Sial
Stella menggeram kesal karena Martin ayahnya benar-benar mengirim bodyguard ke apartemennya. Bukan hanya 1 atau 2 bodyguard yang Martin kirim namun 10.
“kalian boleh pulang sekarang!” perintah Stella dengan menekan suaranya, namun dari ke10 bodyguard itu tidak ada yang bergeming dari tempatnya.
“kalian dengar tidak?!”
“maaf Nona, kami sudah ditempat seharusnya. Sekarang tugas dan rumah kami adalah Nona. Itu adalah perintah mutlak Tuan besar” ujar kepala budyguard.
“terserah saja. Jangan pernah halangi langkahku. Selebih dari itu aku tidak peduli apa yang kalian lakukan” ujar Stella lalu menutup pintu apartemennya.
“baik Nona”
Stella tidak bisa berkata-kata lagi, walaupun Stella menolak dan mengusir bodyguard yang Martin kirim karena perintah mutlak ayahnya.
Lagi-lagi Stella kalah dari ayahnya.
“4 orang berjaga termasuk aku, sisanya kembali kemarkas!” perintah Will kepala bodyguard
“baik boss!”
Sementara Stella berusaha menghubungi ayahnya, tapi ayahnya sama sekali tidak mengangkat telponnya. Mengesalkan saja.
Stella mulai bosan, ia mengintip pintu apartemennya. Bodyguard yang dikirim ayahnya benar-benar berjaga didepan pintu apartemennya.
Stella mengambil kunci mobilnya dan bersiap pergi, ia merasa sempit karena para bodyguard yang terus berjaga.
“Nona, biar saya yang membawa mobil” ujar Will membuat Stella langsung menatap Will tajam.
“aku saja, kau dan yang lainnya berjaga disini”
“saya akan mengantar Nona, karena itu adalah tugas saya”
Stella menyerahkan kunci mobilnya dengan pasrah.
“2 orang tingga, yang lainnya ikut aku dari belakang” perinta Will membuat yang lainnya menganggukan kepala.
“baik boss”
“kemana tujuan Nona?” tanya Will sopan
“ke Neraka” jawab Stella asal
“baik Nona” jawab Will tidak mempermasalahkan jawaban asal Nonanya.
Stella sangat tidak menyukai bodyguard, alasannya sudah jelas. Itu karena Stella akan menjadi pusat perhatian banyak orang. Dari tk Stella sudah menjadi perhatian banyak orang dan tak anyal Stella juga tidak mempunyai teman karena takut pada bodyguard yang selalu bersamanya. Stella hanya mempunyai 1 teman, tapi sudahlah lupakan saja.
Stella baru bebas dari para bodyguard 6 bulan lalu dan sekarang bodyguard itu kembali padanya. Hilang sudah hidup 6 bulannya yang bebas dari bodyguard.
Sudah 2 jam Will mengendarai mobil dan sepertinya Nonanya tidak berniat untuk turun atau pergi kemanapun hari ini.
$$
Leon menurunkan kacamatanya, pekerjaanya benar-benar menumpuk beberapa hari ini. Leon menyesap kopinya lalu kembali ke berkasnya.
Sesekali Leon menatap layar ponselnya, Leon sedang tidak menunggu panggilan dari siapapun. Leon hanya menatap layar ponselnya yang disana ada foto Stella. Stella sudah menjadi penyemangat hidupnya, Leon bahkan tidak berhenti tersenyum setelah melihat foto Stella.
Tok..tok...
“masuk!”
“Pak Leon, saya datang mengingatkan pukul 10 tepat rapat dewan akan dimulai”
“setelah rapat, apa jadwalku selanjutnya?”
“setelah rapat, bapak ada makan siang bersama pak Jovan setelah itu jadwal bapak tidak ada lagi”
Leon menganggukan kepalanya lalu membereskan mejanya, sebentar lagi rapat akan dimulai.
$$
Stella membuka matanya, ia tertidur selama Will menyetir entah berapa lama ia tertidur.
“jam berapa sekarang Will?” tanya Stella masih enggan untuk membuka matanya.
“pukul 1 siang Nona, waktunya Nona makan siang” jawab Will, Stella memperhatikan sekitarnya. Sekarang mereka sudah didepan restoran.
“aku lapar, kenapa tidak membagunkan aku dari tadi” ujar Stella tampak kesal
“Nona tidur dengan nyenyak”
Stella tidak bicara lagi, ia langsung keluar dari mobil. Tentu saja Will dan bodyguard lainnya langsung turun dari mobil mengikuti Nona mereka yang sekarang sudah masuk kedalam restoran.
Lagi, Stella menjadi pusat perhatian. Banyak yang berbisik-bisik membicarakannya. Stella menulikan telinganya, toh ini sudah menjadi bagian dari dirinya.
Stella memesan banyak makanan dari berbagai menu, tidak lama kemudian meja sudah dipenuhi oleh makanan yang dipesan oleh Stella.
“kalian duduklah, aku tidak mau makan sendirian” perintah Stella.
“Baik Nona”
Stella mulai menyuap makanannya namun berhenti diudara. Ia menghela nafas kasar.
“kenapa hanya diam? Kalian makanlah juga”
“tapi Nona...”
“tugas kami hanya menjaga keamanan Nona” jawab Will membuat Stella menggeram lalu bangkit dari duduknya.
“Nona mau kemana?”
“pulang, aku sudah tidak nafsu lagi makan” jawab Stella.
“tapi Nona harus makan, Tuan sebentar lagi akan menelpon” ujar Will membuat langkah Stella terhenti.
“mangka dari itu, kalian harus makan juga bersamaku. Lagian uang daddy tidak akan habis hanya untuk makan saja”
“tapi Nona...”
“terserah, aku mau pulang. Kalau daddy menanyakan akan ku jawab kalian penyebab aku tidak makan”
“baik Nona, kami akan makan bersama Nona” ujar Will akhirnya menyerah.
“ah, kau lama sekali Will. Aku sudah sangat lapar”
Stella duduk kembali lalu mulai menyantap makan siangnya, diikuti oleh bodyguardnya.
“ini salah kalian, kenapa kalian kembali menjadi bodyguardku”
“tidak ada yang salah Nona, ini pekerjaan kami”
“WILL!”
“iya Nona.”
“tenagaku sudah habis padahal aku masih makan sekarang”
“hahaha” tanya para bodyguard pecah.
“kalian diam!”
“hahaha” bukannya diam, mereka malah kembali tertawa. Bagi mereka Stella sangat lucu. Karena dari Stella kecil mereka sudah mulai mengawasi Stella.
“Will, kau juga jangan tertawa”
“maaf Nona”
Tidak jauh dari meja Stella, Leon diam-diam sedang mengamati Stella dari jauh. Bahkan Jovan klientnya sudah pulang duluan, tapi Leon masih setia melihat Stella. Leon merasa iri pada para bodyguard yang sekarang sedang tertawa bersama Stella. Ingin rasanya Leon bertukar posisi sekarang juga.
Stella sedang merasa dirinya sedang diawasi seseorang, mata elangnya langsung mencari siapa yang sedang mengawasinya sekarang.
“Ck. Pria itu” ujar Stella pelan tanpa disadari siapapun
“Nona mengenal pria itu?” tanya Will yang sadar dari tadi Leon terus memperhatikan Nonanya.
“tidak” jawab Stella sambil mengangkat kedua bahunya.
“Nona harus berhati-hati dengan pria itu”
“hm”
$$
Leon tetap berada diposisinya hingga Stella keluar dari restoran, bisa-bisanya Leon terhipnotis oleh kecantikan Stella. Leon benar-benar jatuh sedalam-dalamnya pada Stella.
“Pak Leon, bapak akan kembali kekantor atau langsung pulang?” tanya Angel sekretaris Leon
“pulang”
“baik pak, kalau begitu saya akan kembali kekantor”
Sesampainya di penthousen Leon langsung membaringkan diri diatas kasur, lelah sekali. Padahal baru pukul 2 siang. Pekerjaan Leon beberapa hari yang lalu benar-benar menguras energinya.
Leon memejamkan matanya, ia harus istirahat agar malam kelak ia kembali bugar. Malam nanti Leon akan datang ketempat Stella bekerja jadi jangan sampai Leon kelelahan dan tidak bisa melihat wanitanya malam ini.
$$
Stella sekarang sedang mengeringkan rambutnya, tiba-tiba saja ia teringat pada Leon. Namun Stella dengan cepat menggelengkan kepalanya. Jangan sampai tergoda, Leon pria itu tidak pernah serius pada wanita. Terbukti dengan teman model atau teman sesama dj yang sudah kencan satu malam dengan Leon. Stella hanya menganggap Leon angin lalu yang menyukai surgawi wanita.