Bab 3

1087 Words
Stella dan Hana mereka berbelanja bersama, makan siang bersama, dan kesalon bersama. Intinya Hana sangat senang dengan kepribadian Stella yang jujur dan apa adanya tanpa ingin melebih-lebihkan dirinya. Bahkan Hana dan Stella sekarang sudah lebih akrab. Satu langkah menuju masa depan, itulah yang sekarang Leon pikirkan. ‘kerja bagus mam, terima kasih’. Leon membiarkan Stella pergi, bukan apa-apa Leon tidak ingin Stella menjauhinya karena bersikap berlebihan pada Stella. Setelah Stella berbelanja bersama ibunya, Stella memutuskan untuk pulang kekediamannya. Leon bisa apa selain mengizinkan Stella pulang. Toh, Stella masih dalam tahap menjadi miliknya. Stella sampai dirumahnya, ia segera membaringkan diri diatas kasur. Berjalan seharian dan bershoping ria membuatnya kelelahan. Senyum terbit diwajah cantik Stella melihat tas belanjaannya. $$ Prang! Gelas digenggaman Leon pecah, ia sangat marah sekarang. Didepannya Stella sedang b******u dengan pria yang Leon tidak tahu. Leon cemburu, Leon tidak suka wanitanya b******u dengan pria lain. Tapi, Leon juga melupakan fakta bahwa Stella masih belum menjadi miliknya. Stella adalah wanita bebas yang berhak melakukan apa saja dan dengan siapa saja. Leon tidak menghentikan Stella, bukan karena ia sadar diri. Tapi, karena Leon tidak ingin Stella menjauh darinya karena sifat cerobohnya. Leon mematikan rokoknya lalu pergi keluar menyusul pria yang tadi b******u dengan Stella diatas panggung. Tanpa aba-aba Leon langsung menghajar pria itu tampa memberi jeda untuk pria itu membalas pukulannya. Leon tersenyum mengejek. “ternyata hanya ini kemampuanmu,” “siapa kau! Kau akan segera mati setelah ini” “Leon Pradipta, tentu kau harus tahu siapa aku. Jangan mencoba mendekati Stella lagi jika masih ingin hidup dan ya kau tahu betul siapa yang akan mati setelah ini” ujar Leon dengan suara dingin nan mengancam membuat pria itu langsung terdiam, mati kutu. Siapa yang tidak mengenal Leon Pradipta, hanya orang-orang t***l yang tidak mengenal Leon. Dan mengenai ancaman tadi, pria itu benar-benar tidak akan mendekati Stella lagi jika tidak pria itu akan benar-benar mati ditangan Leon. Leon pergi begitu saja, ia kembali masuk kedalam club. Hanya duduk dan memperhatikan Stella dari jauh. Stella tentu sadar betul jika ia sedang diperhatikan oleh Leon, tapi Stella tetaplah Stella. Ia tidak peduli, mau apa yang Leon lakukan. Bukan hanya Leon, bahkan Stella mengabaikan banyak pria. Omong-omong Stella telah kehilangan teman kencannya malam ini. Entah dimana pria itu sekarang. “perintahkan orang-orang yang ada didalam club ini kecuali Stella, jangan ada yang pulang setelah Stella pulang” perintah Leon pada pemilik club. Leon is the boss, wajar saja ia memerintah pemilik club. “baik tuan” Leon kembali menyesap winenya tapi pandangannya tidak lepas dari Stella. Stella menghampiri Leon karena jengah dengan pandangan mengjengkelkan dari Leon. “posesif hm” ujar Stella duduk disebelah Leon dan mengambil paksa wine milik Leon. “Ya tentu saja” jawab Leon santai. “ck, tidak seru sekali” ujar Stella meletakan wine diatas meja. “GAES AKUU PULANG DULUAN!” pamit Stella lalu keluar dari club. Leon menatap punggung sexy Stella hingga hilang dikerumunan. “Nona Stella sudah pergi dengan taksi, tuan” Leon mengangguk mengerti. “segera kumpulkann semua orang” “baik tuan” Musik dengan dentuman keras dan lampu club mati membuat club yang ramai menjadi hening. Satu sumber cahaya kini milik Leon, dan cahaya itu mengikuti Leon hingga ditengah-tengah panggung. “AKAN KU PERSINGKAT, STELLA ADALAH MILIKKU, WANITAKU. JAUHKAN MATA KERANJANG KALIAN DARINYA, JANGAN COBA-COBA MENDEKATINYA ATAU KALIAN AKAN MATI!” Leon mengumumkan dengan suara yang mengerikan sehingga membuat pengunjung setia bar merinding. $$ Sudah tiga jam Stella berendam air hangat, dan air hangat itu tentu saja sudah dingin sekarang. Stella membuka matanya dan meregangkan otot lehernya. “Akhh” Stella memejamkan matanya, kakinya keram dan tidak bisa bergerak sama sekali. Stella memejamkan matanya pasrah, Ketika persedian oksigennya akan habis, Stella membuka matanya. Ia tidak boleh mati, masih banyak club malam yang belum ia kunjungi disetiap negara. Stella berusaha bangun dengan sekuat tenaganya. Stella menarik nafasnya dalam-dalam, ‘aku masih hidup’ gumannya pelan lalu beranjak dari bathtub. Stella segera mengganti pakaiannya dan tidur. Stella tidak bisa tidur, ia sudah mengubah banyak posisi tapi masih tetap saja tidak bisa tidur. Stella memejamkan matanya sebentar lalu bangkit dari tempat tidur. Disinilah Stella sekarang, dibalkon apartemennya. Ia melihat langit dengan sedikit bintang yang menemani kesunyian malam. Dingin tapi Stella suka, sesekali Stella meminum winenya dan menatap langit. Entahh sudah berapa lama Stella berdiri, intinya ia masih belum ada niat untuk kembali tidur. $$ Stella membuka matanya dengan malas karena ada yang berniat membuka apartemennya dengan paksa, ‘mengganggu saja’ batin Stella bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu. ‘Daddy? Mommy?’ ujar Stella pelan ketika melihat dari lubang kecil pintunya, ibu dan ayahnya lah yang berniat masuk tapi tidak tau sandi apartemennya. “astaga dear, akhirnya kau membuka pintu” ujar Bunga masuk menyusul suaminya yang sudah masuk terlebih dahulu. “Mulai besok kau sudah harus ditemani oleh bodyguard daddy” ujar Martin tanpa basa-basi membuat Stella memutar bola matanya dengan malas, ah beritanya sudah sampai kepada daddynya ternyata. “tidak mau” jawab Stella malas berdepat. “harus mau, daddy hanya mau kau aman dari para penjahat dan musuh-musuh daddy” “come on dad, aku akan menjaga diriku sendiri tanpa mereka” “kalau begitu kau harus pulang atau daddy akan tinggal disini. Daddy tidak mau ambil resiko yang sangat mengerikan bahkan dengan bayangan saja daddy tidak sanggup membayangkannya” “sayang, kau harus mendengarkan daddymu sekarang. Ini demi keselamatanmu” ujar Bunga membuat Stella menggelengkan kepalanya pelan. “kalau begitu Stella akan menghilang” “keras kepala sekali” “jangan lupakan aku duplikat daddy” jawab Stella mengejek Martin, Bunga terkekeh pelan. Suami dan putrinya benar-benar duplikat sejati. “ternyata daddy memang tidak ada pilihan, mom ayo kita pulang” “ayo dad, sayang mommy dan daddy pulang ya” “hm, hati-hati” “Ah, satu lagi..” ujar Martin berhenti didepan pintu apartemen Stella. “Daddy akan mencarikanmu calon suami!” ujar Martin membuat Stella melotot. “Stella bisa mencarinya sendiri” “sampai kapan? Sampai daddy dan mommy jadi kakek-nenek? Ini adalah jalan terakhir agar kau aman, daddy akan mencarikanmu pria kuat yang bisa melindungimu 24 jam” “Stella akan menghilang” “Daddy akan mencarimu sampai keujung dunia sekalipun” “DADDY!” “bye, kami pulang” ujar Martin menutup pintu apartemen Stella. ‘sialan’ umpat Stella sambil menjambak rambutnya, ia sudah menduga ini ayahnya itu tidak akan menyerah secepat itu dalam perdebatan mereka. Dan inilah yang terjadi, Stella mati kutu dan daddynya menang. 1-0, 1 untuk ayahnya dan 0 untuk dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD