang wajah sedihnya. Jika bukan dirinya yang menenangkan suaminya siapa lagi, ibu Stella tentu saja sedih. Siapa yang tidak sedih jika putrinya sedang dalam kondisi hidup dan mati. Ibu Stella ingin mati rasanya, jantungnya sempat berhenti berdetak. “Maafkan aku, kau pasti lebih menderita.” Ujar ayah Stella membuat ibu Stella langsung menangis dipelukan suaminya. “Sayang, sini biar Bara aku yang gendong” ujar Bryan mengambil alih Bara dari gendongan Aletha. Aletha tahu betul suami sekarang sedang khawatir. Dan Aletha tahu betul bagaimana kasih sayanh Bryan untuk Stella. Dulu bahkan Aletha sering merasa cemburu pada Stella karena kasih sayang yang Bryan berikan. 5 jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi, “dok, bagaimana keadaan putri kami?” Tanya ibu Stella cepat, membuat yang lainnya menatap dokter dengan penuh harapan. “Putri bapak dan ibu kritis, terlambat sebentar saja kami tidak bisa menyelamatkan putri bapak dan ibu. Untuk sekarang kami belum bisa memastikan kapan Nona Stella akan sadar” “KAU INGIN DIPECAT HAH! ATAU RUMAH SAKIT INI AKAN KUBAKAR, BAGAIMANA BISA PUTRIKU KRITIS DAN BELUM TAHU PASTI KAPAN AKAN SADAR, BERCANDA PUTRIKU TIDAK SELEMAH ITU.” Teriak ayah Stella yang kalang kabut. “Dad, tenang. Dokter telah melakukan yang terbaik. Sekarang, kita hanya bisa berdoa dan menunggu Stella sadar” ayah Stella menatap istrinya, perasaannya sekarang antara lega dan khawatir. Ketakutan yang sangat besar. “Kapan kami bisa melihat Stella dok?” Tanya Bryan “Setelah dipindahkan keruang rawat inap, Nona Stella sudah bisa dijenguk. Saya hanya bisa mendoakan semoga Nona Stella lekas sadar, saya permisi” ujar dokter itu pergi. Stella sudah dipindahkan keruang rawat inap Vip, semuanya berdoa agar Stella cepat sadar. Sementara itu Will dan Brook sudah sadar, mereka hanya cidera dan tidak parah. “Bagaimana keadaan Nona Stella?” Tanya Will pada istrinya. “Nona Stella kritis,” “Apa? Bagaimana ini bisa terjadi, seharusnya aku yang kritis bukan Nona Stella. Ini semua salahku” ujar Will penuh penyesalan. “Sayang, kau mau kemana? Dokter menyarankan mu untuk istirahat” “Aku ingin melihat Nona Stella” Will menangis, dadanya sesak. Ia sangat teledor sehingga Nona Stella kritis, Will berdiri didepan pintu tanpa masuk. Setelah melihat Stella, Will menutup pintu dan kembali keruang inapnya. Ruang rawat inap Stella dijaga oleh banyak bodyguard hingga keluar rumah sakit, ayah Stella tidak mau ambil resiko lagi. Ia sangat wanti-wanti dengan musuh-musuhnya yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Didalam ruang inap, ayah Stella menggenggam tangan Stella. “Sayang, bangunlah. Daddy janji akan menuruti semua keingananmu, jangan buat daddy hidup dengan jantung tidak berdetak sweety” ujar ayah Stella sambil menangis, ibu Stella juga masih menangis dipelukan Bryan. Sedangkan Aletha, ia keluar sebentar karena Bara menangis kencang. Mungkin Bara tahu keadaan aunty nya yang tidak baik-baik saja. Tok..tok… “Tuan, saya membawa informasi. Supir truk yang menabrak Nona Stella meninggal ditempat, dijasad supir truk ditemukan narkotika suntikan” “Sialan! Segera temukan orang yang memerintah supir truk” “Baik Tuan” Siapa? Ayah Stella tidak bisa memikirkan siapa pelakunya. Banyak sekali musuh yang ingin menghancurkan dirinya. Tapi, siapapun itu ayah Stella akan membuat perhitungan hingga membekas dan diingat selalu. Beberapa menit kemudian koki rumah sakit membawakan sarapan kedalam ruang inap Stella. “SIALAN! SIAPA YANG BUTUH MAKAN SEKARANG! SINGKIRKAN SEMUANYA” teriak ayah Stella namun segera ditenangkan oleh istrinya. “Sayang dengar, Bara, Bryan, Aletha, aku dan dirimu. Kita semua butuh asupan, jika tidak siapa yang akan menjaga Stella. Stella akan sedih jika daddy tidak makan hanya karena dirinya, jadi ayo kita sarapan. Selera tidak selera setidaknya makan sedikit saja” “Kau benar sayang, maafkan aku. Ayo, kau juga butuh sarapan” “Sayang kau sarapan duluan, aku akan menyuapi Bara terlebih dahulu” ujar Aletha membuat Bryan menggelengkan kepalanya. “Kita sarapan bersama sayang, Bara sarapan bersama bebysiternya” Aletha menganggukan kepalanya lalu memberikan Bara pada bebysiternya. “Tolong ya mbak” Semuanya sarapan, walaupun tidak berselera sama sekali mereka tetap memaksa untuk sarapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD