5 – A Simple Person

1358 Words
Madhiaz yang melihat Asta masuk bersama Drew hanya geleng-geleng kepala. “Lagi-lagi kau berkelahi,” komentarnya. Asta langsung cemberut. “Huh, si anak hidung panjang itu yang tiba-tiba datang dan membuat keributan. Ini bukan salahku!” Drew mengambil kotak obat di tempat yang sudah sangat ia hafal letaknya. Seolah-olah rumahnya sendiri, saking terbiasanya. “Setidaknya, kau harus belajar menghindari pukulan, anak bodoh,” ujar Drew. Asta langsung mencebik, menunggu Drew selesai mengolesi salep di bibir dan tangannya yang terluka. “Omong-omong Kakak Drew, ada perlu apa ke sini?” tanyanya ketika Drew selesai mengoleskan salep di wajahnya. “Ah, benar. Aku ke sini untuk menawarimu pekerjaan,” ucap Drew berjalan untuk kembali menaruh kotak obat. Lalu kembali duduk di hadapan Asta. “Kau belum bekerja lagi setelah keluar dari kediaman Tuan Gaedi, kan? Kebetulan di rumahku sedang butuh pekerja baru. Apa kau mau?” Asta tampak berpikir sejenak. Sebelumnya, dia memang bekerja di kediaman Tuan Gaedi untuk mengurus tanaman herbal milik keluarga tersebut. Tetapi, Darby selalu mengganggu dan mencari gara-gara dengannya. Para pekerja lain pun tidak menyukainya, ia sering diganggu dan dikucilkan, bahkan difitnah mencuri sampai akhirnya ia dipecat. Ia bahkan tidak akan heran jika Darby dan para pekerja bersekongkol untuk mengeluarkannya. Asta tahu, ia banyak tidak disukai daripada disukai, jadi ia memilih keluar tanpa protes. Toh, apa pun yang akan ia katakan tidak akan ada orang yang membelanya di sana. Dan hal itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Asta. Sekarang, ia sedang tidak ingin bekerja pada siapa pun. “Terima kasih, Kakak Drew. Tapi, sepertinya aku harus menolak. Kau tahu sendiri para pelayan di rumahmu tidak menyukaiku. Apalagi Nyonya Muela. Dia pasti tidak akan membiarkanku bekerja di sana.” Drew menghela napas. Dia tahu hal itu, tapi dia ingin sedikit membantu Asta. Baginya, Asta adalah teman yang berharga. Bahkan sudah ia anggap adik sendiri. Tidak seperti orang lain yang mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya, lalu membicarakannya di belakang sebagai Tuan Muda yang suka bermain-main. Asta adalah orang paling jujur yang dia kenal. Jika tidak menyukai atau membenci sesuatu, Asta akan mengatakannya tanpa ragu. Pemuda yang apa adanya. “Kakak Drew orang yang sangat baik,” ujar Asta membuat Drew kembali tersenyum dan mengusap kepalanya. “Oh, ya. Apa kau sudah mendengar kalau Nona Mori akan dibawa ke ibu kota dan menjadi bagian dari kuil suci?” tanya Asta mengalihkan topik. Namun, wajah Drew kini berubah murung. Jelas, dia tahu mengenai hal tersebut. Setelah diketahui bisa menggunakan sihir penyembuhan yang merupakan sihir suci—walau tidak kuat, Mori segera mendapat titah dari istana untuk bergabung menjadi pendeta di kuil suci Kerajaan Yernell. Drew kembali menghela napas. “Padahal aku belum memberitahukan tentang perasaanku padanya.” “Kalau begitu, tunggu apa lagi? Lebih baik daripada menyesal nanti, kan? Setidaknya kau menyampaikan perasaanmu padanya. Seandainya tidak diterima pun, setidaknya dia tahu perasaanmu yang sebenarnya. Nona Mori juga orang yang baik, dia pasti menghargai perasaanmu.” Mendengar itu, Drew menatap Asta tanpa kata. “Kenapa? Apa wajahku setampan itu sampai membuatmu terpesona?” Drew berdecih sambil tertawa pelan. “Hanya ... terkadang kau tiba-tiba bersikap seperti orang dewasa.” “Hmph! Aku kan memang sudah beranjak dewasa! Kakak Drew saja yang selalu memperlakukanku seperti anak kecil.” Drew tertawa. “Lihat, kau merengek seperti anak kecil.” “Aku tidak, oke?” “Ya, ya, baiklah. Asta-ku sudah dewasa.” Drew mengacak-acak rambut panjang Asta hingga berantakan. Membuat Asta merenggut sebal. “Ugh ....” Asta merapikan rambutnya yang kini sudah melewati bahu. Dia memang sengaja memanjangkan rambutnya, dia juga membiarkan poni untuk menutupi kening dan sebagian wajahnya. Setidaknya itu bisa menutupi sebagian wajahnya walau percuma. Drew pun tahu itu, jika saja ada obat yang bisa menyembuhkan wajah Asta, Madhiaz pasti telah melakukan segala cara untuk mendapatkannya, dan ia akan membantunya tanpa ragu. Tetapi, dari dokter, pendeta, sampai penyihir, tidak ada satu pun yang tahu apa penyebab ataupun solusi untuk menghilangkan guratan-guratan menonjol di wajahnya. Bahkan beberapa menyebutnya sebagai kutukan. Asta pasti telah mengalami banyak penderitaan karenanya. Dan Drew sangat mengagumi Asta yang bisa menerima keadaannya seolah bukan apa-apa. Walau tidak ada yang tahu mengetahui hati seseorang, tapi bisa bersikap tegar dan ceria seperti Asta bukanlah hal yang mudah. “Hei, Kakak Drew! Apa kau mendengarkanku?” Drew tersadar dari lamunan. “Huh? Ada apa?” Asta memutar bola mata. “Apa yang kau pikirkan dari tadi?” “Hm? Tidak ada. Apa yang kau katakan tadi?” “Aku bertanya, apa kau tidak berniat ikut ujian kesatria?” Drew berpikir, lalu berujar, “Kalau Nona Mori menerima perasaanku. Aku akan ikut ujian kesatria tahun depan. Dengan begitu, setidaknya kami bisa saling bertemu di istana, kan?” “Ya, itu ide yang bagus. Tapi Kakak Drew, kau sangat mahir dalam memanah dan berpedang. Kau juga bisa menggunakan sword infusion. Bukankah sia-sia jika hanya diam saja di desa yang kecil ini?” Benar, menurut Asta, Drew adalah satu dari sekian banyak orang yang berbakat. Tidak semua orang pandai berpedang dan menggunakan mana sekaligus. Kebanyakan hanya menguasai salah satunya. Penyihir yang menguasai sihir elemental disebut mage. Ada 4 unsur elemen dasar yang dikuasai mage, yaitu api, air, udara dan bumi. Selain elemen dasar, ada juga elemen turunan dan elemen gabungan. Hingga menghasilkan berbagai varian sihir elemental. Umumnya, mage hanya menguasai satu unsur elemen yang dikuasai. Tetapi, ada juga mage yang menguasai beberapa unsur elemen atau mage yang berhasil menggabungkan dua atau lebih unsur hingga menghasilkan elemen baru. Karena itu, penyihir pun memiliki tingkatan. “Kalau kau berhasil menjadi kesatria, kau pasti akan mendapatkan posisi yang bagus. Karena sangat jarang kesatria yang bisa menggunakan sword infusion. Masa depanmu akan cerah, kau juga tidak akan dibanding-bandingkan terus dengan kakakmu dan disebut-sebut sebagai Tuan Muda tidak berguna. Walau aku setuju dengan sebutan itu, sih.” Drew memperhatikan Asta yang terus berceloteh mengenai dirinya. “Kau ingin aku pergi dari sini?” “Huh? Bukan begitu maksudku!” “Lalu, apa kau mengira aku tetap berada di sini karenamu?” Asta terdiam. Sedikit mengalihkan pandangan. Setidaknya, itulah yang Asta rasakan. Drew selalu melindunginya, ia juga sering membantu saat Asta dalam masalah. Drew selalu memperlakukannya layaknya saudara kandung. Bahkan ia yakin Drew dan kakaknya tidak sedekat ia dengan Drew. “Aku ... hanya tidak ingin menjadi penghambat. Aku merasa, kau tetap di sini hanya karena untuk melindungiku dan membantuku.” Drew tersenyum. “Kau tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Aku memang khawatir jika aku meninggalkan desa, kau akan kesulitan. Tapi, aku juga belum memantapkan hati mengenai tujuanku ke depannya. Jadi, kau tidak perlu merasa bersalah. Setelah aku menginjak usia dewasa, aku akan memutuskan jalan hidupku sendiri. Entah itu meninggalkan desa atau tetap di sini, tidak ada yang bisa menghentikanku.” Mendengar itu, Asta merasa lega. Ia pun tersenyum. “Kakak Drew orang yang hebat, aku yakin kau akan sukses dalam hal apa pun yang ingin kau lakukan.” “Lalu, bagaimana denganmu?” tanya Drew. “Huh? Aku?” “Ya. Kau. Apa yang kau ingin lakukan ke depannya jika kau sudah dewasa nanti?” Asta terdiam. Tampak melamun. Ada banyak hal yang dia ingin lakukan, ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Seperti apa ibu kota? Seperti apa itu istana? Seperti apa itu laut? Seperti apa itu dunia? Ia lalu melihat Madhiaz yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia selalu bermimpi untuk berpetualang dan mengelilingi dunia, berada di tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru, mengetahui hal-hal baru. Tapi, ia tahu ia tak akan pernah bisa menggapai apa pun. Karena ia tahu, dunianya hanya di sekitar ayahnya, dan dunia luar tidak akan pernah bisa menerima seseorang sepertinya. Tetapi, itu bukan masalah besar baginya. Berada di sisi Madhiaz dan hidup bersamanya sudah cukup untuknya. Dan sekarang bertambah satu lagi anggota keluarga yang menyukainya. Dia tidak butuh apa pun lagi. “Aku rasa ... aku sudah cukup puas dan merasa bersyukur dengan kondisiku saat ini. Selama ada Ayah dan Ruhi, aku tidak akan serakah ataupun menginginkan apa pun lagi. Aku sudah cukup bahagia. Apalagi aku punya saudara yang hebat seperti Kakak Drew.” Ia tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Mendengar itu, Drew hanya bisa menghela napas dan tersenyum, lalu mengusap kepala Asta. Benar-benar orang yang sederhana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD