Hari itu, Asta menjaga toko kerajinan milik ayahnya karena Madhiaz harus menyelesaikan pesanan cangkir arak dan set peralatan minum teh dari pelanggan. Hal yang paling disukai pelanggan dari karya Madhiaz adalah karena Madhiaz selalu mengeluarkan ide-ide baru dan unik. Sangat berbeda dengan semua kerajinan yang pernah ada sebelumnya.
Sebenarnya, Asta sempat belajar mengenai pembuatan berbagai kerajinan dari Madhiaz, tetapi tangannya sangat tidak terampil. Jangankan indah, bentuknya saja selalu aneh dan mudah hancur. Karena ia hanya membuang-buang bahan, Asta pun berhenti belajar dan lebih sering membantu proses pembakaran.
Dan semenjak ada Ruhi, Asta tidak lagi merasa bosan saat menjaga toko. Memang, sejak memutuskan tinggal bersama Asta, Ruhi sering membantu Asta dan Madhiaz melakukan pekerjaan sehari-hari. Entah itu menjaga toko, membantu pekerjaan Madhiaz, mencari kayu bakar, bahkan berburu.
Terkadang, Asta juga melakukan pekerjaan serabutan jika ada warga desa yang membutuhkannya, seperti berkebun atau bertani, dan tentu Ruhi mengikuti ke mana pun ia pergi. Dan dari sana, para warga bisa melihat bahwa Ruhi sama sekali tidak berbahaya. Malah terkesan pendiam, penurut dan penakut.
Tak sedikit pula orang-orang dari desa datang hanya untuk melihat Ruhi. Bagaimanapun, memiliki binatang iblis tingkat 4 itu sesuatu yang langka dan luar biasa. Jika pihak Kerajaan mendengar hal ini, mereka pasti akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Ruhi. Dengan alasan akan dijadikan kekuatan militer negara. Kecuali jika binatang iblis tersebut sudah mengikat kontrak dengan pemiliknya. Karena itulah Madhiaz memberitahukan pada orang lain bahwa Ruhi adalah demon beast tingkat 3 yang bahkan transformasinya pun belum sempurna.
Asta memandangi Ruhi yang terlihat tidak nyaman karena dipandangi oleh empat orang anak-anak seumuran Ruhi yang berjongkok berjajar, menatapnya penasaran sekaligus takut.
“Hey, apa kau tidak memakan manusia?” tanya anak berbaju cokelat sambil melipat tangan di atas lutut.
“Ti-tidak!” jawab Ruhi sedikit panik.
“Benarkah?” tanyanya agak sangsi.
Ruhi mengangguk pelan. Ekornya bergoyang-goyang karena gugup.
Asta mendengkus lalu menyahut, “Tapi, dia akan memakan bocah nakal dan suka mengejek orang lain seperti kalian!” Seketika membuat anak-anak itu ketakutan.
“Kami tidak nakal!” seru mereka tidak terima.
“Hmph! Omong kosong,” Asta memalingkan muka tidak percaya. Lalu mulai ribut-ribut dengan tiga anak yang terus membantah perkataannya. Sementara satu anak terus menatap Ruhi tanpa berkedip.
Drew yang baru datang dan melihat hal itu hanya geleng-geleng kepala. Lagi-lagi Asta ribut dengan anak-anak. Terkadang, ia memang tidak bertingkah sesuai umurnya. Tidak mau kalah dan keras kepala, bahkan melawan anak-anak sekalipun dia tidak akan mengalah.
“Bolehkah aku melihat wujud binatangmu?” tanya Elgey, anak yang terus menatap Ruhi. Tiba-tiba membuat keheningan. Drew yang tadinya mau menyapa Asta pun tidak jadi melakukannya.
Ruhi tampak kelabakan. “T-tidak, mungkin kau akan takut.”
“Aku tidak takut, aku ingin lihat. Ya?” Ia memohon, lalu menoleh pada Asta. “Asta, boleh, kan? Kau bilang dia tidak bahaya.”
Asta yang mendengar itu berpikir sejenak, lalu mengiakan. “Boleh, asal kalian jangan sampai pipis di celana saja.”
“Tidak akan!” seru semua anak-anak kompak protes.
“Wah, wah, ada acara apa ini? Apa kalian sedang melihat pertunjukan?” Tiba-tiba orang yang tidak diundang bertambah.
Asta berdecak malas melihat siapa yang datang. Dia adalah Darby, anak bungsu Tuan Gaedi yang merupakan pemilik lahan pertanian terluas di Desa Wayne. Anak yang selalu mencari masalah dengan Asta dan Drew. Ia juga sangat angkuh dan sok berkuasa, hanya karena keluarganya berkerabat dekat dengan bangsawan di kota ini.
Kini, ia datang bersama dua antek-antek yang selalu mengekor layaknya anjing setia.
“Oh, ada apa gerangan Tuan muda datang ke tempat seperti ini?” sambut Drew memasang senyum tertahan.
“Kakak Drew! Kau di sini?” sambut Asta riang.
Drew tersenyum. “Ya, aku juga belum lama datang.”
“Oh? Rupanya Tuan muda Drew juga di sini. Sepertinya kau sangat senang bermain di tempat kumuh seperti ini. Apa kau tidak takut tertular oleh wajah penyakitannya?”
Drew mengerutkan kening. “Jaga ucapanmu, Darby.”
“Hah. Memang apa yang salah dengan ucapanku? Kalau bukan penyakitan, lalu apa? Kutukan? Uhh ....” Darby bergidik ngeri. “Aku tidak mengerti kenapa kau bisa tahan bersamanya.”
Sebelum Drew kembali membalas, Asta segera bertindak dengan memasang senyum paksa. “Dan ada apa gerangan Tuan muda yang sempurna mendatangi tempat kumuh ini?”
“Hmph! Aku hanya ingin melihat seburuk rupa apa binatang iblis yang ramai dibicarakan orang-orang.”
“Benar, kau harus bersyukur karena Tuan muda Darby mau mendatangi tempat seperti ini,” timpal antek-anteknya.
Asta memutar bola mata. “Wah! Aku sangat bersyukur. Hahaha! Tolong jangan berlama-lama, nanti kalian bisa tertular kemiskinan dan penyakitan, aku tidak bisa bertanggung jawab.”
“Ck! Diam kau, Buruk rupa!” Darby mendorong Asta lalu mengedarkan pandangan ke sekitar dan melihat anak-anak yang sedang menatapnya, di belakang mereka ada sosok anak berambut putih dan berkulit pucat, bola mata merah dengan telinga dan ekor binatang serigala.
Sejenak, ia dan dua kawannya tampak kaget. Mungkin tidak mengira kalau bintang iblis akan berwujud secantik dan selucu itu.
Asta tersenyum sinis, “Bagaimana? Bukankah dia terlihat cantik dan menggemaskan?”
Sementara Ruhi makin terlihat tak nyaman. Darby yang merasa diejek, mendekati Ruhi lalu mendorongnya hingga tersungkur di tanah. “Hey, kau pasti sedang menyamar, kan? Cepat tunjukkan wujud aslimu!” serunya sambil menendang Ruhi. “Cepat, kubilang!”
“Akh!” Ruhi kesakitan karena rambutnya ditarik kuat-kuat.
Melihat itu, Asta segera menghampiri keduanya. “Apa yang kau lakukan?!” Ia segera melepaskan tangan Darby dan mendorongnya menjauh dari Ruhi.
“Ruhi, kau tidak apa-apa?”
Ruhi mengangguk pelan, beringsut ke belakang Asta.
“Beraninya kau mendorongku! Hah! Apanya yang binatang iblis? Dia sangat lemah dan payah!”
Asta sangat geram. “Apa masalahmu?!”
Darby tertawa. “Si buruk rupa dan seekor binatang iblis, benar-benar perpaduan yang cocok,” ejeknya.
Dua temannya ikut tertawa. “Benar, benar! Hahaha.”
Asta mengernyit tidak suka. Ia balas mendorong Darby hingga tersungkur, lalu berkacak pinggang. “Aku tahu kau tidak suka padaku. Tapi apa masalahmu dengannya?” Ia juga balas menendang Darby keras-keras.
“Ah!”
“Dia adalah temanku, kalau kau berani menghinanya, kau berurusan denganku.” Asta juga menjambak rambutnya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Draby pada Ruhi.
“Argh! Kau!” Darby mencoba melepas tangan Asta tapi genggaman tangannya terlalu kuat.
Drew yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala dan menghela napas. Asta adalah orang yang tidak masalah jika dirinya dihina, tapi ia tidak akan diam jika kerabatnya dihina atau diperlakukan seenaknya. Ia akan membalas dengan harga setimpal atau bahkan lebih.
“Tuan muda!” Dua antek-anteknya panik dan berniat membantu.
“Diam, kalian!” Darby lalu menendang perut Asta sekuat tenaga hingga Asta terdorong dan melepaskan tangannya dari kepala Darby.
Mereka lalu berkelahi dengan saling dorong atau saling pukul. Ruhi yang cemas beberapa kali memanggil Asta agar berhenti, tapi Asta tak mendengar.
Drew menghela napas. Ia lantas menarik pedang di pinggangnya, mengalirkan mana lalu mengayunkan pedangnya dan mengeluarkan fire blade—yang merupakan salah satu skill miliknya—ke arah tanah dekat Darby. Sontak, membuat Asta dan Darby berhenti.
Serangan itu memang tidak membahayakan, karena Drew memang hanya bermaksud memperingatkan. Hanya saja mampu membuat Darby terkejut setengah mati.
“Sudah cukup. Darby, bukankah kau hanya ingin melihat binatang iblis itu? Karena kau sudah melihatnya, sekarang pulanglah. Jangan buat masalah lebih dari ini,” tegas Drew.
Darby tampak kesal tak terima. Hal yang selalu membuat ia kalah dari Drew adalah karena selain pandai berpedang, Drew memiliki kemampuan sword infusion. Di mana ia bisa mengalirkan mana pada pedangnya dan menggunakannya menjadi skill berpedang.
“Awas saja kalian, terutama kau! Lihat saja nanti,” Darby memelototi Asta lalu pergi bersama dua antek-anteknya dengan wajah mengeras sempurna.
Asta hanya berdecih tanpa menyahuti ucapannya. Sudut bibirnya terasa sakit.
Drew segera menghampiri Asta. “Kau tidak apa-apa?”
“Ugh ... dia sangat menyebalkan! Aku ingin sekali mematahkan hidung panjangya itu!” sungut Asta kesal. Selama berkelahi, ia menahan diri agar tidak membuat Darby terluka parah, karena jika begitu, ia dan Madhiaz yang akhirnya akan terkena masalah.
“Kau sudah melakukan hal yang benar,” Drew menepuk-nepuk kepala Asta sambil tersenyum. “Akan merepotkan berurusan dengan keluarganya.”
Asta cemberut. Di sisi lain, Ruhi menunduk, merasa takut dan bersalah. “Asta ... Ruhi minta maaf. Gara-gara Ruhi ... Asta jadi terluka,” Ruhi tiba-tiba menangis. “Maafkan Ruhi ....”
Asta langsung kelabakan. “H-hey! Tidak, tidak! Ini bukan salahmu, Ruhi! Anak itu memang picik dan suka mencari masalah! Sudah, berhenti menangis. Kau itu laki-laki, kenapa kau mudah sekali menangis, huh?”
Ruhi masih terisak. “Tapi ... Asta terluka ....”
“Tsk. Luka seperti ini tidak membuatku sakit sama sekali. Lihat! Aku baik-baik saja. Sudah, berhentilah menangis.”
Perlahan, Ruhi pun mulai berhenti menangis. “Maaf ... terima kasih sudah membela Ruhi.”
Asta tersenyum. “Kau kan, temanku, tentu saja aku akan membela dan membantumu! Tapi, kenapa kau diam saja dan tak melawan? Seharusnya kau bisa mengalahkannya dengan mudah, kan?”
Ruhi menunduk. “Ruhi tidak mau membuat masalah untuk Asta dan Paman. Kalau Ruhi menyakiti orang desa, mereka akan menyalahkan Asta dan Paman juga.”
Mendengar itu, Asta dan Drew saling pandang sejenak. Lantas Asta tersenyum. Ia berlutut agar bisa melihat wajah Ruhi. “Ruhi, dengar. Yang kau katakan memang benar. Tapi, membela diri juga tidak salah. Jangan diam saja saat ada seseorang yang mencoba menyakitimu, mengerti?”
Ruhi memandangi Asta lama, tampak ragu, lalu berkata, “Ruhi boleh melakukannya?”
Asta segera mengangguk dan tersenyum. “Kau tidak boleh membiarkan orang lain menyakitimu. Kau harus melindungi dirimu sendiri. Mengerti?”
Perlahan, Ruhi mengangguk. “Ya, Ruhi mengerti.”
“Bagus,” ucap Asta mengusap kepalanya. “Kau tidak terluka, kan, tadi?” tanyanya kemudian. Memperhatikan tubuh Ruhi.
Ruhi menggeleng.
“Baguslah,” ucapnya lalu melihat ke arah anak-anak yang sedari tadi menjadi penonton. “Kalian belum pulang?”
Anak-anak langsung cemberut, “Kita, kan mau melihat wujud binatang iblis Ruhi!” serunya protes.
“Ya! Benar! Aku ingin melihatnya!”
Asta berdecak dan berkacak pinggang. “Kalian ini benar-benar ....”
“Ayolah, Asta ... ya? Ruhi, kau tidak apa-apa kan menunjukkannya pada kami?”
Mereka memandang Ruhi dengan tatapan memohon. Ruhi terlihat serba salah.
“Uh ....”
“Kalau kau tidak mau, tidak usah. Lakukan saja sesuai keinginanmu,” ucap Asta pada Ruhi.
Setelah berpikir sejenak, Ruhi pun memutuskan untuk melakukannya. Ia bertransformasi menjadi serigala putih dengan mata merah. Ada sebuah tanda warna hitam berbentuk seperti mahkota di bawah mata kirinya. Ukuran Ruhi pun lebih besar dari serigala biasa, sampai bisa dinaiki oleh Asta.
“Waaah ....!” Anak-anak pun terpana.
“Bulunya sangat cantik!”
“Dan lembut!”
“Matanya sangat keren!”
“Besar sekali!”
Asta tertawa. “Benar, kan? Dia juga sangat kuat!”
“Wah! Benarkah?”
“Tentu saja!” ujarnya membanggakan Ruhi.
“Be-benar tidak makan manusia?” tanya si anak berbaju cokelat lagi.
“Benar,” jawab Ruhi.
“Tapi, bukankah monster suka makan manusia?” tanya anak yang lain.
“Ruhi bukan monster!” protes Asta lalu meringis karena bibirnya yang terluka terasa sakit dan perih.
Melihat itu, Drew pun mengajak Asta masuk ke dalam rumah untuk mengobati lukanya. Asta menurut, ia lalu menyuruh Ruhi untuk bermain dulu bersama anak-anak yang tampak antusias ingin menungganginya.
“Kalau terjadi sesuatu, segera panggil aku,” ucap Asta sebelum pergi, mengelus kepala Ruhi sejenak. Lantas masuk ke rumah bersama Drew.
Ruhi memandangi Asta, lantas tersenyum. Dalam hati bersyukur, ia bertemu dengan seseorang sebaik Asta.