Bab 2

1099 Words
Stella membuka matanya dengan perlahan, gelap. Itulah yang pertama kali Stella lihat. ‘Apakah aku sudah sampai neraka?’ Batin Stella sambil melihat sekelilingnya. “Akh” Stella memegang kepalanya yang terasa amat sangat pusing. ‘Perban?’ Stella menyadari ia sekarang bukan berada dineraka. Tapi dimana dia? Siapa yang membawanya? “Kau sudah sadar? Minumlah” ujar Leon memberikan teh hangat pasa Stella. Stella mengangkat kedua bahunya lalu meminum teh dari Leon. Leon menatap Stella intens membuat Stella balik menatap Leon. “Why? Ada sesuatu dimataku?” Tanya Stella membuat Leon tertawa renyah, “Haha lucu” ujar Stella mencibir Leon. “Kau benar-benar tidak takut aku menaruh racun kedalam tehmu?” Tanya Leon bingung “Tidak” jawab Stella entang membuat Leon tersenyum. “Terima kasih tehnya, akhh” ujar Stella tertahan karena perutnya sangat nyeri. Lagi-lagi Leon dibuat tercengang oleh tingkah Stellah yang langsung mengangkat bajunya tanpa memperdulikan Leon didepannya. “Sial, memar” ujar Stella kembali menatap Leon. “Sepertinya aku harus menumpang tidur disini sampai perutku tidak nyeri” ujar Stella santai. “Hm” “Stella” ujar Stella memperkenalkan dirinya. “Leon” Leon pikir Stella main-main dengan perkataannya, ternyata Leon salah. Stella benar-benar menginap di penthousenya. Wanita ini benar-benar tidak mengenal takut. “Mobil yang mengikutimu...” “Nathan Jk, pria gila yang terobsesi olehku” jawab Stella sambil memakan mi instannya. Nathan Jk, siapa yang tidak mengenalnya. Perusahaan 20 besar yang bersaing dengan perusahaannya. Dan pria itu akan kembali bersaing denganya untuk Stella. “Kau benar-benar tidak mengenal takut, biasanya orang normal yang berada diposisimu sekarang akan bertanya-tanya dimana dia dan setelah tahu berada dirumah orang asing maka pergi” “Terima kasih karena telah menolongku semalam” ujar Stella tulus dan menampakan senyumnya membuat Leon terpesona. “Ck,” “Kau seorang pemarah dan pendendam” tebak Stella membuat Leon mengangkat kedua bahunya. “Siapapun wanita yang akan bersamamu pasti akan kesusahan menghadapimu” “Who know” Lalu keduanya sama-sama tertawa. $$ Stella benar-benar menikmati pemandangan dari kaca penthouse milik Leon, dari atas Stella bisa melihat laut yang menampakan langit sore. Stella telah memutuskan untuk menginap semalam lagi di penthouse milik Leon. Leon tidak melarang toh dia teramat senang ketika mengetahui fakta bahwa Stella dengan suka rela menginap ditempatnya. Senyum Stella mengembang ketika melihat bar kecil dipenthouse Leon, benar-benar Stella tidak bisa hidup tanpa wine. Walaupun Stella menggilai wine Stella bukan perokok. “ck, mau bersenang-senang sendiri” ujar Leon duduk disebelah Stella, Stella tersenyum miring lalu meminum wine nya. “kau merusak kesenangan” jawab Stella membuat Leon tersenyum. “berhenti bersikap konyol” ujar Stella tidak tahan dengan senyum konyol Leon, Stella menuangkan wine ke gelas Leon. “terima kasih” “hm” “berapa batas minummu?” “tidak terbatas” jawab Stella enteng membuat Leon tidak percaya. Malam ini benar-benar mereka habiskan untuk minum menikmati malam yang gelap, Leon sangat kagum pada batas minum Stella. Benar-benar tidak ada batasannya sama seperti dirinya. Tidak ada percakapan diantara mereka hingga mereka puas minum wine. Leon mengendong Stella ala pengantin baru menuju kamar, Leon meletakan Stella hati-hati keatas kasur. Betapa sempurna wanitanya. Leon benar-benar terpesona akan pesona yang Stella pancarkan. Pandangan Leon jatuh pada bibir merah Stella, benar-benar menggoda iman. Leon menggelengkan kepala ketika hati dan pikirannya bertolak belakang. Tapi, Leon tidak bisa menahannya ia mengecup bibir Stella. Hanya kecupan tidak lebih dan sialnya Leon menjadi ketagihan. Bibir Stella sudah menjadi candunya sekarang. Leon mencium Stella yang tidur terlelap, walaupun ciuman sepihak tapi Leon luar biasa sangat bahagia. Setelah puas mencium Stella, Leon mencium kening Stella. “wanitaku” Setelah menyelimuti Stella, Leon beranjak menuju sofa kamarnya. Leon adalah pria yang sopan terhadap wanita. Apalagi pada calon wanitanya. Leon bisa saja tidur dikamar sebelah karena penthousenya memiliki banyak kamar. Tapi, Leon tidak ingin. Leon ingin melihat wanitanya dari memejamkan mata hingga kembali membuka mata. Stella bangun dari tidurnya lebih awal dari pada Leon, ia tersenyum melihat Leon yang masih tidur pulas diatas sofa. Ck, Stella mengingat kejadian semalam. Sebenarnya Stella belum tidur ketika Leon menciumnya, dan kalau boleh jujur Stella hampir membalas ciuman Leon jika saja ciuman Leon lebih lama lagi. Stella menikmatinya, Stella tidak munafik. Stella masuk kedalam kamar mandi, ia harus segera membersihkan diri. Stella menelatakan asal pakaian kotornya. Berendam air panas membuat tubuh Stella nyaman. Sementara Stella mandi, Leon bangun dari tidurnya dan tidak mendapati Stella ditempat tidur. Leon bernafas lega ketika mendengar suara air dikamar mandi. ‘ah, ternyata mandi’ batin Leon bangkit dari duduknya dan keluar menuju dapur. Leon akan membuat sarapan untuk dirinya dan juga Stella. Stella sudah selesai mandi, karena Stella tidak memiliki pakaian ganti. Ia mengambil asal kemeja Leon yang kebesaran dibadannya. Benar-benar seperti wanita Leon saja. “sudah selesai mandi?” tanya Leon ketika Stella sampai didapur. “hm. Terima kasih sarapan” ujar Stella duduk disebelah Leon dan mulai menyantap sarapan. “siapa wanita cantik ini?” tanya seseorang membuat Leon tersedak sarapannya. “Mama?” tanya Leon menatap tidak percaya ibunya datang berkunjung. Hana mengabaikan Leon dan menghampiri Stella. “Stella tante” ujar Stella memperkenalkan dirinya. “kau sangat cantik sayang, jangan panggil tante panggil mama ya” jawab Hana membuat Stella tersenyum kaku dan menatap Leon tajam. “tan..ehh mama juga sangat cantik” “kau bisa saja sayang, siang ini kau ada waktu sweety?” tanya Hana menatap Stella berbinar. “emm, sepertinya tidak ada mam. Karena kegiatanku malam hari” jawab Stella jujur. “baguslah kalau begitu, hari ini mama ingin girl time bersamamu. Sudah lama sekali mama ingin pergi kesalon bersama anak perempuan mama” “mama tidak bertanya apa pekerjaanku malam hari?” “memangnya harus? Pekerjaan itu pilihan, apapun yang kau kerjakan pasti itu pekerjaan yang membuatmu bahagia. So, untuk apa mempermasalahkannya” “aku DJ mam, biasanya orang-orang akan...” “akan apa? Mengejek? Mereka itu adalah orang yang berpikiran sempit jika memang menghujat pekerjaanmu” “terlebih dari itu, kau adalah satu-satunya wanita yang pernah dibawa Leon ke sini. Berarti kau istimewa bagi putra bodoh mama” Stella tidak bisa berkata-kata, ia mengangguk mengiyakan ajakan Hana untuk girl time bersama. Sedangkan Leon didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia bersorak senang karena ibunya memberikan lampu hijau. Tidak seperti biasa, biasanya ibu Leon akan mengintrogasi setiap wanita yang ia kencani dengan menyeramkan. Tapi tidak dengan Stella, bahkan Hana mulai mengakrapkan diri dengan Stella. “mam..” “yes sweety?” “omong-omong aku tidak ada pakaian untuk pergi keluar” “LEON! ADA APA DENGAN KEPALAMU ITU! CEPAT PESANKAN BAJU UNTUK STELLA SEKARANG JUGA!” “siap ma”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD