Sudah beberapa hari dalam satu minggu, kepala desa mendapat laporan yang sama. Yaitu mengenai hilangnya binatang ternak milik penduduk. Dan kejadian ini hampir terjadi setiap malam. Hingga membuat warga desa yang memiliki binatang ternak merasa resah.
Namun, hal yang paling membuat Asta kesal dan geram adalah anggapan bahwa pelaku dari pencurian binatang ternak adalah Ruhi. Hanya karena dia adalah binatang iblis. Mereka mencurigai Ruhi mencuri dan memakan hewan ternak secara diam-diam. Padahal, Asta tahu tiap malam Ruhi tidak melakukannya karena selalu bersamanya.
Dan kini, halaman depan rumahnya ramai oleh penduduk yang datang untuk protes pada Madhiaz. Mereka meminta Madhiaz untuk mengusir Ruhi dari desa.
“Ruhi tidak melakukannya ... Ruhi bersumpah,” Ruhi tampak cemas dan takut.
Asta memegang bahu Ruhi. “Aku tahu kau tidak melakukannya, tenanglah,” ucapnya menenangkan Ruhi. Lalu beralih pada Madhiaz. “Ayah, Ruhi tidak bersalah. Ayah tahu, kan?”
“Kalau bukan dia, lalu siapa lagi yang akan melakukan perbuatan seperti ini? Sebelum dia memasuki desa, tidak pernah ada kejadian seperti ini. Dia adalah binatang iblis, dia pasti mencuri dan memakan hewan ternak tanpa sisa,” Darby yang berada di kerumunan segera menyela.
Asta menggeram kesal. Ia yakin sekali kalau anak itu adalah dalang dari semua ini.
“Benar! Yang dikatakan Tuan muda Darby benar! Jika itu ulah binatang buas, mereka akan memakan semua hewan ternak tanpa sisa, dan pasti akan meninggalkan jejak. Tapi ini terjadi setiap dua malam, dan setiap orang hanya kehilangan satu hewan ternak. Terlebih, pekerjaannya sangat rapi sampai tidak ada jejak sama sekali.”
“Kalian tidak bisa menuduh tanpa bukti!” seru Asta kesal. “Bagaimana kalian yakin kalau Ruhi yang melakukannya? Ruhi bersamaku setiap malam. Dia tidak pernah keluar malam sendirian apalagi sampai mencuri hewan ternak milik warga.”
“Oh? Mungkin saja kau juga ikut membantunya, siapa yang tahu?” sahut Darby lagi.
“Aku? Untuk apa aku melakukannya? Mungkin saja kau yang melakukannya,” balas Asta.
“Hah, betapa lucu. Aku yang seorang Tuan muda melakukan hal seperti itu? Aku tidak memiliki alasan untuk melakukannya.”
“Alasan? Bukankah kau menyimpan dendam padaku? karena itu kau melakukan ini?”
Asta bisa melihat Darby yang melotot marah padanya. “Omong kosong apa yang kau katakan, Buruk rupa!”
“Beberapa hari yang lalu kau datang dan mengganggu aku dan Ruhi, lalu kau pulang dengan marah karena kalah oleh Kakak Drew! Kau itu seorang pendendam. Karena tidak bisa berurusan dengan Kakak Drew, kau lebih memilih berurusan denganku. Dan sekarang, kau menjebak kami karena kau tidak menyukai kami. Apa aku salah? Terlebih, kau—”
Madhiaz menghentikan Asta dengan menggenggam tangannya. “Cukup, Asta.”
“Tapi, Ayah!” sahut Asta tak terima.
“Jangan mengada-ada! Untuk apa aku melakukan itu?” kilah Darby lagi.
Sementara Ruhi merasa semakin bersalah karena keberadaannya malah menyebabkan masalah dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Um, Paman, Asta ... mungkin lebih baik Ruhi pergi dari sini saja ....”
“Tidak! Apa yang kau katakan? Kau tidak bersalah, kenapa kau harus pergi?” Asta tidak terima. “Dengar Ruhi, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu!”
“Kau tidak boleh pergi sebelum mengganti rugi pada kami!” seru salah satu warga.
“Benar! Kau harus membayar ganti rugi!”
Asta makin kesal dibuatnya. Bagaimana ia harus membuktikan kalau Ruhi tidak bersalah?
Madhiaz menarik napas. “Kami tidak bisa melakukannya. Ruhi belum tentu bersalah. Kami memang tidak punya bukti, tapi kalian juga tidak ada bukti. Haruskah aku meminta bantuan seorang spirit user untuk reka ulang kejadian?”
Setelah mengatakan itu, Darby terlihat terkejut sementara warga desa merasa kalau itu bukan ide yang buruk.
Spirit user adalah seorang penyihir yang bisa memanggil roh atau spirit dan menggunakan kekuatannya. Dan salah satu kemampuan dari spirit user adalah bisa melakukan reka ulang kejadian persis seperti aslinya.
“Tapi, dari mana kau bisa membawa seorang spirit user?”
“Aku akan pergi ke ibu kota jika perlu,” ucap Madhiaz tenang.
Spirit user termasuk hal yang langka, bahkan di kerajaan sekalipun. Tetapi, hampir semua orang tahu, di ibu kota, ada seorang spirit user yang cukup ahli dan sudah dipercaya memecahkan berbagai kasus berkat kemampuannya.
Madhiaz lalu melihat ke arah belakang warga yang berkumpul dan berkata, “Tapi ... kurasa aku tidak perlu melakukannya.”
Para warga mengikuti ke arah Madhiaz memandang, di sana Drew datang sambil menyeret seorang pria paruh baya yang tampak penuh luka.
“Tuan muda, siapa orang yang bersamamu?” sambut warga desa pada Drew.
Drew melempar orang itu ke hadapan Darby. “Biarkan dia yang mengatakannya sendiri,” tukasnya. Lalu berpindah ke sisi Asta dan Ruhi. Tersenyum, “Jangan khawatir. Dia sudah kuberi ramuan sihir yang membuatnya hanya bisa mengatakan kebenaran. Jika dia berbohong, dia akan muntah darah.”
Madhiaz lalu mengambil alih dan menginterogasi orang tersebut. Mulai dari identitas dan siapa tuannya. Saat ia mengatakan siapa tuannya, ia muntah darah. Yang artinya, ia berbohong.
“Meski kau tidak mengatakannya, kau juga akan mati. Tapi, baiklah, aku hanya ingin memastikan satu hal. Apa kau orang yang mencuri hewan ternak milik warga?”
“Be-benar ....”
“Kenapa kau melakukannya?”
Orang itu gemetaran. Bola matanya tidak berhenti goyah. “A-aku hanya mengikuti perintah ....”
“Siapa?” tanya Asta geram. Namun, orang itu bungkam. “Aku tanya siapa?!”
Pria itu terlihat takut-takut, lalu memohon dengan putus asa untuk menghukumnya tanpa melibatkan keluarganya.
Asta menarik napas. “Baiklah. Kalau begitu ... apakah ini dilakukan untuk menjebak Ruhi sebagai pelaku?”
Orang itu tampak ragu-ragu, namun akhirnya mengatakan bahwa yang dikatakan Asta adalah benar. Semuanya telah direncanakan termasuk menggiring opini publik untuk menyudutkan Ruhi.
Asta melirik tajam pada Darby, tapi ia tidak mengatakan apa-apa. “Sudah cukup, Ruhi terbukti tidak bersalah,” ujarnya meninggalkan tempat dan mengajak Ruhi masuk ke rumah.
Begitu di dalam, Ruhi langsung memeluk Asta. “Asta ... terima kasih.”
Asta tersenyum sambil mengusap kepala Ruhi. “Tidak, aku yang minta maaf. Semua ini terjadi gara-gara aku.”
Ruhi menggeleng. “Asta tidak salah apa-apa,” ucapnya lalu menatap Asta ragu-ragu.
“Kenapa?” tanya Asta lembut.
“Bolehkah ... Ruhi tetap di sini dan tinggal bersama Asta dan Paman ...?” tanyanya sangsi.
“Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, kau boleh menganggap kami sebagai keluargamu. Aku dan Ayah juga sudah menganggapmu bagian dari keluarga.”
Mata Ruhi berkaca-kaca. “Sungguh ...?”
“Em! Tentu!” sahut Asta riang.
Ruhi masih terlihat sedih. “Tapi ... Ruhi bukan manusia, apa Ruhi bisa jadi keluarga Asta dan Paman?”
Asta tertegun lalu tertawa. “Apa yang kau katakan? Ruhi, yang disebut keluarga itu bukan hanya karena terikat oleh ikatan darah atau karena kita satu ras. Tetapi, mereka yang saling mengasihi dan menyayangi pun bisa menjadi keluarga. Bahkan, ada yang ikatan persaudaraannya lebih erat daripada ikatan darah. Jadi, Ruhi, apa kau mau menjadi bagian dari kami?”
Ruhi menatap Asta, lalu mengangguk pelan, tersenyum. “Terima kasih, Asta.”
“Em.” Asta balas tersenyum, lalu Drew masuk.
“Kakak Drew!” sambut Asta. “Kau sangat hebat! Bagaimana kau bisa menangkap pelakunya? Dan dari mana kau mendapat ramuan itu? Bukankah harganya sangat mahal?”
Ruhi ikut menghampiri. “Terima kasih banyak, Tuan muda Drew.”
“Eiiy ... jangan terlalu dipikirkan.” Drew mengibas-ibaskan tangannya di udara. “Aku tidak berbuat banyak. Aku hanya melakukan sesuai yang diperintahkan Paman saja.”
“Huh? Ayah? Apa yang Ayah perintahkan?” tanya Asta bingung.
Drew lalu menjelaskan kalau Madhiaz-lah yang memberinya petunjuk sampai akhirnya ia bisa menangkap pelaku. Madhiaz juga orang yang memberikan ramuan ajaib itu padanya.
Asta merenung. Harga ramuan ajaib seperti itu tidaklah murah. Dari mana ayahnya mendapatkan benda berharga seperti itu? Dari mana pula ia mengetahui tentang si pelaku?
Bukan sekali ini Madhiaz bertingkah misterius seperti itu. Asta tiba-tiba etringat kejadian beberapa waktu lalu.
Saat itu, Asta tak sengaja menemukan pedang pada kotak penyimpanan milik ayahnya. Pedang yang sangat bagus untuk dimiliki orang biasa seperti ayahnya. Dan saat ia bertanya mengenai pedang itu, Madhiaz hanya mengatakan bahwa itu adalah milik sahabatnya yang merupakan seorang kesatria dan mempercayakan pedang itu padanya setelah ia gugur di medan perang.
Setelah itu, Asta tak bertanya lebih jauh karena Madhiaz terlihat ingin menghindari topik pembicaraan tersebut.
“Hmm ... aku masih merasa kalau Paman Madhiaz bukan orang biasa,” ucap Drew.
Semua hal tentang Madhiaz memang selalu menjadi misteri baginya. Terkadang, Asta bahkan merasa asing dengan sosok ayahnya sendiri. Tetapi, semua itu tidak menjadi masalah baginya.
“Yah, ayahku memang orang yang luar biasa. Bukankah begitu, Ayah?” ujar Asta yang melihat Madhiaz masuk.
Madhiaz hanya tersenyum.
“Bagaimana dengan warga desa?” tanya Drew.
“Mereka sudah meminta maaf dan mencoba mencari tahu siapa dalang di balik kejadian ini.”
“Humph! Seharusnya mereka meminta maaf langsung pada Ruhi!” Asta kesal. “Lalu? Siapa ...?”
Madhiaz menggeleng. Pertanda bahwa orang itu tidak memberitahukannya sampai akhir. Asta berdecak. “Ini pasti ulah Darby! Orang itu benar-benar menyebalkan!” ia meninju lantai kesal. “Semoga ia dimangsa binatang buas!” rutuknya.
Tepat setelah itu, terdengar teriakan dari luar. Asta dan yang lain pun bergegas ke luar untuk melihat apa yang terjadi.